
Jatuh cinta adalah hal yang indah, namun terasa menyakitkan bagi sebagian orang yang mencintai sosok yang belum tentu bisa dimiliki. Belum tentu, bukan berarti tidak bisa. Hanya saja butuh pertimbangan pertimbangan yang membuat hati tidak kuat menahan apa yang tengah dirasakan.
Banyu termenung di gudang, ia menyenderkan punggung nya di sandaran kursi yang tengah ia duduki. Banyu merenungkan semua yang terjadi belakangan ini antara dirinya dan Tasya. Ya, akhirnya ia pun mengakui dalam hatinya bila ia mulai jatuh cinta pada Tasya, wanita yang juga sedang dicintai oleh adik kandung nya, Putra. Walaupun Banyu tahu, bila Tasya dan Putra tidak ada kata sepakat untuk memulai hubungan yang jelas, hanya saja Banyu merasa jahat bila ia menikung Tasya dari Putra. Hal itulah yang membuat Banyu mengurungkan niatnya untuk mengecup bibir indah milik Tasya.
Banyu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan gudang itu dengan langkah yang gontai. Lalu ia memasuki mobilnya dan berjalan tanpa arah dan tujuan. Rasa gelisah dan kecewa bercampur aduk dibenaknya. Bayangan wajah Tasya terus menghantui di pelupuk matanya. Hingga akhirnya Banyu memutuskan untuk membanting setir ke kiri jalan yang tengah ia lewati. Ia menjatuhkan dahinya di atas setir dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
"Aku tidak ada teman bicara, tidak ada satupun. Rasanya aku ingin sekali mengeluarkan semua yang ada di hati ini. Pada siapa?" Batin nya. Tiba-tiba saja kedua matanya tertuju pada hiasan yang berada di atas dashboard mobilnya. Ya, itu adalah hiasan yang pernah ia beli bersama dengan Tika, saat mereka sedang liburan bersama. Tanpa pikir panjang, Banyu melajukan mobilnya ke arah komplek pemakaman, dimana Tika terbaring untuk selamanya di sana.
Sepanjang perjalanan perasaan Banyu tak menentu. Satu sisi ia merasa telah berkhianat dengan Tika. Satu sisi lagi ia tidak kuasa menahan perasaan cinta nya pada Tasya. Dan satu sisi lagi, ia merasa tidak layak disebut seorang kakak, bila ia mencintai wanita yang sama dengan adik kandung nya sendiri.
Selang beberapa menit kemudian, laju mobil Banyu berhenti di parkiran komplek pemakaman. Matanya memandang hamparan peristirahatan terakhir manusia tersebut. Pepohonan hijau menghiasi komplek pemakaman yang terasa sepi pada siang menjelang sore ini. Angin bertiup kencang serta awan mulai mendung. Banyu memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan berjalan menyusuri komplek pemakaman tersebut. Kakinya berhenti di blok Anggrek, matanya tertuju pada batu nisan berwarna putih yang bertuliskan nama wanita yang pernah sangat ia cintai. Banyu berjongkok dan menyapa sang pemilik peristirahatan terakhir tersebut sambil mengusap lembut batu nisan di atasnya.
"Sayang.. aku datang."
Suara angin seakan menyahut sapaan Banyu untuk Tika. Banyu pun tertunduk dalam, lalu ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia memanjatkan segala doa untuk Tika yang telah tiada. Untuk wanita yang pernah sangat ia cintai yang kini ternyata lebih memilih meninggalkan dirinya dan kembali pada sang pencipta.
"Setahun sudah kamu pergi. Apakah jahat bila aku mulai memiliki perasaan khusus pada seorang wanita?" Akhirnya Banyu mengatakan apa yang ada di hatinya sesaat ia baru saja selesai berdoa untuk Tika.
"Namanya Tasya. Dia wanita yang baik, menurut Putra. Ya... Putra, kenapa Putra? karena dia pun juga sedang dekat dengan adik ku, Putra," Ucap nya.
"Tika, apakah kamu di sana sedang bersama dengan anak kita? Bila iya, sampaikan salam ku pada anak kita."
"Tika... apakah kamu akan kecewa bila aku memiliki perasaan sama wanita lain selain dirimu?" Semua pertanyaan, Banyu lontarkan dihadapan pusara tersebut. Walaupun ia tahu, Tika tidak akan bisa menjawab seluruh pertanyaan yang tengah ia lontarkan.
__ADS_1
Hujan mulai turun, air nya mulai membasahi kemeja Banyu yang masih berjongkok di samping pusara Tika. Tetapi lelaki itu tidak sekalipun berusaha untuk berteduh. Ia bertahan di sana dengan tangan yang masih mengusap lembut batu nisan milik almarhumah istrinya tersebut.
