
"Ini terbuat dari kayu Ulin dan ini Jati. Kwalitas nya aku berani jamin. Kalau yang sebelah sana kayu biasa, hanya saja modelnya sama. Kami memproduksi model yang sama dengan berbagai jenis kayu." Terang Banyu saat ia berjalan bersama dengan Tasya di gudang mebel yang dipasarkan oleh Banyu.
Tasya mendekati salah satu produk dengan kwalitas yang biasa, lalu ia berjalan menghampiri produk yang kwalitas nya terbaik."
"Tapi kalau ini mahal ya mas?" Tanya Tasya seraya menyentuh mebel dari kayu jati.
"Tentu saja, itu kan kayu Jati." Banyu tersenyum, karena Tasya benar-benar tidak paham dengan jenis-jenis kayu untuk mebel.
"Iya sih, dipegang saja sudah terasa mahalnya." Ujar Tasya.
Mereka berdua melanjutkan ke bagian belakang gudang. Dimana di sana terdapat banyak sekali kursi dan meja dari berbagai bahan, termasuk besi. Banyu berjalan mendahului Tasya dan menunjuk sebuah kursi untuk karyawan.
"Kalau ini kan bahan besi dan busa standar. Harga nya aku kasih diskon dan sudah dipilih oleh pak Siswoyo. Produksi sudah berjalan tujuh puluh persen. Mungkin bulan depan sudah jadi semua dan aku kirim ke Semarang."
Tasya diam saja, ia hanya berjalan menghampiri kursi tersebut dan menarik nya. Lalu Tasya duduk di atas kursi itu.
"Nyaman mas."
Banyu hanya tersenyum saat melihat Tasya mencoba kursi tersenyum.
"Jadi bagaimana? Ada yang perlu di rubah?" Tanya Banyu.
"Paling yang lemari saja mas, karena itu jangka panjang. Jadi, aku harus memilih yang bisa digunakan untuk jangka panjang."
"Ok, tambahan nya akan segera aku laporkan ya."
"Iya mas," Sahut Tasya seraya beranjak dari kursi tersebut. Lalu ia berjalan menghampiri Banyu.
"Terima kasih ya mas, mas sudah membantu pekerjaan ku," Ucap Tasya seraya memberikan senyuman manisnya kepada Banyu.
Banyu terpana melihat lengkungan indah di wajah Tasya.
"Mas," Panggil Tasya.
"Ah.. iya.. Sama-sama," Ucap Banyu seraya mengerjapkan kedua matanya.
Tasya kembali tersenyum dan berjalan di depan Banyu.
"Jadi, aku kembali ke kantor ya."
"Hmmmm, tidak makan siang dulu?"
Tasya menoleh dan menatap Banyu dengan seksama.
__ADS_1
"Oh iya, ini sudah masuk waktu makan siang. Hmmm.. jadi kita makan dimana?"
"Kita?" Batin Banyu.
"Mas punya rekomendasi makanan enak di sekitar sini?"
"A-ada, tidak jauh dari sini."
"Ayo.." Ucap Tasya dengan bersemangat.
"Iya.." Banyu berjalan di belakang Tasya. Namun sedetik kemudian, Tasya berbalik dan hendak mengatakan sesuatu. Karena Banyu sudah berada tepat di belakang Tasya, akhirnya Tasya pun tidak sengaja menabrak tubuh banyu. Reflek Banyu langsung melingkarkan tangan nya ke punggung Tasya, karena ia takut Tasya terjatuh karena menabrak tubuhnya.
Mata mereka saling bertautan, jantung mereka sama berdebar nya saat ini. Banyu menelan saliva nya saat ia memperhatikan setiap lekuk di wajah cantik Tasya.
"Ma-maaf." Tasya terlihat salah tingkah.
"Tidak apa-apa, mau mengatakan apa?" Tanya Banyu tanpa melepaskan tangan nya yang seperti memeluk Tasya.
"A-aku.. hmmm.. mungkin aku terlalu percaya diri. Maksudku.. apa mas itu... apa.. itu.. duh.. aku kok blank! Aku mau nanya apa ya mas?"
"Loh!" Banyu menahan tawanya saat melihat Tasya salah tingkah dan lupa mau mengatakan apa kepada dirinya.
"Itu.. mas tadi bertanya atau mengajak aku makan siang? Aku malu, kok kesan nya...
Tasya yang sedang menundukkan pandangan nya, kembali menatap Banyu dengan seksama. Kini mereka kembali saling bertatapan dengan posisi tubuh yang begitu rapat. Tak ada kata yang terucap diantara mereka. Suasana pun terasa menjadi hening, karena para pekerja pun sudah keluar semua untuk makan siang. Di gudang itu hanya ada mereka berdua saja.
