
"Bagaimana kabar Putra?" Tanya Banyu melalui sambungan telepon dengan ambu.
Ambu terdiam, terdengar ia menghela nafas panjang dan kembali terdiam.
"Ambu sekarang dimana? Masih di Jakarta atau sudah kembali ke Bandung?" Tanya Banyu lagi.
Wanita tua itu masih terdiam, tak lama kemudian terdengar isak tangis dari ujung sana.
"Jang.." Terdengar suara gemetar dari abah.
"Abah.. Kenapa ambu menangis?" Tanya Banyu, sesaat setelah mendengar suara abah.
"Tidak apa-apa. Kamu dimana?"
"Aku sudah di Jakarta bah. Abah ada dimana? Maaf baru mengabari." Sahut Banyu.
"Tidak apa jang. Kami sudah kembali ke Bandung."
"Syukurlah. Putra bagaimana kabarnya?"
"Baik." Suara abah tercekat saat menjawab pertanyaan Banyu.
"Di mana dia sekarang?"
"Dia... hmm... dia sudah ditahan jang. Makanya kami kembali ke Bandung, untuk menjual beberapa ternak, untuk mengurus keperluan adik mu di rutan nanti."
Banyu yang sedang berada di ruangan kerja nya pun terdiam. Ia sudah menyangka ini yang akan terjadi bila Putra berurusan dengan Anton.
"Ada yang mau aku bilang sama ambu dan abah. Kapan ambu dan abah kembali ke Jakarta?"
"Setelah ternak terjual jang.." Sahut abah.
"Tidak usah. Biar aku yang urus Putra bah."
Abah terdiam, lalu terdengar lelaki tua itu terisak di ujung sana.
"Jang.."
"Ya bah.."
"Maafkan kami jang. Kami orangtua yang buruk."
Banyu bergeming, baru kali ini ia mendengar kata maaf dari abah. Setelah lebih dari 37 tahun dirinya tidak dianggap sama sekali.
"Tidak apa bah."
"Abah dan ambu salah menilai mu nak. Maafkan kami... kami sangat menyesal. Ternyata kamu anak yang sangat baik dan bertanggung jawab. Kamu juga tidak menaruh dendam pada adik mu."
"Untuk apa? Aku sangat mencintai kalian semua. Kalian adalah keluarga ku. Terutama abah dan ambu, bila tidak ada abah dan ambu, aku tidak mungkin terlahir di dunia ini. Aku juga minta maaf atas segala kesalahan ku. Mungkin aku sebagai anak banyak kekurangan nya."
__ADS_1
"Tidak jang! Kamu anak yang sangat sempurna, kamilah yang tidak bersyukur memiliki kamu jang."
Isak tangis ambu dan abah kembali terdengar begitu jelas dari ujung sana.
"Di mana Putra di tahan?"
"Di Polsek dekat rumah pak Anton jang."
"Baik bah, nanti aku akan mengunjungi Putra."
"Tolong ya jang, adik mu pasti butuh dukungan darimu."
"Iya bah.. Sekarang, aku minta abah dan ambu kembali ke Jakarta. Tidak usah jual ternak. Aku ada uang untuk mengcover semuanya."
"Benarkah jang?"
"Iya bah."
"Ya sudah, abah dan ambu bersiap-siap dulu ya."
"Baik bah.."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Sahut Banyu seraya mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Ia termenung di ruang kerjanya. Lalu ia membuka laci meja kerjanya dan meraih sebuah poto usang yang selalu ia simpan. Di foto itu terlihat Putra yang sedang berulang tahun yang ke enam dan dirayakan di rumah mereka. Putra di gendong oleh abah dan ambu. Sedangkan Banyu berdiri di samping mereka dengan wajah yang murung. Harusnya foto itu adalah foto yang menyakitkan bagi Banyu. Seumur hidup ia belum pernah di rayakan ulang tahun nya oleh kedua orangtuanya. Setiap tahun hanya Putra yang dirayakan. Sedangkan dirinya hanya bisa mengagumi cake buatan ambu yang menjadi simbol ulang tahun Putra di kala itu.
Foto itu juga ia ambil dari album usah yang tergeletak di bufet ruang tamu rumahnya, sebelum ia berangkat untuk merantau ke Jakarta. Foto itulah yang memotivasi dirinya untuk menjadi orang sukses. Ia berprinsip, bila tidak dihargai, berusahalah membuktikan diri dengan cara menjadi sukses. Itulah Banyu, lelaki kuat dan bermental baja.
Banyu meraih tas nya dan beranjak dari duduknya setelah ia mengembalikan foto usang itu ke dalam laci meja kerja nya. Lalu ia melangkah keluar dan menghubungi Tasya yang sudah menunggu dirinya untuk di antarkan ke kantor Anton. Ya, Tasya hendak mengundurkan diri pada hari ini. Karena tidak berani sendirian, Tasya pun minta di antarkan sang suami. Lagipula Banyu juga berniat untuk menemui Anton setelah kekacauan beberapa hari yang lalu.
