
Banyu berdiam diri di beranda rumahnya. Asap rokok melayang di sekitar wajahnya yang teduh, namun tampak terlihat memendam kesedihan. Matanya menatap lurus ke arah tanaman hias yang tergantung tepat di sekitar beranda rumah itu. Ya, tanaman Anggrek tersebut sengaja ia gantung di sana, agar ia dapat terus menikmati indahnya tanaman tesebut saat dirinya menikmati kesendirian di beranda rumah.
Mengapa Anggrek? sudah pasti tanaman tersebut adalah tanaman favorit Tika. Banyu ingat betul saat dirinya baru saja pindah ke rumah baru mereka saat dirinya dan Tika baru saja menikah. Tika membanjiri beranda rumah itu dengan tanaman hias tersebut. Sambil tersenyum, Tika menoleh ke arah Banyu yang sedang menatap istrinya itu dengan wajah yang terheran-heran.
"Hanya satu jenis ini saja bunganya?" Tanya Banyu kala itu.
Tika mengangguk dan berjalan menghampiri Banyu.
"Iya, kenapa?"
"Gak ada yang lain? Mawar kek, Melati kek, Kamboja kek,"
"Vibes kuburan ya bun.." Celetuk Tika.
Banyu tertawa geli saat mendengar celetukan Tika yang menggelitik. Lalu ia memeluk pinggang Tika dengan erat.
"Kamu suka sekali ya sama Anggrek?" Tanya Banyu seraya mengecup mesra pipi Tika.
"Ya.." Tika menoleh dan menatap Banyu dengan senyum di wajahnya.
"Kamu tahun tidak, makna dari bunga Anggrek?"
"Tidak," Sahut Banyu seraya menggelengkan kepalanya.
"Jadi, anggrek itu mempunyai makna yang cukup mendalam."
"Apa itu?" Tanya Banyu dengan mimik wajah yang tampak penasaran.
"Anggrek mewakili perasaan takut kehilangan dan ingin menjaga. Anggrek juga melambangkan cinta dan keagungan."
Banyu tertegun dan menatap Tika dengan seksama.
"Seriusan?"
"Ya.." Tika mengangguk tanpa keraguan.
"Wow.." Banyu melepaskan tangan nya yang sedang melingkar di pinggang Tika. Lalu ia mendekati bunga Anggrek yang tampak begitu indah tersebut. Lalu ia kembali menatap Tika dengan seksama.
"Begitu juga dengan apa yang aku rasakan kepada kamu. Aku sangat takut kehilangan kamu Mas, aku ingin menjaga kamu hingga berakhir usia ku nanti. Bahkan, andaikata aku yang pergi duluan, aku akan selalu ada untuk menjagamu, walaupun hanya dalam wujud bunga ini. Aku mencintaimu, sangat... amat dan teramat sangat. Aku mengagungkan cinta kita lebih dari apa pun di dunia ini."
"Ya ampun sayang.. Aku tidak tahu bila makna nya sedalam itu."
__ADS_1
"Tidak apa Mas, sekarang kan jadi tahu." Tika tersenyum dan membalas tatapan Banyu.
"Aku juga sangat mencintai kamu. Aku juga sangat takut kehilangan kamu," Ucap Banyu.
Tika memeluk dan mengecup pipi suami nya itu dengan lembut.
"I love you Mas,"
"I love you too sayang." Balas Banyu.
Itulah kenapa walaupun Banyu sudah pindah dari rumah yang dulu ia tempati bersama dengan Tika, ia tetap membawa tanaman-tanaman Anggrek milik Tika bersama dengan nya ke rumah yang kini ia tempati bersama dengan Putra.
"Sedang apa kamu? Aku sangat merindukanmu sayang.." Gumam Banyu, seraya terus menatap tanaman Anggrek tersebut pada malam ini.
.
Putra berdiri di keramaian sebuah Mall. Di genggaman nya terlihat beberapa batang cokelat yang hendak ia berikan kepada Rafis. Ya, Putra berjanji akan datang untuk bertemu dengan Tasya dan Rafis di Mall tersebut. Setelah tadi malam Tasya memberitahukan kepadanya bila Rafis akan berlomba di Mall itu.
Pandangan mata Putra terus menyapu keramaian, ia tampan sangat gelisah kala menunggu kehadiran Tasya dan putra nya. Sesekali ia melirik arlojinya yang terasa begitu lambat berputar. Tak lama kemudian, matanya tertuju kepada seorang mama muda dengan seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima tahun. Anak laki-laki itu terlihat menggendong sebuah tas berwarna biru, serta memakai topi dengan gambar super hero di kepalanya. Sedangkan ibunya, terlihat sangat cantik dengan dress sabrina berwarna putih tulang. Serta rambut gaya poni tail nya.
