Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
67. Salah paham


__ADS_3

Alunan musik khas Sunda menemani pengunjung restoran yang sedang menikmati menu dan suasana restoran yang di singgahi oleh Tasya dan Banyu. Gemercik air di kolam ikan yang sengaja di buat untuk menarik pelanggan, terdengar jelas hingga membuat suasana di restoran itu semakin terasa suasana desa di tanah Sunda, walaupun restoran itu terletak di pusat Kota Jakarta. Banyu dan Tasya duduk berhadapan di gubuk lesehan. Mereka sengaja memilih duduk di sana, agar lebih dekat dengan kolam ikan yang begitu menarik.


Banyu terus menatap Tasya yang baru saja memesan makanan dan menyerahkan buku menu kepada pelayan restoran itu. Pun dengan Tasya yang kembali menjatuhkan pandangan nya kepada Banyu. Dua pasang mata saling bertatapan, lalu berakhir dengan senyuman malu-malu yang begitu membuat canggung.


"Mas besok ikut ke Solo?" Tanya Tasya, yang berusaha membuka percakapan antara dirinya dan Banyu.


"Insya Allah." Sahut Banyu seraya menggeser duduknya lebih dekat lagi ke arah meja. Lelaki itu mulai mengeluarkan bungkus rokok nya dan mengambil sebatang rokok dari dalam bungkus rokok tersebut. Terlihat Tasya mulai mengernyitkan dahinya.


"Kenapa?" Tanya Banyu seraya meraih pemantik miliknya.


"Mas, kok merokok terus?"


Banyu terdiam, ia ingat ucapan Tika, kala almarhumah istrinya itu mulai melarang dirinya untuk tidak lagi merokok.


"Maaf, kamu terganggu karena asapnya ya?" Tanya Banyu, seraya memasukan kembali rokok yang ada di tangan nya kedalam kotak rokok miliknya.


"Ya gimana ya.. lebih baik kan tidak usah merokok. Apa lagi aku agak sensitif dengan asap rokok."


Dada Banyu terasa sesak, alasan yang di utarakan Tasya sama persis dengan alasan yang diutarakan oleh Tika saat dulu masih bersama.


"Baiklah, aku upayakan untuk tidak merokok di depanmu."


"Hanya di depanku?"


Banyu menatap Tasya dengan seksama, lalu ia tersenyum dan meraih kotak rokok nya dan menyimpan nya kembali ke dalam saku celananya.


"Tidak, ada atau tidak ada kamu. Aku upayakan untuk tidak merokok." Tegas Banyu.


Tasya tersenyum senang, hingga memperlihatkan deretan giginya yang tampak putih dan terawat.


"Kamu manis sekali kalau tersenyum."


Tasya mengulum senyum nya dan menundukkan pandangan nya. Jantung nya berdebar kencang saat calon kakak ipar nya itu memuji dirinya.


"Oh iya, masalah usaha. Aku pernah membahasnya padamu. Apa kamu mau membuat toko kue?"


Tasya kembali menatap Banyu dengan tatapan malu-malu, lalu ia kembali tersenyum canggung.


"Tasya, kalau kamu mau, katakan mau. Kamu pasti bisa, dan aku akan mengupayakan semuanya. Daripada kamu bekerja di tempat Anton. Kalau kamu membuka toko kue, kamu bisa berekspresi apa pun di sana, berkarya dan mempunyai waktu luang untuk Rafis."

__ADS_1


Tasya menatap Banyu dengan seksama, ia tidak menyangka Banyu begitu memikirkan dirinya.


"Kenapa mas ingin membantuku? Dan bagaimana cara pembagiannya?" Tanya Tasya dengan berterus-terang.


Kali ini Banyu yang terdiam, ia bingung akan mengatakan apa kepada wanita yang ia cintai itu, agar alasan nya dapat diterima dengan baik oleh Tasya.


"Mas," Desak Tasya.


"Hmmm.. begini.. aku..."


"Aku apa?"


Banyu kembali terdiam, ia memberanikan diri menatap kedua mata indah Tasya yang duduk di depan nya.


"Anggap saja aku mendukungmu. Kamu bisa mengembalikan modal kapan saja. Aku percaya kepadamu. Toh, kamu juga akan menikah dengan Putra. Aku ingin kamu memiliki waktu yang banyak untuk suami dan anak-anak mu kelak."


Tasya terdiam mendengar alasan bijak dari Banyu. Air matanya mulai tergenang di pelupuk mata indahnya.


