
Tangisan bayi mungil di ruang bersalin, menggema begitu lantang nya. Tasya yang baru saja berjuang pun terkulai lemas seraya meneteskan peluh dan air mata. Persalinan normal ini, dirinya di temani oleh Banyu yang selalu setia di sisinya saat ia tiba di rumah sakit, setelah ia merasakan mulas yang luar biasa tadi pagi. Dokter yang menangani persalinan itu mengangkat bayi yang baru saja keluar dari rahim Tasya dan memberitahukan kepada kedua orang tua bayi tersebut, seperti apa sosok bayi yang selama ini mereka nanti.
"Selamat pak, bu, anak nya perempuan dan cantik sekali."
Tasya tersenyum bahagia, pun dengan Banyu yang langsung mengecup kening Tasya, tanpa mempedulikan peluh yang membasahi kening sang istri.
"Selamat sayang.. kamu hebat." Bisik Banyu.
"Bapak nya silahkan ikut ya.." Pinta sang suster yang akan membawa bayi tersebut untuk di bersihkan dan di cek kesehatan nya oleh dokter anak.
"Sebentar ya sayang." Ucap Banyu diiringi kecupan sekali lagi di kening Tasya.
Tasya hanya menganggukkan kepalanya. Ia masih merasa lelah setelah berjuang sekian jam untuk melahirkan bayi perempuan itu. Tetapi wajahnya terlihat begitu bahagia, karena sebagai seorang wanita, ia begitu bersyukur dapat memberikan keturunan untuk Banyu yang memang sangat merindukan kehadiran sang buah hati. Walaupun tidak pernah menunda-nunda, memang rezeki akan datang di waktu yang tepat. Selama dua tahun menunggu, akhirnya ia dinyatakan hamil. Dan kini, pernikahan nya akan menginjak tahun ketiga beberapa bulan ke depan, dan mereka sudah memiliki buah hati dari hasil pernikahan mereka berdua.
.
Di ruang periksa bayi, Banyu terlihat sangat antusias saat buah hatinya di bersihkan dari sisa-sisa cairan yang berasal dari rahim sang ibu. Bayi itu terus menangis karena merasa gamang. Saat itu juga Banyu memberikan jari telunjuk nya untuk di pegang oleh sang malaikat kecil itu. Perlahan, bayi itu pun mulai merasa tenang. Banyu pun tersenyum bangga, karena tugas pertamanya sebagai seorang ayah dapat ia laksanakan. Yaitu, memberikan rasa aman pada sang buah hati.
"Berat nya tiga kilo dua ons ya pak, dan tinggi nya empat puluh sembilan sentimeter. Semua normal, jari kaki ada sepuluh, jari tangan ada sepuluh. Bentuk kepala bagus, telinga ada dua dan juga sangat cantik seperti mama nya."
Banyu hanya tersenyum dan mengangguk kala suster memberikan informasi tentang sang bayi. Tetapi kedua matanya terus menatap bayi yang menggeliat dengan ekspresi wajah yang lucu.
"Selamat datang di dunia anak ku sayang.. Nadira Samudera Banyu Biru."
"Wah pak.. namanya bagus sekali.." Ucap suster yang sedang membersihkan tubuh Nadira.
"Artinya apa pak?" Tanya sang suster lagi.
Banyu tersenyum dan mengusap lembut rambut Nadira yang terlihat sangat lebat.
"Artinya sangat berharga atau mukjizat tuhan di Samudra rumah tangga saya dan istri." Sahut Banyu.
"Kalau Banyu biru nya pak?" Suster itu terlihat sangat antusias.
"Banyu nama saya sus. Sedangkan biru, bukan kah samudera air nya terlihat biru? Yang berarti luas samudera dan dalam nya samudera begitu luar biasa. Saya mau dia memiliki hati yang seperti itu sus." Terang Banyu.
"Aamiin.. pasti bapak bahagia sekali ya.. ini anak ke...
"Kedua sus, anak pertama saya laki-laki dan sekarang baru naik kelas empat sekolah dasar."
"Wah, sepasang ya pak. Selamat ya pak.. sekarang sudah lengkap. Semoga bapak dan ibu lebih bahagia kedepannya."
"Aamiin..." Sahut Banyu.
