
Seorang wanita tua duduk dengan diam membisu disamping tubuh Alia yang tergeletak tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Ditangan wanita tua itu terlihat secarik kertas yang merupakan tulisan tangan Alia. Tampak noda darah terlihat di kertas tersebut. Ya, itu adalah pesan terakhir yang di tuliskan Alia sebelum ia mencoba mengakhiri hidupnya.
Sesekali wanita tua itu tampak mengusap air mata yang terus mengalir di pipi nya yang sudah keriput. Dengan tangan gemetar, ia mengusap punggung tangan Alia. Alia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan menyayat nadi di pergelangan tangan nya sendiri. Beruntung seorang asisten menemukan dirinya yang bersimbah darah dan tergeletak di atas bathtub di waktu yang tepat. Alia tidak meninggal, melainkan ia harus menerima perawatan intensif untuk memulihkan tubuhnya yang sempat kehilangan banyak darah.
Oma, begitu semua orang memanggil wanita tua itu. Dia adalah ibu kandung Anton yang selama ini merawat Alia pasca perceraian Anton dengan istrinya. Wanita tua itu terlihat tidak mampu menerima kenyataan, ia merasa sangat terpukul karena hampir saja ia kehilangan cucu yang sangat ia cintai. Rasa kecewa nya pun semakin menjadi, kala ia membaca pesan terakhir yang di tulis Alia. Wajahnya terlihat geram dan hancur melihat surat itu dan juga tubuh cucuk kesayangan nya tergeletak tak berdaya pada sore ini.
"Siapa lelaki itu nak?" Ucap nya seraya mengusap rambut Alia.
Sudah dua minggu oma berada di kampung halaman nya, dan baru hari ini ia kembali ke Jakarta. Oleh karena itu, ia sama sekali tidak mengenal Putra, lelaki yang tertulis namanya di atas kertas yang ditulis oleh Alia. Di atas kertas itu, Alia mengungkapkan segalanya. Apa yang terjadi pada dirinya hingga ia terdorong untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ia juga menulis hinaan Putra yang juga di alamatkan kepada dirinya.
Sejak kemarin, sepeninggalan Putra, Alia mulai depresi. Ia merasa hidupnya tidak ada artinya lagi. Kesucian nya sudah di rengut, hinaan pun ia dapatkan dari mulut orang yang ia cintai, namun tidak sama sekali menghargai dirinya. Hidupnya sudah benar-benar hancur, terlebih saat Putra meninggalkan dirinya begitu saja.
Papa, Oma, maafkan aku.
Karena aku mengakhiri hidupku sendiri. Aku merasa bersalah dan menganggap hidupku sudah tidak berguna lagi. Aku sudah tidak suci lagi. Semua ini karena Putra, lelaki yang aku cintai, yang ternyata tidak pernah mencintai aku. Kini dia pergi meninggalkan aku dengan rasa tak bersalah. Dia juga menghina diriku yang tak berguna ini.
Papa, Oma, aku tahu aku hanya menjadi beban bagi kalian. Aku anak yang hanya bisa memberikan kalian malu. Aku sangat tidak berguna. Apa yang dikatakan Putra ada benarnya, aku itu wanita yang tak berharga, gampang dan bodoh. Ya, aku terlalu bodoh mencintai dirinya dan memaksa dia untuk mencintai aku. Angan-anganku terlalu tinggi tentang nya, hanya karena ia mampu mencuri perhatian ku.
Papa, Oma, aku hanya ingin mati. Untuk apa aku hidup bila semua orang meninggalkan aku? Mama ku meninggalkan aku, dia lebih memilih lelaki lain sebagai kebahagiaan nya. Putra meninggalkan aku setelah ia puas menghancurkan aku. Papa, papa tidak ada perhatian kepadaku. Hanya oma yang memperhatikan aku dan mencintai aku. Maka, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada oma, bila aku tidak bisa menjadi cucu yang sebagaimana oma inginkan.
__ADS_1
Selamat tinggal semua.. sampaikan salamku kepada Putra, lelaki yang sudah menghancurkan aku. Semoga ia dapat berbahagia dengan wanita pilihannya. Semoga kalian dapat berbahagia dengan kepergian ku.