Ya, ibu dan anak itu adalah Tasya dan Rafis. Jantung Putra berdegup kencang saat Tasya dan Rafis berjalan menuju ke arahnya.
Putra tertegun sejenak, menikmati wajah cantik dari wanita yang berdiri di hadapan nya itu.
"Ah, tidak apa. Aku juga baru datang." Sahut Putra. Lalu pandangan nya terjatuh kepada Rafis yang sedang Tasya gandeng tangan nya. Pun dengan Rafis yang menatap Putra dengan seksama.
"Ah iya, kenalkan, ini anak ku 'Rafis'."
Putra sejenak menatap Tasya dan kembali menjatuhkan pandangan nya kepada Rafis. Bocah laki-laki itu terus menatap Putra dengan tatapan yang bingung. Karena ia baru sekali ini bertemu dengan sosok asing tersebut.
"Om ini siapa ma?" Tanya Rafis dengan polosnya
"Oh iya.. ini teman mama. Namanya om Putra."
"Oh...." Rafis mengangguk paham, lalu ia menghampiri Putra dan mengulurkan tangan nya kepada lelaki itu.
"Halo om, nama ku Rafis."
Dengan canggung, Putra berjongkok dan menatap kedua mata indah milik Rafis.
"Halo anak ganteng. Senang berkenalan dengan kamu." Ucap Putra dengan ramah.
__ADS_1
"Sama-sama om." Sahut Rafis dengan gaya nya yang terlihat begitu menggemaskan.
Putra tersenyum dan menyodorkan cokelat yang sengaja ia belikan untuk Rafis sebelum ia datang ke Mall tersebut.
"Ini untuk kamu. Sebagai tanda perkenalan kita berdua."
Rafis menatap beberapa batang cokelat tersebut dan kemudian ia menatap Tasya dengan seksama. Setelah ia melihat Tasya tersenyum dan mengangguk, barulah Rafis memberanikan diri untuk menerima cokelat pemberian dari Putra tersebut.
"Terima kasih ya om."
"Sama-sama. Oh iya, kata mama kamu akan mengikuti lomba ya? Bolehkah om jadi suporter kamu?"
Perlahan senyum manis Rafis mengembang di wajah mungil bocah tersebut.
"Om dukung Rafis?" Tanya Rafis dengan tak percaya.
"Ya.. tentu."
"Boleh om!" Sahut Rafis dengan bersemangat.
Jantung Tasya berdegup kencang, kala melihat Rafis yang begitu cepat beradaptasi dengan Putra, yang dirinyapun baru mengenal sosok tersebut.
"Ok, dimana tempat lombanya?" Tanya Putra.
"Di Sana om." Ucap Rafis sambil menunjuk ke arah restoran cepat saji yang terlihat ramai dengan anak-anak yang seusia dengan dirinya.
"Ah.. iya.. baik lah. Ayo kita ke sana." Putra menggandeng tangan kiri Rafis. Sedangkan Tasya sudah sedari tadi menggandeng tangan kanan putra nya itu.
"Ayo ma jalan." Tasya tersentak saat Rafis menarik tangan nya dan membuyarkan lamunan nya tentang impian nya yang sempat terkubur bersama dengan Antoni, ayah kandung Rafis.
"Ah.. iya."
"Ayo," Ucap Putra, seraya tersenyum dan menatap kedua bola mata Tasya yang mulai berembun.
"I-iya mas.." Tasya mengangguk dan ikut berjalan bersama-sama dengan Rafis dan Putra.
Ada perasaan aneh di hati Tasya, namun tidak bisa dipungkiri, ia merasa sangat bahagia, kala ia dapat merasakan hal seperti yang saat ini ia rasakan. Dahulu, ia dan Antoni tidak pernah seperti layak nya sebuah keluarga. Jangankan bergandengan tangan bertiga dengan anak yang berada di antara mereka. Antoni yang terlalu acuh kepada dirinya, lebih memilih menggendong Rafis dan berjalan terlebih dahulu di depan nya yang membawa beberapa tas belanjaan di tangan nya.
Air mata nyaris tumpah di pipi Tasya. Namun ia segera mencoba untuk mengalihkan perasaan harunya itu.
"Tidak Tasya. Dia bukan Antoni. Dia bukan ayah Rafis. Dia hanya orang asing yang baru saja kamu kenal. Jangan terlalu terburu-buru merasakan bahagia, atau terbawa perasaan." Batin nya mencoba untuk mencegah apa yang sedang terlanjur ia rasakan saat ini.
__ADS_1