Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
61. Malam ini


__ADS_3

Musik klasik mengalun indah di ruang kerja milik Anton. Ruangan dengan nuansa klasik tersebut terletak di salah satu sudut rumah mewahnya. Anton duduk di kursi jati dengan busa yang empuk, seraya menunggu telepon dari seseorang. Di sela jarinya terdapat sebuah cerutu yang baru saja ia bakar. Asap dari cerutu itu melayang di udara seiring angan nya tentang Tasya. Senyum Tasya terus menghantui kesendirian nya, yang membuat dirinya semakin terobsesi untuk memiliki wanita cantik tersebut.


Akhirnya yang ditunggu pun datang, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dengan cepat, ia langsung menyambar ponselnya dan menerima panggilan tersebut.


"Halo!" Ucapnya dengan bersemangat.


"Halo boss.."


"Ya? Bagaimana?" Tanya nya langsung kepada inti yang ingin ia ketahui tentang Tasya.


"Wanita itu tidak kemana-mana boss. ia langsung masuk ke dalam rumah nya, dan tidak pernah keluar lagi."


"Apa kau serius?"


"Ya pak boss." Lelaki di ujung sana berusaha meyakinkan Anton.


"Ya sudah, kaku tunggu saja. Mana tahu tunangan nya datang, dan langsung seret ke hadapan ku!"


"Siap pak boss."


Panggilan itu pun di akhiri oleh Anton. Ia terlihat tidak sabar untuk menguak siapa sosok tunangan Tasya. Saking tidak sabarnya, ia mulai terlihat gelisah.


"Arghhhh..!" Pekik nya seraya mematikan cerutu di atas asbak.


"Aku sangat butuh teman bicara. Kira-kira Banyu sedang ngapain ya? Atau aku undang saja dia ke rumah ku?" Batin nya.


Lelaki paruh baya itu pun kembali meraih ponselnya, lalu mencoba menghubungi Banyu. Mengapa Banyu? Karena Anton tahu, bila Banyu tidak memiliki pasangan yang sah. Maka Banyu akan bebas kemana saja dan kapan saja. Berbeda dengan teman-teman nya yang lain nya. Karena mereka sudah memiliki keluarga, maka agak sulit bagi Anton untuk mengajak mereka bercengkrama atau mengundang mereka ke rumahnya.


"Halo," Terdengar suara Banyu dari ujung sana.


"Hei, sedang apa kamu?"


"Tidak ada, aku sedang menikmati kesendirian ku."


"Bisakah kamu ke rumahku?"


"Ada apa ini brother?" Tanya Banyu, di iringi tawa nya yang renyah.


"Aku kesepian."


"Lalu, kamu memintaku untuk datang? Apakah selera mu sudah berubah?"


"Kurang ajar! Bukan begitu, aku sedang tidak mood dengan para wanita diluar sana."


"Lalu? Kau ingin menggodaku?" Tanya Banyu yang kembali tertawa geli.


"Hahahaha..! Setan! Cepat ke sini! Justru aku ingin membicarakan tentang Tasya. Karyawati ku yang sedang menjadi incaran ku."


Banyu mengerutkan keningnya dan terdiam membisu.

__ADS_1


"Halo? Apa kau masih di sana?"


"Ah, ya.."


"Bisakah kau ke sini?"


Banyu masih bingung untuk memutuskan akan datang atau tidak. Tetapi, rasa penasaran nya tentang Anton dan Tasya mendorong dirinya untuk menyetujui undangan Anton tersebut.


"Baiklah. Asal ini bukan jebakan dan ternyata kau ingin menggoda ku." Seloroh Banyu.


"Hahahaha... Apa kau sudah siap untuk aku hamili?"


"Damn!" Sahut Banyu.


"Ya sudah, cepat datang. Ngomong-ngomong kau mau disediakan apa?"


"Apa saja, asal jangan minuman keras," Pinta Banyu.


"Hahahhaha...! Kau ini.. selalu jawaban nya begitu dari jaman SMA dulu."


"Ya sudah, aku berangkat sekarang."


"Ok, see you."


"See you." Sahut Banyu.


.


"Ah... aku harus mencari tahu!" Banyu menyambar kunci mobilnya dan segera berangkat ke rumah Anton.


...


Apa kabar kamu?


Tasya tersenyum kala membaca pesan yang baru saja ia terima dari Putra.


Baik mas.


Tanpa pikir panjang, ia langsung membalas pesan dari calon tunangan nya itu.


Maaf aku baru mengabari kamu. Sejak aku baru saja keluar dari rumah sakit, aku langsung mengerjakan banyak hal. Persiapan untuk melamar mu dan lain sebagainya.


Tasya mengulum senyum nya. Lalu ia merebahkan tubuh indahnya di atas ranjang kamar nya itu.


