
...πππ...
Amer menggenggam tangan Layla, aku tidak bisa menunggu mu lagi Layla.
Layla mengerutkan keningnya mencoba menarik tangannya dari genggamannn Amer, "Maaf, Tuan! Apa yang sedang Tuan lakukan!"
"Aku tidak bisa lagi diam pura pura tidak tahu, Layla!"
Layla mengerutkan keningnya, semakin tidak mengerti dengan Amer, "Apa maksud, Tuan? A- aku tidak mengerti!"
Amer menatap Layla dengan intens, bayangannya membuat dirinya semakin jauh dari kenyataan, "Aku ingin kau berpisah dengan suami mu, Layla." Ujar Amer.
Layla menepis tangan Amer dengan kasar, "Apa yang Tuan katakan? Tuan mau aku berpisah dengan suami ku?" Tanya Layla dengan kemarahan.
"Iya Layla, aku sudah lama menunggu mu, aku akan membuat mu bahagia... aku janji Layla... tolong tinggalkan suami mu yang tidak bisa menghargai diri mu." Ujar Amer panjang lebar.
"Mudah sekali Tuan berkata pisah, apa Tuan memikirkan perasaan ku? Apa Tuan perduli pada ku?" Layla membuang wajahnya dari Amer.
"Aku mencintaimu Layla, sejak lama aku mencintai mu, aku bodohhhh sudah mebohongi perasaan ku, aku pikir kau akan bahagia dengan pernikahan mu, tapi nyatanya aku salah... aku mohon Layla, berikan aku kesempatan untuk membahagiakan mu!" Amer meraih tangan Layla dan menggenggamnya dengan erat, "Aku sangat mencintai mu, Layla!" Seru Amer.
Sreeek.
"Aku benci pada mu, Tuan.
"Tuan Amer!" Layla menarik kasar tangannya dari genggaman Amer yang membuat Amer kembali pada kesadarannya.
Layla menatap Amer dengan bingung, "Maaf Tuan, Tuan menggenggam tangan ku sangat kencanggg, jadi aku menariknya dan maaf aku tidak bermaksud untuk membentak Tuan."
Amer menatap Layla yang tengah menundukkan kepalanya dengan tangannya yang saling menggenggammm, apa aku menyakitinya? Apa yang sudah aku lakukan? Dasarrr bodohhhh.
"Maaf Layla, aku tidak bermaksud menyakiti mu... hanya saja aku ---"
Amer tidak melanjutkan perkataannya saat ia teringat akan hayalannya yang jauh akan Layla saat mendengar pengakuan cinta Amer untuknya.
"Apa Tuan? Tuan mau mengatakan apa? Katakan saja?" Layla mendudukkan dirinya di atas ranjang rawatnya.
"Kau tidak perlu bangun, Layla... istirahat lah!" Amer menahan ke dua bahu Layla yang ingin bangun dari tidurnya.
"Tubuh ku pegal, Tuan." Layla menolak untuk tidur kembali.
"Baik lah." Amer membantu Layla meninggikan bagian kepala ranjangnya.
"Terima kasih, Tuan." Layla menarik sudut bibirnya ke atas, Tuan Amer begitu baik pada ku, aku takut ini akan tidak baik untuk hubungannya dengan istrinya, eh tapi kan aku tidak tahu Tuan Amer sudah menikah atau belum.
__ADS_1
"Sama sama, ada lagi tidak yang kau inginkan?" Tanya Amer penuh perhatian pada Layla.
"Boleh aku bertanya pada, Tuan."
Amer mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla, "Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, Layla." Amer meraih buah jeruk di atas nakas dan mengupas kulitnya.
"Apa Tuan sudah menikah?" Tanya Layla dengan sedikit keraguan.
"Tidak, aku belum menikah."
Layla melihat ada kejujuran di mata Amer, Tuan Amer tidak berbohong, Tuan Amer mengatakannya dengan jujur.
"Apa Tuan memiliki kekasih?" Tanya layla lagi.
"Tidak juga. Kenapa kau tanyakan itu?" Kini Amer yang memberikan pertanyaan pada Layla, apa yang ada dalam pikiran Layla?
"Aku takut saja, jika Tuan punya istri atau kekasih, nantinya akan tidak baik untuk hubungan Tuan kedepannya, jika Tuan terus baik pada ku." Ujar Layla.
Kening Amer mengkerut, dengan tangan yang terulur ke depan mulut Layla hendak menyuapkan Layla dengan jeruk yang sudah di kupasnya, "Ayo makan ini! Buah sangat bagus untuk kesehatan mu!" Seru Amer.
Layla menerima suapana dari Amer, andai saja pria yang aku nikahi sebaik dan setulus diri mu Tuan Amer, mungkin aku tidak akan mengalami pahitnya hidup karena cinta.