"Ya sayang, aku pulang sekarang." Ucapnya melalui sambungan telepon kepada Tasya.
.
Alia menatap keluar jendela kamar rawat inapnya. Sudah dua hari ia dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya terus membaik. Pergelangan tangan nya masih di perban karena luka sayatan yang tidak mungkin sembuh dalam beberapa hari. Matanya terlihat kosong menatap langit cerah pada siang hari itu.
Alia sudah mendengar kabar bila Putra ditahan karena kasus mereka berdua, atas laporan Anton. Tetapi kali ini Alia tidak mencegah Anton untuk memenjarakan lelaki yang ia cintai. Ya.. Alia masih mencintai Putra, namun ia sedang berusaha untuk mematikan perasaan itu. Melupakan seseorang yang dicintai tidak semudah membalikkan telapak tangan, terutama sesuatu pernah terjadi diantara mereka berdua. Namun walaupun perih, Alia tetap berusaha menepis kegelisahan itu, agar ia dapat segera melupakan masa lalunya yang kelam.
Devonna memasuki ruangan itu, di tangan nya terlihat kantung belanjaan. Dirinya baru saja kembali dari supermarket yang berada di sekitar rumah sakit itu, untuk membeli kebutuhan dirinya dan Alia. Alia menoleh dan tersenyum kepada mama nya itu.
"Apa tidak capai? Mengapa kamu duduk?" Tanya Devonna yang terdengar masih kesulitan saat berbahasa Indonesia.
"Tidak apa ma.. aku hanya merasa lelah saat berbaring." Ucap Alia.
"Apa kamu mau buah?" Tanya Devonna seraya menaruh kantung belanjaan nya di atas meja.
Alia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menatap birunya langit pada siang hari itu.
__ADS_1
"Apa yang kaku pikirkan Alia?" Tanya Devonna lagi.
Alia menatap Devonna dengan tatapan yang terlihat risau. Lalu ia tersenyum tipis dan menundukkan pandangannya.
"Katakan pada mama. Mama bisa menjadi sahabat terbaik mu."
Alia kembali menatap Devonna dengan seksama, mencoba mencari kepercayaan nya kepada sosok wanita yang telah melahirkan dirinya hampir dua puluh tahun silam tersebut.
"Hmmm.. mama.."
"Ya Alia?"
"Mama.. mengapa mama mau kembali dengan papa? Bukankah mama pernah merasakan sakit yang luar biasa saat bersama dengan papa?"
"Dan apa yang membuat mama kembali percaya kepadanya?" Sambung Alia.
Devonna tersenyum, ia menrik kursi dan duduk dihadapan Alia yang sedang duduk di atas ranjang.
"Semua orang bisa berubah. Ada yang berubah lebih baik, ada yang tidak." Jelas Devonna.
"Apa mama yakin papa sudah berubah lebih baik?"
Devonna menundukkan pandangannya, lalu ia kembali tersenyum dan meraih tangan Alia dan mengusapnya dengan lembut.
"Apa kalian kembali hanya karena aku?" Cecar Alia.
"Bukan nak.."
"Lalu?"
Devonna menatap kedua mata Alia dengan seksama, lalu ia mengusap lembut rambut putri nya itu.
"Tidak ada orang yang jahat Alia, yang ada dia hanya sedang tersesat."
Alia mengerutkan keningnya, mencoba mencerna ucapan mamanya itu.
"Dikala seseorang kembali ke jalan yang baik, mengapa kita tidak mencoba memberikan kepercayaan itu padanya? Kita punya hati, kita bisa merasakan dia sungguh-sungguh atau tidak hanya lewat kedua sorot matanya kala ia meminta maaf kepada kita."
Alia bergeming, ia tidak menyangka bila mamanya itu memiliki hati yang begitu luas.
"Mama juga pernah berbuat kesalahan, dan mama sangat menyesal. Tetapi itulah jalannya bagi mama dan papa untuk saling introspeksi diri. Lalu mencoba memaafkan masa lalu dan memulai lembaran yang baru." Terang Devonna.
"Bagaimana bila papa kembali berbuat kesalahan?" Tanya Alia lagi.
Devonna tersenyum dan beranjak dari duduknya. Lalu ia meraih kedua pipi Alia dengan lembut.
"Itu tandanya papa orang yang bodoh. Setelah sekian banyak kesempatan, lalu ia menyia-nyiakan. Mungkin itu cara Tuhan menunjukkan bila dirinya bukan kebahagiaan bagi mama. Yang terpenting saat ini adalah, kamu sudah kembali pada mama. Kita semua sudah kembali utuh. Jangan pertanyakan apa yang belum tentu terjadi. Jalani saja hidup kita sebaik-baiknya."
Alia menatap Devonna dengan tatapan yang begitu mengagumi mama nya itu. Lalu ia melingkarkan tangan nya di pinggang Devonna.
__ADS_1
"Saat ini, apakah mama bahagia?" Tanya Alia.
"Sangat berbahagia." Tegas Devonna.