Dua hari lagi mas, sampai jumpa di Kota Solo.


Balas Tasya.


Siap.. aku pasti datang untuk menggapai pujaan hatiku.

__ADS_1


Balas Putra seraya tersenyum semringah.


Tok! Tok! Tok! Tok!


Mendengar ketukan dari luar, Putra yang sedang duduk di atas closet, hampir saja menjatuhkan ponsel di tangan nya.


"Astagaaa..! Aku di kamar mandi saja dia mengetuk pintu?" Batin nya, yang tidak percaya dengan sikap posesif dari Alia.


"Sayang.. kok lama?"


"Berisik! Aku sedang BAB!" Ucap Putra dengan kesal.


"Iya... kok lama? Kok membawa ponsel?"


"Ya Tuhaaaaaannnnn!" Putra benar-benar merasa terganggu dengan sikap Alia. Lalu ia beranjak dari duduk nya dan berpura-pura menyiram closet. Tak lama ia pun membuka pintu kamar kecil yang terletak di kamar yang ia tempati itu. Putra menatap Alia yang juga sedang menatap dirinya dengan sorot mata yang curiga.


"Apa!"


"Mana ponselnya?"


"Untuk apa?"


"Untuk ku lihat." Tegas Alia.


Putra menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mengerti dengan sikap Alia.


"Tidak ada apa-apa!"


"Kamu berbohong, sini lihat..!" Dengan cepat Alia merebut ponsel Putra.


"Kamu!" Putra berusaha untuk merebut ponselnya kembali, namun Alia mencoba menghindari Putra.


Aksi saling merebut ponsel itu pun di mulai. Alia berlari kesana kemari, sedangkan Putra mencoba menghalangi gadis itu dengan tubuhnya. Hingga sampailah Alia di samping ranjang, dan Putra berlari menghampiri Alia dan mencoba merampas ponsel itu dari tangan Alia. Alia mencoba mempertahankan ponsel tersebut hingga dirinya dan Putra terguling di atas ranjang. Di atas ranjang mereka saling bergumul, Putra berusaha mendapatkan ponselnya kembali dan Alia berusaha mempertahankan ponsel itu. Hingga saat Putra berada di atas Alia. Alia yang menyadari hal itu pun terdiam dan menatap kedua mata Putra. Pun dengan Putra yang ikut terdiam seraya membalas tatapan Alia.


Suasana pun hening, yang terdengar hanya suara nafas mereka berdua yang terengah-engah setelah aksi saling merebut ponsel tersebut. Perlahan pipi Alia mulai merona merah, sedangkan Putra pun terlihat mulai salah tingkah. Lama mereka terdiam dan saling bertatapan, hingga perlahan Putra tidak sanggup mengendalikan pikiran kelaki-lakiannya. Ia mulai mendekati bibirnya ke bibir Alia. Pun dengan Alia yang terlihat pasrah dengan apa pun yang terjadi antara dirinya dan Putra.


Hanya satu yang ada di pikiran Alia, ia yakin Putra akan bertanggung jawab dan sudah pasti akan menjadi suami nya kelak. Sedangkan ia tidak paham dengan otak lelaki seperti Putra, yang dapat melakukannya tanpa perasaan cinta sama sekali terhadap wanita yang sedang bersama dengan nya.


Bibir mereka pun bersentuhan, Putra dan Alia diselimuti pikiran yang tak sehat saat ini. Mereka mengikuti arus yang menyeret mereka jauh dan semakin jauh.


Putra terpana saat melihat tubuh indah Alia yang kini terlihat polis tanpa sehelai benang pun, di atas ranjang. Pun dengan Alia yang berdecak kagum kala melihat setiap inci otot di tubuh Putra yang atletis. Keduanya sudah diselimuti oleh nafsu yang menggeser kesadaran mereka berdua. Tanpa menunggu waktu lama, Putra mulai menunjukkan aksinya sebagai lelaki sejati kepada Alia.


Alia sempat meringis dan meremas seprai putih di ranjang itu, kala ia merasakan sesuatu mencoba membobol kesucian nya. Hingga ia berteriak histeris ketika kelaki-lakian Putra melesak masuk ke dalam anggota tubuhnya. Putra mencoba mendekap mulut Alia yang kini mulai meneteskan air mata karena menahan sakit yang baru pertama kali ia rasakan.


"Diam.." Bisik Putra seraya terus membuai Alia yang berada di bawah tubuhnya.


"Sa-sakit..." Alia mengeluh dan mengigit bibirnya dengan kuat.


"Nanti tidak sakit lagi." Balas Putra.

__ADS_1


Alia pun terdiam, ia mencoba menikmati setiap sentuhan Putra. Malam ini, Alia resmi kehilangan kesucian dirinya karena lelaki yang sebenarnya tidak pernah menganggap dirinya berarti tersebut.


__ADS_2