Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
30. Pesan Banyu


__ADS_3

Banyu duduk di halaman parkir rumah sakit. Di tangan kanan nya terselip sebatang rokok, wajahnya tampak begitu gelisah. Setelah kepergian Tika, Banyu mulai merokok lagi. Setelah ia sempat berhenti merokok selama sepuluh tahun belakangan ini. Tentu saja ia berhenti merokok karena wanita disampingnya sangat sensitif dengan asap rokok. Jadi Banyu tidak punya pilihan lain, bila ia ingin terus disamping Tika, ia harus menghentikan kebiasaan nya tersebut. Tetapi kini sosok itu sudah tiada, hilang membawa separuh nafasnya.


Sambil menikmati setiap hembusan asap yang baru saja ia hirup dari sebatang rokok tersebut, Banyu mencoba mencerna mengapa Putra terlihat menyembunyikan kejadian yang tengah menimpa adik kandung nya itu. Hal itu membuat Banyu mulai mencurigai Putra. Pasalnya, Putra terlihat tidak ada musuh. Terutama karena Putra baru saja tinggal di Jakarta bersama dengan Banyu.


"Masalah pribadi? Apa masalah perempuan? Tetapi apa iya masalah perempuan saja sampai harus seperti ini. Dia sampai hampir mati!" Gumam Banyu, sambil memainkan rokok di sela jari nya.


"Kalau iya masalah perempuan, apakah tidak cukup satu perempuan saja? Dia sudah dekat dengan Tasya, mengapa harus ada perempuan lain?" Sejuta pertanyaan datang silih berganti di benak Banyu.


Berbatang-batang rokok sudah ia habiskan di halaman parkir rumah sakit itu. Hingga tak sengaja, mata Banyu tertuju kepada Tasya dan Rafis yang baru saja keluar dari rumah sakit itu. Ia terus menatap ibu dan anak tersebut hingga Tasya dan Rafis berjalan ke arah nya.


"Kok disini mas?" Tanya Tasya yang hendak menuju ke mobilnya yang sedang terparkir tak jauh dari Banyu yang sedang duduk sendiri.


"Tidak apa-apa. Kamu sudah mau pulang?"


"Iya, sudah larut malam. Kasihan Rafis, dia mengantuk."


Mata Banyu tertuju kepada Rafis yang tampan takut melihat dirinya. Banyu pun tersadar bila bocah laki-laki itu tengah menganggap bahwa dirinya itu adalah orang yang jahat, karena memarahi Putra di depan Rafis.


"Mari mas," Tasya beranjak dari depan Banyu yang masih duduk di tepi pembatas lahan parkir tersebut.


"Ma... om itu jahat ya..." Seketika Tasya terkejut dan terlihat tidak enak hati kepada Banyu, karena ucapan polos dari buah hatinya itu.


"Jangan begitu sayang.. Om hanya khawatir kepada papa, makanya om bertanya kepada papa. Itu bukan berarti marah." Jelas Tasya kepada Rafis.


"Maaf ya mas," Sambung Tasya yang langsung meminta maaf kepada Banyu.


Banyu hanya tersenyum tipis dan mematikan rokok di tangan nya. Lalu ia beranjak dari duduknya dan menatap Rafis dengan tatapan nya yang teduh.

__ADS_1


"Tapi om itu terlihat galak."


"Husssss..." Tasya semakin tidak enak hati kepada Banyu. Lalu ia berusaha mengajak Rafis untuk segera meninggalkan lahan parkir tersebut.


Banyu mendekati Rafis yang terlihat gugup kala ia dekati. Lalu ia berjongkok di hadapan bocah tersebut.


"Siapa namamu?" Tanya Banyu kepada Rafis.


"Ra-rafis om." Jawab Rafis dengan grogi.


"Kalau sudah besar, kalau ada yang berusaha memukul mu, berusahalah membela diri. Jangan mau berakhir di rumah sakit."


Tasya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Banyu kepada anak semata wayangnya. Sedangkan Rafis yang masih bocah terlihat bingung dengan ucapan Banyu, sehingga ia menatap Tasya dengan seksama.


"Tapi, kata mama kita gak boleh berantem," Ucap Rafis yang kembali menatap Banyu yang masih berjongkok dihadapan nya.


