
"Kami pamit dulu pak, bu," Ucap Tasya pada kedua orang tuanya. Ia menyalami kedua orang tuanya dan di susul juga oleh Banyu.
"Baik-baik disana ya nduk, nurut sama suami."
"Iya bu.."
"Rafis juga ya.. jangan nakal ya nang.."
"Siap mbah!"
Ibunya Tasya tersenyum melihat tingkah lucu Rafis. Lalu ia menciumi kedua pipi cucu nya yang tercinta itu.
"Untuk kamu nak, jaga baik-baik anak bapak dan ibu. Bapak percayakan dia untuk hidup bersama denganmu. Tolong tepati janjimu untuk tidak mengecewakan dan menyakiti anak kami. Baik itu secara psikis dan fisiknya. Cukup sudah anak kami menderita dari pernikahan nya yang sebelumnya. Kami harap, kini ia dapat menemukan kebahagiaan yang sebenarnya denganmu nak." Pesan bapak nya Tasya kepada Banyu.
"Insya Allah pak." Sahut Banyu.
"Bapak percaya denganmu."
"Ya sudah, berangkat sana. Bandara kan jauh... kalian harus berangjat lebih cepat," Ucap ibunya Tasya.
"Ngih bu.. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam."
Tasya, Banyu, Rafis dan juga baby sitter nya, beranjak naik ke taksi yang akan mengantarkan mereka ke Bandara. Di iringi lambaian tangan kedua orangtua Tasya dan juga sanak saudara, taksi itu pun beranjak meninggalkan pekarangan rumah tersebut.
Di dalam taksi, Tasya menatap Banyu, pun dengan Banyu yang juga menatap istrinya tersebut. Senyum mengembang dari bibir mereka berdua. Semua masih terasa seperti mimpi yang indah bagi keduanya. Pernikahan tanpa rencana tersebut sungguh-sungguh membuat keduanya merasa bahagia yang luar biasa. Karena, jauh dilubuk hati mereka berdua, itulah yang sebenarnya yang sangat mereka inginkan. Bersatu tanpa ada halangan apa pun.
Begitulah jodoh, jodoh datang tanpa di sangka-sangka. Bahkan, terkadang jodoh datang melalui hal yang terkesan konyol. Pun dengan Banyu dan Tasya. Sebenarnya mereka bersatu karena hal yang konyol. Hanya karena Banyu menawarkan diri di tengah kekacauan acara pertunangan Tasya dan Putra, lalu mereka menikah begitu saja tanpa rencana. Sesungguhnya Tasya memang ditakdirkan untuk Banyu. Hanya saja, perjalan mereka sedikit rumit hingga takdir menyatukan mereka dengan hal yang tak terduga sebelumya.
"Nanti aku pulang kemana mas?" Tanya Tasya dengan ekspresi wajah malu-malu.
"Ke rumah ku." Tegas Banyu.
"Jadi.."
"Nanti kita ambil semua barang-barangmu dan Rafis di rumah mu."
Tasya tersenyum dan menundukkan wajahnya dengan malu.
"Mas.."
"Ya?"
"Kita belum sempat meminta restu pada Tika."
Banyu menatap Tasya dengan seksama. Lalu ia tersenyum tipis dan menghela nafasnya.
"Kita mampir ke makam Tika ya mas.. Nanti, kalau semua urusan sudah selesai."
"Ya." Banyu mengangguk dan tersenyum kepada Tasya.
"Terima kasih sayang." Sambung nya lagi.
"Tasya hanya tersenyum manis, untuk membalas ucapan terimakasih dari Banyu. Lalu ia membuang tatapan nya ke luar jendela taksi yang terus melaju di tengah jalan Kota Solo itu. Bagaimanapun, Tasya hanya ingin mengucapkan Terima kasih kepada Tika, walaupun wanita itu sudah tiada. Tasya yakin, Banyu bisa menjadi lelaki hebat seperti itu saat ini, semua pasti ada kontribusi Tika di dalam proses perjalanan panjang Banyu untuk menjadi lelaki sejati. Karena dibalik lelaki hebat, ada wanita yang luar biasa yang mampu membuat lelaki itu menjadi baik dan terus lebih baik.
__ADS_1
.
