Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
72. Kehadiran Banyu


__ADS_3

"Sudah sampai pak," Ucap supir taksi, saat ia baru saja menghentikan laju taksi milik nya di depan sebuah rumah dengan bangunan khas rumah adat Jawa Tengah yang terlihat asri dengan berbagai macam tanaman dan rerumputan di halaman rumah tersebut.


Banyu melihat rumah tersebut dari balik jendela mobil, lalu ia memastikan sekali lagi alamat rumah tersebut dari alamat yang dikirimkan oleh ibunya melalui sebuah pesan, hingga ia benar-benar yakin bila rumah tersebut adalah rumah milik keluarga Tasya.


"Iya pak," Sahut nya. Lalu ia mengeluarkan dompetnya dan membayar ongkos taksi tersebut sesuai dengan argo yang tertera, sebelum ia turun dari taksi itu. Supir taksi pun ikut turun setelah Banyu membayar jasa nya, untuk mengeluarkan koper milik Banyu yang berada di bagasi taksi tersebut. Setelah koper itu di turunkan, supir taksi itu pun mengucapkan terima kasih pada Banyu dan lalu kembali ke balik kemudinya.


Banyu yang hendak melangkah kedalam pekarangan rumah tersebut pun dikejutkan oleh Putra yang baru saja keluar dari rumah itu. Putra tampak berlari dengan susah payah menuju taksi yang baru saja Banyu tumpangi, sambil berteriak memanggil supir taksi itu.


"Pak tunggu pak! Taksi! Woii...! Taksi!"


Putra tampak sangat kacau. Wajahnya kembali terlihat babak belur, darah yang keluar dari hidungnya mengotori wajah nya dan juga pakaian nya. Melihat hal itu, Banyu mulai panik. "Apa yang terjadi pada Putra?" Batin Banyu.


"Pak.. woii tunggu!" Putra kembali berteriak memanggil supir taksi yang tidak mendengarnya, seraya melambai-lambaikan tangan ke arah supir taksi yang sudah siap untuk melajukan kembali taksi nya. Tanpa Putra sadari, sosok yang baru saja turun dari taksi tersebut adalah Banyu, kakak kandungnya.


"Kembali kau biadab!" Terdengar suara lantang, diiringi sosok seorang lelaki yang baru saja melangkah keluar dari rumah tersebut, dan di susul oleh empat bodyguard dan juga keluarga Tasya, juga kedua orang tua Banyu dan Putra.


Banyu terbelalak saat melihat sosok Anton yang berjalan mendekat kearah Putra. Satu yang ada dipikiran Banyu saat ini adalah, Anton sengaja jauh-jauh datang hanya untuk melihat siapa tunangan Tasya dan berniat untuk menghancurkan acara tersebut. Tanpa Banyu sadari, ada hal lain yang membuat Anton mengamuk di acara tersebut.


Banyu tidak hanya tinggal diam kala ia melihat Anton menarik kemeja Putra dan membanting adik nya itu di atas rerumputan hias di halaman tersebut.


Bug!


Heg! Putra mengeluh dengan dada yang terasa sesak.


"Aku sudah bilang, bila kamu berani mempermainkan putri ku, maka habislah kau!" Anton mencekik leher Putra dengan sekuat tenaga.


Terdengar teriakan histeris dari seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu.


"Ada apa ini!" Teriak Banyu, seraya menarik tangan Anton yang sedang berusaha untuk menghabisi adik nya di depan umum.

__ADS_1


Anton menoleh dan menatap Banyu, kala Banyu menarik tangan kanan nya dengan kasar. Ia tidak menyangka bila Banyu juga datang ke acara tersebut.


"Banyu!" Serunya, ia melepaskan tangan nya dari leher Putra yang terlihat sudah mulai sulit bernafas.


"Uhuk! Uhuk!" Putra terbatuk saat Anton melepaskan cekikan di leher nya. Lalu ia terdiam kala ia menatap samar sosok Banyu yang berdiri dengan gagahnya di samping Anton.


"A'a.. tolong a'.." Putra merangkak dan memegangi sebelah kaki Banyu, untuk memohon perlindungan dari kakak nya itu.


"Kau.. mengapa kau ada di sini?" Tanya Anton tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan nya dari Banyu.


"Apa yang kau lakukan pada adik ku?" Tanya Banyu dengan sikap yang tegas dan raut wajah yang dingin.


"Adik?"


"Ya, dia adik ku! Mengapa kau siksa dia? Apa salahnya? Apa kau tidak terima bila dia bertunangan dengan wanita yang kamu cintai? Tahu kah kau Anton, Putra sudah lebih dulu dekat dengan Tasya sebelum kau mengatakan cinta pada Tasya!"


"Jadi... selama ini.."


