
"Bagaimana hubungan mu dengan Tasya?" Tanya Banyu, lalu ia mengigit apel yang sedang berada di genggaman nya.
"Aku melamarnya untuk menjadi istri ku," Ucap Putra yang hendak kembali ke ranjang nya.
Deg!
Dada Banyu terasa sesak, ia berhenti mengunyah apel yang baru saja ia makan.
"A'a setuju kan aku dengan Tasya?" Tanya Putra seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Aku ingin membawa dia ke Bandung, untuk mengenalkan dia kepada abah dan ambu."
Dada Banyu terasa semakin sesak. Ia tidak menyangka sebelumnya bila jawaban Putra akan seperti itu.
"A'..." Panggil Putra yang merasa heran saat melihat Banyu termenung seraya menggenggam erat apel yang ada ditangan nya.
"Ya?" Banyu terlihat gelisah saat menyahut panggilan Putra.
"A'a setuju kan aku menikahi Tasya. Aku tidak peduli dia janda atau bukan, aku hanya ingin dia. Aku benar-benar jatuh cinta kepada dirinya." Putra tersenyum dan tatapan nya terlihat begitu bersemangat saat membicarakan Tasya kepada Banyu.
Banyu tersenyum tipis dan kembali menggigit apel yang berada di genggaman nya.
"Aku benar-benar ingin menikah A'. Aku tidak ingin main-main lagi. Dia adalah wanita yang pantas untuk ku nikahi. Selain cantik, dia juga sangat menyenangkan. Aku juga menyukai anak nya, Rafis."
Banyu meraih kursi dan duduk di atas kursi tersebut.
"Bagaimana A'?"
"Hah?"
"A'a kenapa? Kok gak fokus?" Protes Putra.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah hari ini."
"Lalu, kenapa A'a ke sini? Kenapa tidak istirahat saja di rumah?"
"Ya, aku hanya ingin melihat mu. Memastikan kamu masih hidup."
"Ya Allah.. segitunya..." Putra tertawa mendengar jawaban Banyu yang terdengar nyeleneh.
"Terus, apa dia menerima lamaran mu?" Tanya Banyu yang mencoba mencari jawaban dari rasa penasaran yang tengah ia rasakan.
"Dia belum menjawabnya. Tetapi, aku pastikan dia akan menerimanya. Tadi terpotong karena ada panggilan dari keluarganya." Terang Putra.
__ADS_1
Deg!
Lagi-lagi dentuman keras menggema di dada Banyu.
"Kami sudah sangat dekat. Aku juga bisa mengambil hati Rafis, anak nya. Rafis pun sudah menganggap aku ayah kandung nya. Lalu apa lagi? Tasya pun terlihat tertarik kepadaku," Ucap Putra dengan bangganya.
"Jadi, a'a setuju kan bila aku dengan Tasya?" Tanya Putra lagi.
Banyu beranjak dari duduknya dan menghela nafas panjang.
"Segala yang terbaik untukmu." Ucap nya seraya berjalan ke arah pintu ruangan itu.
"Jadi a'a setuju?"
"Apa kamu tidak mendengar jawaban ku? Aku lelah, aku mau pulang dulu," Ucap Banyu seraya meninggalkan ruangan itu.
Putra tersenyum puas, lalu ia menatap langit-langit ruangan tersebut dan membayangkan betapa indahnya bila ia dapat bersatu dengan Tasya dalam sebuah ikatan pernikahan yang begitu ia impikan.
"Tasya, kamu harus jadi istri ku." Gumam nya.
.
Banyu terdiam di balik kemudi nya. Dadanya masih saja terasa sesak, nafasnya tersengal kala mengingat ucapan Putra yang baru saja melamar Tasya dan ingin menikahi Tasya dengan segera.
"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam nya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagaimana bila Tasya benar-benar menikah dengan Putra?" Gumam nya lagi.
Dadanya semakin terasa sesak, hingga ia meremas kemeja nya yang melekat ditubuh atletis nya.
"Tasya.."
.
Tin! Tin!
