
"Semua barang-barang sudah di bawa kan? Tidak ada yang ketinggalan?" Tanya Alia saat gadis itu membantu Putra membereskan barang-barang Putra yang sudah boleh pulang dari rumah sakit.
"Sudah," Sahut Putra dengan dingin.
"Kenapa harus nongol sih ini perempuan. Aku muak sekali dengan nya!" Keluh Putra di dalam hati nya.
"Yuk.." Alia menggandeng tangan Putra yang terlihat masih agak kesulitan untuk berjalan. Mau tidak mau, Putra pasrah dengan Alia yang mengalungkan tangan kanan nya ke tangan kiri Putra.
Mereka berjalan keluar dari ruangan itu. Seorang perawat datang dengan membawa sebuah kursi roda dan menghampiri mereka berdua.
"Maaf, ini kursi rodanya. Sini saya bantu pak."
"Iya," Sahut Putra. Lalu ia melepaskan tangan Alia dan beranjak duduk di kursi roda tersebut, dan perawat itu pun membawa Putra hingga ke teras rumah sakit tersebut. Sedangkan Alia, gadis itu tergopoh gopoh membawa tas dan barang-barang milik Putra.
Sebuah mobil hitam menghampiri mereka dan berhenti tepat di depan Putra dan Alia. Seorang lelaki yang memakai pakaian serba hitam dan kacamata hitam pun turun. Lelaki itu berjalan menghampiri Alia dan mengambil barang-barang milik Putra dan memasukkan nya kedalam bagasi. Putra sempat merasa bingung, lalu ia menatap Alia yang tersenyum manis kepada dirinya.
"Aku mau dibawa kemana?" Tanya Putra.
"Ke rumah ku."
Deg!
"Alia! Kamu bercanda?"
"Tidak."
"Aku mau pulang ke rumah A'a ku!"
"Sayang, kamu masih belum pulih betul. Jadi, kamu aku bawa ke rumah untuk di rawat ya.... Dengan begitu, ku tidak perlu repot-repot apa-apa sendiri. Kan ada suster dan juga aku."
"Aku tidak mau! Turunkan barang-barang ku!" Perintah Putra.
Seketika raut wajah Alia pun berubah, ia menatap Putra dengan tatapan yang dingin. Lalu ia menghampiri lelaki itu dan mendekatkan wajahnya ke telinga Putra.
"Kamu ingat perjanjian kita? Salah satu poin nya adalah, kamu harus menuruti semua yang aku katakan." Bisik Alia.
Putra terdiam, bulu roma nya merinding. Lalu ia melirik Alia yang masih begitu dekat dengan dirinya. Terlihat senyum kepuasan dari wajah gadis tersebut.
"Kamu sudah gila," Ucap nya dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"Ya... gila karena kamu." Dengan cepat Alia mengecup pipi Putra dan beranjak masuk kedalam mobil nya.
"Bantu dia untuk naik ke dalam mobil!" Perintah Alia kepada supir pribadi nya.
"Pak saya...." Putra mencoba mencegah, namun tidak ditanggapi sama sekali. Ia pun terpaksa harus menurut kala supir tersebut membopong nya dan memasukan nya kedalam mobil.
"Kalau begini, bagaimana aku bisa lepas dari perempuan iblis ini? Bagaimana caranya aku mempersiapkan lamaran? Bagaimana caranya aku bisa keluar dari rumah terkutuk itu?" Batin Putra terus bertanya tentang kebebasan nya.
Mobil pun beranjak meninggalkan rumah sakit tersebut. Di perjalanan Alia selalu menyenderkan kepalanya di bahu Putra yang tampak enggan bila Alia bersikap seperti itu kepada dirinya. Ia pun merasa semakin muak, saat Alia terus menerus merasa memiliki dirinya. Sebenarnya Alia tidak salah, setelah Putra berjanji di atas materai, secara tidak langsung, lelaki itu sudah memasrahkan diri kepada Alia.
Sepanjang perjalanan itu pun hati Putra terus menerus mengalami konflik batin. Ia terus berpikir bagaimana caranya lepas dari gadis tersebut. Ia ingin segera mengejar impian nya, yaitu menikahi Tasya dan pergi jauh meninggalkan Kota Jakarta. Waktu yang Tasya berikan hanya satu minggu. Dapatkah Putra memenuhi undangan Tasya untuk segera melamar wanita itu? Bagaimana caranya Putra lepas dari perempuan yang kini sedang mengalungkan erat kedua tangan nya di tubuh Putra? Putra benar-benar pusing karenanya.
.
Pesawat yang ditumpangi oleh Tasya mendarat dengan baik di Bandara Soekarno-Hatta. Wanita cantik itupun beranjak keluar pesawat saat satu persatu penumpang diizinkan untuk meninggalkan pesawat tersebut. Tasya pun langsung menuju ke terminal kedatangan, karena ia tidak perlu mengambil bagasi. Tasya hanya membawa tas tangan nya dan langsung beranjak ke parkiran Bandara, dimana mobilnya ia tinggalkan disana.
Tasya berniat untuk langsung ke kantor nya, walaupun sebenarnya ia terhitung sangat terlambat pada hari ini. Tasya melirik arloji nya, waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Sebenarnya Tasya sudah mengambil penerbangan pagi-pagi sekali. Namun karena cuaca sedikit buruk, maka beberapa penerbangan, termasuk jadwal penerbangan Tasya pun ikut mengalami delay. Dengan terburu-buru, Tasya memasuki mobil nya dan langsung mengendarai mobil tersebut untuk meninggalkan halaman parkir Bandara itu.
