Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
42. Berita baik


__ADS_3

Banyu membuka pintu mobilnya dan beranjak masuk kedalam mobil tersebut. Ia terdiam di balik kemudi. Pandangan nya nanar dan dadanya terasa sesak. Teringat jelas dibenak Banyu, ekspresi Putra yang begitu bahagia, kala menyampaikan bila Tasya meminta adik nya itu untuk segera melamar Tasya secara sah di depan keluarga besar Tasya di Solo. Tidak bisa di pungkiri bila Putra memang benar-benar mencintai Tasya. Banyu belum pernah melihat Putra seserius ini pada wanita, selain Queen. Harusnya dia ikut bahagia dengan kemajuan hubungan Putra dan Tasya. Tetapi apa daya, batin nya menolak untuk bahagia. Ada perasaan tak rela yang begitu menggebu. Terutama saat ia tahu, bila Putra memiliki seorang gadis lain yang sedang dekat dengan adik kandung nya itu. Yaitu, Alia. Hal itu membuat Banyu merasa semakin tidak rela. Ia merasa Putra begitu kejam dengan Tasya yang sudah memutuskan untuk serius dengan Putra.


Terlebih saat Banyu memimpikan Tika. Kata-kata Tika membuat pikiran nya terbuka. Tidak main-main, pagi ini ia berusaha menghubungi Tasya. Namun tampaknya Tasya memang sedang sibuk mengurus ibu nya yang sedang sakit. Akhirnya Banyu berhenti menghubungi Tasya dan mencoba mampir ke rumah sakit, untuk membicarakan hal ini pada Putra. Ya, niat awal Banyu datang ke rumah sakit, untuk mengakui bila dirinya juga mencintai Tasya, kepada Putra. Diluar dugaan nya, ternyata Putra sedang bersama gadis lain. Dan yang lebih surprise baginya adalah.. Kala Putra menyampaikan bila Tasya bersedia menjadi istrinya. Hancur, itulah yang Banyu rasakan. Dikala ia berpikir mantap untuk maju, semua itu harus dipadamkan oleh kenyataan. Kenyataan dimana Tasya sudah menentukan pilihan, Putra lah yang akan menjadi pendamping hidupnya.


Dreeettt...! Dreeeettt...! Dreeeett..!


Lamunan Banyu pun buyar, kala ponselnya berbunyi. Dengan malas, Banyu meraih ponselnya dari saku celana dan lalu mencari tahu siapa yang sedang menghubungi dirinya. Terpampang jelas nama Tasya di layar ponselnya. Hati nya pun semakin risau. Antara ingin menerima panggilan tersebut atau tidak.


Beberapa detik, Banyu hanya menatap panggilan tersebut tanpa berani untuk menerima panggilan itu. Hingga akhirnya panggilan itu pun berakhir tanpa sempat ia jawab.


Dreettttt...! Dreeeett..! Dreeeett..!


Panggilan kembali masuk di ponsel milik Banyu, saat ia sudah berniat untuk meninggalkan parkiran rumah sakit tersebut. Banyu melirik ponselnya yang ia taruh di atas dashboard mobilnya. Lagi-lagi panggilan itu dari Tasya.


Banyu kembali menarik rem tangan mobilnya dan meraih ponsel itu. Ia terus menatap layar ponselnya dengan sepasang mata sendu yang ia miliki. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk menerima panggilan tersebut di detik terakhir Tasya yang hampir saja mengakhiri panggilan tersebut.


"Halo." Sapa Banyu dengan nada suara yang terdengar begitu datar.


"Halo mas, maaf bila aku mengganggu. Tadi mas menghubungi aku ya? Ada apa?" Tanya Tasya dari ujung sana.


Banyu terdiam, ia tidak tahu akan memberikan alasan apa kepada Tasya.


"Mas?" Panggil Tasya, setelah ia menunggu beberapa detik.


"Ya.. hmmm, aku tidak tahu. Mungkin terpencet. Aku sedang dijalan, ini ponsel ada di saku celana ku." Banyu mencoba memberikan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal sama sekali bagi Tasya.


"Oh... saya kira ada apa." Terdengar nada suara kecewa dari ujung sana.


"Ya sudah ya.."


"Eh.. mas..." Panggil Tasya lagi.


"Ya?"


"Aku mau menyampaikan sesuatu."


"Apa?" Banyu pura-pura belum mengerti apa-apa tentang Tasya dan Putra yang berniat untuk menggelar lamaran dalam waktu dekat ini.


"Minggu depan... hmmmm... aku... aku... aku dan mas Putra akan menggelar lamaran di Solo."

__ADS_1


Terasa sesak di dada Banyu. Walaupun ia sudah tahu, tetapi tetap saja kata-kata itu lebih menyakitkan kala Tasya sendiri yang menyampaikan kepada dirinya.


"Mas?"


"Hmmmm ya? Syukurlah.. selamat ya.."


Lalu hening...


"Terima kasih.." Akhirnya Tasya membalas ucapan selamat dari Banyu, setelah beberapa detik mereka saling terdiam.


