Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
107. Kita adalah seorang ibu


__ADS_3

Brakkk!


Greta nyaris saja melompat karena terkejut saat Alia membuka pintu ruangan mereka dengan kasar.


"Ada apa?" Tanya Greta seraya menghampiri Alia yang berjalan menuju ke kursinya.


"Mengapa kamu tidak mengatakan bila orang yang menjadi utusan perusahaan Banyu Biru itu adalah Putra!" Dengan emosi, Alia bertanya kepada Greta.


Greta hanya bisa mengerutkan keningnya dan menatap Alia yang tampak habis menangis.


"Putra? Siapa dia?" Greta berpura-pura tidak tahu nama lelaki yang baru saja disebutkan oleh Alia. Alia pun terdiam, ia baru menyadari bila Greta tidak tahu siapa sosok yang sedang ia maksud.


"Ti-tidak.." Alia mengalihkan pandangan nya dan menghela nafas panjang.


"Bu, bisakah kamu bercerita siapa dia? Apa kamu mengenalnya? Apa dia temanmu atau musuhmu saat di Indonesia?"


Alia menatap Greta, lalu air mata mulai mengembang di pelupuk matanya.


"Come on.. Kamu memiliki saya bu.." Greta menatap Alia dengan tatapan yang penuh simpati. Sedangkan Alia lama terdiam, hingga ia disadarkan oleh Greta yang memberinya beberapa lembar tisu, untuk mengusap air mata yang tanpa ia sadari sudah membasahi pipinya.


"Saya yakin kamu sedang tidak baik-baik saja bu. Kamu bisa berbicara kepada saya. Saya bisa menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi kamu bu."


Alia meraih beberapa lembar tisu dari tangan Greta. Lalu ia mengusap air matanya dan kini ia mencoba mencari kekuatan untuk bercerita kepada Greta.


"Bu.. mana tahu aku bisa membantu." Bujuk Greta.


Alia menghela nafas panjang dan menundukkan pandangannya.


"Dia adalah ayah kandung dari Eijaz."


Greta terdiam, walaupun sebenarnya ia sudah tahu siapa Putra. Namun pengakuan langsung dari bibir Alia membuat sisi wanitanya ikut merasakan apa yang tengah dan yang lalu Alia rasakan.


"Kini dia mencoba berdamai denganku, dan ingin bertanggung jawab atas Eijaz."


"Lalu?"


Alia terdiam,


"Apa selama ini dia tahu kamu mengandung anaknya?" Tanya Greta lagi.


Alia masih terdiam membisu. Bagaimana Putra bisa tahu dirinya mengandung Eijaz? Sedangkan dirinya dan Anton telah menjebloskan Putra ke penjara dan tidak mengizinkan Putra tahu tentang kehamilan dirinya. Lalu, apanya yang harus ia salahkan dari Putra? Bukankah itu sudah menjadi keputusan dirinya dan Anton? Kini Putra jauh-jauh dari Indonesia untuk menemui dirinya dan bertanya tentang Eijaz, bahkan Putra berbiat ingin bertanggung jawab sebagai ayah biologis Eijaz. Bahkan Putra tidak sekalipun menyinggung hak asuh atau berniat untuk mengambil Eijaz dari dirinya. Kedatangan Putra hanya ingin meminta maaf dan bertanya prihal Eijaz dan bila Alia mengakui bila Eijaz adalah anak kandung Putra, Putra dengan senang hati ingin bertanggung jawab. Walaupun sebenarnya Alia sudah sangat mampu membesarkan Eijaz tanpa bantuan materi dari siapapun.

__ADS_1


"Bu?"


Alia terperangah dan menatap Greta untuk kesekian kalinya. Lalu ia mencoba untuk tersenyum kepada Greta, untuk menunjukkan dirinya baik-baik saja.


"Apa selama ini dia tahu kamu mengandung anaknya?" Tanya Greta lagi.


Alia hanya mampu menggelengkan kepalanya, lalu ia tertunduk lesu.


"Seorang lelaki yang bertanggung jawab, pasti akan bertanya itu anak nya atau tidak. Bila dia tidak bertanggung jawab, maka dirinya tidak akan pernah bertanya. Jangankan bertanya, mungkin muncul saja tidak di depan kita."


Alia terpana menatap Greta setelah mendengarkan ucapan Greta yang membuat dirinya tersadar bila kedatangan Putra memang bersungguh-sungguh untuk meminta maaf dan ingin bertanggung jawab atas Eijaz.


"Aku tidak tahu masa lalu kalian seperti apa. Tetapi, semua orang pasti bisa berubah. Mungkin saja dulu dirinya brengsek. Setelah berjalannya waktu, dia belajar menjadi manusia yang memanusiakan orang lain. Siapa yang tahu?"


Alia semakin salah tingkah mendengar ucapan Greta.


"Apa kamu dendam padanya bu?"


"Tidak, aku tidak dendam. Hanya saja... rasa sakit yang dirinya rasakan begitu tertanam di hatiku." Terang Alia.


"Mungkin saja dirinya sadar setelah mendapatkan karma." Celetuk Greta.


Alia kembali terdiam. Selama tiga tahun Putra menjalani hari di dalam penjara. Lelaki itu sudah menjalani karma atas segala ulahnya. Dan kini seperti yang Alia lihat, sosok Putra terlihat sangat berbeda. Lelaki itu lebih enak dipandang. Wajahnya terlihat sejuk tanpa kemunafikan dan pikiran yang culas. Tiga tahun lamanya lelaki itu mendekam dan tiga tahun lamanya lelaki itu diberikan kesempatan dalam berpikir tentang kesalahannya.


