Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
29. Kamu kenapa?


__ADS_3

Tasya dan Rafis berjalan di lorong rumah sakit menuju ke ruang rawat inap di lantai dasar rumah sakit tersebut. Mata Tasya terus melirik ke kanan dan kiri setiap pintu ruangan yang berjejer di sepanjang lorong tersebut. Hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya di depan pintu yang bertuliskan ruang Kenangan 313, dimana menurut informasi yang diberikan oleh Banyu, di sana lah Putra sedang di rawat. Dengan gugup, Tasya mengetuk pintu ruangan itu dan mencoba membuka pintu tersebut.


Tasya menoleh kedalam ruangan itu dan di sanalah ia melihat Banyu sedang duduk di samping Putra yang terbaring lemah. Tasya melangkah masuk dengan menggandeng tangan Rafis yang juga tampak khawatir dengan Putra.


"Assalamu'alaikum mas," Sapa Tasya kala ia berjalan mendekati Banyu.


"Wa'alaikumussalam," Banyu memberikan senyuman kepada Tasya, lalu pandangan matanya terjatuh pada sosok bocah laki-laki yang sedang di gandeng erat oleh Tasya.


"Mas Putra kenapa mas? Kenapa wajahnya seperti ini?" Tasya melepaskan gandengan tangan nya dari Rafis, lalu ia mendekati Putra yang masih tertidur tak sadarkan diri. Selang infus tertancap di tangan kanan dan sedangkan selang oksigen terpasang di kedua lubang hidung Putra. Wajah putra penuh dengan luka lebam. Bahkan, masih terlihat bekas darah mengering di sekitar bibir lelaki berusia 35 tahun itu.


"Aku belum tahu. Dia sampai rumah langsung tak sadarkan diri. Ada kemungkinan dia baru saja di keroyok oleh orang yang tak dikenal, atau orang yang sedang bermasalah dengan nya." Terang Banyu.


"Ya Allah." Tasya menutup mulut nya dengan telapak tangan nya, lalu ia menatap Putra dengan tatapan yang iba. Sedangkan Banyu, lelaki itu terus melirik Rafis yang tampak sedang menatap Putra dengan tatapan khawatir.


"Papa," Ucap Rafis seraya mendekati Putra dan mengusap tangan Putra dengan lembut. Tampak sekali kasih sayang dari bocah tersebut kepada lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayah kandungnya sendiri.


"Hati-hati ya nak, jangan sampai menyenggol infus," Tasya berusaha mengingatkan Rafis yang masih belum paham.


"Iya ma.." Sahut Rafis.


"Sudah lama mas Putra seperti ini mas?" Tanya Tasya lagi, tanpa menoleh kepada Banyu. Namun, tampaknya Banyu sedang tidak mendengarkan dirinya. Tatapan Banyu terus terpaku pada Rafis yang terus mengusap tangan Putra dengan lembut dan tulus.


"Mas?" Kali ini Tasya menoleh dan menatap Banyu yang masih asik terpaku menatap Rafis. Tatapan itu begitu teduh dan penuh kasih sayang. Melihat pemandangan itu, ada getaran di hati Tasya. Ia merasa tatapan yang dilemparkan Banyu pada Rafis adalah tatapan seorang ayah pada anak lelaki nya. Entah mengapa ia merasa sangat menyukai tatkala Banyu menatap Rafis. Ada perbedaan antara tatapan Putra pada Rafis dan tatapan Banyu pada Rafis. Putra memang menatap Rafis dengan penuh kasih sayang. Namun, tatapan teduh Banyu menyampaikan banyak makna yang mendalam menurut Tasya.


"Pa.. bangun pa.." Rafis mengusap air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh dari mata indahnya. Melihat hal itu, Tasya pun memeluk Rafis dan mencoba menenangkan anak semata wayangnya itu.


"Papa tidak apa, sebentar lagi juga sembuh. Kamu jangan nangis ya sayang..." Tasya berusaha untuk menenangkan Rafis. Rafis mengusap air matanya dan kembali menatap Putra masih dengan ekspresi wajah yang khawatir.


Tiba-tiba saja, tangan Putra bergerak pelan. Lalu disusul dengan terbuka kedua matanya dengan perlahan. Samar Putra menatap ke sekeliling nya. Lalu, ia mendengar suara berdenging di telinganya. Seketika ia meringis dan memegangi kepalanya yang terasa masih ngilu dan pusing.

__ADS_1


"Mas.. tidur saja dulu."