Maafkan aku...
Alia.
Bunyi pesan yang di tulis Alia mampu membuat siapa saja yang membacanya menangis, terutama orang-orang yang mencintai gadis itu. Hanya karena haus akan cinta, ia mencoba mendapatkan cinta dari lelaki yang ia cintai. Tanpa dirinya sadari, bila cinta itu tak akan pernah bisa dipaksakan. Hanya karena kurang perhatian, dengan gampangnya ia larut dalam buayan Putra yang hanya ingin melampiaskan hasrat sesaat kepada dirinya.
Alia adalah contoh dari banyak gadis diluar sana yang haus akan perhatian dan cinta. Lalu mati karena cinta itu sendiri, cinta yang tak terbalas, cinta yang salah, cinta yang menjerumuskan. Kini Alia yang sudah pasrah akan hidupnya dipaksa berjuang untuk tetap hidup dan menghadapi kenyataan setelah ia sadarkan diri nanti.
.
"Jang, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya ibunya, kala Putra baru saja di campakkan ke kursi nya.
"Ti-tidak apa-apa ambu.." Sahut Putra yang terlihat sedikit tenang karena ada kedua orang tuanya.
"Kalian jangan kasar-kasar atuh sama anak saya!"
"Eh, wanita tua! Lebih baik diam! Masih untung anak mu itu tidak ku bunuh! Sekarang kalian duduk saja dihadapan anak kalian. Lihat wajah tampan anak kalian yang babak belur itu. Entah bagaimana caranya kalian mendidik anak kalian, sehingga dia menjadi pecundang seperti itu!" Ucap Anton dengan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
Kedua orang tua Putra pun terdiam, mereka pun duduk di bangku mereka masing-masing dan menatap Putra yang terlihat terus menundukkan pandangan nya.
Saat itu juga ibunya menangis sejadi-jadinya. Apa yang diucapkan oleh Anton, sama persis seperti apa yang diucapkan Banyu kepada dirinya. Kini ia mulai menyesali dirinya sendiri yang terlalu memanjakan Putra. Hingga anak kebanggaan nya itu hanya terlihat baik dimatanya, tetapi tidak dengan akhlak nya yang di tampakkan pada orang lain.
Bapaknya Putra hanya mampu mencoba menenangkan istrinya yang menangis dengan penuh penyesalan. Ia pun turut merasa menyesal dengan dirinya sendiri yang selaku setuju dengan apa yang dikatakan istrinya. Padahal selama ini ia pun mencoba untuk merangkul Banyu. Namun ia selalu di tentang habis-habisan oleh istrinya yang yakin bila Banyu bukanlah anak yang bisa membanggakan mereka. Tetapi hari ini, semuanya terbukti. Bila mendidik anak yang selalu dimenangkan, tidak ada gunanya sama sekali. Justru membuat anaknya menjadi lemah dan tercetak menjadi seorang pecundang yang selalu menghindari masalah dengan bersembunyi dibalik ketiak orang tuanya. Sangat berbeda dengan Banyu yang harusnya mereka syukuri kehadirannya. Meskipun mereka sudah terlalu jahat kepada Banyu, namun anak itu tumbuh semakin kuat. Anak itulah yang paling mengerti keluarga. Anak itulah yang kerap membantu dan tidak pernah menyusahkan ibu dan bapak nya. Andaikan Banyu bukan anak yang hebat, tidak menutup kemungkinan bila Banyu tumbuh menjadi brandalan karena rasa dendam dihatinya.
Kini mereka sadar, anak yang mereka sia-siakan perasaan nya, bukan lah anak yang pendendam dan anak yang tidak membanggakan. Justru Banyu lah yang mengangkat derajat keluarga, tanpa mau terpuruk dengan sikap yang dibedakan.
Hanya Banyu.. ya.. hanya anak itu.
.
Pernahkah kita merasa bersalah kepada anak kita?
Apakah kita merasa sudah adil menjadi orang tua?
Tidakkah kita mau meminta maaf kepada anak kita?
Apakah kita merasa sempurna menjadi orang tua?
__ADS_1
Pikirkan lagi. -De'rini-