Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
48. Kembali Risau


__ADS_3

Putra tersentak dari tidurnya, kala ia merasa ada seseorang yang mengecup kening nya dengan lembut. Ia pun membuka mata dan menatap Alia yang sedang merapikan letak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Alia terlihat sangat khawatir dan perhatian kepada dirinya. Maka dari itu, Putra membiarkan Alia melakukan hal itu kepada dirinya, hingga Alia tersadar bila Putra sudah terbangun dan sedang memperhatikan dirinya.


"Maaf, kamu terbangun gara-gara aku?" Alia terlihat sangat menyesal.


"Tidak apa." Sahut Putra sambil terus menatap Alia yang terlihat sangat cantik pada penghujung sore ini. Alia memakai dress berwarna hijau dengan potongan dada yang rendah. Dress bermotif bunga tersebut terlihat semakin menarik di tubuh Alia yang indah dan kulit nya yang putih. Sedangkan rambut Alia, gadis itu sengaja menggulung semua rambut panjang nya dan di jepit dengan jedai. Dan sore itu juga Alia terlihat sangat fresh, karena sudah mandi dan memoles wajahnya dengan riasan yang sangat tipis, namun terlihat manis.


"Mumpung bangun, mau teh...? Kita minum teh di beranda sana." Alia menunjuk beranda kamar tersebut.


Putra masih terpana menatap wajah cantik Alia. Entah mengapa, hatinya mulai merasa luluh dengan gadis campuran Indonesia dan Belgia tersebut.


"Cantik sekali.." Gumam nya.


"Apa?" Tanya Alia dengan lembut. Ia sempat mendengar Putra bergumam, namun ia tidak mendengar dengan jelas Putra mengucapkan apa.


"Maksudnya iya.. aku mau."


"Oh.." Alia tersenyum manis dan beranjak dari kamar tersebut.


"Sebentar ya.. aku suruh asisten ku untuk membuatkan kita teh."


"Iya.." Putra mengangguk dan terus menatap Alia tanpa berkedip sekalipun.


"Luar biasa... ternyata... hmmm.. dia... cukup menggoda."


"Ah.. tapi aku memikirkan apa sih? Aku kan akan menikahi Tasya.." Putra menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya. Ia mencoba mendustai pesona Alia yang sangat menarik hatinya.


Tidak berapa lama, Alia pun muncul kembali di kamar itu. Ia memasuki kamar itu dengan senyuman manis di bibirnya.


"Ayo kita tunggu teh nya di beranda saja." Alia mencoba merangkul Putra dengan maksud hati ingin membantu lelaki itu untuk berjalan dan duduk di beranda kamar yang terletak di lantai dua tersebut. Namun Putra bergeming, ia justru menatap Alia dengan seksama. Mereka saling terpaku, persis saat mereka duduk berdua di mobil milik Putra kala mereka pertama kali jalan berdua.


"Ayo.." Bisik Alia.


Putra menelan salivanya. Ia terus menatap bibir lembut Alia yang pernah ia cicipi pada waktu itu. Lalu tatapan Putra jatuh kebagian dada Alia yang terlihat begitu ranum di usianya yang belum genap dua puluh tahun. Dua anggota tubuh Alia yang pernah Putra sentuh dengan lembut, yang membuat Alia sempat menggila karenanya.


"Ayo.." Ucap Alia lagi.


"Ah.. iya." Putra berusaha beranjak dari ranjang, dibantu oleh Alia dan berjalan menuju ke beranda kamar itu.

__ADS_1


"Disini pemandangan nya langsung ke sana." Alia menunjuk matahari yang mulai tenggelam, serta langit yang berwarna orange ke kuningan yang begitu indah.


"Indah bukan?" Sambung Alia.


"I-iya." Putra terlihat sangat grogi. Ia pun melemparkan pandangan nya ke arah matahari terbenam tersebut.


"Hmmm.. bagaimana perasaan mu?" Tanya Alia.


"Ba-baik."


"Syukulah, aku minta maaf ya.. kalau papa ku.. dan aku...


"Tidak apa.. aku memang pantas mendapatkan nya." Potong Putra.


Alia menatap Putra dengan seksama. Lalu ia menyentuh lembut pipi Putra yang masih terlihat lebam karena pukulan dari bodyguard Anton.


"Aku boleh bertanya?"


"Apa?" Putra membalas tatapan Alia yang terlihat teduh pada sore hari ini, hingga membuat dirinya nyaman dengan sorot mata itu.