"Bukan tidak boleh berantem, tapi kita tidak boleh KO apa lagi masuk rumah sakit, Ok?" Banyu menepui pundak Rafis dengan lembut, lalu ia beranjak berdiri dan menatap Tasya yang masih terpaku menatap dirinya.


"Ada masalah apa sih dia? Kok mengajarkan anak kecil yang tidak-tidak." Batin Tasya.


"Ma.. om itu siapanya papa?" Tanya Rafis yang kini kembali mengikuti langkah Tasya yang kembali berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir.


"Hmmmm... dia.. dia... dia adalah kakaknya papa Putra," Sahut Tasya.


"Memangnya dia lebih jago dari papa Putra? Memangnya dia pintar berantem?" Tanya Rafis dengan wajah yang polos.


"Hmmm.. mama tidak tahu nak. Sudah, ayo kita pulang." Tasya mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Rafis untuk segera masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


.


"Lelaki seperti itu yang kamu sukai? Bahkan membela diri sendiri saja dia tidak bisa!"


Alia menatap Anton yang terlihat kesal kepada dirinya. Lalu ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.


"Apa segitu bodoh nya kamu Alia? Bahkan saat kamu hanya di puji dan kamu melayang dengan mulut nya yang seperti sampahhhhh..!"


Alia tak dapat membela diri, ia hanya mampu berdiam dan menyesali semua yang telah terjadi. Memang benar, ia terlalu terlena kepada ketampanan dan gaya bicara Putra yang terkesan meyakinkan dirinya bila ia lah wanita tercantik dan Putra benar-benar tertarik kepada dirinya. Kembali lagi, banyak lelaki di luar sana yang rela berbicara seolah-olah ia butuh dan suka, nyatanya hanya ingin memanfaatkan wanita saja.


"Jawab Alia!" Bentak Anton. Seketika Alia menatap dirinya dengan mata yang sedang menahan tangis.


"Alia mencintai dia pa.." Suara Alia bergetar, menahan malu, sakit hati, dan perasaan-perasaan yang tegah ia rasakan saat ini.


"Cinta? apa itu cinta? Bahkan mama mu yang katanya mencintai papa saja, ia tega meninggalkan keluarga ini! Meninggalkan kamu dan papa! Tidak ada cinta di dunia ini Alia! Kamu harus cerdas!"


"Mengapa papa seperti ini? Bila memang tidak ada cinta di dunia ini? Dengan apa papa membesarkan aku? Apakah ini bukan cinta?"


Anton terdiam, nafasnya terasa sesak.


"A-alia.. maksud papa..."


"Papa jangan menyamaratakan apa yang menjadi trauma papa dengan apa yang orang lain hadapi! Bukankah mama berselingkuh karena papa yang memulai? Papa kerap bermain perempuan bukan? Jangan anggap aju tidak tahu history papa dan mama!"


Bagaikan tertampar, Anton menelan saliva nya dan meminat pelipis nya seraya tertunduk dalam.


"Belakangan ini aku sering berkomunikasi dengan mama. Dia menceritakan semuanya! Mengapa lelaki seperti itu? Senang berselingkuh tetapi di balas berselingkuh dan mulai merapa paling tersakiti!"

__ADS_1


"Pa, Alia hanya ingin bahagia. Alia jatuh cinta dan ingin memiliki dia. Apa itu salah? Alia benar-benar jatuh cinta padanya. Alia tidak peduli, apapun yang terjadi, Alia ingin dia berakhir bahagia dengan Alia. Ok lah kalau saat ini ia terpaksa memilih Alia Tapi, Alia bisa pastikan suatu saat dia akan benar-benar mencintai Alia!" Alia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Anton sendirian di ruang keluarga tersebut.


Kini tinggalah Anton yang berkutat dengan pikiran nya sendiri. Ia tidak menyangka bila Alia akan berkata seperti itu kepada dirinya. Dan ia juga tidak menyangka bila Devonna, mantan istrinya berhasil berkomunikasi lagi dengan Alia. Setelah semua akses komunikasi ia coba blokir antara Alia dan mantan istrinya tersebut.


__ADS_2