
Putra berjalan dengan sedikit tertatih dari arah beranda atas, menuju ke arah kamar yang ia tempati di kediaman Alia. Ia baru saja mengintip untuk memastikan bila Anton sudah berangkat ke kantornya. Ia sengaja menunggu Anton berangkat terlebih dahulu sebelum ia meninggalkan rumah tersebut. Hal itu ia lakukan untuk menghindari banyak pertanyaan dari lelaki itu. Bagaimanapun berurusan dengan lelaki paruh baya itu sangat sulit dan ujung-ujungnya dirinya akan mendapatkan masalah baru. Karena jelas Anton tidak pernah menyukai dirinya.
Dengan cepat, Putra memasuki kamar nya dan langsung meraih koper nya yang sudah ia persiapkan untuk ia bawa turun. Perlahan Putra menuruni anak tangga sambil terus memperhatikan situasi di rumah itu. Hari ini tidak seperti biasanya, Alia tidak terlihat sama sekali. Biasanya Alia sudah berada di kamar nya pagi-pagi sekali, hanya untuk membangunkan Putra dari tidur lelap nya, hingga mempersiapkan pakaian yang akan Putra pakai untuk pergi ke kampus bersama dengan Alia. Tetapi tidak pada pagi ini, gadis itu seakan lenyap di telan bumi. Meskipun begitu, Putra sama sekali tidak peduli. Karena baginya, tidak ada Ala berarti misinya untuk keluar dari rumah itu dengan membawa barang-barangnya, akan berjalan dengan mulus.
"Mau kemana? Kenapa bawa koper?" Tanya seorang bodyguard yang sedang berjaga di depan pintu rumah mewah itu.
Putra menghentikan langkahnya dan berusaha mencoba untuk tenang, agar dirinya yang berniat meninggalkan rumah itu, tidak dicurigai.
"Saya mau keluar Kota. Ada tugas dari kampus untuk seminar." Jawab Putra.
Bodyguard itu menatap Putra dan kopernya dengan tatapan curiga.
"Apa sudah izin dengan non Alia atau pak Anton."
"Non Alia tidak terlihat, masa saya harus menghampiri dirinya di kamar? Atau dia sudah berangkat ke kampus?" Putra yang seorang dosen, mampu membalikkan pertanyaan bodyguard tersebut.
"Dengan pak Anton?" Tanya bodyguard itu lagi.
"Duh.. saya tidak sempat bertemu! Saya ini buru-buru. Kamu tidak percaya? Saya sudah ada tiket nya! Saya hanya ke Bandung!" Putra memperlihatkan tiket bus menuju ke Bandung.
"Sebentar, saya akan hubungi non Alia atau pak Anton." Tegas bodyguard itu.
"Kamu jangan main-main! Ini menyangkut karir saya. Saya ini bukan tahanan! Saya adalah calon suami Alia! Tidak mungkin saya meninggalkan Alia. Alia tahu semua tentang saya, dimana saya mengajar dan lain-lain!" Putra bersikap tak kalah tegas dari bodyguard itu.
Bodyguard itu pun terdiam, ia yang baru saja hendak menghubungi Alia dan Anton, kembali menatap Putra dengan seksama.
"Kalau kamu tidak percaya, ayo ikut saya seminar saja!"
"Bukan begitu pak,"
"Lalu apa! Saya tahanan? Ini rumah apa? Kalian semua tidak punya hati! Bahkan orang bekerja saja harus di tahan-tahan! Memalukan!" Bentak Putra.
Bodyguard itu terdiam, lalu dengan percaya diri, Putra pun melangkah menuju ke luar gerbang. Karena di sana sudah menunggu taksi online yang sejak tadi ia pesan. Bodyguard itu hanya bisa menatap kepergian Putra tanpa bisa berbuat apa pun untuk mencegah nya.
__ADS_1
Bodyguard itu berpikir bila Putra memang akan bekerja di Bandung. Karena bila Putra akan melarikan diri, beberapa hari ini ada banyak kesempatan bagi lelaki itu untuk melarikan diri. Tetapi nyatanya Putra pasti kembali ke rumah itu dan tinggal di sana.
"Ah... mungkin memang benar, gumam bodyguard itu seraya menatap taksi online pesanan Putra, yang baru saja bergerak meninggalkan rumah tersebut.
.
Putra menatap kebelakang seraya bernafas lega. Ia menepuk dadanya dengan pelan dan lalu mengusap dahinya yang mulai dibanjiri keringat.
"Huffff..! Untung saja si bodoh itu yang sedang berjaga. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa keluar dari rumah sialan itu!" Batin nya. Tanpa ia sadari, sejak tadi Alia menatap dirinya dari balkon atas rumah itu dengan kedua mata yang sembab, karena menangis semalaman dan menyesali nasib buruk nya.
