Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
52. Bunga-bunga yang membuat berbunga-bunga


__ADS_3

Banyu menghentikan mobilnya di depan sebuah gang sempit di wilayah perumahan kumuh yang terletak di bantaran sebuah kali. Ia menatap gadis yang duduk disampingnya dengan tatapan iba.


"Disini rumah kamu?"


"Bukan om, rumah saya masih masuk lagi ke dalam. Gak bisa mobilnya masuk om. Jadi, kita harus jalan kaki beberapa ratus meter kedalam."


Banyu menundukkan pandangan nya dan setelah itu ia kembali menatap gadis itu, yang sedang asik menikmati snack yang Banyu belikan untuk nya dari sebuah minimarket, saat Banyu membelikan kebutuhan pokok untuk gadis itu dan keluarganya.


"Ya sudah, ayo." Banyu membuka sabuk pengaman nya dan beranjak turun dari mobilnya. Disusul oleh Sintia, gadis yang baru saja ia kenal.


"Bunga saya om.."


"Kan sudah saya beli." Ucap Banyu.


"Maksudnya keranjang saya om, besok saya jualan bunga pakai apa?"


"Saya sudah bilang, tidak usah jualan lagi. Saya yang akan membiayai kamu."


Gadis itu terdiam, matanya berkaca-kaca saat Banyu mengatakan dirinya tidak usah berjualan bunga lagi.


"Ya sudah, mana rumah mu," Ucap Banyu, seraya menurunkan kardus belanjaan berisi kebutuhan pokok untuk keluarga Sintia.


"Ayo om.. di sana."


Banyu mengikuti langkah kaki Sintia menyusuri gang sempit di bantaran kali tersebut. Hingga Sintia menghentikan langkah nya di depan sebuah gubuk yang tampak sangat kumuh.


"Disini?" Tanya Banyu seraya menaruh kardus yang tengah ia pikul, di atas tanah.


"Iya om."


Banyu terdiam, dari dalam rumah tersebut terdengar suara tangisan bayi dan di susul suara rengekan seorang balita.


"Assalamu'alaikum, " Ucap Sintia seraya mendorong pintu rumah tersebut yang terbuat dari lapisan triplek.


"Waalaikumsalam." Sahut seorang wanita dari dalam rumah tersebut.


"Bu.." Sintia mengecup punggung tangan ibunya. Lalu wanita yang kira-kira sebaya dengan Banyu itu menatap Banyu dengan tatapan yang curiga.


"Dia siapa Sin?" Tanya ibunya dengan wajah yang tampak sangat khawatir.


"Bu, perkenalkan saya Banyu, saya datang kesini untuk bersilaturahmi dengan ibu dan keluarga," Ucap Banyu, seraya menjabat tangan wanita itu.


"Oh.. bapak kenal anak saya dimana ya?"


Banyu tersenyum, lalu ia menjelaskan pertemuan nya dengan Sintia. Lalu ia juga menjelaskan niat baik nya atas Sintia dan keluarganya. Tak lama, di gubuk yang hanya memiliki satu ruangan dan lampu yang redup itu, terdengar suara tangisan haru dari ibunya Sintia. Mereka sangat bersyukur bertemu dengan Banyu yang berniat membantu mereka dari kesulitan hidup mereka. Tak hanya Sintia, bahkan bapak Sintia pun Banyu berikan pekerjaan, agar dapat menghidupi keluarganya dengan baik. Dan Banyu pun berjanji akan menyewakan sebuah rumah untuk keluarga tersebut.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Banyu membantu keluarga itu. Banyu pernah hidup dalam kesulitan saat bapak nya dulu sempat di PHK dari pekerjaan nya. Banyu juga pernah berada di posisi Sintia. Selain kemanusiaan, Banyu memang memiliki hati yang gampang sekali tersentuh. Ia juga merasa, dirinya bisa sesukses ini, juga karena bantuan dari boss nya yang mewariskan segala asetnya di Indonesia untuk Banyu. Kalau tidak karena bantuan dari orang lain, mungkin saja Banyu tidak bisa sampai di titik kesuksesan nya saat ini. Cara Banyu bersyukur adalah dengan membantu manusia lain nya yang membutuhkan. Bukan untuk dianggap baik, melainkan untuk kepuasan hati Banyu sendiri.


Setelah bersilaturahmi dengan keluarga Sintia, Banyu pun berpamitan untuk pulang. Keluarga Sintia melepas Banyu, dengan haru dan juga rasa Terima kasih yang tak putus. Mereka mengantarkan Banyu hingga lelaki itu memasuki mobilnya dan meninggalkan lokasi itu.


Dari spion tengah mobilnya, Banyu menatap keranjang bunga yang masih dipenuhi bunga-bunga dagangan Sintia yang terletak di kursi belakang mobilnya. Tiba-tiba saja air mata Banyu mengalir deras di pipinya. Ia tidak bisa membayangkan berapa banyak anak-anak yang seperti Sintia diluar sana. Dan dia belum bisa merangkul mereka semua. Air mata itu juga merupakan air mata haru, kala ia teringat raut wajah bahagia Sintia dan keluarganya. Raut wajah penuh syukur dan menemui kembali harapan hidup mereka, lewat rezeki Tuhan yang di salurkan melalui tangan Banyu.


Banyu menghentikan mobilnya, kala lampu merah menyala di perempatan jalan. Ia kembali menatap keranjang berisi bunga-bunga segar itu. Lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya bergumam,


"Mau aku kemana kan bunga-bunga ini?"