"Lalu bagai mana dengan mu, Layla... bagai mana dengan suami mu? Maksud ku bagai mana dengan nasib rumah tangga mu kelak?" Tanya Amer dengan hati hati dengan tetapi memberikan suapan buah jeruk saat Layla berhenti mengunyah.
Amer menatap Layla dengan berbinar, "Itu bagus Layla, sudah sepatutnya kau berpisah dengan pria brengsekkk itu!" Seru Amer dengan semangat berapi api, jika begitu adanya, Layla akan berpisah, menyandang status janda, setelah melewati masa idanya, aku akan menikahi mu Layla. Masa depan yang selalu ku nanti hanya ingin mendampingi mu sampai maut memisahkan kita berdua Layla.
"Apa Tuan berfikir begitu?"
"Layla, jika suami mu sangat mencintai mu... maka lelaki sejati tidak akan membiarkan wanita yang di cintainya menjadi tulang punggung keluarga, lelaki sejati tidak akan mungkin selingkuh." Ujar Amer dengan menatap teduh mata Layla.
"Begitu ya!"
"Tentu, jika kau tidak keberatan... aku yang akan mengurus surat cerai mu, apa boleh?" Tanya Amer.
Amer menatap Layla dalam diam, dengan hati yang berbicara, aku sangat ingin kau segera berpisah dari Rudi, Layla. Mengakhiri hubungan yang tidak lagi sehat. Jika bertahan dengan Rudi hanya akan membawa mu pada penderitaan, maka hanya ada satu jalan untuk membebaskan mu, kau harus berpisah Layla... berpisah dengan pria yang sudah menyianyiakan kehadiran mu dalam hidupnya.
Layla menatap Amer dengan diam, meski hatinya bertanya tanya, kenapa aku merasa Tuan Amer sangat ingin aku berpisah dengan bang Rudi? Perlakuan Tuan Amer yang begitu perhatian apa hanya pada ku saja atau pada setiap wanita, Tuan Amer akan berlaku sama?
Ceklek.
Dokter Samuel bersama dengan seorang suster jaga memasuki ruang rawat Layla.
"Wah sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat, sus!" Seru dokter Samuel pada perawat yang berjalan di sebelahnya.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, dok!" Seru suster Amarta dengan terkekeh.
Layla dan Amer di buat malu dengan perkataan dokter Samuel dan Amarta, ke duanya tampak salah tingkah.
Amer langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di ujung ranjang rawat, memperhatikan apa yang sedang di lakukan Samuel dan juga suster.
Suster mengecek tensi darah Layla dan tidak lupa untuk cairan infusnya.
Dokter Samuel memeriksakan dada Layla dengan menempelkan tetoskopnya, "Apa ada yang kau rasakan, Nona Layla?" Tanya dokter Samuel.
"Hanya sedikit pusing." Ujar Layla.
Samuel menatap Amer dengan sorot mata yang tajam seolah menyalahkan Amer, "Apa yang sudah kau lakukan Tuan Amer pada pasien ku?" Tanya dokter Samuel dingin.
Amer mengerutkan keningnya dengan tangan yang menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, "Apa? Apa tidak melakukan apa apa, aku hanya sedang bicara dengannya dari hati ke hati." Amer langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya, bodohhhh kenapa aku mengatakannya.
Layal membola, apa yang Tuan Amer katakan? Dari hati ke hati? Maksudnya dengan ku?
Dokter Samuel menatap Layla, "Pulihkan saja kondisi mu lebih dulu, jangan memaksakan diri untuk berfikir yang berat, itu akan tidak baik untuk tekenannn darah mu." Ujar dokter Samuel.
Dokter Samuel menepuk bahu Amer, "Tidak usah memaksanya, jika jodoh... pasti akan mendekat pada mu!" Seru dokter Samuel dengan suara yang pelan.
"Ayo sus, kita periksa pasien yang lain!" Dokter Samuel meninggalkan ruang rawat Layla bersaman dengan Amarta.
"Maaf Layla, sepertinya aku kurang bisa mengontrol perasaan ku saat berada dekat dengan mu!" Gumam Amer dengan suara yang hampir tidak bisa di dengar Layla.
"Apa Tuan mengatakan sesuatu?" Tanya Layla yang melihat bibir Amer komat kamit tapi tidak mendengar apa yang Amer katakan.
πDi tempat lainπ
Melisa merasa remuk seluruh tubuhnya saat ia membuka ke dua matanya.
"Uuuuh, tubuh ku seakan remuk." Ujar Melisa saat menggerakkan tubuhnya dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya.
"Apa lo butuh bantuan?"
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
__ADS_1
Author gabut sebatas halu.