Kau Aku Dia

Kau Aku Dia
55. Ekspektasi


__ADS_3

Alia tersenyum sendiri saat ia mengendarai mobilnya. Sesekali ia melirik Putra yang duduk disebelah nya dengan wajah yang terlihat kesal karena Alia memaksa Putra menumpang mobilnya untuk ke kampus. Gadis itu menghentikan laju mobilnya saat lampu merah menyala, lalu ia kembali menoleh menatap Putra yang sedang termenung.


"Mikirin apa sih sayang?"


Putra terperangah dan menoleh kepada Alia.


"Duh Alia, bisa tidak jangan panggil aku sayang?"


"Tidak." Tegas Alia.


"Astaghfirullahalazim!!!!!" Seru Putra dengan wajah yang terlihat semakin kesal kepada Alia.


"Alia, aku ini dosen mu. Kamu juga masih kecil!"


"Bodo amat." Alia tersenyum jahil kepada Putra yang semakin gemas dengan Alia.


"Allahu Akbar!" Putra mengacak-acak rambut nya sendiri. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi untuk menghentikan sikap Alia yang manja dan memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'.


"Ya ampun.. semakin kamu seperti itu, aku semakin gemas loh pak dosen...." Alia mengedipkan sebelah matanya, kala Putra menatap dirinya dengan kesal.


Putra melengos, ia menatap jendela yang tepat berada di sebelah kirinya.


"Turunkan aku di belakang kampus." Pinta Putra.


"Siappp... baik lah Ayankkkkkkk." Sahut Alia dengan santai nya.


"Innalillahi...!" Putra menoleh dan kembali menatap Alia dengan tatapan yang jijik.


"Ayankkk dosen.. lihat saja, nanti juga kamu tidak akan kesal kalau aku manja-manjakan seperti ini. Kamu akan merindukan hal ini, dan kamu akan jatuh cinta sedalam-dalamnya kepadaku."


"Hoekkk..!" Putra berpura-pura akan muntah kala Alia mengatakan hal itu kepada dirinya.


"Lah.. gak percaya.." Alia menghentikan mobilnya tepat di belakang kampus mereka.


"Sudah, aku turun dulu. Nanti pulang saja duluan! Aku mau bertemu dengan A'a ku. Biar dia yang jemput aku nanti."


"Ikut..." Rengek Alia.


"Ini masalah keluarga Alia! Kamu bisa dewasa tidak?"


"Sudah dewasa kok.. sudah bisa menikah dan punya anak." Sahut Alia dengan ekspresi yang nakal.


"Subhanallah!" Putra menggelengkan kepalanya. Tanda ia benar-benar menganggap Alia terlalu berlebihan.


"Kamu mau aku jujur dan kembali ke rumah mu, atau aku berbohong dan pergi begitu saja?"


Alia terdiam, kali ini ia langsung memasang mimik wajah yang serius.


"Pikirkan itu. Aku sudah berusaha jujur. Nanti aku bertemu dengan A'a ku, juga aku akan berfoto dengan nya dan aku akan kirimkan ke kamu. Biar kamu percaya."


"Benar ya..." Alia mengerutkan dagunya dengan manja.


"Iya nenek lampir!"

__ADS_1


"Ih.. aku kok di panggil nenek lampir?" Keluh Alia seraya menarik lengan kemeja Putra.


"Ih, kusut tau!" Putra menepis tangan Alia dengan kasar. Hingga membuat Alia terperangah tak percaya.


"Yang kamu lakukan itu jahat Putra!" Ucap Alia yang menirukan salah satu scene sebuah film terkenal.


"Dih.. sudah ah..!" Putra beranjak dari mobil tersebut, lalu menutup pintu mobil itu dengan kasar.


"Dasar!" Putra mengeluhkan sikap Alia, lalu dengan perlahan ia berjalan memutari kampus itu dengan kakinya yang masih belum begitu pulih.


Alia hanya menatap Putra yang berjalan tertatih. Lalu ia menghela nafas panjang dan mencoba bersabar dengan sikap Putra kepada dirinya.


"Sabar ya Al, suatu saat kamu akan mendapatkan cinta nya. Saat ini dia dan kamu masih dalam penyesuaian." Batin Alia.


.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Dengan perlahan, Nur membuka pintu ruangan Anton. Lalu ia melangkah memasuki ruangan itu dengan baki yang sedang ia bawa. Baki itu berisi segelas teh hangat dan segelas kopi yang ia buat atas inisiatif dirinya sendiri, untuk Anton.


"Ini teh nya Tas, di minum ya..." Nur meletakkan gelas tersebut di depan Tasya yang masih duduk di depan meja kerja Anton.


"Terima kasih mbak."


"Sama-sama Tas." Sahut Nur. Lalu wanita itu melirik Anton yang tampak masih khawatir dengan keadaan Tasya dan tersebar nya video Tasya. Lalu Nur meletakkan gelas kopi tersebut di atas meja yang sama.


"Pak, bapak saya buatkan kopi. Silahkan diminum ya pak." Ucap Nur.


"Sama-sama pak," Sahut Nur, masih dengan tatapan yang menyelidik kepada Anton. Anton yang menyadari tatapan Nur yang terlihat menyelidik, pun mulai mengerutkan keningnya dan membalas tatapan Nur yang terlihat aneh di matanya.


