
Hari demi hari telah dilalui, tidak terasa hampir dua minggu sudah kebersamaan Eijaz dan Putra. Bapak dan anak itu terlihat semakin dekat, hingga nyaris tak terpisahkan. Putra datang pagi-pagi sekali dan ikut mengantarkan Eijaz kesekolah bersama dengan Alia. Lalu ia menghabiskan waktunya sambil bekerja secara daring di coffee shop di sekitar sekolah Eijaz. Lalu ia akan kembali menemui Eijaz setelah jam sekolah putranya itu berakhir. Sedangkan Alia, setelah mengantarkan Eijaz dan Putra, ia langsung ke kantornya. Namun hal yang berbeda akan mereka lakukan kala Eijaz libur sekolah. Mereka mengadakan jalan-jalan bersama atau sekedar kemping kecil-kecilan di halaman belakang rumah Alia. Eijaz terlihat sangat bahagia dan menikmati hari-harinya bersama dengan Putra dan juga Alia.
Tidak hanya Eijaz yang semakin dekat dengan Putra, pun dengan Alia yang semakin mengenal kepribadian Putra. Sebenarnya, Putra sangatlah lembut. Hanya selama ini ia tumbuh menjadi anak yang manja dan selalu dibela. Maka dari itu, sikap Putra dan cara bicaranya kurang menyenangkan. Tapi tidak setelah ia banyak belajar tentang hidup dan sosial di hotel prodeo. Semua ada hikmahnya bagi orang-orang yang memang mau belajar dan merubah diri. Kini Putra menjadi orang yang sangat menyenangkan, hingga Alia pun kembali terjatuh dalam cinta yang sudah lama tertidur di lubuk hatinya.
Hari ini adalah hari terakhir Putra di Zurich. Kebetulan juga Eijaz sedang libur sekolah. Pagi-pagi sekali Putra sudah berada di rumah Alia dan seperti biasa, ia menunggu putra semata wayangnya itu bangun dari tidurnya yang nyenyak sambil membantu Alia memasak di dapur. Membantu Alia memasak di dapur bukan hanya sekali ini saja. Hampir setiap harinya Putra melakukan hal itu setelah mereka mulai dekat kembali. Tentu saja hal itu di terima dengan senang hati oleh Alia yang memang selalu sibuk di dapur pada pagi hari.
"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Putra yang baru saja tiba di rumah Alia.
"Hari ini kamu terlambat lima belas menit. Jadi, semua sudah selesai aku siangi."
"Jadi, kamu tidak butuh bantuan? Eijaz belum bangun?" Tanya Putra lagi.
"Butuh, tapi nyuci piring setelah aku selesai memasak. Bagaimana?" Alia tersenyum seraya melirik Putra.
"Siap nyonya!" Sahut Putra seraya memposisikan dirinya dengan sikap hormat ala militer.
Alia pun tertawa, seraya memasukan beberapa potong ayam filet kedalam pan. Sedangkan Putra terpana melihat senyuman manis Alia yang semakin hari terlihat sangat manis dimatanya. Putra melangkah mendekati Alia, lalu ia memeluk pinggang Alia dari belakang. Seketika Alia mematung karena terkejut dengan apa yang Putra lakukan kepada dirinya.
"A-apa yang kamu lakukan?" Alia terlihat risih dengan pelukan Putra yang erat di pinggangnya.
"Sssttt.. biarkan aku memelukmu beberapa menit saja. Aku janji tidak akan melakukan apa-apa selain hanya memelukmu. Esok adalah hari terakhir aku disini. Aku hanya ingin memelukmu, itu saja."
Alia tertegun mendengar penjelasan Putra. Lalu ia membiarkan saja lelaki itu memeluk pinggang nya dan menjatuhkan dagunya di pundak Alia. Alia hanya bisa berpura-pura untuk fokus pada masakannya yang sedang terjerang diatas kompor.
"Alia,"
"Hmmm.."
"Sekali lagi aku meminta maaf atas segala yang telah aku lakukan."
Alia menoleh dan menatap Putra yang wajahnya begitu dekat dengan wajahnya. Lalu karena grogi, iapun kembali fokus dengan masakannya.
"Alia,"
"Hmmm?"
"Bila aku mati ditangan papamu, setidaknya aku sudah merasa bahagia karena aku bisa melewati hari-hariku bersama dengan Eijaz dan kamu."
"Kenapa harus mati?" Alia kembali menoleh, kini wajah mereka semakin dekat.
"Karena aku bersalah, bila aku menjadi seorang ayah dari seorang gadis, aku pasti akan melakukan hal yang sama juga. Aku tidak akan memaafkan nya," Ucap Putra dengan suara yang terdengar seperti sedang berbisik.
Alia hanya tertawa kecil, lalu ia berusaha kembali fokus kepada masakannya.
__ADS_1
"Alia, look," Alia yang baru saja hendak membalikkan ayam filet yang sedang ia masak pun menatap Putra dengan seksama.
"Sebelum aku benar-benar mati, aku ingin tahu yang sebenar-benarnya."
"Apa?" Tanya Alia seraya mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu masih mencintai aku?" Putra kembali menanyakan hal yang sama seperti apa yang sempat ia pertanyakan di awal mereka berbaikan. Namun hal itu tak kunjung Alia jawab dengan pasti. Tentu saja Putra merasa penasaran sekali.
Alia terdiam, lalu ia membalikkan ayam filet yang sudah mulai kecoklatan di atas pan di depannya.
"Alia..."
"Putra, sebelum kamu tahu jawabanku, bolehkah aku yang bertanya?" Potong Alia.
"Apa itu?"
"Apakah kamu pernah mencintaiku?" Tanya Alia lagi.
Putra terdiam, lalu ia melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Alia hingga berhadapan dengan dirinya.
