Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
31. Rasa iri


__ADS_3

Riyanti berjalan memasuki lobby kantor. Penampilan nya yang berubah drastis sejak ia bekerja di kantor itu pada awal Januari kemarin begitu mencolok, hingga kehadiran nya selalu menjadi buah bibir para karyawan dan karyawati di perusahaan tempat ia bekerja.


Pagi ini Riyanti memakai dress berwarna maroon, lengkap dengan sepatu hak tinggi dan tas bermerek nya yang berwarna hitam. Rambut nya di curly, hidung nya yang mancung hasil operasi plastik, serta kulit nya yang semakin putih dari hari ke hari membuat dirinya tampak jauh lebih menarik dari beberapa bulan yang lalu.


"Pagi bu." Sapa para karyawan yang memuji kecantikan Riyanti saat ini. Sedangkan para karyawati terlihat berbisik dengan wajah yang penuh perasaan iri kepada dirinya. Namun bukan Riyanti namanya bila mau menanggapi ucapan miring tentang dirinya. Tujuan Riyanti bekerja hanya ingin mendapatkan seorang boss yang sangat royal kepada dirinya. Impian nya merubah diri layaknya seorang princess yang cantik dan bergelimang harta, sudah ia tanamkan dalam benaknya sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hal itu karena ia merasa dendam dengan kemiskinan yang menjajah diri dan keluarganya sejak ia kecil.


"Bayarane sekretaris iku se piro seh? (Gaji sekretaris itu seberapa sih?) Tanya seorang karyawati asal Surabaya yang sedang mengantri absen bersama dengan karyawati lain nya, termasuk Tasya.


"Memang kenapa mbak Nur?" Tanya karyawati lain nya.


"Perubahane iku loh..." (perubahan nya itu loh) Ucap Nur dengan nada suara yang terdengar nyinyir.


Tasya yang baru saja menempelkan ibu jarinya di mesin absensi hanya tersenyum menanggapi nyinyiran Nur yang merupakan rekan kerja yang satu ruangan dengan dirinya.


"Minggir!" Ucap Riyanti dengan wajah yang ketus. Seketika para karyawan dan karyawati yang sedang mengantri pun bergeser dan memberikan kesempatan untuk Riyanti yang tidak mau mengantri, melakukan absen terlebih dahulu.


"Ealahhh... sok ngebos..!" Ucap Nur setelah Riyanti baru saja absen dan beranjak meninggalkan antrian tersebut.


"Eh Tasya, kamu keruangan saya sekarang!" Perintah Riyanti, saat dirinya dan Tasya sama-sama hendak memasuki lift yang baru saja terbuka.


"Baik mbak." Sahut Tasya yang hendak menyusul Riyanti masuk kedalam lift tersebut.


"Eh.. siapa yang menyuruh kamu bareng dengan saya? Gak level...! Kamu tunggu setelah saya turun nanti!" Tasya terdiam dan berusaha untuk tersenyum kepada Riyanti, saat pintu lift tersebut akan tertutup.


"Kok gak jadi masuk?" Tanya Nur yang baru saja tiba di depan lift.

__ADS_1


"Gak apa mbak." Sahut Tasya.


"Dilarang masuk sama nenek lampir?"


"Gak kok mbak, tadi penuh."


"Ojok ngapusi Tas... Tas.. wong lift nya kosong kok!" (Jangan bohong Tas.. Tas.. orang lift nya kosong kok!)


Tasya kembali tersenyum dan menundukkan pandangan nya. Entah mengapa Riyanti tidak menyukai Tasya dari awal dirinya bekerja di perusahaan itu beberapa bulan yang lalu. Ada saja kesalahan pada dirinya yang selalu dicari-cari oleh Riyanti. Maka dari itu, Tasya terlihat enggan saat ia harus berhubungan langsung dengan sekretaris boss nya itu.


Ting!


Pintu lift kembali terbuka. Tasya dan beberapa karyawan dan karyawati lain nya pun ikut masuk kedalam lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai kantor mereka masing-masing.


Tasya menghela nafas panjang, kala ia berdiri di depan ruangan Riyanti. Sebenarnya ia enggan sekali menemui Riyanti. Tetapi karena ia harus menyerahkan laporan kerjanya selama di Semarang kepada Riyanti, jadi mau tidak mau dia harus menemui wanita itu.