"Kamu kenapa melihat saya seperti itu Nur?"


"Hah? Tidak kok pak!"


"Tidak apa? Kamu ikut menuduh saya yang menyebarkan video?" Tanya Anton.


Mendengar pertanyaan Anton, Tasya pun mulai menatap Nur dengan seksama. Saat itu juga Nur mulai merasa terintimidasi di ruangan itu.


"Lhaaaa.. kok semua lihat saya? Saya tidak menuduh pak..."


"Lantas? Mengapa kamu melihat saya seperti itu?" Tanya Anton lagi.


"Ya saya lihat bapak saja toh.. Memang tidak boleh. Bapak ganteng dan saya punya mata. Adil toh?" Ucap Nur dengan ekspresi khas nya yang terlihat julid dan sewot.


Anton terdiam mendengar ucapan Nur. Lalu ia mengusir Nur dari ruangan nya.


"Sana! kembali kerja!"


"Iya pak.. iya...!" Nur melengos dan berjalan meninggalkan ruangan itu dengan membawa nampan di tangan nya.


Brakkkkk...! Tidak sengaja Nur menutup pintu ruangan Anton dengan kasar.

__ADS_1


"Astagaaaa... Nurrrr...!"


"Maaf pakkkkkk...!" Sahut Nur dari luar ruangan itu.


Anton hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nur. Setelah itu, ia kembali menatap Tasya yang mulai meraih teh hangat buatan Nur. Dengan perlahan, Tasya menyeruput teh tersebut dan setelah itu ia kembali menaruh teh itu di atas meja.


"Gimana? Sudah tenang?" Tanya Anton seraya bertekuk lutut di hadapan Tasya.


"Duh pak.. apaan sih.. jangan seperti itu. Saya sungkan.." Tasya merasa sungkan melihat Anton bertekuk lutut dihadapan nya.


"Biar saja." Sahut Anton.


"Mending bapak ambil kursi deh, terus duduk. Jangan seperti ini pak... Apa saya harus duduk di lantai juga?" Pertanyaan Tasya membuat Anton tertawa geli. Lalu ia beranjak berdiri dan menarik kursinya dan duduk dihadapan Tasya.


"Begini?" Tanya Anton dengan wajah yang semringah.


"Better lah pak." Sahut Tasya.


"Ok, mari kita bahas masalah video. Kira-kira kamu mencurigai siapa di kantor ini?" Tanya Anton.


Tasya tampak berpikir keras, ia tidak berani mengatakan apa pun kepada Anton. Pasalnya, ia tidak boleh nenuduh orang sembarangan. Sama seperti ia menuduh Anton yang ternyata tidak bersalah. Tasya takut salah sasaran lagi.


"Saya tidak tahu pak."


"Baiklah.. biar saya cari tahu sendiri. Saya sudah hubungi ahlinya dan sebentar lagi mereka akan mendapatkan tersangkanya. Nah.. setelah itu, saya akan mengumpulkan semua orang di ruang meeting. Lihat saja, saya akan mempermalukan orang tersebut." Janji Anton.


Tasya menatap Anton yang terlihat begitu melindungi dirinya. Tasya tidak sama sekali menyangka bila Anton yang selama ini terlihat begitu kasar, punya sisi yang begitu lembut dan melindungi.


"Terima kasih pak. Tetapi saya rasa.. setelah ini saya tidak sanggup lagi untuk ke kantor ini."


"Kenapa?" Anton terlihat mulai cemas dengan pernyataan Tasya.


"Saya malu pak. Semua orang sudah...


" Ssttt... jangan pernah katakan itu. Kamu tidak sengaja menyebarkan, kamu tidak melakukan itu dengan sengaja atau berniat menarik perhatian orang. Kamu di isengin, ini semua bukan mau mu. Orang-orang akan paham kalau kamu hanya korban."


Mendengar ucapan Anton, Tasya hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Kalau kamu mau cuti untuk sementara waktu, saya akan berikan hingga kamu metasa tenang. Semuanya akan saya proses, kamu tenang saja."


"Benar pak?"


"Ya.." Sahut Anton dengan wajah yang tampak bersungguh-sungguh.


"Terima kasih pak. Tetapi sebelumnya, saya mau ikut keruangan meeting. Saya ingin tahu juga siapa yang melakukan hal jahat ini pada saya."


"Sama-sama, boleh.. kamu berhak tahu siapa pelakunya."


"Terima kasih sekali lagi pak.." Tasya meneteskan air mata haru nya.


"Sama-sama Tas. Sudah.., diminum lagi teh nya, biar kamu tenang dan jangan menangis lagi."


"Iya pak.." Tasya meraih gelas teh nya. Lalu ia kembali menyeruput teh tersebut. Sedangkan Anton terus memperhatikan Tasya dengan tatapan yang begitu mengagumi wanita itu.

__ADS_1


"Semiga hikmah dari kasus ini, membuat aku dan Tasya semakin dekat dan akhirnya dia akan jatuh cinta kepada ku, dan membatalkan pernikahan nya dengan tunangan nya." Batin Anton yang memiliki ekspektasi yang begitu tinggi atas Tasya.


__ADS_2