"Mas Putra belum bicara sama mas Banyu?" Tasya mencoba mencari tahu, bila Banyu benar-benar belum tahu tentang rencana dirinya dan Putra.


"Belum, aku baru saja hendak ke kantor dan belum bertemu dengan Putra."


"Oh begitu.... hmmm ya sudah.. sekarang mau berangkat?"


"Ya."


"Ok deh... Hati-hati di jalan ya mas."


"Thank you."


Panggilan itu pun diakhiri oleh Tasya.


Banyu menelan saliva nya, kala ia menaruh kembali ponsel miliknya di atas dashboard mobilnya. Minggu depan, mau tidak mau dia harus ikut ke Kota Solo, untuk menemui Tasya dan juga keluarganya. Tak terbayangkan bagi Banyu, melihat orang yang ia cintai dilamar oleh adik kandung nya sendiri. Tidak ada yang lebih sakit dari hal ini, bagi orang yang sedang jatuh cinta dengan wanita yang sama.


Akhirnya Banyu pergi meninggalkan halaman parkir rumah sakit itu, dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


.


"Bu..." Tasya meraih tangan ibundanya yang sedang terbaring lemar di atas ranjang rumah sakit. Wanita lanjut usia itu menoleh dan menatap Tasya dengan tatapan yang kuyu.


"Ya nduk.."


"Aku mau bicara."


"Bicara apa?"


"Aku harus bekerja, aku hanya cuti hari ini dan besok aku harus kembali bekerja. Bu... aku harus kembali ke Jakarta. Untuk sementara, Rafis dan si mbak nya aku tinggal di rumah ibu dan bapak. Biar gak bolak balik, kasihan Rafis. Karena minggu depan aku akan kembali lagi dengan membawa calon suami ku bu."

__ADS_1


Ibunda Tasya membulatkan kedua matanya. Tatapan nya yang kuyu, kini berubah menjadi berbinar kala ia mendengar Tasya akan membawa calon menantu untuk dirinya.


"Kamu serius?"


"Iya bu.. dia juga datang untuk melamar ku. Dan mungkin dalam waktu dekat, bila bapak dan ibu cocok dengan orang nya, aku akan segera menikah dengan nya."


"Pak!" Seru ibunya Tasya sambil menatap suaminya dengan tatapan yang riang gembira.


"Kamu serius nduk?" Tanya bapak nya Tasya seraya menatap Tasya dengan seksama.


"Iya Pak." Tasya mengangguk pasti, untuk meyakinkan sosok cinta pertamanya itu.


"Alhamdulillah.. semoga niat baik mu dan calon mu di lancarkan ya nduk.."


"Aamiin pak.. bu..., Ya sudah.. kalau begitu, Tasya pulang ke rumah dulu ya pak, bu. Tasya mau antar Rafis ke rumah, lalu mandi dan kembali ke sini. Nanti Tasya yang gantiin bapak menjaga ibu. Besok siang, Tasya harus kembali ke Jakarta."


"Baik lah... Hati-hati di jalan ya nduk."


"Iya pak, bu.." Tasya mengecup punggung tangan kedua orangtuanya. Lalu ia menggendong Rafis untuk ia bawa ke rumah orangtuanya.


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam. Dadah Rafis... nanti malam mbah temani di rumah ya.."


"Iya mbah kung." Rafis tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Hati-hati nduk.."


"Iya pak..."


Tasya, Rafis dan juga pengasuh Rafis pun meninggalkan ruangan rawat inap itu. Saat itu juga kedua orang tua Tasya saling bertatapan dengan sorot mata yang tampak begitu bahagia. Mereka berdua merasa bahagia, karena Tasya sudah berhasil melepaskan masa lalunya dari Antoni. Walaupun Antoni adalah anak dari sepupu ibunya Tasya. Tetap saja pernikahan anak mereka dengan Antoni adalah pukulan berat bagi mereka berdua. Mereka tidak menyangka, bila menikahi anak mereka dengan keluarga sendiri itu tidak menjamin bila anak mereka akan bahagia lahir dan batin. Hal yang membuat keluarga Tasya tidak terima adalah, Antoni yang tidak bisa sama sekali melupakan mantan tunangan nya yang bernama Queen. Dan Antoni juga ibunya memperlakukan Tasya dengan sangat tidak baik.


Penyesalan itu memang tidak bisa mereka hindari, terlebih mereka sendirilah yang menjodohkan Tasya dengan Antoni. Andaikan waktu dapat diputar kembali. Mungkin mereka tidak akan pernah mau menjodohkan Tasya dengan lelaki yang tidak pernah mau menerima kenyataan dalam hidup nya.


"Alhamdulillah ya pak.."


"Ngeh bu... sekarang, ibu istirahat. Cepat sembuh... biar bisa melihat Tasya bahagia di pelaminan."


Ibunya Tasya tersenyum lebar. Kabar bahagia itu seperti imun untuk tubuh nya yang renta. Ia pun berniat untuk sembuh dan segera pulang ke rumah nya yang nyaman.

__ADS_1


__ADS_2