Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
99. Eijaz anakku


__ADS_3

"Pak, pembeli dari Swiss meminta katalog kita. Sudah saya kirimkan, tapi banyak protes nya." Keluh sekretaris Putra setelah satu tahun ia memegang anak cabang perusahaan milik Banyu di Kota Jepara.


Anak cabang perusahaan Banyu berkembang begitu pesat di tangan Putra. Hingga membuat Banyu bangga kepada dirinya. Hanya itu yang mampu Putra persembahkan untuk kakak kandungnya itu, setelah selama ini ia banyak melakukan kesalahan kepada Banyu dan juga keluarga besar nya.


"Protes bagaimana?" Tanya Putra yang sedang sibuk di depan laptopnya.


"Iya pak, begitulah. Ini itu selalu jadi masalah. Untung saya sabar-sabar menghadapi wanita ini." Keluh sekretaris nya lagi.


"Yang mana sih, yang dari Swiss kan banyak." Putra menghampiri meja sekretaris nya, lalu ia melihat ke layar komputer sekretaris nya itu.


"Ini loh pak.. sebel saya. Mentang-mentang beli banyak."


"Berapa milyar?"


"Ini pak." Sekretaris itu menunjukan daftar pembelian wanita yang ia keluhkan itu. Putra pun langsung melihat deretan angka yang tertera di daftar pembelian itu. Ia berdecak kagum kala melihat jumlah pembelian customer nya yang berada di Swiss itu.


"Orang Indonesia?" Tanya nya lagi.


"Iya pak, jadi dia punya kantor di sana. Tapi mengusung budaya Indonesia. Dia membeli banyak mebel ukiran jati pada kita, dan banyak lagi, seperti lemari dan meja."


"Keren..." Ucap nya seraya terus menatap layar komputer sekretaris nya itu.


"Yang buat deal siapa?"


"Marketing pak, Pak Miskan."


"Oh..," Putra mengangguk paham.


"Serahkan pada saya," Ucap nya seraya kembali ke meja nya.


"Baik pak." Sekretaris itu pun mulai mengirim jejak dan daftar pembelian dari customer yang menyebalkan itu kepada Putra.


Putra membuka email yang baru saja ia terima dari sekretaris nya. Email itu berisi forward email dari customer tersebut.


"Eijazputrabumi@... com?" Putra mengerutkan keningnya.


"Katamu perempuan, ini kok laki-laki?" Tanya Putra.


"Itu nama perusahaan nya pak tapi direktur nya perempuan."


"Iya kah?" Tanya Putra lagi.


"Iya.. bapak komunikasi coba pak." Saran Sekretaris nya.

__ADS_1


"Hmmmm ok."


Putra mulai mengetik email yang akan ia kirimkan pada wanita pemilik akun Eijaz tersebut. Setelah ia selesai mengirimkan email, ia pun mulai penasaran dengan profil perusahaan yang memiliki nama unik tersebut.


"Profil perusahaan Eijazz di Swiss." Gumam Putra seraya berselancar di dunia maya.


Klik!


Putra tampak serius membaca profil perusahaan yang menjadi customer nya itu.


"Hebat sekali, bisa memiliki perusahaan yang bagus di sana." Batin nya.


"Siapa sih pemilik nya?" Batin nya lagi.


"Pemilik perusahaan Eijazz di Swiss," Ucap nya seraya mengetik di kolom pencarian.


Deg!


Putra terdiam, kala melihat profil pemilik perusahaan tersebut. Terlihat seorang wanita cantik tersenyum di dalam foto yang tertera di kolom biodata pemilik perusahaan tersebut.


"Dia?" Gumam nya.


"Kenapa pak?" Tanya sang sekretaris yang memang satu ruangan dengan Putra.


"Ti-Ti-Tidak apa-apa."


Putra terdiam, matanya terus menatap foto pemilik perusahaan itu dengan tatapan yang terlihat merasa bersalah. Lalu ia kembali membaca profil wanita pemilik perusahaan itu, hanya untuk memastikan kalau foto wanita itu benar-benar foto wanita yang pernah ia kenal.


"Kelahiran tahun... ya.. sama.. Lahir di Jakarta.. betul." Gumam nya, Hingga sampailah di kolom keluarga.


Deg!


"Orang tua, Antoni.... Anak... Hah!" Putra terbelalak saat mengetahui bila wanita itu sudah memiliki seorang anak.