Tasya mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk!" Terdengar suara Riyanti dari dalam ruangan tersebut.


Tasya membuka pintu ruangan itu dan menatap Riyanti dengan seksama.


"Mana laporan nya? Apakah dia paham mana saja yang harus ia isi ruangan nya?" Tanya Riyanti, tanpa berbasa basi seperti layaknya pemilik perusahaan tersebut.


"Semua sudah saya jelaskan dalam laporan tertulis ini mbak," Ucap Tasya seraya menyerahkan laporan tertulis yang telah ia buat sampai ia rela menyita waktu tidurnya.

__ADS_1


"Saya malas membaca, lebih baik kamu bacakan." Ucap Riyanti seraya mengikir kuku jari jemarinya yang lentik.


Tasya menghela nafas panjang. Ia harus menahan emosinya bila ia ingin terus mencari nafkah di perusahaan itu. Menjadi seorang ibu sekaligus merangkap menjadi seorang ayah sangatlah berat. Sedangkan keluarga Antoni, mantan suaminya tidak mau tahu sama sekali tentang biaya hidup Rafis, putra nya dengan Antoni yang kini tengah dirawat di rumah sakit jiwa.


"Kamu kan masih muda! Bekerja lah! Apa kamu pikir biaya Antoni di rumah sakit itu kecil? Kamu punya keluarga kan? Minta sana sama keluargamu!" Bentak ibunya Antoni kala Tasya meminta bantuan keuangan untuk Rafis, saat dirinya belum bekerja.


Tiba-tiba saja terlintas di benak nya ucapan Banyu yang mendukung dirinya untuk membuka sebuah toko kue. "Andaikan aku sudah ada modal, mungkin aku akan membuka toko kue dengan segera dan keluar dari perusahaan ini." Batin Tasya.


Tasya bukanlah berasal dari keluarga yang tidak punya. Hanya saja, Tasya tidak pernah mau merengek kepada keluarganya untuk meminta pertolongan. Ia hanya merasa malu dan takut ibunya menjadi kepikiran dengan nasib Tasya yang kini menjadi tulang punggung untuk dirinya dan Rafis.


"Eh..! dengar tidak!" Bentak Riyanti.


"I-iya mbak." Tasya kembali meraih laporan yang telah ia buat dan mulai membacanya untuk Riyanti.


Selama Tasya membacakan untuk dirinya, Riyanti tidak sama sekali mendengarkan apa yang Tasya bacakan untuk nya. Melainkan Riyanti terus sibuk mengikir kuku-kuku nya dan terus membatin tentang sosok Tasya yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Sok cantik!"


"Cantikan juga aku!"


"Sok jual mahal!"


"Kulit mu itu hitam! Cantik dari mana?"


Riyanti terus membatin tentang Tasya. Iri hati Riyanti bukan tanpa alasan. Meskipun kulit Tasya tidak putih, tetapi tidak bisa dipungkiri bila Tasya lah karyawati tercantik di perusahaan itu. Hal lain yang membuat Riyanti semakin iri adalah, suatu hari, ia pernah memergoki Anton sedang membaca data dan memandangi foto Tasya di ruangan nya. Tidak hanya itu saja, Riyanti pernah melihat Anton terlihat terus memperhatikan Tasya yang sedang berjalan di lorong kantor. Hal itu membuat Riyanti merasa takut, bila suatu saat Tasya akan merebut Anton dari dirinya.

__ADS_1


Walaupun Riyanti tahu, Tasya sama sekali tidak sadar bila Anton terus memperhatikan dirinya. Tasya tipe wanita yang tidak peduli dengan tatapan yang memandang dirinya. Justru itulah daya tarik dari seorang Tasya, yang juga sering menjadi buah bibir para karyawan dan manager di perusahaan itu. Buah bibir yang terdengar tanpa cela, puja dan puji terus mengalir begitu saja dari bibir mereka yang sangat mengidolakan Tasya. Hal itu juga yang membuat Riyanti ingin merubah penampilan dirinya menjadi lebih sempurna. Yaitu, rasa iri nya kepada Tasya.


__ADS_2