Tatapan Banyu jatuh pada bibir Tasya yang terlihat merah merekah. Jantung nya pun terasa berdegup lebih kencang lagi. Pun dengan Tasya yang menjatuhkan pandangan nya juga pada bibir Banyu yang tipis. Tasya merasakan debaran yang sama seperti yang tengah Banyu rasakan. Entah mengapa, lingkar tangan Banyu di tubuh Tasya terasa semakin erat. Hingga Tasya semakin merapat ke dekapan Banyu. Perlahan Banyu mendekati bibir nya ke wajah Tasya. Semakin dekat dan kini hampir saja saling bersentuhan. Seakan menerima, Tasya diam saja dan terus menatap bibir Banyu yang nyaris menyentuh bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan Banyu? Dia adalah wanita yang dicintai Putra, adikmu." Tiba-tiba saja kata hati Banyu mencegah dirinya untuk mengecup bibir Tasya. Saat itu juga Banyu melepaskan tangan nya yang mendekap erat tubuh Tasya.
"Maaf." Banyu melangkah mundur dan bersikap panik sekaligus canggung.
Tasya terdiam, pipinya terlihat merah padam. Jantung nya berdegup tak beraturan. Ia hanya bisa menatap Banyu yang sedang salah tingkah di hadapan nya.
"Aku benar-benar minta maaf, aku mohon jangan katakan ini pada Putra."
Deg!
Tasya baru mengingat dirinya sedang dekat dengan Putra. Seketika ia pun mulai terlihat tak kalah salah tingkah dari Banyu.
"Kamu tidak marah kan padaku?" Banyu memegang kedua pundak Tasya. Sedangkan Tasya berusaha mengalihkan pandangannya ke arah tumpukan kursi di sebelah kanan nya.
"Tasya.." Panggil Banyu yang terlihat semakin panik.
__ADS_1
Tasya menghela nafas panjang sebelum ia kembali menatap sepasang mata indah milik Banyu.
"Sepertinya aku makan siang di kantor saja mas. Aku pulang naik taksi saja."
"Tas.." Banyu terlihat semakin bingung akan bersikap apa pada wanita itu.
"Terima kasih ya mas." Tasya mencoba tersenyum, seakan tidak ada kejadian apa pun diantara mereka berdua.
"Tasya.. kamu marah?"
Tasya memberanikan diri menatap Banyu sebelum ia berniat untuk meninggalkan gudang tersebut.
"Apa yang harus aku marah kan? Tidak terjadi apa pun diantara kita bukan?"
Pertanyaan Tasya membuat Banyu semakin merasa bersalah.
"A-aku...
"Sampai jumpa lagi mas." Tasya melemparkan senyum kepada Banyu sebelum ia melangkah keluar dari gudang itu.
Banyu terdiam membisu, ia meremas rambut nya dan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Entah mengapa saat bersama dengan Tasya, seakan dirinya tidak mampu untuk menahan apa yang ia rasakan. Kali ini bukan tentang Tasya begitu mirip dengan Tika. Bahkan, sejak dari Semarang, Banyu mulai tidak begitu sering memikirkan Tika. Kini ia melihat Tasya, sebagai seorang Tasya. Bukan lagi tentang begitu miripnya sikap dan kebiasaan Tasya dengan Tika.
Banyu menatap punggung Tasya yang kian menjauh, hingga wanita itu menghilang dari balik pintu gudang.
"Apa yang aku lakukan? Apakah aku jatuh cinta padanya? Apakah aku jatuh cinta pada wanita yang sama dengan wanita yang dicintai oleh adik ku?" Peluh membasahi dahi Banyu. Ia terus terlihat panik hingga ia bersandar ke salah satu lemari yang berdiri di samping nya.
"Mengapa ia seakan menerima? Apa dia tidak mencintai Putra? Atau... arghhhhh! Aku sungguh malu. Kakak macam apa aku ini? Berani-beraninya aku mencoba mengecup wanita yang dicintai adik ku sendiri." Banyu menendang sekeping kayu yang tergeletak di depan nya.
Pletakkkkk...!
Kayu itu menabrak dinding gudang.
.
Pletakkkk..!
Tasya yang sedang melangkah menjauhi gudang tersebut mendengar suara gaduh dari dalam gudang. Hati nya bergetar, pikiran nya kacau. Namun ia tetap terus melangkah dan mencoba untuk tidak mempedulikan apa pun yang terjadi di dalam gudang itu. Hingga kakinya menginjak trotoar di tepi jalan. Ia berdiri di sana menunggu taksi yang lewat, untuk ia tumpangi.
"Mas Banyu.." Batin Tasya.
Ia terus merasa gelisah karena perasaan nya yang terus membodohi dirinya.
"Mengapa tadi aku diam saja? Apa aku juga mengharapkan itu semua terjadi? Aku sungguh malu." Batin nya lagi.
__ADS_1
Sebuah taksi berhenti di depan Tasya. Tidak menunggu lama, Tasya pun langsung memasuki taksi tersebut dan meminta supir taksi itu untuk membawanya kembali ke kantor nya.