Begitulah Banyu, ia selalu mengakui bila Rafis adalah anak kandung nya. Walaupun kini sudah ada Nadira, tetapi kehadiran Rafis adalah kebaikan dan kebahagiaan bagi dirinya selama ini.
"Suhu tubuh normal, sampel darah sudah diambil. Bayi nya kita bawa dulu ya pak. Nanti kalau ibunya sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap, baru bayi nya kami bawa ke ruangan juga. Sebelum kami bawa, bapak bisa cek gelang bayi nya ya pak. Benar ini ya pak.."
Banyu menatap gelang Nadira yang akan di pasangkan ke kaki sang bayi.
"Ini nama ibunya dan gelang ini tidak akan bisa di buka kecuali di gunting ya pak." Sang suster menerangkan dengan begitu profesional.
"Iya sus." Sahut Banyu. Lalu gelang tersebut pun di pasangkan ke kaki Nadira.
__ADS_1
"Di adzankan dulu pak, sebelum kami bawa. "
"Iya.." Sahut Banyu. Lalu suster memberikan Nadira ke dekapan Banyu.
banyu menggendong Nadira dengan sangat hati-hati, kemudian ia pun mulai mengazankan sekaligus mengikamahkannya di telinga kanan sang bayi. Setelah semuanya ia laksanakan, ia pun mengecup kedua pipi Nadira, serta kening sang buah hati.
"Sudah sus," Ucap Banyu seraya menyerahkan bayinya untuk dibawa ke ruangan bayi.
"Baik pak." Suster pun menyambut Nadira. Lalu membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Banyu tersenyum bahagia, ia pun mengikuti suster itu hingga ke depan ruangan bayi yang di kelilingi oleh kaca bening, hingga orang tua sang bayi dapat melihat dimana bayi mereka di tempatkan.
Setelah memastikan semua baik-baik saja, Banyu pun kembali ke ruangan bersalin, dimana Tasya masih terbaring dan di bersihkan oleh suster.
Tasya tersenyum lebar saat melihat Banyu kembali melihat dirinya. Kali ini Tasya tampak mulai terlihat sedikit segar, dengan rambut yang sudah di sisir dan di ikat dengan rapi. Tak ada lagi peluh, pakaian nya pun sudah di ganti dengan pakaian pasien rawat inap yang di pinjamkan oleh rumah sakit itu.
"Sekarang ibu siap kita pindahan ke ruangan rawat inap ya pak. Semua normal dan tidak ada masalah apa pun. Ibunya hebat dan kuat," Puji sang dokter sebelum dokter itu beranjak meninggalkan ruangan bersalin.
"Terima kasih dok." Sahut Banyu dan Tasya.
.
"Halo jang, ruangan si Tasya teh dimana?" Tanya ambu tyang baru saja tiba di parkiran rumah sakit.
"Lantai tiga, ruangan VVIP Dahlia ambu.." Sahut Banyu dari ujung sana.
"Oh iya.. ambu teh sudah sampai, bersama abah, Rafis dan juga Putra."
"Iya ambu. Ambu langsung saja keatas ya. Saya lagi menyuapi Tasya."
"Ayo kita keatas," Ajak ambu.
Mereka berempat pun beranjak ke gedung rumah sakit itu untuk menemui dan memberikan selamat kepada Tasya dan Banyu. Sesampainya di atas, ambu, Rafis dan abah langsung memasuki ruangan Tasya dengan wajah yang terlihat semringah.
"Mana bayinya..." Ambu langsung menodong Banyu dengan pertanyaan yang biasa di lontarkan seorang nenek, saat menjenguk kelahiran cucu nya.
"Sabar ambu, Nadira masih di ruangan bayi. Mama nya makan dulu, baru setelah itu dibawa kemari untuk diberikan ASI." Terang Banyu.
"Yah... ya sudah deh, ambu tunggu saja." Ambu mengerutkan dagunya yang justru terlihat lucu.
"Katanya sama Putra, Putra nya mana?" Tanya Banyu seraya melihat kearah pintu.
"Eh iya.. si Putra teh mana abah!" Ambu dan abah tampak panik.
Abah pun mulai mencari Putra ke luar ruangan itu. Terlihat Putra masih berdiri di balik tembok ruangan itu dengan wajah yang tampak gelisah dan malu.
"Eh jang, kamu teh kenapa tidak masuk?"