Tasya dikejutkan oleh klakson yang berbunyi dibelakang mobil yang tengah ia kendarai. Matanya langsung tertuju pada lampu hijau yang tengah menyala di persimpangan jalan itu. Dengan cepat ia langsung menjalankan mobilnya. Lamaran Putra begitu membuat hatinya merasa meleleh. Sedangkan perasaan nya kepada Banyu membuat dirinya merasa bimbang untuk menerima lamaran Putra. Tetapi yang membuat ia merasa perasaan nya tidak tersambut adalah, sikap Banyu yang terlihat tarik ulur kepada dirinya.
"Aku menganggap kamu itu calon adik ipar ku."
Terngiang ucapan Banyu, saat Tasya dan lelaki itu berada di Semarang. Tetapi sikap Banyu tadi siang sama sekali tidak mencerminkan bila Banyu benar-benar menganggap Tasya adalah calon adik ipar nya.
Masih terasa hangat pelukan Banyu di tubuh Tasya, tatapan teduh yang menghanyutkan, serta deru nafas Banyu yang terdengar jelas kala Banyu mendekatkan bibir nya ke bibir Tasya.
__ADS_1
"Sebenarnya gimana sih?" Batin Tasya.
"Kenapa sih aku ini...!" Tasya menepikan mobil nya di tepi jalan. Lalu ia menjatuhkan dahinya di atas kemudi di depan nya.
"Ya Allah... berikanlah aku petunjuk mu." Batin Tasya yang tengah merasakan risau dihatinya. Tasya menatap jalan tersebut, lalu ia menghela nafas dalam-dalam dan mulai kembali menjalankan mobilnya kearah kediaman nya.
Dua puluh menit kemudian, Tasya pun tiba dikediaman nya. Ia memarkirkan mobilnya dan beranjak turun dari mobil sedan miliknya. Terlihat Rafis membuka pintu rumah dan menyambut Tasya yang baru saja mengunci mobilnya.
"Mama!" Seru Rafis seraya berlari kearah Tasya. Tasya pun berjongkok dan menyambut Rafis kedalam pelukan nya.
"Mama kok pulang telat?" Tanya Rafis seraya menatap Tasya dengan tatapan curiga.
"Hmmm, mama mampir dulu ke rumah sakit,"
"Lihat papa ya? Papa sudah sembuh belum ma?" Terlihat wajah Rafis yang begitu khawatir saat bertanya tentang Putra.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik."
"Rafis kangen sama papa. Ayo ma.. kita lihat papa besok!"
"Besok kita harus ke rumah si mbah. Mbah sakit dan dirawat di rumah sakit." Terang Tasya.
"Mbah sakit apa ma?" Seketika mata bulat Rafis terlihat sangat khawatir.
"Mungkin si mbah capek saja. Sekarang ayo kita masuk, beristirahat dan besok kita naik pesawat ke Solo ya..." Tasya menggendong tubuh mungil Rafis dan membawanya masuk kedalam rumah.
"Tapi mama janji ya... setelah dari rumah si mbah, kita temui papa."
Tasya menatap Rafis dengan seksama. Lalu ia mencoba tersenyum kepada bocah polos itu.
"Kamu sayang banget ya sama om Putra?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Tasya.
"Bukan om, ma... tapi papa. Rafis mau papa Putra menjadi papa Rafis. Rafis gak mau papa yang lain.." Rafis menekuk wajahnya dan memasang ekspresi sedih.
Tasya menelan Saliva nya dan membawa Rafis ke ruang keluarga. Ia hanya diam dan terus memikirkan lamaran Putra yang ingin menikahi dirinya.
"Rafis disini dulu ya, sama si mbak... Mama mau mandi dan ganti baju dulu." Tasya tersenyum dan mengecup puncak kepala anak semata wayangnya itu.
"Iya mama. Tapi janji ya... nanti pulang dari rumah mbah, kita ke rumah sakit ya.. Rafis rindu sama papa..." Rafis kembali menegaskan keinginan nya kepada Tasya.
Tasya kembali menghela nafas, lalu ia mencoba tersenyum dan mengangguk pelan di hadapan Rafis.
"Horeeeeee...!" Rafis bersorak gembira. Terlihat jelas kebahagiaan di kedua mata bulat bocah itu, yang membuat Tasya semakin merasa dirinya harus menerima lamaran Putra, demi kebahagiaan buah hatinya tersebut.
__ADS_1