
"Wanita itu menuju ke Bandara pak." Ucap lelaki yang berada di ujung sana.
Anton terdiam, ia mencoba menerka kemana perginya Tasya pada pagi-pagi buta, hari ini. Tiba-tiba saja, ia mengingat ucapan Tasya yang mengatakan bila dalam waktu dekat, ia akan bertolak ke Kota Solo. Yaitu kampung halaman Tasya.
"Baik," Sahut Anton yang baru saja terjaga dari tidurnya. Lalu ia beranjak dari atas ranjang dan berjalan menuju ke lemari pakaian nya. Ia mengeluarkan koper kecil miliknya dan juga beberapa pasang pakaian dan memasukkan nya kedalam koper milik nya itu.
"Halo, bisa belikan saya tiket pesawat ke Solo untuk hari ini? Kalau bisa pagi ini sekitar pukul delapan atau sembilan. Maskapai apa saja, yang penting saya bisa terbang ke Solo." Perintah Anton kepada seseorang yang baru saja ia hubungi.
"Untuk berapa orang pak?" Tanya seorang wanita di ujung sana.
"Untuk lima orang. Saya akan kirimkan nama-namanya via WhatsApp."
"Baik pak." Sahut wanita di ujung sana.
Panggilan itu pun diakhiri oleh Anton Lelaki itu langsung memasuki kamar kecil yang terletak di kamar nya yang sangat luas. Ia hendak mandi dan langsung bertolak ke bandara bersama dengan empat bodyguard nya yang biasa mendampingi dirinya kemana saja.
"Halo, kamu buntuti wanita yang akan mendarat di Bandara Adi Sumarmo pagi ini. Saya akan mengirimkan fotonya." Dari bilik kamar kecil, terdengar Anton memerintahkan seseorang yang berada di Kota Solo untuk segera berangkat ke Bandara Adi Sumarmo yang terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa tengah.
"Jangan sampai terlepas dari pandanganmu. Aku butuh tahu dimana alamat rumahnya!" Ucap Anton lagi seiring dengan suara gemercik air yang keluar dari shower yang baru saja ia nyalakan.
Begitu penasaran nya Anton dengan apa yang akan Tasya lakukan di Kota Solo, dengan siapa yang menjadi tunangan Tasya, apakah Banyu atau lelaki lain, atau dimana alamat kampung halaman wanita itu. Semua yang ada di otaknya hanya tentang Tasya dan Tasya. Ia seperti menggila saat ia mengetahui Banyu lah yang dekat dengan Tasya. Tetapi karena Banyu sahabat karib nya, ia tidak ingin langsung memvonis Banyu. Ia butuh bukti lain yang harus ia kumpulkan sebelum ia menyerang Banyu. Tanpa ia sadari, dirinya bukan lah siapa-siapa bagi Tasya. Hanya saja cinta yang tengah ia rasakan membuat dirinya menjadi gila dan buta.
.
"Mas datang gak?"
Pertanyaan itu terus menggema di otak Banyu. Banyu yang belum tertidur dari kemarin pun, mengusap wajahnya yang terlihat lesu.
"Apa yang harus aku lakukan? Menghadiri pertunangan itu? Tetapi apa tanggapan keluarga bila aku tidak datang?" Gumam nya yang sedang duduk termenung di beranda rumah nya sejak selepas sholat Subuh.
Dreeeettt.. Dreeettt...
Ponsel Banyu berdering, ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja di samping gelas kopinya.
"Ambu?" Batin nya.
Dengan segera, Banyu menerima panggilan dari ibu kandung nya tersebut.
__ADS_1
"Halo ambu, Assalamu'alaikum." Sapa Banyu.
"Halo jang.. Kamu datang kan ke acara pertunangan adik mu?"
Banyu terdiam, ia menatap jam di layar ponselnya. Waktu menunjukkan pukul enam pagi.
"Acaranya jam berapa?" Tanya Banyu dengan berat hati.
"Jam dua belas siang kok Jang. Jangan bilang kalau kamu tidak niat datang. Tolong hargai adikmu! Masih ada waktu.. kamu menyusul lah. Kalian hanya dua bersaudara. Jangan begitu atuh jang!"
Banyu menghela nafas panjang, mengapa hanya ia yang di minta untuk menghargai Putra, sedangkan Putra tidak sekalipun diminta untuk menghargai perasaan nya. Bahkan saat ia dan Tika bertunangan pun Putra tidak sekalipun menampakkan batang hidungnya.