"Berhentilah berkhayal bila Tasya milikmu Anton! Dia milik adik ku. Selama ini aku hanya diam demi persahabatan kita. Ternyata aku salah, kau mengambil tindakan yang sangat merugikan dirimu sendiri dan adik ku. Tidak hanya adik ku, tetapi kau mempermalukan keluarga Tasya dan juga Tasya sendiri!" Banyu mengatakan hal itu dengan nada suara yang terkesan sangat keras dan tegas.


Anton menelan salivanya. Ia mencoba menahan emosinya yang semakin bertumpuk. Ya, dia merasa emosi pada sahabatnya sendiri, yaitu Banyu. Karena kebohongan Banyu selama ini pada dirinya. Satu sisi ia tidak menyangka bila Banyu tahu semua kebohongan dirinya yang telah mengaku-ngaku bila Tasya adalah calon istrinya.


"Aku kira kau sahabat, ternyata bukan.." Ucap Anton dengan mata yang memerah seraya menatap Banyu dengan tajam.


"Aku sahabatmu! Tetapi dia juga adik ku! Cara menghakimi seperti ini tidak baik Anton! Apa tidak bisa kita bicarakan sebaik-baiknya! Apa kau gila!"


Anton kembali terdiam. Ia mulai terlihat salah tingkah saat mendengar ucapan Banyu.


"Semua masuk kedalam! Kita bicarakan baik-baik. Tidak kah kalian lihat semua? Tetangga sudah berdatangan dan ini cukup memalukan bagi keluarga Tasya!"

__ADS_1


Semua orang mulai sadar, drama itu di tonton oleh banyak warga kampung halaman Tasya. Sebagian orang tampak berbisik-bisik mencoba menebak-nebak apa yang terjadi di rumah orang tua Tasya.


"Iya mari masuk.. kita bicarakan baik-baik. Biar semua terbuka. Ayo mari.. ada benarnya apa yang dikatakan anak muda ini. Bapak malu..." Ucap Bapak nya Tasya yang baru saja menghampiri mereka di halaman rumah itu.


"Kau! Bangun! Jangan menangia layaknya anak kecil! Hadapi semua dengan berani..!" Ucap Banyu pada Putra yang masih bersimpuh di kakinya.


Putra mencoba berdiri, dibantu oleh Banyu. Terlihat raut wajah gelisah dari Putra kala semua orang berusaha untuk mendamaikan dan berbicara dengan baik-baik tentang akar dari masalah dan penyerangan Anton yang brutal di acara tersebut. Yang berarti, mau tidak mau, Putra harus siap aib nya dibongkar oleh Anton dan juga harus siap kehilangan Tasya dan Rafis, bila Tasya dan kedua orangtuanya tahu siapa sebenarnya dirinya. Tetapi tidak ada pilihan lain, semua sudah terlanjur terjadi. Mau tidak mau, ia harus menghadapinya. Walaupun awalnya ia berencana pergi begitu saja dari rumah itu dan masalah yang sedang menjerat nya.


"Bubar! Bubar!" Ucap Bapaknya Tasya kepada warga yang sedang menonton kekacauan yang terjadi di acara pertunangan anaknya itu.


Satu persatu warga mulai membubarkan diri, kala melihat aktor dari kekacauan tersebut beranjak masuk kerumah itu.


.


"Mama... bangun ma.." Rafis menangis seraya memeluk Tasya yang terbaring diatas tempat tidur, di kamarnya.


"Ma.." Sesekali Rafis mengguncang tubuh Tasya yang masih terbalut kebaya cantik untuk acara pertunangan impian nya. Namun angan-angan itu harus pupus begitu saja, saat ia menerima kenyataan bila calon tunangan nya tidak sebaik yang ia pikirkan.


Seorang penata rias berinisiatif untuk mengoleskan minyak kayu putih di sekitar hidung Tasya. Lalu ia menepuk-nepuk pelan pipi Tasya yang masih tak sadarkan diri.


"Mbak.. bangun... mbak.." Panggilnya berulang kali.


Tasya perlahan bergerak pelan, lalu ia membuka kedua mata indahnya dan mencoba menatap satu persatu orang yang sedang mengelilingi dirinya. Lalu tatapan nya mendarat ke Rafis yang terus menangis menatap dirinya.


"Rafis.." Ucapnya seraya membalas pelukan Rafis yang begitu erat di tubuhnya.


Tasya dan Rafis hanya bisa menangis tanpa sepatah katapun. Kejadian ini tidak hanya melukai hati Tasya, melainkan juga melukai hati Rafis yang sudah terlanjur berharap bila Putra kelak akan menjadi bapak sambung nya.


"Terkadang, semesta seakan tidak mendukung kebahagiaan yang ingin kita raih. Tanpa kita sadari, rencana Tuhan begitu hebat untuk kita sendiri. Yaitu menghindari kita dari orang yang salah." -De'rini-

__ADS_1


__ADS_2