Putra terdiam, ia menundukkan pandangan nya dan mencoba berpikir kata apa yang pantas untuk menjawab pertanyaan dari gadis yang masih berstatus mahasiswinya itu.


"Apa aku jelek?"


Putra kembali menatap Alia. Lalu ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak sama sekali." Sahut Putra.


"Apa aku tidak pantas di cintai?"


Putra kembali terdiam.


"Ibuku pergi meninggalkan aku dan papa. Aku sempat merasa tidak dicintai oleh nya. Tetapi, akhirnya aku tahu, mengapa ibuku meninggalkan aku dan papa. Salah ibu ku memang, dikala ia punya masalah dan berniat meninggalkan papa.. tetapi dia tidak membawaku bersama dengan nya."


Putra menatap Alia dengan seksama. Terlihat kesedihan yang begitu mendalam di kedua mata gadis cantik itu.


"Aku juga sempat merasa tidak dicintai oleh papa. Karena papa sibuk bekerja dan sibuk menghabiskan waktu dengan para wanita tidak jelas. Aku hanya hidup bersama dengan oma. Satu-satunya orang yang mencintaiku hanya oma. Saking cinta nya oma kepadaku, ia jadi seperti toxic yang selalu mengatur hidupku. Aku hanya ingin dicintai tanpa di genggam kuat-kuat. Aku hanya ingin dicintai dengan kelembutan."

__ADS_1


Terlihat kedua mata Alia yang berkaca-kaca dan berkilauan karena pantulan sisa sinar matahari yang semakin beranjak turun. Lalu ia menatap Putra dengan seksama, dan akhirnya air mata itu pun bergulir di pipinya yang lembut.


"Entah mengapa, saat bertemu denganmu aku jatuh cinta. Aku menyukai lelaki yang jauh lebih dewasa, karena aku yakin.. lelaki dewasa akan bisa memberikan aku kasih sayang, layaknya kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Itulah mengapa aku begitu bahagia, saat kamu mengajak aku untuk makan malam." Alia tersenyum sembari meneteskan air mata.


Putra masih terdiam, hingga seorang asisten datang mengantarkan teh pesanan Alia dan menaruhnya di atas meja yang terletak di beranda kamar tersebut.


"Terima kasih," Ucap Alia kepada asister rumah tangganya. Terlihat sekali, bila Alia sebenarnya memiliki hati yang lembut dan juga sopan santun yang begitu baik. Karena Alia dibawah asuhan oma nya yang sudah berpengalaman dalam mendidik dan merawat anak.


Ada perasaan salut yang muncul begitu saja dihati Putra. Selama ini ia merasa Alia adalah gadis kaya yang sesuka hati. Yang selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Namun, sore ini penilaian itu terhapus begitu saja. Yang tersisa hanya perasaan simpatik dan iba di hati Putra.


"Aku ingin bertanya," Sambung Alia.


"Apa?"


"Apakah kamu benar-benar sudah bertunangan?"


Putra kembali terdiam, ia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Apakah kamu tidak bisa meninggalkan dia dan bersamaku saja?" Tanya Alia lagi.


"A-aku.."


"Aku berjanji akan menjadi istri yang baik. Aku berjanji akan membuat kamu bahagia dan anak-anak kita bahagia. Tetapi aku mohon, berikan aku cinta. Aku hanya butuh itu, tidak yang lain nya. Aku sudah memiliki segalanya, namun hidupku kosong karena tidak memiliki cinta."


"Apakah kamu bisa memberikan aku cinta? Cinta yang tulus?"


Bibir Putra terkunci rapat, ia hanya mampu menatap dua mata Alia yang indah.


"Aku mohon, belajarlah mencintai aku." Air mata kembali mengalir di pipi Alia yang lembut. Gadis itu pun beranjak dari duduknya dan bersimpuh di lantai, tepat di depan Putra yang sedang duduk diatas kursi.


"A-apa yang kamu lakukan?" Putra terlihat enggan dengan apa yang Alia lakukan.


"Aku mohon.." Alia merebahkan kepalanya di kedua paha Putra.


Putra terlihat gelisah, lalu perlahan ia mulai mengusap rambut Alia dengan perasaa yang kacau. Hatinya mulai tersentuh, namun pikiran nya mencoba menolak gadis itu. Karena ia masih mencintai Tasya, wanita yang beberapa hari lagi akan ia lamar di depan kedua orang tuanya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Putra yang mulai risau.

__ADS_1


__ADS_2