
"Jadi pak, apakah bapak bisa menyediakan apa yang kami butuhkan?" Tanya Tasya saat ia baru saja mengajak Banyu untuk berkeliling di cabang perusahaan nya di Semarang, pada pagi ini.
Banyu terus menatap Tasya yang sedang bertanya kepada dirinya. Sejak tadi, saat Tasya mengajak Banyu berkeliling di kantor itu, tatapan Banyu tidak terlepas dari sosok Tasya yang berjala selangkah di depan nya.
"Pak Banyu..." Panggil Tasya dengan panggilan formal. Karena tidak hanya dirinya yang mengajak Banyu berkeliling di kantor itu. Melainkan ada seorang asisten yang mendampingi Tasya pada pagi itu.
"Pak Banyu..." Panggil Tasya lagi.
"Ah.. iya." Banyu mengedipkan matanya dan ia mulai terlihat salah tingkah.
"Ada apa pak?" Tanya Tasya mencoba untuk tersenyum dengan ramah kepada Banyu.
"Ti-tidak ada apa-apa." Sahut Banyu.
"Maaf, apakah selama tour office, bapak memperhatikan apa yang saya ucapkan pak?" Tanya Tasya dengan intonasi suara yang terdengar tegas.
"I-iya." Banyu menggosok hidung nya dan membuang tatapan nya ke lorong kantor tersebut.
"Kemana pikirian mas Banyu. Dari dia menggosok hidung nya saja, aku bisa tahu kalau dia sedang berbohong. Apakah dia tidak menyimak apa yang aku katakan dari tadi? Satu jam! Dan itu sia-sia kah?" Batin Tasya.
"Maaf, apakah bapak tidak enak badan? Apa perlu kita beristirahat dan memulai tour lagi nanti?" Tanya Tasya.
"Ti-tidak.. saya tidak apa-apa. Saya menyimak apa yang Bu Tasya terangkan kepada saya."
"Masa sih... dari tadi bengong saja kok. Malah lebih sering menatap ku dengan tatapan nya yang aneh itu!" Keluh Tasya di dalam hatinya.
"Baiklah, saya percaya dengan bapak. Bapak tidak akan mengecewakan perusahaan kami. Apa lagi bapak sangat dekat dengan bapak Setya, direktur kami." Tasya mencoba menyindir Banyu.
"Ibu tenang saja. Saya tidak pernah mengecewakan klien saya." Sahut Banyu.
Tasya mencoba tersenyum dan kembali melangkahkan kaki nya menuju ke ruangan meeting. Banyu kembali mengikuti langkah kaki Tasya dan terus menatap Tasya dari belakang.
"Bapak mau apa? Kopi atau teh?" Tanya Tasya, saat ia dan Banyu dan seorang asisten memasuki ruangan meeting.
"Hmmm kopi saja."
"Ngantuk ya pak?" Tasya kembali menyindir Banyu yang sejak tadi terlihat tidak fokus dengan pekerjaan nya.
__ADS_1
"Sedikit." Sahut Banyu seraya mengusap wajahnya.
Tasya menatap Banyu dengan tatapan sebal. Ia ingin sekali pekerjaan nya cepat selesai dan dapat kembali ke Jakarta secepatnya. Karena ia meninggalkan Rafis hanya dengan para asisten nya di rumah.
"Ran, tolong pesan kopi dua ya."
"Baik bu." Asisten yang mendampingi Tasya pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut, untuk memesan dua gelas kopi melalui sebuah aplikasi antar pesanan, karena kantor cabang tersebut masih belum seratus persen selesai di bangun dan masih terlihat lalu lalang para pekerja yang mencoba menyelesaikan kantor tersebut agar tepat waktu. Kantor itu juga belum ada karyawan yang bekerja di sana. Kini tinggallah Tasya dan Banyu berdua saja di ruangan meeting yang baru selesai 90% dengan kursi seadanya. Tasya menatap Banyu dengan tatapan putus asa. Pun dengan Banyu yang membalas tatapan Tasya dengan tatapan yang bingung.
"Kamu kenapa?" Tanya Banyu yang kini tak lagi memanggil Tasya dengan panggilan yang formal.
"Mas Banyu kenapa sih. Kayak gak fokus gitu. Mas, ini menyangkut interior kantor loh. Kalau ada apa-apa, nanti saya yang disalahkan. Di anggap tidak becus. Sudah tahu, saya kesini menggantikan orang yang seharusnya menangani ini. Jadi kalau kenapa-kenapa, saya mas yang di marahi sama pak Setya." Tasya mengeluh tiada henti. Sedangkan Banyu terus menatap Tasya dengan senyuman yang susah payah ia tahan, agar tidak terlihat sedang meledek Tasya yang terlihat benar-benar cemas.
"Sudah?" Tanya Banyu, saat Tasya mengakhiri keluhan nya.
