Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Noer dengan penuh drama


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Puput menatap dirinya dari depan pantulan kaca, kalo udah kaya gini kan ibu pasti percaya.


Tok tok tok tok.


Pintu kamar Puput di ketuk lagi dari luar oleh bi Asih.


"Ihs bawel banget lagi ini punya ibu satu doang juga, saking ibu... saking gw masih butuh ibu, kalo gak udah gw habisinnn ini orang tua!" Gerutu Puput dengan menyentuh hendle pintu kamarnya.


Ceklek.


"Ada apa sih bu? Kan tadi Puput sudah katakan sebentar ya sebentar!" Puput mengomel dengan menyandarkan punggung nya pada pintu kamar yang kini terbuka lebar.


Bi Asih menatap tajam ke arah dalam kamar Puput, ia menerobosss masuk melewati putrinya yang berdiri di dengan pintu.


"Ibu, apa apaan sih! Kenapa ibu maen nyelonong masuk gitu aja! Ini kamar ku! Ruang privasi ku!" Omel Puput dengan suaranya yang meninggi.


Prak.


Bi Asih menampar kerasss pipi Puput dengan tangannya yang lain sedangkan tangan satunya menggenggammm gelas yang berisi susu rasa vanilla ke sukaannya Puput.


Bi Asih menatap tajam wajah Puput, "Lancanggg kamu bicara seperti itu pada ibu mu!"


Puput memegangi pipinya yang di tamparrr oleh bi Asih, sabar Put, lo pasti bisa melewati ini semua.


Sreek.


Bugh.


Bi Asih menarikkk tangan Puput dan mendudukkan nya di tepian kasur.


Tangannya menyodorakan segelas susu yang ia bawa pada Puput, "Ini minum!" Serunya dengan ketus.

__ADS_1


"Apa ibu mencampur minuman ku ini dengan racun?" Tanya Puput dengan tatapan yang sinis, aku takut jika ibu ku ini akan bersikap nekat pada ku!


"Jika kau memintanya, maka akan ibu terima, pasti akan ibu berikan racunnn pada minuman mu kelak!" Ucap bi Asih dengan suaranya yang bergetar, sialan anak ini, apa anak ku ini ingin membangkang perintah ku?


Puput bergidik ngeri melihat raut wajah ibunya, ibu ku ini benar benar sudah gila!


Bi Asih membawa tangan Puput pada gelas yang ia pegang, "Habiskan susu ini! Ada yang ingin ibu tanyakan pada mu!"


Puput menelan salivanya dengan susah, "Apa yang ingin ibu tanyakan?" Tanya Puput setelah menghabiskan susunya dan menyimpan gelas kosong itu di atas meja yang ada di kamarnya.


Bi Asih menatap tajam pada hape Puput yang ada di atas kasur.


Sreek.


Dengan gerakan yang cepat kini hape Puput berada di tangan bi Asih.


"Bu!" Mati gw, mana panggilan terakhir gw belum hapus, gimana ini! Di sana juga masih ada chat gw dengan Andre.


Bi Asih melihat panggilan terakhir dari daftar kontak Puput.


πŸ‚Di rumah sakitπŸ‚


Ceklek.


"Ya ampun Ameeeeeer, apa yang sudah kamu lakukan pada calon mantu ibu!" Suara Noer langsung menggelegar saat memasuki kamar rawat Layla.


Layla berseru dengan suaranya yang lemas saat matanya melihat sosok Noer, "Tante!"


Ke dua mata Noer menatap nanar pada tubuh Layla yang terdapat beberapa jarum menancappp di tubuh kurus wanita yang baru semalam di kenalnya.


"Mah, pelankan sedikit volume suara mamah!" Omel Ali yang melangkah di belakang istrinya itu.


"Tau nih, berisik mah. Kita ini sekarang sedang berada di rumah sakit mah! Ingat itu!" Ali mengingatkan lagi di mana saat ini mereka berada.

__ADS_1


Amer mencium punggung tangan Ali, memberinya ruang untuk duduk di sofa yang ada di dekat dengan ranjang rawat Layla.


Tangan Noer membelai tangan Layla, "Ya ampun pah! Coba lihat ini, apa yang sudah putra mu lakukan pada calon mantu mamah!" Seru Noer dengan penuh drama.


"Aku udah gak apa ko, tan!" Seru Layla pada wanita yang sangat ia kagumi, dari sosok Noer lah Layla menemukan sosok almarhum ibundanya.


"Mah, jangan lebay... Layla sudah mendapatkan penanganan dari dokter. Jadi sekarang hanya tinggal menunggu kondisi Layla untuk membaik." Ujar Amer yang mendudukkan dirinya di tepian kasur.


Prak prak prak.


Noer menggeprak lengan kekar putranya Amer dengan tatapan yang marah.


"Ayo katakan pada mamah, apa yang sudah kamu lakukan pada Layla? Mama tidak pernah sekali pun mengajarkan mu untuk berbuat jahattt pada wanita, Amer!" Ujar Noer.


Layla terkekeh melihatnya, "Hehehe tante, sudah ini semua bukan salah Tuan Amer... ini salah ku, tan." Tangan Layla menggenggammm jemari wanita yang tidak lagi muda namun masih tampak kencang kulit tubuhnya.


"Layla sayang, bagai mana jika kau tinggal saja dengan kami! Bersama dengan tante dan om!" Noer menawarkan diri Layla untuk ikut tinggal bersama dengannya.


Amer membola, "Mah, gak bisa gitu! Layal itu calon pendamping hidup Amer, maka Layla harus tinggal dengan Amer! Layla tidak boleh jauh dari Amer!" Seru Amer menolak ke inginan mamanya.


"Bilang saja kalo kamu itu tidak bisa jauh dari Layla, Amer!" Ucap Noer dengan ketus.


Amer berseru dengan suaranya yang manja, "Mah!"


"Amer! Apa yang menyebabkan Layla jadi seperti ini, nak?" Tanya Ali dengan suaranya yang tegas.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭

__ADS_1


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2