Ia kembali menatap tiga jalur di depan nya, jalur lurus berarti ia kembali ke rumah nya. Jalur kanan, berarti ia kembali ke kantornya dan jalur kiri berarti ia menuju ke rumah Tasya. Ia menatap angka-angka yang terus menghitung mundur yang terletak di atas tiang lampu rambu lalu lintas.


20


19


18


17


"Kemana nih...?" Gumam nya.


16


14


"Tasya."


"Kantor."


"Rumah."


Banyu terus berucap mengikuti setiap angka yang berganti. Hingga sampai di angka satu, dan perhitungan tersebut jatuh pada jalur Tasya.


"Arghhhhhh...!"


Banyu pun membelokkan mobilnya ke jalur kiri, yang berarti ia akan menuju ke rumah Tasya.


.


Tasya menatap langit-langit kamar nya. Rumah nya terasa begitu sepi tanpa adanya Rafis dan juga para asistennya. Ia juga belum dapat tertidur, walaupun jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Pikiran Tasya terasa sangat stress malam ini. Satu sisi ia akan menghadapi pertunangan nya dengan Putra yang tinggal menghitung hari, satu sisi lagi Ia masih shock dengan pernyataan cinta dari Anton, dan satu sisi lagi ia masih tidak bisa melupakan kecupan hangat Banyu dan juga pengakuan Banyu yang juga mencintai dirinya.


"Arghhhh...!"


Tasya merasa kacau dan memeluk bantal guling nya dengan erat.

__ADS_1


"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" Batin Tasya.


Klutak...! Sreeeggg...!


Tasya mengerutkan keningnya kala ia mendengar ada yang membuka gerbang rumahnya yang lupa ia kunci.


"Siapa itu!" Batin nya yang mendadak muncul rasa was-was.


Tasya pun beranjak dari ranjang dan bergegas keluar dari kamar nya. Ia berniat mengambil apa saja yang terlihat di sekitar ruangan keluarga. Matanya pun tertuju pada sebuah sapu yang tersender di dinding ruangan itu. Tanpa berpikir panjang, ia membawa sapu tersebut dan berjalan mengendap ke arah pintu rumahnya.


Sesampainya di depan pintu, Tasya mencoba mengintip dari celah jendela, untuk mencari tahu siapa yang berani masuk ke pekarangan rumah milik nya itu, apa lagi sudah larut malam. Tasya mencurigai ada seseorang yang berniat masuk ke rumah dan merampok nya. Tetapi apa yang ia lihat membuat dirinya terpaku. Ia melihat Banyu berjalan menuju ke depan pintu rumahnya dengan membawa satu keranjang penuh dengan bunga-bunga segar dan cantik.


"Mas Banyu.." Tasya menyenderkan punggung nya di balik pintu rumah nya, seraya memegangi dadanya yang mendadak berdegup kencang tak terkendali.


"Ngapain dia malam-malam kesini? Bawa bunga pula." Batin nya lagi.


Lalu Tasya kembali mengintip dari balik jendela. Terlihat Banyu sudah berdiri di depan pintu rumahnya dan menaruh keranjang berisi bunga tersebut di atas meja yang terletak di beranda rumah itu.


"Buat kamu saja. Aku bingung mau ditaruh di mana," Ucap Banyu, seakan ia sedang berbicara dengan Tasya di depan pintu rumah tersebut.


Deg..!


Jantung Tasya semakin berdetak tak beraturan. Ia tidak tahu apa yang sedang ia rasakan. Antara senang, bingung dan juga merasa sedih kala melihat Banyu.


"Semoga suka. Kalau tidak suka, kasih sama orang saja. Tukang sayur kek, teman-teman kerja mu boleh juga, asal jangan kamu berikan sama si Anton atau Putra. " Terlihat jelas raut wajah Banyu yang mulai terlihat kesal saat mengucapkan nama Anton.


Diam-diam Tasya tersenyum sendiri di balik jendela.


"Sudah aku pulang dulu. Baik-baik, kamu sendirian kan? Hati-hati ya.. Kalau ada apa-apa hubungi aku." Banyu melangkah dengan gontai saat meninggalkan rumah Tasya. Dari balik jendela, Tadya terus memperhatikan Banyu, hingga lelaki itu pergi dengan mobilnya. Saat itu juga, Tasya membuka pintu rumah nya dan berlari menuju ke gerbang rumah tersebut dan menguncinya dengan gembok. Lalu ia kembali ke beranda rumah nya dan menatap keranjang berwarna putih, berisi penuh bunga-bunga tersebut. Lalu ia kembali tersenyum dan membawa bunga-bunga tersebut masuk kedalam rumah nya.


.


Dreeettt...!


Banyu yang sedang asik menyetir menuju ke rumah nya, melirik ponsel nya yang ia taruh di atas bangku penumpang tepat di sebelah nya. Lalu ia meraih ponsel tersebut dan menatap nama Tasya tertera di layar ponsel itu. Mendadak ia menepikan mobilnya dan mulai membaca pesan dari Tasya.


Terima kasih bunga nya mas, aku suka dan indah sekali. Aku tidak akan memberikannya kepada tukang sayur atau siapa pun. Hati-hati dijalan dan selamat malam.


"Sial! Dia mendengar apa yang aku katakan!"


"Kalau dia tahu ada aku, mengapa dia tidak membuka pintunya? Dasar wanita!" Keluh Banyu. Tetapi, perlahan senyum mengembang di wajahnya. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


"Rasa ingin ku gigit kamu Tas!"


Banyu pun kembali mengendarai mobilnya dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampan nya.

__ADS_1


__ADS_2