Tangan Alia bergerak pelan pada sore hari ini di ruang ICU. Menandakan kesadaran nya mulai kembali. Tak lama kemudian, gadis itu pun membuka kedua matanya dengan pelan. Lalu ia menatap langit-langit ruang ICU itu dengan mata yang sendu.
"Aku dimana?" Batin nya. Lalu ia mencoba mencari sosok lain di ruangan itu. Matanya pun tertuju pada Anton yang tertidur di kursi yang berada tepat disamping ranjang Alia, dengan kepala yang direbahkan diatas ranjang.
"Papa." Panggilnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Anton bergeming, tampaknya lelaki itu terlihat begitu lelah, hingga tidurnya dengan posisi yang seadanya itu membuat ia tetap terlelap.
"Pa.." Panggil Alia lagi. Namun kali ini ia mencoba menyentuh tangan lelaki yang sudah membesarkan dirinya tersebut.
Anton tersentak, ia terbangun dari tidurnya, lalu ia menatap Alia yang tengah menatap dirinya dengan genangan air mata di mata cantik putri nya itu.
"Alia!" Anton langsung berdiri beranjak dari duduknya dan menatap putri nya itu dengan seksama.
"Kamu bangun.." Ucapnya lagi.
Lalu ia menekan tombol darurat untuk memanggil para perawat dan dokter. Lalu ia kembali menatap Alia yang terlihat pucat.
"Papa.. Alia minta maaf..." Alia langsung menangis menyesali apa yang sudah terjadi kepada dirinya.
"Tidak apa-apa nak.. Papa yang minta maaf padamu." Anton terisak saat mengatakan permintaan maaf nya kepada putri semata wayangnya itu.
"Alia yang salah pa. Andaikan Alia menuruti omongan papa, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi."
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang adalah, kamu baik-baik saja nak." Anton memeluk putri nya itu. Hingga beberapa perawat dan donter datang ke ruangan tersebut.
"Kita periksa dulu ya pak. Bapak silahkan menunggu di luar." Pinta para petugas medis tersebut.
"Baik pak." Anton melepaskan pelukan nya dari Alia. Lalu ia berjalan meninggalkan ruangan itu dengan tatapan yang khawatir.
Di depan ruangan ICU itu, Anton duduk dengan wajah yang kuyu. Ia mencoba mengingat segala kekurangan dirinya sebagai orang tua. Ia terlalu longgar membiarkan orang lain tinggal satu atap dengan dirinya dan juga Alia. Sedangkan ia sudah tahu, betapa minus nya kelakuan lelaki yang ia tampung itu. Hanya karena ia sayang dengan anak nya yang takut kehilangan lelaki itu, ia pun mengizinkan Putra untuk tinggal disana. Padahal sebagai seorang lelaki, ia harusnya tahu, Sebaik-baiknya seorang lelaki, bila diberikan kesempatan untuk tinggal serumah dengan wanita yang bukan istrinya, sudah pasti akan terpeleset juga. Semua tentang godaan dan adanya kesempatan. Harusnya ia menyadari itu dari awal.
Dirinya pun adalah seorang lelaki yang selama ini jauh dari kata 'Baik'. Ia kerap betmain perempuan, hingga menbuat istrinya merasa kecewa padanya dan membalas kelakuan nya dengan hal yang sama. Anton mulai menyadari, apa yang ia lakukan itu tidak berbeda jauh dengan Putra. Sekarang, ia tahu betul rasanya menjadi orangtua dari para wanita yang selama ini hanya ia anggap sebagai mainan belaka.
Ia mulai menangis, ia teringat pada Devonna, sang mantan istri. Dasarnya, Devonna adalah wanita yang baik, namun sudah lelah dengan luka. Awal pernikahan mereka, Devonna sangat mencintai dan melayani Anton dengan sangat tulus. Tetapi karena dirinya sendiri lah yang membuat Devonna menjadi berubah drastis. Ia kerap bermain perempuan diluar sana, tetapk dirinya tidak mampu menerima hal yang sama dari istrinya. Rasa penyesalan pun hinggap dan terus menderu. Hingga ia memberanikan diri untuk menghubungi Devonna.
"Halo.."
"Halo.." Sahut suara dari ujung sana.
"Apa kabar?"
"Anton?" Tanya Devonna yang kini tinggal di Negara asal nya.
"Ya, ini aku."