"Jang!"
"Ya mbu?"
"Jawab atuh pertanyaan ambu."
"Aku datang mbu. Ambu tenang saja." Janji Banyu.
"Kau belum tahu."
"Gimana sih jang! Jangan-jangan kamu belum beli tiket pesawat?"
"Belum ambu."
"Kamu ini ya! Memang gak ada perasaan nya! Jadi kamu datang atau tidak?"
"Aku datang. Ambu jangan marah dulu. Aku yang mengurus semuanya, termasuk segala kebutuhan lamaran. Belum pekerjaan yang sedang sibuk-sibuk nya. Jadi wajar bila aku sampai lupa membeli tiket pesawat. Tapi aku usahakan bila aku akan sampai di sana sebelum acara di mulai. Ambu nanti tinggal kasih aku alamat rumahnya, aku akan menyusul." Terang Banyu panjang lebar.
"Ya sudah! Awas saja kalau tidak datang. Hargai adikmu."
"Iya Ambu."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Sahut Banyu.
__ADS_1
Banyu mengusap wajahnya dengan gusar, kala panggilan telepon dari ibunya berakhir. Ia terdiam sejenak, sebelum ia melakukan pembelian tiket secara online untuk menyusul keluarganya yang hari ini bertolak ke Kota Solo.
"Kuat tidak kuat, rela tidak rela, harus dihadapi." Batin Banyu, sesaat setelah ia melakukan pembayaran untuk tiket yang baru saja ia dapatkan. Lalu ia beranjak dari duduknya dan bergegas untuk mengemasi pakai ganti yang akan ia bawa bersama dengan nya ke Kota Solo.
.
"Bagaimana ambu? Apa a' Banyu akan datang?" Tanya Putra yang duduk di samping ibunya. Putra, ambu dan abah nya tengah duduk di ruang tunggu Bandara, mereka sedang menunggu panggilan untuk pesawat yang akan membawa mereka ke Kota Solo.
"Katanya dia akan menyusul." Sahut ibunya.
Putra tersenyum sinis, ia merasa senang sekali bila Banyu turut hadir di acara pertunangan dirinya dan Tasya. Perasaan senang itu bukan karena ia ingin membagi kebahagiaan kepada Banyu, melainkan dirinya ingin membuktikan kepada Banyu bila dirinyalah pemenang hati Tasya. Putra tahu bila dirinya dan kakak kandungnya itu mencintai wanita yang sama. Oleh karena itu ia sangat berharap bila Banyu akan berhenti menyukai Tasya, saat Banyu merasakan sakit nya patah hati di acara pertunangan nanti.
"Kita lihat A', seberapa tegar dirimu menghadapi kenyataan pahit." Batin nya.
"Anak ambu, yang paling sukses yang paling kasep, kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya ibunya seraya mengusap lembut rambut Putra yang tertata rapi.
"Tidak apa-apa ambu." Sahut Putra seraya terus tersenyum.
"Ah.. ambu tahu bila kamu teh tidak sabar ingin segera bertunangan, ya kan?"
"Hehehe.. iya ambu.. akhirnya aku menemukan tambatan hati."
"Kamu hebat nak.. ambu bangga padamu."
"Terima kasih ambu. Ngomong-ngomong, ambu beneran setuju kan aku menikahi Tasya? Dia sudah punya anak satu ambu.." Putra menatap ibunya dengan seksama, ia memastikan lagi bila ibunya benar-benar merestui dirinya dan Tasya.
"Tidak apa-apa, segala yang kamu pilih itu adalah yang terbaik. Ambu akan selalu mendukung apa pun itu, asal kamu senang."
"Ambu... memang hebat!" Seru Putra.
"Karena kamu anak kesayangan ambu."
Putra kembali tersenyum, kali ini ia tersenyum dengan puas. Ia merasa menang dari Banyu dalam segala hal, dan ia merasa tidak sabar dengan kebahagiaan seperti yang ada di angan-angannya selama ini.
bertunangan, menikah, dan membawa Tasya dan juga Rafis untuk tinggal di Kota Solo.
Apakah kenyataan akan sesuai dengan segala angan-angan Putra? Tidak ada yang tahu, takdir apa yang akan ia lalui.
__ADS_1