"Kamu mau aku jujur?"
"Ya... sejujur-jujurnya." Tegas Alia.
"Kamu ingat saat kita di balkon kamarmu?" Tanya Putra.
"Ya.."
"Saat itu aku mulai mencintaimu."
"Lalu? Mengapa....
"Sebentar... aku akan menjelaskan yang sebenar-benarnya perasaanku padamu saat itu."
Alia terdiam dan mulai memperhatikan ucapan Putra.
"Setelah sekian hari di rumahmu, pasca aku pulang dari rumah sakit, sebenarnya aku terus memperhatikan kamu. Ini bukan talking bulshit... ini benar adanya." Putra menatap kedua mata Alia dengan sorot mata yang terlihat bersungguh-sungguh.
"Aku melihat kamu adalah gadis yang baik. Hanya saja kamu sama seperti aku. Kamu tidak dapat menerima kata 'tidak' dalam hidupmu. Kita tumbuh menjadi anak yang sangat manja. Hingga kita terobsesi dengan hal yang tidak dapat kita miliki. Hingga kita tidak lagi berpikir sehat dan mengenyampingkan hati."
Alia terdiam mendengarkan kata-kata tentang hal yang memang benar adanya, yang baru saja keluar dari bibir Putra.
"Saat itu aku terobsesi untuk berkompetisi dengan a'a ku, a' Banyu. Untuk mendapatkan seorang Tasya. Awalnya aku memang mencintai Tasya. Tapi perhatian dan kebaikan kamu mengalihkan rasaku pada Tasya ke kamu, itu aku sadari. Hanya saja aku berpura-pura untuk tidak mempedulikannya."
__ADS_1
"Dan kenapa aku menyinggung masalah di balkon kamarmu?" Sambung Putra.
Alia pun menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mengerti.
"Kamu menceritakan masalah hidupmu kepadaku. Aku tahu kamu wanita yang baik dan tulus. Aku jatuh cinta padamu saat itu dan aku juga ingin memiliki kamu. Hanya saja aku sudah berjanji untuk melamar Tasya, aku harus menepatinya karena aku adalah lelaki. Maka aku berniat diam-diam pergi dan akan menemui kamu lagi di lain hari. Selain aku harus tanggung jawab kepadamu karena surat perjanjian, aku juga mulai mencintaimu. Hanya saja aku terpergok oleh papamu disana. Disitu harapanku pupus." Terang Putra.
Alia mencoba menahan air matanya yang hampir saja terjatuh.
"Kamu tahu, aku tidak akan mau tidur dengan wanita bila aku tidak mencintainya. Hanya saja waktu itu aku sengaja menyakiti kamu, karena aku panik sekali. Satu karena aku harus menepati janji pada Tasya, satu hal lain nya aku bingung harus melanjutkan atau tidak denganmu. Walaupun saat itu aku berniat akan menemui kamu dilain hari, aku hanya ingin untuk sementara kamu membenciku, agar aku bisa ke Kota Solo untuk menemui Tasya dan keluarganya. Maafkan aku Alia. Aku salah dan aku sangat menyesal."
"Jadi, intinya... saat itu aku sudah mencintaimu dan rasa itu sempat terkubur oleh kebencian karena kamu dan papamu menjebloskan aku kedalam penjara. Namun, setelah berbulan-bulan aku di dalam penjara, aku mulai berpikir, tidak ada wanita yang setulus kamu. Tetapi aku berusaha menampiknya dengan mengevaluasi diri terlebih dahulu. Apa aku pantas untuk menerima cintamu atau mencintaimu."
"Tetapi, mengapa kamu tidak mencariku setelah kamu bebas?" Kini air mata terjatuh di pipi Alia.
"Aku minder, aku merasa kamu pasti sudah move on dan tidak butuh lelaki seperti aku. Setiap malam aku hanya dapat berdoa disetiap sujudku, agar kamu bisa memaafkan aku, dimanapun kamu berada. Lalu tanpa sengaja, sekretaris ku mengeluhkan pembelian darimu. Aku yang ikut kesal pun mencoba mencari tahu profil perusahaanmu. Saat itu aku terkejut, ternyata takdir berpihak kepadaku. Lalu, setelah aku tahu kita memiliki seorang anak, tekad ku pun semakin bulat untuk bertemu dengan kamu dan juga Eijaz. Dan akhirnya kita bertemu. " Terang Putra lagi.
"Jadi..."
"Ya, semakin hari.. aku semakin mencintaimu."
Alia terdiam, air mata terus mengalir di pipinya.
Putra pun mengusap air mata Alia, lalu ia mendekap Alia di dalam pelukannya.
"Good morning, mom, dad.."
Seketika Alia melepaskan pelukan Putra dan dengan cepat menghapus air matanya. Sedangkan Putra menyambut Eijaz yang berjalan ke arahnya dan langsung menggendong tubuh mungil Eijaz.
"Good morning anak papa. Are you ready untuk jalan-jalan sama papa dan mama?" Tanya Putra seraya menatap Eijaz dengan penuh kasih sayang dan bangga.
"Yes!" Seru Eijaz dengan bersemangat.
"Ok, kita sarapan dulu... terus mandi dan bersiap-siap untuk jalan-jalan!" Ucap Putra tak kalah bersemangat.
"Yah gosong..."
"Hah!" Seru Eijaz dan Putra.
Alia menunjukkan ayam filet yang terlihat menghitam di atas pan yang sedang ia angkat.
"Yahhhhh....!" Seru Eijaz dan Putra lagi.
"Ish... kalian mirip!" Protes Alia dengan rait wajah yang kesal. Dan sejurus kemudian, mereka bertiga pun tertawa geli dan memutuskan untuk sarapan diluar saja.
__ADS_1