
Adzan subuh berkumandang begitu syahdu. Suara rintik hujan terdengar seirama dengan gesekan dedaunan yang tertiup angin. Banyu yang sedang tidur, memaksa kedua matanya untuk terbuka, saat mendengar suara adzan berkumandang. Seperti biasa, lelaki itu tidak pernah meninggalkan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
"Astaghfirullahalazim!" Banyu terlihat panik saat ia tersadar bahwa dirinya sedang tidak berada di dalam kamarnya. Saat itu juga Banyu celingukan melihat ke sekelilingnya. Hingga tatapan nya mendarat ke sosok seorang wanita cantik yang sedang tertidur pulas tepat disamping nya.
"Ta-Tasya!" Gumam nya. Lalu ia mencubit kedua pipinya, seakan semua hanya mimpi indah yang ia kemarin sore hingga pagi ini. Sadar bila semua adalah nyata, Banyu pun mulai tersenyum sendiri. Ia mengulum senyuman nya hingga terlihat ekspresi wajah yang sangat konyol. Tidak hanya sampai disitu, lelaki itu meraih guling dan memeluk guling itu dengan erat. Lalu ia menenggelamkan wajahnya di guling tersebut.
"Aihhhhh... ternyata bukan mimpi.. asik asik joss!" Gumam nya. Lalu ia mengangkat wajahnya yang ia tenggelamkan di guling, dan kembali menatap sang istri.
"Astaga!" Banyu terkejut saat melihat kedua mata Tasya yang terbuka lebar dan sedang menatap dirinya dengan seksama.
"Cieee asik-asik Joss.." Tasya yang masih terbaring diatas ranjang pun menggoda Banyu, sambil tertawa geli.
"Ish... dia dengar!" Batin Banyu yang wajahnya mulai memerah.
"Kok sudah bangun?" Tanya Banyu yang berusaha mencoba mencairkan suasana kikuk yang tengah ia rasakan.
Tasya yang masihbtertawa geli pun kembali menatap Banyu dengan seksama. Lalu ia beranjak duduk dan merapikan rambutnya yang panjang.
"Aku memang bangun jam segini mas," Ucapnya seraya beranjak dari atas ranjang.
"Bukan main.." Gumam Banyu.
"Apanya?" Tasya menoleh dan menatap Banyu dengan seksama.
"Ahh.. enggak.." Banyu tersenyum sendiri, lalu ia beranjak dari atas ranjang dan bersiap untuk mengambil wudhu ke kamar mandi.
"Mas mau sarapan apa?"
"Kamu.. eh.. anu.. itu.. apa..
Tasya mengerutkan keningnya dan menatap Banyu seraya tersenyum malu-malu.
"Itu maksudnya.. apa saja." Banyu menggelengkan kepalanya seraya beranjak dari hadapan Tasya.
"Ih.." Tasya bergidik seraya menepuk dahinya. Lalu diam-diam ia tersenyum geli setelah menyadari sikap dan tingkah Banyu yang sebenarnya. Selama ini ia hanya melihat sosok Banyu yang dingin dan tidak banyak bicara. Nyatanya semua itu berbanding terbalik dengan sikap Banyu yang belum 24 jam sah menjadi suaminya itu.
"Ternyata dia konyol. Asik juga ya.." Batin Tasya. Lalu ia tersenyum sendiri dan keluar dari kamarnya untuk membantu Menik mempersiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga nya.
.
Suasana pagi di kampung Tasya begitu segar dan damai. Pagi-pagi sekali terdengat kokok ayam jantan peliharaan warga, bersahutan dari rumah satu ke rumah lain nya. Udara terasa dingin dan aroma tanah yang basah tercium begitu kuat, karena sejak subuh, hujan membasahi bumi dan baru reda pada pukul 7 pagi ini.
Rafis bermain di beranda rumah dengan sang kakek yang sedang asik bercanda dengan bocah tersebut, sambil menikmati kopi paginya. Sedangkan ibunya Tasya terlihat bahagia dengan senyum yang mengembang di wajahnya saat melihat tingkah Rafis yang menggemaskan. Menik dan Tasya sedang sibuk menata sarapan pagi di atas meja yang terletak di ruangan makan. Sedangkan Banyu, lelaki itu terlihat bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Ia terus menatap istrinya yang sedang terlihat sibuk.
"Sudah selesai. Mau sarapan sekarang mas?" Tanya Tasya.
Banyu terlihat gelagapan saat Tasya bertanya kepada dirinya. Ia pun berdiri dari duduknya dan lalu menghampiri Tasya.
"Ya? Ada yang bisa dibantu?"
Tasya mengerutkan keningnya dan menatap Banyu dengan seksama.
__ADS_1
"Mas mau sarapan sekarang? Dari tadi diam saja, apa mas lapar?"
"Oh.. ya.. aku lapar sekali," Ucapnya dengan ekspresi wajah yang lugu.
Tasya tersenyum simpul dan beranjak dari hadapan Banyu. Lalu wanita cantik itu meraih piring bersih dan sedikit menunduk untuk menyendokkan nasi keatas piring tersebut.
"Mas mau, banyak atau sedikit saja?"
"Banyak," Sahut Banyu yang kini menjatuhkan pandangan nya ke dada Tasya yang terlihat mengintip dari balik daster nya.
"Ok.." Tasya menyendokkan nasi keatas piring.