Dreeettt..! Dreeeett...! Dreeeettt..!
Dengan panik, Tasya meraih tas tangan nya, saat ia mengantri untuk membayar parkir di gerbang keluar Bandara. Setelah ponsel di tangan nya, ia pun langsung menerima panggilan tersebut seraya mempersiapkan karcis dan juga uang untuk membayar parkir.
"Sudah siang ya... dan kamu belum terlihat di kantor!" Bentak Anton dari ujung sana.
Tasya mengerutkan kening nya dan terlihat semakin panik.
"Maaf pak, penerbangan saya delay," Keluh Tasya.
"Memang kamu kemana?"
"Saya kan sudah minta izin pada HRD pak. Kalau orang tua saya sakit. Jadi saya ke Solo pak. Nah... saya baru saja mendarat dan akan segera ke kantor sekarang juga." Terang Tasya.
"Ya sudah, saya tunggu di kantor."
"Baik pak."
Tasya menghela nafas panjang, kala Anton menutup panggilan tersebut. Ada rasa lelah di hatinya. Menjadi orang tua tunggal, orang tua nya sakit parah, pekerjaan yang terus menjerat nya, tuntutan orang tua untuk segera menikah, dan ia pun harus mempersiapkan mental untuk di lamar oleh Putra minggu depan. Hal itu membuat Tasya semakin merasa stress dengan semua yang ia hadapi saat ini. Semua terasa sangat menjepit posisinya yang kian hari merasa mulai jenuh dengan kehidupan dan rutinitas nya.
Tiba-tiba saja ia teringat akan Banyu, calon kakak iparnya yang pernah bertanya tentang usaha toko cake. Lalu ia tersenyum sendiri, saat ia mengingat kalau dirinya sudah berjanji akan membuatkan Banyu cake spesial untuk di coba kelayakan nya untuk membuka toko cake, oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Iya ya.. aku pernah berjanji padanya. Mungkin nanti malam aku akan membuatkan cake untuk dia. Sekalian aku mengunjungi rumahnya dan melihat keadaan mas Putra yang sudah pulang hari ini." Batin Tasya, tanpa ia ketahui, Putra tidak pulang ke rumah Banyu. Melainkan Putra pulang ke rumah wanita lain yang tidak ia ketahui.
Dengan bersemangat, Tasya melajukan mobilnya, tidak lupa ia menyetel musik untuk membuat dirinya relaks selama perjalanan menuju ke kantor nya.
.
Ting! Ting! Ting!
Ponsel Banyu berbunyi.
Banyu yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menjemput Putra pun menepikan mobilnya di bahu jalan. Ia merasa ia harus membaca pesan yang ia terima, karena pesan tersebut masuk secara bertubi-tubi. Banyu meraih ponselnya dan mulai membuka aplikasi chat yang ia miliki di ponselnya.
Ia pun mulai membaca sepuluh pesan dari Putra yang baru saja masuk secara bertubi-tubi.
A', A'a tidak usah menjemput aku. Aku sudah dijemput oleh teman ku. Aku dibawa ke apartemen nya dia.
A', mau kah a'a membantu ku? Tolong persiapan barang-barang untuk melamar Tasya. Aku tidak bisa membelinya, nanti uang nya aku ganti. Aku juga tidak tahu apa saja yang dibutuhkan calon pengantin. A'a kan sudah pernah menikah, jadi a'a pasti tahu. Tolong ya A'.
A', aku juga minta tolong kabarkan abah dan ambu. Tolong juga bawa mereka ke Jakarta. Dan juga tolong belikan tiket aku, ambu, dan abah untuk ke Solo minggu depan.
Oh iya, apa a'a juga ikut?
A' maaf kalau aku merepotkan.
A'a kok tidak balas?
A' aku minta maaf kalau aku merepotkan. Tetapi aku mohon sekali ini saja. Aku kan tidak pernah meminta bantuan apa pun dari a'a. Aku mohon ya A'.
Aku sangat ingin menikahi Tasya, aku tidak ingin gagal kali ini setelah aku gagal meyakinkan Queen. Aku ingin menikah A', a'a bantu aku dong.. please...
A'a kok diam saja sih.. a' balas dong a'.
A' aku mohon... please.. jangan pelit membantu sana adik sendiri..
Banyu menghela nafas panjang dan terdiam dibalik kemudinya.
"Meminta bantu sekali ini saja? Sadarkah kamu Put, kalau semua yang aku inginkan harus aku serahkan padamu. Bahkan tenaga, uang, dan impian. Abah dan Ambu selalu memaksaku untuk mengalah dan terus mengalah. Bahkan sampai detik ini aku terus mengalah. ingin sekali rasanya aku membencimu. Tetapi, bagaimanapun kamu adik ku. Aku harap setelah ini, jangan pernah mengganggu ataupun merengek lagi padaku." Batin Banyu, seraya melemparkan ponselnya ke bangku di sebelahnya.
"Andaikan aku bisa egois sekali saja! Arggggghhhhhhh....!" Pekik Banyu dengan raut wajah yang terlihat begitu marah.
__ADS_1