"Alasan mu mulia sekali mas..."


Banyu mulai salah tingkah, kala mendapatkan pujian dari Tasya.


"Sama-sama, aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman di kantor. Kalau begini kan kamu bos di usaha mu sendiri. Berwirausaha itu lebih baik dari pada bekerja dengan orang lain."


Air mata haru mulai terjatuh di pipi Tasya. Ia meraih tisu dan segera menyeka air matanya.


"Jangan menangis. Anggap saja ini buah daei kesabaran kamu selama ini. Aku juga akan menjadi pelanggan tetap mu nanti. Percayalah... kamu bisa dan kamu hebat."


"Terima kasih mas.... Aku mau.. aku mau membuka toko kue." Ucap Tasya dengan wajah yang semringah.


.


"Halo.." Sapa Anton, kala ia baru saja menerima telepon dari orang suruhan nya yang sedang memata-matai Tasya.


"Halo pak, saya melihat wanita itu sedang bersama dengan seorang lelaki."


"Hah!"


"Saya akan segera memberikan fotonya lewat pesan ya pak."

__ADS_1


"Kirim segera!" Perintah Anton.


Dengan hati gelisah, ia menunggu orang suruhan nya mengirimkan pesan bergambar ke aplikasi chat nya. Tak lana kemudian, akhirnya ia menerima pesan tersebut. Dengan hati yang gundah, ia mencoba mendownload gambar itu dan tidak menunggu lama, tangan nya mulai bergetar menahan emosi yang tengah ia rasakan.


"Banyu!" Serunya.


Anton tidak menyangka, sosok sahabat yang selama ini ia sayangi dan kerap ia ajak berdiskusi tentang Tasya, ternyata mampu menusuk dirinya dari belakang. Kini ia begitu yakin bila Banyu banyak bersandiwara di depan nya. Nyatanya ternyata Banyu sering bertemu dengan Tasya secara diam-diam di belakangnya. Sedangkan kala Anton membicarakan tentang Tasya, Banyu pura-pura tidak mengerti apa-apa tentang wanita itu. Bahkan pengakuan Banyu yang mengatakan bila dirinya hanya bertemu saat di Semarang pun, tidak sesuai dengan apa yang terjadi selama ini.


"Penghianat!" Anton menggebrak mejanya dengan tangan kanan nya yang terkepal kuat.


"Halo pak..." Panggil lelaki di ujung sana.


"Buntuti mereka terus. Lihat apa yang terjadi, jangan lupa selalu update pada saya!" Perintah Anton.


"Baik pak.."


"Oh iya, kamu membuntuti dari mana?" Tanya Anton penasaran dengan air muka yang terlihat begitu emosi.


"Dari rumah wanita itu pak. Mereka sempat ke toko oleh-oleh, dan membeli oleh-oleh. Tampaknya mereka akan pergi ke luar Kota. Oh iya pak, oleh-oleh juga di bayar oleh lelaki itu. Jadi terlihat jelas sekali mereka berdua memiliki hubungan spesial." Terang lelaki itu.


"Dimana mereka bertemu?"


"Lelaki itu mendatangi rumah wanita itu pak. Lalu mereka pergi bersama."


Hati Anton semakin panas membara. Ia benar-benar merasa di khianati oleh Banyu, sahabat nya sendiri. Pasalnya, Banyu cukup mengerti bila dirinya sangat menyukai Tasya. Namun mengapa Banyu tega menusuk dirinya dari belakang dan bertingkah seolah dirinya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Tasya di depan nya.


"Apa perlu di eksekusi pak?"


Anton terdiam beberapa saat. Satu sisi ia sangat menyayangi sahabatnya. Satu sisi lagi, ia begitu kecewa dan cemburu pada Banyu. Tetapi ia mencoba berpikir jernih,


"Jangan dulu. Terus buntuti mereka. Jangan pernah lepas dari pandangan mu. Aku ingin tahu lebih banyak lagi!" Perintah Anton.


"Baik pak."


.


Anton terdiam dengan hati yang kacau di kursi kantor nya. Ia meremas kertas laporan yang berada di depan nya. Rasa cemburu begitu menguasai jiwanya. Ia tidak rela ada orang yang memiliki Tasya, selain dirinya. Walaupun itu adalah sahabatnya sendiri.


"Kurang ajar kau Banyu! Tidak ku sangka kau Serigala berbulu Domba!" Batin nya dengan amarah yang begitu membara.

__ADS_1


__ADS_2