Putra kembali membuka kedua matanya dan menatap Tasya yang tampak menatap dirinya dengan tatapan yang sangat khawatir. Lalu ia melihat ke sekeliling nya, ia juga melihat Rafis dan Banyu yang sedang berdiri di samping tempat tidur.


"Tasya... kamu baik-baik saja kan?" Hal pertama yang ditanya oleh Putra adalah keadaan Tasya. Tasya pun merasa heran dan lantas menatap Banyu dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Sedangkan Banyu pun sama, ia membalas tatapan Tasya yang tampak bingung dengan pertanyaan dari Putra.


"Lah, yang kenapa-kenapa itu kamu mas, kenapa harus menanyakan tentang ku?"


Putra terdiam, seketika ia tersadar bila masalah dirinya dengan Alia dan keluarganya hanya dirinya lah yang tahu.


"Kamu itu kenapa? Siapa yang menyerang mu?" Tanya Banyu, seraya mendekati Putra dan membantu adiknya itu untuk duduk.


"A-aku....." Putra menghentikan apa yang tadinya ingin ia katakan. Ia tahu bila ini adalah aib untuk dirinya sendiri.


"Kamu kenapa?" Tanya Banyu lagi.


"Di jalan mana? kenapa bisa terjadi? Aku harus melaporkan hal ini ke polisi!" Banyu tampak geram dengan apa yang terjadi dengan adik kandungnya itu.


"A'... tidak usah." Cegah Putra.


Saat itu juga Banyu dan Tasya mengerutkan kening mereka. Mereka berdua merasa aneh dengan Putra yang tidak berniat untuk menuntut pelaku pengeroyokan terhadap dirinya.


"Apa ada luka serius di kepala mu itu? Sehingga kamu tidak mau menghukum orang yang telah berbuat sesuka hati kepada dirimu? Apa jangan-jangan ini masalah pribadi?" Terka Banyu.


"Bu-bu-bukan A'... aku juga tidak tahu orang nya siapa..."


"Tapi dari CCTV dan saksi di sekitar kan bisa di usut! Kamu di keroyok di jalan apa?"


Putra pun terdiam, ia bingung akan beralasan apa lagi kepada Banyu dan Tasya.

__ADS_1


"Masalah pribadi?" Desak Banyu lagi. Lelaki itu tampak sangat emosi dan baru kali ini juga Tasya melihat sosok dingin itu terbakar emosi.


"Sudah lah A', aku malas untuk memperumit suasana. Aku masih disini, aku masih hidup dan.....


"Kamu hampir mati Putra!"


Putra kembali terdiam.


"Mas..." Tasya mencoba menenangkan Banyu yang semakin emosi karena Putra yang terlihat bertele-tele.


"Om.. jangan marahin papa Rafis... Papa Rafis masih sakit. Om tidak kasihan sama papa Rafis?" Ucap Rafis seraya menangis karena sikap Banyu kepada Putra. Saat itu juga Banyu tersadar, ia menatap Rafis yang mengusap matanya berkali-kali untuk menutupi air mata yang terus mengalir dari kedua mata bocah tersebut.


"Rafis, sini sama papa." Putra merentangkan kedua tangan nya. Saat itu juga Rafis, berusaha untuk menaiki tempat tidur dan mencoba menggapai Putra.


"Jangan.. kamu masih sakit mas," Cegah Tasya seraya menahan Rafis yang sedang berusaha memanjat tempat tidur itu.


"Tidak apa-apa. Aku rindu dengan nya." Putra mencoba menyakinkan Tasya dan kembali membujuk Rafis untuk beranjak ke pelukan nya.


"Tapi mas..."


"Sudah.. sini anak papa."


Mau tidak mau, Tasya melepaskan Rafis yang langsung berhambur ke pelukan Putra. Putra sempat meringis saat tubuh bocah kecil itu menabrak bagian dada dan perut nya.


"Tuh kan.. ngeyel sih!" Ucap Tasya yang terlihat gemas kepada Putra.


"Tidak apa-apa," Putra tersenyum dan memeluk erat Rafis, lalu ia mengecup puncak kepala bocah lucu tersebut.


"Anak papa. Papa rindu sekali. Wow.. kamu semakin berat sekarang ya..." Terlihat wajah Putra yang begitu bahagia saat Rafis bermanja kepada dirinya. Sedangkan Banyu, hanya dapat melihat Putra, Tasya dan Rafis yang terlihat bagaikan keluarga kecil yang harmonis. Ia merasa terasingkan, hingga ia tidak ingin kehadiran nya mengganggu Putra, Tasya dan juga Rafis. Perlahan, Banyu melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah yang gontai.

__ADS_1


__ADS_2