Putra menatap abah, lalu ia menundukkan wajahnya."
"Kamu teh kenapa?" Tanya abah lagi.
"Saya malu bah." Sahut Putra dengan suara yang nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Kemari.." Abah menuntun Putra duduk di kursi yang ada di lorong tersebut. Putra pun penurut dan duduk di samping abah.
"Jang, abah tahu kamu teh malu dengan Banyu dan Tasya. Tetapi mereka sudah memaafkan kamu."
Putra menatap abah, untuk memastikan ucapan abah itu benar adanya.
"A'a mu itu orang baik. Kalau kamu memang benar-benar menyesal dengan apa yang pernah kamu perbuat, meminta maaflah dengan tulus pada a'a mu dan juga Tasya."
Putra menelan saliva nya dan kembali menundukkan wajahnya.
"Jang, bila sudah diberikan maaf, upayakan kamu benar-benar menjaga sikap mu. Berubah lebih baik dan raih kepercayaan mereka lagi atuh."
Putra kembali menatap abah, lalu ia mengangguk dengan perlahan.
"Ya sudah, ayuk masuk."
Abah berdiri dari duduk nya dan mengulurkan tangan nya. Putra pun menyambut tangan abah dengan ragu-ragu. Sebagai orang tua yang ingin kedua anak nya kembali akur, abah pun menuntun tangan Putra untuk memasuki ruangan itu.
Terlihat Banyu dan Tasya menatap Putra dengan tatapan yang begitu bersahabat. Justru itulah yang membuat Putra semakin merasa malu. Setelah apa yang ia perbuat selama ini, tetapi mereka tetap menatap nya dengan penuh cinta dan menyambut dirinya dengan tangan terbuka.
"Apa kabar?" Tanya Banyu seraya memeluk erat tubuh Putra yang baru saja menghentikan langkah nya tepat di depan Banyu.
"A'a... saya minta maaf." Putra langsung membalas pelukan Banyu seraya menangis memohon maaf dari sang kakak.
"Tidak apa.. A'a juga minta maaf padamu." Mereka saling berpelukan erat, menghabiskan semua rasa yang terpendam selama ini.
Lalu Putra menatap Tasya yang terus menatap dirinya tanpa dendam. Ia pun menghampiri Tasya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
"Tasya.. aku..." Putra tampak bingung untuk mengutarakan apa yang ada di benak nya.
"Ya mas," Sahut Tasya.
Tak ada kata, Putra pun langsung memeluk Tasya sebagai seorang adik ipar kepada sang kakak ipar.
"Saya minta maaf, tolong maafkan saya dan berbahagialah kamu dengan a'a Banyu." Ucap nya seraya terisak di pelukan Tasya.
Tasya tersenyum dan mengusap punggung Putra dengan lembut. Lalu menatap Putra, setelah lelaki itu melepaskan pelukan nya.
"Saya sudah memaafkan dengan setulus hati mas. Insya Allah tanpa dendam, dan mari kita semua melanjutkan hidup dengan jalan masing-masing. Harapan saya setelah ini, kamu juga dapat menemukan kebahagiaanmu sendiri mas," Ucap Tasya dengan tulus dan ikhlas.
"Terima kasih Tasya." Putra menyeka air matanya seraya tertunduk malu.
"Selamat siang... Nadira datang..." Ucap suster yang baru saja membawa Nadira masuk kedalam ruangan itu.
"Nadira?" Tanya ambu.
"Ya.. sesuatu yang berharga, mukjizat Allah.." Sahut Banyu.
"Aaaaaa... Nadira, cucu ambu.."
"Eh... bukan ambu.. tapi Nini." Tegas abah.
"Astaghfirullah, perasaan teh ambu masih muda bah..!" Ambu tertawa seraya menepuk lengan abah dengan manja. Lalu ambu meraih Nadira dari gendongan sang suster.
__ADS_1
"Nadira cayang ambu.. eh, nini.. Nadira sayang sayang.." Ambu bernyanyi seraya menimang-nimang sang cucu yang ia kira adalah cucu pertama nya.
Semua tertawa, semua merasakan kebahagiaan, semua dendam, rasa sakit hati, rasa jengkel dan apa pun itu sudah di buang jauh-jauh. Mereka memulai hidup yang baru sebagai keluarga yang akur dan bahagia.