
"Satu, dua, tiga!" Seru dokter yang sedang bertugas di ruang UGD di sebuah rumah sakit terdekat dari ruas tol tempat Putra dan korban lainnya kecelakaan.
Alat pacu jantung yang berada di kedua tangan dokter tersebut pun di tempelkan ke dada seorang lelaki yang tampak sudah tak berdaya. Dengan peluh di dahi dan harapan dapat menolong korban yang sedang ia tangani, dokter itu pun terus berusaha untuk mengembalikan detak jantung pasiennya itu.
"Satu, Dua, Tiga!" Serunya lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim, Satu, dua, tiga!" Ia terus berusaha sembari terus mengawasi monitor yang menampilkan detak jantung pasiennya.
"Bagaimana dok?" Tanya suster yang sedang membantu dokter paruh baya itu.
"Kita ulangi sekali lagi." Perintahnya.
Suster itupun mengangguk dan kembali berupaya dengan sang dokter, untuk mengembalikan denyut jantung pasien tersebut. Di luar ruang UGD itu pun terdengar tangis keluarga yang baru datang ataupun para pasien yang merasa kesakitan. Saking penuhnya ruang UGD, pasien harus rela di tangani di lorong rumah sakit itu. Tepatnya di depan ruang UGD. Terdengar juga langkah kaki yang terlihat begitu sibuk di koridor tersebut yang berasal dari paramedis yang sedang membantu para pasien lakalantas yang membludak di rumah sakit itu.
"Satu, dua, tiga!" Wajah dokter itu terlihat mulai putus asa, kala jantung pasiennya tidak merespon alat pemacu jantung tersebut. Ia menghela nafas panjang dan segera menyerahkan alat pemacu jantung itu kepada suster nya. Lalu ia mengangguk dan mempersilahkan suster tersebut untuk memindahkan pasien yang telah berpulang itu ke ruang jenazah.
"Masukan pasien berikutnya ke sini!" Perintahnya seraya melepaskan sarung tangan yang melekat dikedua tangannya.
"Baik dok." Beberapa tenaga medis membawa pasien yang telah berpulang tersebut agar pasien lain nya mendapatkan tempat di ruang UGD.
"Innalilahi wa inna ilaihi rajiun.." Ucapnya dengan raut wajah penuh duka. Meskipun dirinya sudah terbiasa melihat seseorang berpulang, namun setiap pasien yang ia tangani berpulang, membuat dirinya tetap merasa sedih dan gagal. Ia pun beralih ke bilik sebelah, sebuah bilik yang hanya dipisahkan oleh tirai berwarna hijau pupus dari bilik satu ke bilik lainnya. Kini ia siap untuk menangani pasien kedua korban lakalantas di ruang UGD tersebut.
Ia menatap lelaki yang sedang tak sadarkan diri tersebut, lalu ia melihat pakaian lelaki tersebut yang sudah dipenuhi oleh darah.
"Gunting pakaiannya." Perintah dokter itu seraya memakai sarung tangan berbahan latek yang baru.
Setelah ia suster berhasil menyingkirkan pakaian yang melekat di pasien tersebut, dokter itu pun langsung memeriksanya.
"Hubungi dokter bedah segera!" Perintahnya dengan raut wajah yang panik.
"Baik dok." Sahut suster yang memakai kaca mata.
"Pindahkan dia ke ruang operasi sekarang juga! Saya akan menangani yang lainnya."
"Baik dok!" Ucap seorang perawat laki-laki. Lalu perawat itu mendorong ranjang yang di tempati oleh pasien itu keluar ruangan tersebut.
__ADS_1
.
"Mom.. bagaimana?" Alia yang terus menghubungi Devonna pun tidak sabar ingin segera mengetahui kondisi Putra di tanah air.
"Mama sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, Alia.. Kamu sabar dong. Perjalanan ke sana macet sekali. Mungkin karena kecelakaan itu dan ambulans yang terus mondar mandir disekitar jalan ini." Terang Devonna yang merasa sedikit panik karena Alia terus menghubungi dirinya.
"Apa papa tau?"
"Ya, papa mu tahu."
"Siapa yang memberitahu?"
"Mama." Sahut Devonna seraya membelokkan setir nya kearah ruang kosong di jalan tersebut.
"Kenapa mama kasih tahu?"
"Alia.. dia papa mu! Dia berhak tahu kemana mama mau pergi, mama sedang apa dan ada urusan apa!" Ucap Devonna yang sengaja menyetel ponselnya dengan speaker, agar ia tidak perlu memegangi ponselnya saat menyetir.