Mengapa Alia membiarkan Putra pergi dari rumah itu?
Alia sudah merasa menyerah, ia tak lagi ingin memaksakan kehendaknya. Terutama saat Putra menghina dirinya habis-habisan saat baru saja lelaki itu mengambil kesucian nya. Hal itu cukup menyakitkan hati seorang wanita mana saja, bila mengalami kejadian yang sama.
Alia tidak membenci Putra, melainkan ia menyalahkan dirinya sendiri yang begitu memaksakan kehendak untuk memiliki Putra, hingga kejadian laknat itu menimpa dirinya. Alia menyela air mata dan kembali ke kamarnya dengan langkah yang gontai.
...
"Pagi..."
"Mas Banyu!" Seru Tasya saat melihat Banyu berdiri di belakangnya.
Banyu tersenyum dan menatap Tasya dengan seksama. Jelas sekali kedua mata indah milik wanita pujaan nya itu terlihat sembab. Sudah dipastikan semalam, Tasya menangisi kejadian yang tengah menimpa dirinya.
"Mau ke kantor?" Tanya Banyu.
"Hmmm, tidak mas.. aku.. aku mau membeli oleh-oleh untuk orang tuaku. Hari ini aku cuti. Lagi pula besok kan weekend, aku harus ke Solo."
Banyu menundukkan pandangannya dan menghela nafas dengan perlahan. Ia tahu maksud dari ucapan Tasya. Yang artinya, besok Tasya akan segera bertunangan dengan Putra, adik kandung Banyu sendiri.
"Bagaimana kalau aku antarkan saja, sekalian kita makan siang nanti."
Tasya menatap Banyu dengan seksama. Ia tampak berpikir untuk menerima tawaran dari lelaki yang akan segera menjadi calon kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Hmmm, gimana ya mas..."
"Hari ini kamu belum menjadi calon adik iparku. Jadi, anggaplah aku teman mu. Masih wajar ku jalan dengan ku. Karena esok, sudah ada batasan diantara kita."
Deg!
Tasya terdiam. Ada perasaan tak rela, kala Banyu mengatakan hal itu kepada dirinya. Tasya sadar betul, rasa yang ia miliki kepada Banyu. Bukan serakah, hanya saja perasaan itu tidak pernah berdusta. Satu sisi ia sangat mengaggumi Putra yang tampan, kebapakan, mapan dan baik hati. Tentunya Putra memiliki cinta kepada dirinya. Satu sisi lagi Banyu sangat mempesona. Lelaki itu mempunyai daya tariknya sendiri. Selain mandiri, mapan dan baik hati, Banyu juga memiliki setengah hati dari hati Tasya.
"Apa mas Banyu tidak bekerja? Nanti bos nya mas Banyu marah loh.." Ucap Tasya yang tidak tahu menahu bila Banyu lah bos di perusahaan lelaki itu sendiri.
"Tenang, hari ini aku cuti."
Tasya kembali memastikan dengan menatap kedua mata teduh milik lelaki itu.
"Sekarang, simpan mobil mu dan pergilah bersama denganku."
Tasya masih diam mematung, mencoba mempertimbangkan ajakan dari Banyu yang tampak begitu memohon.
"Lagipula, ada yang ingin aku katakan."
"Apa itu mas?" Tanya Tasya yang terlihat penasaran.
"Ikut dulu, baru nanti aku katakan." Banyu mencobaa untuk bernegosiasi dengan Tasya.
Tasya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tanda ia merasa Banyu adalah lelaki yang begitu pintar dalam membuat wanita menjadi penasaran.
"Bagaimana?"
Tanpa menjawab, Tasya membuka pintu gerbang nya kembali dan membawa masuk mobil itu dan memarkirkan nya di garasi rumah. Lalu setelah itu ia berjalan mendekati Banyu yang terus tersenyum bahagia saat Tasya menyetujui untuk ikut dengan nya.
"Kembalilah ke mobil, biarkan aku mengunci gerbang terlebih dahulu."
"Siap nyonya!" Seru Banyu.
__ADS_1
Tasya mengulum senyum nya dan mencoba tak acuh kepada Banyu. Namun sudut matanya menangkap Banyu yang berjalan dengan riang menuju ke mobilnya.
"Lelaki ini.. Hmmm.. bukan... Aku tak tahu harus merasa rugi atau beruntung. Satu sisi ada perasaan rugi karena tidak bisa bersama dengan nya. Satu sisi lagi, aku merasa beruntung mengenal orang sebaik dia.. dan....... memiliki calon kakak ipar sebaik dia." Batin Tasya.