Devonna terdiam beberapa saat. Setelah itu ia menghela nafas panjang yang dapat di dengar oleh Anton dengan jelas.
"Kabar ku baik." Sahut Devonna.
"Aku ingin meminta maaf."
"Kamu..?" Tentu saja Devonna terkejut saat mendengar kata maaf dari Anton. Pasalnya selama ini, Anton begitu membenci dirinya, karena kesalahan yang baru satu kali ia perbuat. Yaitu berselingkuh dengan asisten pribadi Anton.
__ADS_1
"No problem, aku juga ingin meminta maaf padamu." Sahut Devonna.
"Apa kau masih bersama dengannya?"
Devonna terdiam, wanita paruh baya itu ternyata sudah lama berpisah dengan lelaki selingkuhan nya. Dan kini ia menjalani hari-harinya hanya sebagai hukuman baginya. Ia kehilangan segalanya, termasuk anak kandungnya yang kerap dibatasi Anton untuk berkomunikasi dengan nya.
"Tidak." Sahut Devonna.
"Maukah kamu kembali ke Jakarta?" Tanya Anton lagi.
"Ada apa? Mengapa tiba-tiba?" Tanya Devonna yang mulai merasa curiga dengan tawaran yang tak terduga itu.
"Anak kuta masuk rumah sakit. Dia berusaha membunuh dirinya sendiri. Aku mohon, mungkin dengan hadirmu, semangat hidupnya akan kembali."
"Alia...!" Devonna terdengar shock sekali.
"Maafkan aku,"
"Sekarang bagaimana keadaan nya?"
" Masih diruanhan ICU. Datanglah.. tiket akan segera ku kirimkan."
"Baik."
"Terima kasih Devonna."
"Sama-sama Anton."
Panggilan itu pun berakhir. Anton menghela nafas panjang dan kembali termenung. Ia mulai beranjak dari duduknya saat melihat tenaga medis keluar dari ruangan ICU.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" Tanya nya dengan wajah yang tampak begitu khawatir.
"Nona Alia butuh perawatan intensif. Kita lihat besok hari, kalau keadaan nya terus membaik, nona Alia akan segera kami pindahkan ke ruangan rawat inap."
"Baik dok. Apa sekarang saya bisa melihat anak saya?"
"Bisa pak. Tolong di jaga ya.. kalau ada apa-apa bapak bisa memanggil kami. Kami akan sigap menangani dan memberikan yang terbaik untuk nona Alia."
"Terima kasih dok."
"Sama-sama."
Anton langsung beranjak masuk kedalam ruangan tersebut. Ia menatap Alia dengan tatapan penuh kasih dan juga penyesalan. Lalu ia memeluk putri semata wayangnya itu dengan erat. Dan mengucapkan ribuan maaf dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
"Maafkan papa yang terlalu banyak kurang nya menjadi orang tua. Papa harap, kamu bisa memaafkan papa."
"Alia juga minta maaf pa..." Sahut Alia dengan isak tangis penyesalan nya.
"Bagaimana Putra pa?"
"Jangan bahas dia lagi. Apa pun yang terjadi, papa akan bertanggung jawab penuh atas dirimu. Lupakan dia.. papa akan mengganti semua dengan yang lebih baik."
"Maksudnya?"
"Papa akan menjadi papa yang lebih baik. Papa akan selalu ada untuk mu. Papa juga mengizinkan kamu untuk tetap berkomunikasi dengan mama mu. Dan bila ada kesempatan... Papa akan membuka lembaran baru dengan mama mu. Papa akan tebus semuanya.. Kamu tidak akan kekurangan kasih sayang lagi. Papa berjanji, papa akan berikan apa pun itu demi kamu. Asal kamu berjanji, kamu akan melupakan dia dan hiduplah lebih baik lagi. Ayo kita hidup lebih baik.. Demi segala yang terbaik."
__ADS_1
Alia menatap Anton dengan seksama. Lalu ia kembali menangis, tetapi kali ini tangisan itu adalah tangisan bahagia. Tangisan haru untuk menyambut hidup yang lebih baik lagi. Dengan harapan, keluarganya dapat utuh kembali. Ia dapat hidup dengan baik dan kebahagiaan pun dapat ia rengkuh kembali dalam kasih sayang kedua orang tuanya.
"Terima kasih papa." Bisik nya pelan di telinga sang ayah.