Alia terdiam, ia sadar bila tanpa diberitahu pun, Anton akan tahu. Karena ia sudah tahu bila Putra adalah adik dari sahabat Anton yang bernama Banyu.
"Apa kamu pikir papa mu akan setuju?"
Alia terdiam, ia tahu betul Anton akan menentang Devonna untuk mencari tahu keadaan Putra.
"Lalu?"
"Aku menyayangimu dan Eijaz, Alia. Dan papa mu tidak akan marah berlarut-larut. Biar ini jadi urusan mama. Tapi sekarang mama pinta, jangan hubungi mama sampai mama menghubungi kamu."
"Ba-baik ma.." Alia menghela nafas dan mengakhiri panggilan tersebut. Lalu ia menatap Eijaz yang masih berada di sisinya dan menatap dirinya dengan air mata yang terus mengalir di kedua mata bulat anak laki-laki tersebut.
"Bagaimana keadaan papa ma?"
Alia menghela nafas sekali lagi dan berjalan menghampiri Eijaz. Ia berjongkok di depan Eijaz yang sedang duduk di atas kursi.
"Eijaz, kita hanya bisa berdoa untuk papa ya..., saat ini papa belum ada kabarnya." Alia berusaha memberikan pengertian dan ketenangan untuk Eijaz.
__ADS_1
"Apa papa akan meninggal?" Pertanyaan polos Eijaz membuat hati Alia terasa perih.
"Kita hanya bisa berdoa, kita tidak tahu keadaan papa di sana. Kita tunggu oma menghubungi kita saja ya." Alia memeluk Eijaz dengan erat. Tidak terasa, air mata mengalir deras di kedua pipi Alia.
"Tuhan, apa aku dan dia tidak akan bisa bersatu? Mengapa kami begitu sulit untuk bersatu dari dulu dan sampai sekarang. Tuhan, bila memang dirinya sudah seratus persen berubah dan dia memang benar-benar mencintaiku saat ini, aku mohon Tuhan... aku mohon selamatkan dia. Berikan dia kesempatan hidup untuk aku dan Eijaz. Berikan dia kesempatan untuk menebus segalanya dan membuka lembaran baru dengan kami." Batin Alia.
.
Banyu, Tasya, dan kedua orangtua Banyu berjalan menyusuri ruang UGD dengan raut wajah yang panik. Mereka sekeluarga segera bertolak ke rumah sakit itu untuk mencari tahu keadaan Putra. Banyu menghampiri seorang perawat yang sedang mendata pasien lakalantas yang ditangani di rumah sakit tersebut.
"Sore sus, saya ingin mencari pasien lakalantas yang bernama Putra." Ucap Banyu dengan nafas yang terengah-engah.
"Putra siapa ya pak?"
Saat itu juga ambu mendekati perawat tersebut seraya mengucapkan nama lengkap dari Putra dengan bibir yang bergetar, serta peluh yang membanjiri pelipisnya.
"Bapak dan ibu tenang dulu ya. Saya harus mencari datanya dahulu. Sebentar ya pak, bu." Ucap perawat itu seraya membaca daftar puluhan orang yang terlibat lakalantas, yang tercatat di lembaran demi lembaran kertas yang sedang berada di tangannya tersebut.
Tasya merangkul ambu yang tak kuasa menahan air matanya. Sedangkan abah terlihat risau, sama seperti Banyu saat ini.
"Bapak Putra... beliau sudah di pindahkan ke ruang operasi pak."
"Alhamdulillah, dia masih selamat bah, ambu!" Seru Banyu.
"Alhamdulillah! dimana ruang operasinya sus?" Tanya Ambu yang kini terlihat penuh harap atas keselamatan Putra.
"Ruang operasi ada di lantai dua bu. Silahkan naik lift ke lantai dua. Di ujung lorong ini ada lift, nanti dari pintu lift di lantai dua, ibu dan bapak bisa langsung ke kiri dan lurus saja. Di sana ruang operasinya." Terang suster itu.
"Baik, terima kasih sus."
"Sama-sama pak." Suster itu pun tersenyum dengan ramah. Banyu dan keluarganya pun segera berjalan menuju ke arah lift dan mengikuti petunjuk yang diberikan suster tersebut.
Setibanya dilantai dua, terlihat lampu berwarna merah di atas pintu ruang operasi di ujung lorong itu, tanda operasi sedang berlangsung di ruangan tersebut. Kini mereka sekeluarga hanya bisa diam menunggu di depan ruang operasi tersebut, sampai operasi selesai.
"Ya Allah, berikan keselamatan untuk anakku.." Ucap ambu, lirih.
__ADS_1