Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
118. Keluhan Banyu


__ADS_3

"Ada apa dengan adik saya dok?" Tanya Banyu, kala ia melihat paramedis keluar dari ruang ICU.


"Pak Pak Putra hanya mengalami kejang, kami sudah menanganinya. Bapak tidak usah khawatir, kondisinya saat ini stabil." Terang dokter itu kepada Banyu.


"Alhamdulillah, saya boleh kedalam dok?"


"Silahkan pak," Dokter itu tersenyum dan mempersilahkan Banyu untuk masuk keruangan tersebut. Banyu pun melangkah masuk dan menatap Putra yang belum juga sadarkan diri.


"Dari dulu hingga sekarang, kerjaan mu hanya membuatku khawatir. Sadarlah, masih banyak pekerjaan yang belum kamu selesaikan." Ucapnya seraya mengusap lengan Putra yang tampak tenang saat ini.


Banyu kembali duduk di sofa dan terus memperhatikan Putra yang terbaring di atas ranjang.


"Put, kamu sudah mendapatkan maaf dan persetujuan untuk bersatu dengan Alia. Sadarlah... bila kamu tak sadar, nanti takutnya Anton berubah pikiran. Kamu tahu sendiri bagaimana calon mertuamu itu." Banyu berbicara seakan-akan lawan bicaranya dapat merespon apapun perkataan darinya.


"Oh iya, anak dan calon istrimu juga sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Sebentar lagi mereka dapat melihat dan menunggumu disini. Jadi aku bisa tidur nyenyak dekat istriku. Sudah tiga malam aku tidak sempat menyentuhnya," Ucap Banyu seraya tersenyum sendiri. Lalu ia beranjak mendekati Putra.


"Entah berapa kali Tuhan memberikan kamu kesempatan hidup. Entah berapa kali Tuhan memberikan kebaikan untukmu. Setelah kamu bangun nanti, jadilah manusia yang lebih baik lagi ya... Belum terlambat. Aku berharap kamu cepat bangun. Aku sangat menyayangimu, apapun yang terjadi. Kamu adikku. Bangunlah..." Ucapnya lagi seraya menatap Putra dengan tatapan yang penuh harap.


.


Alia menatap keluar jendela. Sudah dua puluh jam dirinya di dalam pesawat. Yang berarti dirinya harus melewati sembilan jam lagi untuk dapat mendarat di Indonesia. Terlihat kecemasan di wajahnya, sedangkan Eijaz tampak tertidur lelap di bangku yang bersebelahan dengan dirinya. Alia menatap Eijaz dan mengusap lembut rambut buah hatinya itu.


"Sembilan jam, sembilan jam lagi kita mendarat nak. Semoga saat kita melihat papamu, papamu sudah dalam keadaan lebih baik lagi." Gumamnya.


"Ahhh.. aku tidak sabar untuk bertemu denganmu Putra. Aku mohon Tuhan.. berikan dirinya kesempatan untuk hidup dan menjalani hari-harinya dengan baik bersamaku dan buah hati kami." Gumam Alia lagi dengan ekspresi wajah yang tampak penuh harap.


.


"Putra, bangun..." Samar terdengar suara lembut penuh kasih di telinga Putra. Perlahan lelaki itu membuka kedua matanya, lalu ia menatap wajah cantik seorang wanita yang sedang mengusap lembut rambutnya.


"A-alia.." Gumamnya.


"Iya, aku kesini untukmu. Bangunlah.."

__ADS_1


Putra berusaha untuk duduk dibantu oleh Alia. Setelah ia dapat duduk dengan sempurna, ia pun menatap wajah Alia dengan seksama.


"Papa, ini airnya." Tiba-tiba saja terlihat Eijaz membawakan segelas minuman untuk Putra dan menyerahkan minuman itu dengan wajah yang tersenyum lebar.


"Te-terima kasih anakku." Ucapnya seraya menahan tangis. Saat ini ia merasa sangat haus, lalu ia meraih gelas berisi air tersebut dari tangan Eijaz. Terlihat tangan nya gemetar saat meneguk air tersebut dengan tergesa-gesa.


"Pelan-pelan.." Ucap Alia seraya membantu Putra untuk memegangi gelas tersebut.


Setelah dirinya menenggak habis air di dalam gelas, ia pun menaruh gelas tersebut tepat di sampingnya. Lalu ia menatap wajah Alia dan Eijaz. Air matanya tak dapat ia bendung, nyatanya orang yang selama ini ia abaikan adalah penolong dirinya dikala sekarat. Terutama Eijaz yang telah memberikan dirinya segelas air untuk memadamkan rasa haus di tenggorokannya.


"Kenapa kamu mau menolongku?" Tanya Putra seraya menatap Alia dengan seksama.


Alia pun tersenyum, lalu ia mengusap pipi Putra yang terlihat lebam.