"Aku tidak punya teman untuk berbicara. Maaf bila aku datang hanya untuk mengatakan bila aku jatuh cinta dengan wanita lain selain dirimu. Selama ini, hanya kamu sahabat terbaik sekaligus wanita yang sangat aku cintai. Maaf bila cinta ini terlalu cepat berpindah hati. Tetapi, aku bisa memastikan bila andai saja kamu masih di dunia ini, tidak akan pernah hati ini berpindah, Tika..."
"Aku sempat bingung, apakah aku mencintai dia karena apa pun tentang dia sangat mirip dengan kebiasaan mu. Apakah aku begitu sangat kehilangan kamu, hingga aku berusaha mencari kenyamanan dengan wanita yang memiliki kebiasaan yang hampir mirip denganmu?" Banyu mengangkat kepalanya dan menatap nisan Tika dengan tatapan yang sendu.
"Belakangan, aku berpikir bila aku mencintai dia bukan karena kebiasaan nya mengingatkan aku padamu. Ternyata aku benar-benar sedang jatuh cinta pada sosok dirinya. Tetapi apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan Putra?" Ribuan pertanyaan terus di lontarkan Banyu di tengah hujan yang kian deras.
.
Tasya menatap ke luar jendela kantornya. Hujan terlihat begitu deras membasahi Kota Jakarta. Sesekali ia menghela nafas, saat ia terus mengingat betapa ia berdiri begitu rapat dengan Banyu yang hampir saja mengecup bibirnya tadi siang. Bayangan lelaki tampan itu terus menghantui, hingga Tasya dikejutkan oleh dering ponsel nya yang tergeletak di atas meja kerja milik nya.
Drettttt...! Dreeeettt...!
Pemilik senyuman manis.
Begitulah yang tertulis dilayar ponsel nya. Sosok pria yang beberapa minggu ini mampu mengisi kekosongan di hidupnya. Terutama, kekosongan sosok bapak untuk putra semata wayangnya, Rafis. Lelaki yang secara tetang-terangan menampilkan perasaan cinta pada dirinya dan Rafis. Lelaki yang pernah mengatakan cinta dengan bahasa yang berbeda, namun Tasya masih belum yakin pada lelaki itu, karena memang ia masih ragu dengan perasaan nya sendiri. Terlebih karena hadir nya Banyu yang membuat dirinya bingung dengan perasaan nya sendiri terhadap dua lelaki itu.
Dengan Ragu, Tasya menerima panggilan dari Putra, lelaki yang ia label kan dengan pemilik senyuman yang manis. Ya, karena lelaki itu benar-benar memilikinya. Lelaki yang lembut kepada dirinya dan Rafis. Lelaki yang bersahaja saat di dekatnya dan Rafis. Lelaki yang sangat menarik semua mata wanita saat sedang berjalan dengan nya.
Tetapi Tasya tidak pernah tahu, apa masa lalu Putra. Dia justru lebih tertarik dengan masa lalu yang dimiliki oleh Banyu. Karena memang sebelumnya cerita tentang Banyu kerap Tasya dengar dari Queen, sahabatnya.
"Halo mas?" Sapa Tasya.
__ADS_1
"Ya halo... apa kabar kamu? Lagi sibuk?" Tanya Putra dari ujung sana.
"Tidak juga, kabar ku baik mas. Maaf aku belum bisa mengunjungi kamu. Bila ada kesempatan aku akan mengunjungi kamu nanti malam." Janji Tasya.
"Ah, iya.. aku rindu sama kamu. Aku mencintaimu.."
Deggg...
Jantung Tasya berdegup kencang.
"Tasya... you are mine. Jangan pernah tinggalkan aku, apa pun yang terjadi. Setelah ini, mari kita pergi jauh.. Aku ingin mengajak mu tinggal di luar negeri. Aku ingin hidup bersama denganmu dan Rafis, tentunya dalam ikatan pernikahan."
Tasya bergeming, matanya menatap keluar jendela. Nafasnya sesak dan pikiran nya kacau tak menentu.
"Tasya.. percayalah padaku. Aku ingin menjadi suami dan bapak yang baik untuk mu dan Rafis. Aku berjanji..."
"Hmmmm.. mas... kita... hmmm.. nanti bicara di rumah sakit." Potong Tasya.
"Baiklah.. sampai nanti."
"Sampai nanti mas..."
Panggilan itu pun berakhir. Tasya beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati jendela. Langit mendung dan hujan yang deras seakan membawanya ke perasaan yang lebih risau lagi. Apakah Tasya akan menerima begitu saja cinta dari Putra?
__ADS_1