"Karma? Seperti apa?" Tanya Greta yang terus berpura-pura tidak mengetahui cerita tentang Alia dan Putra.


"Dia aku dan papaku masukkan ke penjara."


Greta terdiam, apa yang diceritakan oleh Putra ternyata benar adanya. Lelaki itu benar-benar jujur kepada dirinya tanpa ada yang di tutup-tutupi sedikitpun. Baik buruknya, semua sudah Putra ceritakan dan itu sama persis seperti yang Alia ceritakan saat ini.


"Ternyata lelaki itu jujur." Batin Greta.


"Apa yang harus aku lakukan?" Alia tampak stress dengan apa yang tengah ia hadapi kali ini.


"Apa dia berniat mengambil Eijaz?"


"Tidak, dia hanya ingin aku mengakui bila itu anak nya. Bila aku akui, dia dengan senang hati memberikan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah." Terang Alia.


"Apakah dia terlihat bersungguh-sungguh saat meminta maaf?" Tanya Greta lagi.


Alia tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Greta. Lalu ia mencoba mengingat-ingat raut wajah Putra saat pertemuan semalam dan tadi. Tifak terlihat sedikitpun sandiwara di wajah lelaki itu. Tetapi namanya dirinya sudah merasa Putra sudah terlalu banyak menipu dirinya, wajar saja ia tidak dapat menaruh kepercayaan lagi kepada Putra.

__ADS_1


"I'm not sure."


"Hmmmm, begitu." Greta mengangguk paham.


"Apakah Eijaz sudah bertemu dengan papanya?"


"Sudah, tetapi aju tidak mengatakan bila itu adalah papanya."


"Apakah kamu yakin bu? Bila sesuatu saat Eijaz mencari tahu siapa ayahnya? Aku juga punya anak, suatu saat aku akan memberitahukan kepada dirinya siapa sosok ayahnya. Mau itu hanya sekedar foto atau mantan ku datang, dengan senang hati aku akan memperkenalkan dirinya dengan ayahnya."


Alia terdiam, ia menatap Greta Lekat-lekat.


"Apakah kamu tidak dendam dengan ayahnya anakmu?"


"Tidak. Awalnya aku hanya marah. Mengapa dirinya meninggalkan aku? Apa salahku? Mengapa? Dan banyak pertanyaan lain nya yang membuat aku semakin membenci dirinya. Tetapi, semakin aku membenci dirinya, aku semakin tersiksa dan sangat sulit menjalani hari. Aku tidak mau seperti itu. Satu-satunya jalan adalah, aku harus memaafkan dan menjalani hidupku dengan sebaik-baiknya."


Alia merasa terpukul dengan cerita Greta. Greta mampu berdamai dengan masa lalunya yang membuat dirinya sempat frustasi. Sedangkan dirinya sendiri, ia masih terus menanam rasa sakit hatinya pada Putra. Sedangkan dirinya dan papanya sudah berhasil menyeret Putra ke penjara. Dan kini lelaki itu tengah mengemis maaf kepada dirinya. Lalu apa lagi? Bukankah pepatah mengatakan 'menang jadi arang dan kalah jadi abu?'.


Alia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar merasa dilema dengan apa yang tengah ia hadapi saat ini. Di tambah dengan sikap Eijaz belakangan ini yang membuat dirinya hampir saja menyewa seorang lelaki untuk berperan menjadi ayah kandung Eijaz. Namun semua itu urung ia lakukan, karena ia masih berpikir psikologis Eijaz bila ia tahu mamanya sendiri tega membohongi dirinya hanya untuk mencari aman. Lalu apa artinya kejujuran yang selama ini ditanamkan Alia kepada putra semata wayangnya itu?


"Oh God!" Alia mengacak-acak rambutnya sendiri dan kini ia menenggelamkan wajahnya di atas meja.


"Kita adalah seorang ibu. Bagi kita senyum anak-anak itulah yang paling berarti. Bukankah itu yang kamu katakan kepadaku dulu bu?"


Alia mengangkat wajahnya dan menatap Greta yang tengah tersenyum kepada dirinya.


"Greta.."


"Aku bangkit karena aku pikir kamu patut untuk aku contoh bu. Aku sangat mengagumi kamu yang kuat menghadapi hidup dan menjadi orang tua tunggal. Aku mohon jangan kecewakan aku."


"Andaikan saja lelaki itu adalah ayah kandung anakku. Mungkin aku akan mempertemukan dia dengan anakku. Tidak ada gunanya bersitegang, karena anaklah yang akan menjadi korbannya." Sambung Greta.


"Oh Greta... I Love You." Alia beranjak dari duduknya dan menghampiri Greta. Lalu ia memeluk Greta dengan pelukan nya yang erat. Ia menangis haru dengan senua yang Greta sampaikan kepada dirinya. Hal itu mampu membuat dirinya kembali berpikir, saat ini... ada wanita yang tidak seberuntung dirinya. Namun tetap bisa berpikir positif dalam menghadapi masalah dan situasi. Mampu bangkit dalam keterpurukan tanpa masih memendam kebencian.


"Thank you so much, Greta... Kamu telah membantu saya dan menyadarkan saya sebelum saya menyesal dikemudian hari. Terima kasih... Terima kasih Greta ku.."


Greta tersenyum dan membalas pelukan Alia dengan tak kalah eratnya.


"Teruslah menjadi panutan ku bu... Agar aku tetap percaya, bila ibu adalah wanita terhebat yang pernah aku temui."


Alia melepaskan pelukannya dan menatap Greta dengan seksama.

__ADS_1


"Tidak, kamu jauh lebih hebat daripada diriku," Ucap Alia.


Mereka pun tersenyum bersama dan kembali berpelukan dengan erat.


__ADS_2