"Dia sudah menikah?" Batin nya. Putra berusaha melihat informasi anak dari wanita itu. Namun sayangnya, informasi hanya sebatas nama saja. Nama anak dari wanita itu adalah 'Eijaz Putra Bumi."


Tubuh Putra bergetar saat membaca nama tersebut. Entah mengapa ada terselip namanya dalam nama panjang anak tersebut.


"Apakah ada media sosialnya?" Batin nya.


Putra pun semakin penasaran. Lalu ia terlihat asik di depan laptopnya, hanya untuk mencari informasi tentang Eijaz. Namun informasi tentang Eijaz tidak dapat ia temui. Putra semakin penasaran, entah mengapa rasa ingin tahu itu begitu mendesak dirinya untuk menemukan media sosial milik wanita itu.


"Facebook!" Batin nya. Lalu ia masuk ke kolom Facebook dan mencoba mencari nama Eijaz, namun nihil. Tetapi dirinya tidak putus asa. Ia pun mulai mencari nama wanita pemilik perusahaan itu di Facebook. Dan akhirnya pencarian nya membuahkan hasil. Ia mendapatkan akun yang ia mau. Putra pun langsung mencari tahu di kolom foto serta postingan-postingan wanita tersebut.

__ADS_1


'Selamat Pagi, Eijaz sedang membantu mama memasak.' Tertulis caption dengan bahasa Jerman yang termasuk salah satu bahasa nasional yang di pakai Negara tersebut, di salah satu postingan foto yang di berikan pengaturan publik tersebut. Sehingga siapa pun dapat melihat postingan itu tanpa berteman dengan sang pemilik akun itu. Terlihat bocah lucu berusia kurang lebih 3 tahun yang tertawa menatap kamera.


Jantung Putra semakin berdegup kencang. Ia benar-benar merasakan hal yang sangat sulit untuk ia pahami. Putra pun semakin ingin tahu dan mencari postingan yang lain nya.


'Happy birthday Eijaz!'


Terlihat foto bocah laki-laki yang di upload beberapa bulan yang lalu, dengan cake yang tertancap lilin angka 3 di atas cake tersebut.


"Tiga tahun?" Putra pun mulai menghitung waktu. Ia mendekam di penjara selama 3 tahun dan menghirup udara kebebasan sudah satu tahun lebih. Bila saja wanita itu mengandung selama sembilan bulan, dan di tambahkan satu tahun lebih, dan hasilnya.....


"Alia hamil anak ku!" Gumam nya. Nafas nya mulai terasa sesak kala melanjutkan melihat foto-foto Eijaz yang di posting oleh Alia. Putra terus mencari tahu hingga postingan terakhir yang di izinkan untuk di lihat oleh publik.


Postingan terakhir adalah, postingan kelahiran Eijaz, yang kini sudah berusia 3 tahun setengah.


"Ra.." Putra memanggil sekretaris nya, tanpa menoleh kepada sekretaris nya itu.


"Iya pak?"


"Cari tiket ke Swiss."


"Sekarang pak?"


"Ya.." Ucap nya lagi dengan dada yang terasa sesak.


"Baik pak." Sahut sekretaris nya seraya memasang ekspresi wajah yang bingung.


"Keberangkatan kapan pak?"


"Minggu depan, Saya mau mengurus visa dulu."


"Baik pak."


Putra mengusap foto Eijaz yang berada di layar laptopnya. Hatinya terasa begitu penuh penyesalan dan ia pun tidak pernah tahu mengapa Alia dan Anton menutupi kehamilan Alia. Rasa sesal begitu tajam menusuk hatinya. Rasa bersalah pada Alia dan Eijaz pun begitu menghantam hingga ke dasar relung hatinya.


"Maafkan aku.. maafkan aku." Batin nya. Tanpa ia sadari, air mata terjatuh di pipinya.


"Pulang pergi pak? Pulang tanggal berapa?" Tanya sekretaris nya, seketika sekretaris itu terdiam saat melihat Putra menangis di depan laptopnya.


"Pak.. bapak tidak apa-apa?" Sekretaris itu pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Putra.


"Ti-Ti-Tidak apa-apa. Saya minta tolong ambilkan saya minum."


"Ba-baik pak." Sahut sekretaris itu, lalu ia beranjak ke luar ruangan tersebut untuk mengambilkan minum untuk Putra.

__ADS_1


Putra terus menangis, menatap betapa tampan nya bocah lelaki bernama Eijaz tersebut.


"Eijaz, anakku." Batin nya.


__ADS_2