"Segini mas?" Tanya Tasya seraya menunjukkan piring yang sudah berisi nasi tersebut.
"Besar."
"Porsi besar?" Tanya Tasya.
"Iya."
Tasya mengangkat kedua alisnya dan kembali menyendokkan nasi ke piring itu.
"Segini mas? Memangnya habis?"
"Iya nanti di habisi."
"Benar ya..."
"Iya.." Sahut Banyu.
"Hah?" Banyu menatap Tasya yang sedang menatap dirinya. Lalu ia menatap nasi yang sudah di sendokkan Tasya dengan porsi jumbo tersebut.
"Banyak sekali!"
"Kan mas yang minta..."
"Enggak.."
"Lah.. tadi katanya porsi besar.." Ucap Tasya.
Banyu terdiam, lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sini piringnya."
Dengan ragu, Tasya menyerahkan piring tersebut kepada Banyu.
"Aku makan tidak begitu banyak," Ucap Banyu seraya mengurangi nasi yang sudah terlanjur di sendokkan Tasya.
"Tadi.... " Tasya terlihat bingung seraya mengerutkan dahinya.
"Tadi.. oh.. iya.. itu.. tadi.. hehehehe.. biasanya memang suka makan dengan porsi besar. Tapi sekarang aku diet," Ucap Banyu yang terlihat salah tingkah.
__ADS_1
Tasya menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa Banyu terlihat tidak fokus sejak kemarin.
"Mungkin sedang banyak masalah kali ya. Apa mas Banyu masih shock karena tiba-tiba menikahi aku?" Batin Tasya.
"Mas, aku memanggil ibu dan bapak dulu ya."
Banyu hanya mengangguk dan menatap Tasya yang berjalan ke arah depan rumah tersebut. Mata Banyu terpaku pada bokong Tasya. Ia menelan saliva nya dan menghela nafas panjang.
"Gila! Aku sudah gila!" Batin nya.
Tak lama kemudian, Tasya, kedua orangtuanya dan juga Rafis menyusul ke ruangan makan. Lalu masing-masing dari mereka duduk di kursi yang mengelilingi meja makan tersebut. Kini Tasya duduk disamping Banyu. Sedangkan Rafis, duduk di samping Tasya. Setelah berdoa bersama, mereka pun mulai melaksanakan santap pagi mereka bersama-sama.
"Jadi, kapan kembali ke Jakarta?" Tanya bapak nya Tasya.
"Kalau bisa nanti malam pak. Soalnya saya harus menyelesaikan pekerjaan dan mempersiapkan toko untuk Tasya."
Tasya melirik Banyu, lalu ia mengulum senyumnya. Entah mengapa ia merasa bahagia sekali mendengar Banyu yang ingin segera menepati janji untuk membukakan toko kue untuk dirinya.
"Langsung sama kamu nduk?" Tanya ibunya Tasya.
"Hah.. hmmm.." Tasya terlihat grogi, lalu ia kembali melirik Banyu.
"Iya bu.. kalau bisa," Sahut Banyu, yang paham maksud dari lirikan Tasya.
Tasya pun terlihat lega, ia merasa Banyu benar-benar paham dengan apa mau dirinya.
"Sudah membeli tiket?" Tanya bapak nya Tasya lagi.
"Saya akan beli setelah ini." Sahut Banyu.
"Rafis diajak gak?" Tanya Rafis seraya menatap Banyu.
"Tentu dong.. Masa papa tinggal."
Rafis terdiam, lalu ia tersenyum seraya menatap Banyu dengan seksama.
"Papa," Ucap bocah kecil itu.
"Akhirnya Rafis punya papa." Sambung bocah itu dengan ekspresi wajah yang terlihat haru.
Banyu terdiam, lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Rafis. Lelaki itu menatap Rafis dengan seksama.
"Iya, sekarang aku adalah papa mu. Kamu tidak akan merasa sedih lagi saat melihat teman-teman mu diantar oleh papa dan mama nya. Sekarang Rafis punya papa.. Rafis sama seperti yang lain nya," Ucap Banyu, lalu ia memeluk tubuh mungil Rafis dengan erat.
"Terima kasih papa," Ucap Rafis. Lalu bocah itu membalas pelukan Banyu. Air mata bahagia mengalir dari sudut mata bocah laki-laki itu. Pemandangan itu pun membuat haru siapa saja yang melihatnya. Tasya dan bapak nya menahan tangis haru nya. Sedangkan Menik dan ibunya Tasya tak kuasa menahan air mata yang memaksa terjatuh di kedua pipi mereka.
"Berbahagialah kamu nduk.. Rafis.. ini buah dari kesabaran kalian berdua. Ibu doakan, semoga rumah tanggamu *sakinah mawaddah warohmah."
"Aamiin*." Sahut mereka semua.
Pagi ini, adalah pagi yang terindah bagi keluarga ini. Pagi yang penuh dengan kebahagiaan dan rahmat yang tak terhingga. Pagi yang selalu menjadi impian bagi semua orang yang merindukan kedamaian dan itu semua hanya dapat dirasakan bagi setiap insan yang mampu bersabar dengan segala cobaan yang mereka lalui.
__ADS_1
.
"Akan selalu ada kebahagiaan bagi setiap orang yang mampu melalui cobaan hidupnya dengan bersabar." -De'rini-