Tasya menatap Banyu dengan kerut di keningnya, lalu dengan perlahan ia mulai mengerutkan dagu nya.
"Mas Banyu jangan anggap enteng dong. Kalau saya di pecat bagaimana!"
"Tas.." Panggil Banyu, seraya ia menunjukkan ballpoint milik Banyu yang tersemat di kantong kemeja nya.
"Ini kamera. Saya bekerja dengan profesional. Maka, saya selalu menyalakan kamera dan merekam semua permintaan klien, agar tidak ada kekeliruan."
Tasya terdiam dan menatap ballpoint milik Banyu dengan seksama.
"Masa sih itu kamera? Itu kan ballpoint."
"Gak percaya? Sini.. saya tunjukkan." Banyu mengeluarkan ballpoint tersebut dan saat yang sama, Tasya pun melangkah mendekati Banyu.
"Nih.." Banyu memperlihatkan mata kamera yang terletak di ujung samping ballpoint tersebut. Tasya pun menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah ballpoint tersebut. Banyu menatap Tasya yang sedang menunduk, dengan posisi berdiri yang begitu dekat dengan Banyu yang sedang duduk di kursi plastik tersebut. Bahkan saking dekatnya, Banyu dapat mencium aroma parfum Tasya yang beraroma bunga yang begitu lembut menyeruak ke dalam indra penciuman nya. Mata Banyu pun turun ke arah leher Tasya yang terlihat begitu menggoda.
Deg!
Jantung Banyu berdegup kencang. Setelah kepergian Tika, tidak sedikit wanita yang mencoba masuk kedalam hidup Banyu. Tidak sedikit juga wanita-wanita yang mendekatinya lebih cantik dan sexy dari pada almarhumah Tika. Namun, tidak satupun yang mampu menarik perhatian nya atau membuat jantung nya berdegup begitu kencang seperti yang saat ini ia alami dengan Tasya.
"Astaghfirullah.. ada apa ini. Kayak nya aku sudah mulai ngawur." Batin Banyu, seraya menundukkan pandangannya.
"Ini seriusan kamera mas? Kayak di film-film detective itu ya?" Tanya Tasya yang masih dengan posisi nya yang menunduk, seraya menoleh kepada Banyu.
__ADS_1
"I-iya." Sahut Banyu. Keringat jagung mulai mengalir di dahi lelaki tampan tersebut.
"Mas berkeringat? Maaf ya.. disini belum ada AC nya." Tasya beranjak meraih tas tangan nya dan mengeluarkan selembar tisu. Lalu ia reflek mencoba untuk menyeka keringat di dahi Banyu.
"Ng.. Tas.." Banyu menahan tangan Tasya, dengan niat untuk mengambil tisu tersebut dari tangan Tasya dan menyeka keringat nya sendiri. Namun diluar ekspektasi nya, mata mereka saling bertemu pandang. Hingga mereka berdua terpana karena nya.
"Mas Banyu.. ternyata lebih ganteng dan terlihat jauh lebih matang dari pada Putra." Batin Tasya.
"Ada apa ini Tuhan? Mengapa wanita ini mampu membuat jantung ku berdegup kencang. Apakah karena dia mirip Tika. Ah... mungkin saja. Tapi, wajah Tasya tidak mirip Tika. Eh, Tapi sikap dan apa pun gerak gerik wanita ini sangat mirip dengan Tika istriku. Ah... tidak.. mungkin aku hanya sedang rindu dengan Tika." Batin Banyu.
"Ehemmm.. Bu.."
Mereka berdua tersentak saat Rani, sang asisten memasuki ruangan tersebut dengan membawa dua gelas kopi yang sudah di kemas dalam gelas khusus.
Dengan cepat, Banyu melepaskan tangan nya dari pergelangan tangan Tasya. Mereka berdua terlihat sangat kaku dan salah tingkah.
"Su-sudah datang ko-kopi nya mas," Ucap Tasya seraya beranjak dari samping Banyu. Lalu ia duduk di depan Banyu.
"Saya taruh disini ya bu." Rani beranjak mendekat dan menaruh dua gelas kopi tersebut di atas meja yang terletak di antara Banyu dan Tasya.
"I-iya Ran."
Rani yang sedang menaruh gelas-gelas kopi itu di atas meja, tersenyum seraya melirik Tasya dan Banyu dengan bergantian. Ia ikut merasakan suasana canggung nan tak biasa di antara dua insan tersebut.
"Selamat menikmati pak, bu," Ucap Rani seraya tersenyum dan melangkah hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Ah ran.."
"Ya bu?" Rani menghentikan langkah nya dan menatap Tasya yang pipinya terlihat merona merah.
"Kamu tidak pesan sekalian?"
"Pesan kok bu. Tapi saya taruh di luar."
"Ambil dan duduklah bersama dengan kita." Pinta Tasya.
"Oh... iya bu." Rani terlihat canggung seraya melirik Banyu yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1