"Karena aku selalu punya maaf untukmu, karena aku cinta padamu."


Tangisan Putra semakin menjadi, hingga bahunya tampak berguncang.


"Tidak apa, bangunlah." Alia membantu Putra untuk kembali duduk dihadapannya. Putra merasa malu dan wajahnya tertunduk dalam.


"Berjanjilah, jangan pernah mengecewakan aku lagi, apalagi anak kita."


Putra mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Alia yang terlihat begitu tulus menatap dirinya.


"Jadilah lelaki yang bertanggungjawab setelah ini. Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang telah diberikan kepadamu. Walaupun aku menerima kamu dan masa lalu kita, tetapi aku hanya seorang manusia. Berbuat baiklah setelah ini. Buktikan bila kamu sudah lebih baik dan tidak seperti dulu."


Putra terus menangis, ia meraih kedua tangan Alia dan mengecup punggung tangan wanita yang pernah ia lukai hatinya itu.


"Aku berjanji, aku tahu waktu tidak dapat diputar kembali. Tetapi, aku mohon.. lihat aku.. ingatkan aku.. beri aku kesempatan untuk membuktikannya. Aku mencintaimu.. aku ingin menjadi suami dan bapak yang baik untuk kamu dan Eijaz. Aku berjanji demi apapun.." Ucap Putra disertai tangis penyesalannya.


"Ya.. aku percaya, sekarang bangunlah.. Aku akan menunjukan jalan keluarnya." Ucap Alia seraya membantu Putra untuk bangkit dan memapahnya menuju pintu jalan keluar.


Sinar putih menyilaukan kedua mata Putra saat pintu itu terbuka. Saking silaunya, ia tidak dapat membuka kedua matanya secara langsung. Ia butuh beradaptasi dahulu dengan cahaya yang begitu menyilaukan itu.

__ADS_1


Perlahan ia membuka kedua matanya, samar ia mendengar keluhan keluhan yang sedang diucapkan oleh Banyu. Keluhan itu terdengar lucu di telinganya,


"Bangun lah wahai bad boy..! Jangan menyerah.. Kalau kau terus koma, aku terus begadang di rumah sakit. Punggungku sudah linu.. kaki ku encok dan mataku sudah menghitam gara-gara kurang tidur. Bangun woii bangun... bangun lah, aku rindu istriku.. Arghhhh...!"


"Kamu membuatku panik, kamu kejang-kejang seperti orang kesurupan. Aku pikir kamu kesurupan dan mencekikku dan mengajakku untuk koma bersama."


"Hahahaha.. uhuk! Uhuk! Uhuk!"


"Astaghfirullah!" Seketika Banyu merinding dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Lalu pandangannya pun terjatuh kepada Putra yang sedang terbatuk. Ia nyaris melompat dan segera menghampiri adiknya itu.


"Hei! Hei! Hei! Kamu sudah bangun? Kenapa kamu tertawa?" Tanya Banyu dengan ekspresi wajah yang tampak cemas.


"Jadi sudah berapa hari a'a tidak bersama dengan Tasya?" Tanya Putra seraya tersenyum dan juga meringis menahan rasa sakit di sekitar dadanya.


Banyu menatap Putra dengan wajah yang kesal, lalu ia melengos dan menekan tombol emergency call, untuk memanggil paramedis.


"Yang terpenting kamu bangun sekarang. Besok aku bisa libur menunggui mu!"


"A'.. aku kenapa?" Tanya Putra seraya memperhatikan luka-luka di sekujur tubuhnya.


"Kamu habis akrobat. Nanti tanyakan saja sama dokter, aku malas menerangkannya. Jadi orang kok suka sekali masuk rumah sakit," Ucap Banyu seraya berjalan keluar ruangan itu, setelah paramedis datang untuk memeriksa Putra.


"A'.."


"Apa?" Tanya Banyu seraya menoleh menatap Putra yang kini sudah di dampingi oleh paramedis yang siap untuk memeriksa keadaan adiknya itu.


"Terima kasih dan aku minta maaf atas segala yang pernah aku buat," Ucap Putra seraya menatap Banyu dengan seksama.


Banyu hanya tersenyum dan mengangguk dengan tulus. Lalu ia berjalan meninggalkan ruangan itu untuk memberikan kesempatan dokter untuk memeriksa Putra.


Putra pun tersenyum, ia tidak lagi memikirkan bagaimana keadaannya. Ia hanya bersyukur diberikan kesempatan hidup dan mulai berpikir untuk mendapatkan maaf dari semua orang yang pernah ia lukai hatinya. Pengalaman di alam bawah sadarnya benar-benar sangat berharga baginya. Ia jadi mengetahui berapa banyak hati yang terluka karena dirinya. Berapa banyak amarah orang lain yang dialamatkan kepada dirinya. Dan siapa saja yang tulus dalam mencintai dirinya.


"Alhamdulillah.." Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2