Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Apa yang terjadi


__ADS_3

...🔥🔥🔥...


Alan menolehkan wajahnya, "Ada apa? Apa kau merasa terganggu? Atau kau menikmatiii sentuhan ku? Atau kau sedang mengagumi ke tampanan ku?" ujar Alan dengan senyum yang menyeringai.


"A- apa? menikmatiii?"


Ceklek.


Nusi membuka pintu tanpa mengetuk, membuat Layla salah tingkah dan langsung mendorong Alan untuk menjauh darinya.


Alan menatap tajam Nusi. Sedang kan Layla menatap Nusi dengan keterkejutan.


"Maaf, pak. Saya bisa datang lagi nanti." Nusi kembali menutup pintu.


"Tuh kan, ini pasti karena pak Alan terlalu dekat tadi. Jadi pak Nusi mengurungkan niatnya untuk masuk." sungut Layla.


"Kau berani menyalahkan ku?" Alan mendudukan dirinya di tangan kursi yang sedang Layla duduki.


"Emang ini ke salahan bapak kan? Masa iya pak Alan mau menyalah kan saya!" Layla mengerucut kan bibirnya.


"Ngapain bapak malah duduk di sini? Bapak kan punya kursi! Duduk lah di sana!" Layla menunjuk jari telunjuk kanannya, pada kursi kebesaran Alan.


Alan menggoda Layla dengan suaranya yang dingin, "Apa ada larangan... untuk seorang bos duduk di sini? Aku bebas untuk memilih duduk di mana saja, di kursi yang aku inginkan!"


Layla meremasss jemarinya sendiri, sebenarnya mau pak Alan ini apa sih? Kenapa pak Alan terus menatap ku? Kenapa aku merasa pak Alan semakin dekat dengan ku?


Dalam diam, Alan terus memperhatikan wajah Layla, menatap mata bulat Layla yang di nilainya terlalu berani pada dirinya. Alan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Layla.


Aku akan membuat mu meninggalkan Amer! Membuat hubungan kalian menjadi berantakan, memiliki mu dan ku hempaskan! Ku hempaskan kau ke dasarrr jurang penderitaan!


Layla beranjak dari duduknya, sebelum bibir Alan mendarat di bibirnya. Membuat Alan yang duduk di tangan kursi, langsung jatuh. Saat kursi yang di duduki Alan, kurang ke seimbangan.


Alan jatuh terduduk di lantai dengan menarik lengan Layla.


"Kyaaaa!" pekik Layla.


Bugh.


Alan terduduk di lantai, di susul dengan Layla yang ikut jatuh ke lantai.


"Pak Alan! Apa apaan sih! Kalo jatoh, jatoh aja sendiri! Gak usah bawa bawa saya!" sungut Layla dengan berusaha beranjak dari posisinya.


Namun sayangnya ke malangan masih menimpa dirinya, heels yang di kenakan Layla patah satu.

__ADS_1


Tak.


"Akhhh." Pekik Layla dengan memegangi mata kakinya, satu tangannya bertumpu pada pahanya.


"Dasar ceroboh!" ucap Alan dengan datar, itu pasti sangat sakit! Sukurin! Alan menatap Layla dengan sinis.


Alan beranjak dari duduknya, "Alam pun memihak pada ku, karena kau sudah membuat aku jatuh!" sungut Alan.


"Dasar atasan aneh." gumam Layla dengan wajah yang meringis, menahannn sakit di pergelangan kakinya.


Alan berlalu, kembali ke meja kerjanya. Tanpa berniat untuk membantu Layla dan mengabaikan nya.


Layla mendudukan kembali dirinya di kursi, memikirkan apa yang di katakan Alan padanya, apa iya... itu karena salah ku ya? Tapi siapa suruh pak Alan duduk di kursi ku!


Dalam duduknya, Layla berkali kali mengurutkan kakinya dengan tangannya, dengan mencondong kan tubuhnya.


"Tidak apa Layla, nanti juga sembuh ko!" gumam Layla pelan, menyemangati dirinya sendiri.


Alan melirikkan matanya pada Layla, "Apa kau sudah merubahnya, Layla?" tanya Alan dengan wajah datarnya.


"Iya pak, sabar sedikit lagi selesai ini!" oceh Layla, dengan tangan kanannya, merubah bagian yang ingin di rubah Alan.


"Lama sekali! Bisa kerja tidak sih!" sungut Alan.


"Boleh saya masuk, pak?" tanya Nusi dari balik pintu.


"Masuk Nusi!" oceh Alan.


Ceklek.


Nusi masuk ke dalam ruang kerja Alan, melihat ada perbedaan di wajah Layla yang tampak meringisss.


Sementara Layla, tidak memperduli kan pada siapa yang baru saja masuk. Tidak perduli dengan apa yang di lakukan Alan.


Nusi menyerahkan berkas yang harus di tanda tangai Alan, "Ini pak, bagian yang harus bapak tanda tangani." ujar Nusi.


Alan membubuhkan tanda tangan nya pada berkas yang di bawa Nusi, sementara Nusi berkali kali melirikkan matanya pada Layla.


Nusi membatin, apa yang di lakukan Nona Layla? Dari tadi terus mencondongkan tubuhnya. Apa yang sudah di lakukan pak Alan padanya ya?


Alan menyerahkan kembali, berkas yang sudah ia tanda tangani pada Nusi, "Bawakan aku ice bag sekarang juga!"


"Ice bag untuk bapak? Apa bapak sakit?" tanya Nusi dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Tidak usah banyak bertanya, Nusi!" ujar Alan dengan sekilas melihat ke arah Layla.


"Kalo begitu saya permisi, pak. Nanti akan saya bawakan apa yang bapak inginkan." Nusi beranjak dari tempatnya, meninggalkan ruang kerja atasannya, dengan sekilas menoleh ke arah meja kerja Layla.


Beberapa jam kemudian, kini Layla di dalam mobil bersama dengan Amer. Menuju ke kediaman Amer setelah memeriksakan kaki Layla di rumah sakit.


"Begini nih, yang tidak aku suka. Kita baru berpisah tempat kerja seharian Layla, kaki mu sudah seperti ini! Pokonya nanti aku akan meminta pada pak Alan, untuk membiarkan mu mengerjakan disein itu dari tempat kita kerja saja, tidak harus kau berada di kantornya!" Amer terus mengoceh, meluapkan ke marahannya.


"Ihs ka, kaki ku kan hanya terkilir. Lagi pula tadi kan sudah di kompes di kantor, udah ngomelnya. Berisik tau ka!" Layla menyandarkan tubuhnya pada Amer.


"Memang apa yang terjadi sebenar nya? Kenapa kaki mu bisa terkilir?" Amer mengelusss kepala Layla, andai saja aku tidak menuruti permintaan pak Alan, mungkin hal ini tidak akan terjadi pada mu, sayang!


"Tadi kan aku sudah bilang ka, heels ku patah, jadi kaya gini deh!" Layla menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Amer.


Amer mengangkat dagu Layla, dengan jari telunjuk kanannya, membuat ke duanya saling bersitatap.


"Katakan pada ku, sayang? Apa yang sebenarnya terjadi hem?" tanya Amer dengan tatapan matanya yang teduh.


"Aku sudah mengatakan nya ka, tidak ada yang aku sembunyikan." jika saja pak Alan tidak lebih dekat wajahnya pada ku, mungkin aku tidak akan beranjak, tidak juga membuatnya terjatuh dari kursi ku itu.


Rafa membuka kan pintu mobil untuk Tuannya, saat mobil sudah terparkir sempurna di depan rumah.


Amer ke luar lebih dulu, baru setelah itu ia menggendong Layla dengan ke dua tangannya.


"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Rafa saat melihat Layla di gendong oleh Amer.


"Terkilir." Amer menjawab singkat dengan terus melangkah ke dalam rumah, sedangkan Layla mengalungkan ke dua tangannya di leher Amer.


Noer yang sedang duduk manja di sofa, ruang tamu di buat terbelalak saat melihat Layla di gendong Amer.


"Sayang, apa yang terjadi dengan menantu mami?" suara heboh Noer langsung menggema, ia langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri ke duanya.


Ali Khan, mengelusss dadanya dengan suara yang di hasilkan dari istrinya itu, "Astaga mami, jantung papa hampir copot! Pelankan sedikit suara mu itu, mami!" sungut Ali Khan.


Prak prak.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊

__ADS_1


__ADS_2