
...πππ...
"Lalu siapa wanita itu, Amer?" Tanya Noer.
"Siapa nama wanita itu?" Tanya Layla.
"Nama wanita itu adalah Zeefa, Nyonya." Ucap Rafa.
Noer langsung beranjak dari duduknya, "Astaga kau ini kenapa tidak mengatakannya dari tadi, Zeefa itu aku yang mengundang nya untuk datang kemari!" Oceh Noer dengan berjalan menuju pintu, menyambut tamunya.
Amer mengerutkan keningnya, "Mama yang mengundangnya ke sini? Untuk apa mah?"
"Tentu saja untuk menjalin silahturahmi keluarga yang sudah lama terputus." Ujar Ali.
"Astaga kalian ini, terserah lah. Aku ingin istirahat." Amer beranjak dari duduknya dengan tangannya yang terulur di depan Layla, "Ayo sayang! Kau ikut dengan ku untuk istirahat!" Ujar Amer dengan senyum tipisnya.
"Aku?" Layla menunjuk jari telunjuk nya ke dirinya sendiri.
Grap.
Amer menggenggammm jemari Layla dan langsung membawa Layla meninggalkan ruang keluarga.
"Hei! Biarkan Layla di sini Amer!" Ujar Ali.
"Tidak pah! Layla juga sama dengan ku, dia butuh waktu untuk istirahat!" Amer melambaikan satu tangannya tanpa menoleh ke belakang.
"Dasarrr pelit!" Dumel Ali.
Sementara di luar rumah, Noer berjalan dengan tergesa gesa menuju gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi.
Noer memberi perintah pada security rumah, untuk membuka kan nya gerbang dengan tangan nya yang terus menepuk bahu security itu sendiri.
Prak prak prak.
"Pak, ayo tolong bukain gerbang nya!"
"Baik nyonya besar!" Ujarnya dengan beranjak dari pos jaganya, dengan meraih kunci yang terdapat di atas meja.
"Duuuuh cepet dong pak! Lama banget sih! Bisa hitam itu kulit tamu saya!" Gerutu Noer dengan tangannya yang gemasss mengepal.
Celetak celetek.
Kunci di buka, lalu pak security beralih ke dinding dan mulai menekan tombol. Tidak lama gerbang hitam terbuka dengan sendirinya secara otomatis.
Dengan hebohnya Noer menyambut Zeefa.
"Haaaaiiiii sayang, ya ampuuuun. Maaf ya, karena kepala pelayan yang baru di rumah ini tidak mengenali mu. Jadi sulit deh untuk diri mu masuk ke dalam rumah ini!" Oceh Noer.
"Iya tante, gak apa ko!"
"Ayo langsung bawa masuk mobil mu ini! Tante dan om sudah menunggu kamu dari tadi, mana itu si kecil?" Tanya Noer.
__ADS_1
"Maksud tante, Lilian?" Zeefa membuka pintu mobilnya, "Ayo tante, kita masuk sekalian!" Zeefa mengajak Noer untuk menaiki mobilnya.
"Oke lah kalo kamu memaksaaa tante, Zeefa!" Noer tergelak dan masuk ke dalam mobil di samping Zeefa yang mengemudi.
"Hai oma!" Sapa Lilian dengan ceria yang sejak tadi berada di dalam mobil, bagian kursi belakang.
Noer menoleh ke belakang, "Hai sayang, mungil! Oma pikir kau tidak ikut dengan mami mu!" Oceh Noer dengan tangannya yang menowel pipi chabi Lilian.
"Aku akan ikut ke mana pun mami pergi!" Ucap Lilian dengan mantap.
Zeefa hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Noer, "Astaga, ada ya ibu ibu modelan kaya tante Noer gitu?"
Zeefa melajukan mobilnya memasuki kediaman Amer, mobilnya melewati pagar hitam yang menjulang tinggi.
"Apa siang ini kau ada acara, Zeefa?" Tanya Noer sebelum mereka beranjak dari dalam mobil.
"Gak tan, aku free. Ada apa memangnya, tan?" Tanya Zeefa dengan mereka yang kini turun dari dalam mobil.
Zeefa menuntun jemari mungil Lilian memasuki kediaman mewah Amer.
Ali menyambut tamunya, di atas meja juga sudah terhidang kue, cemilan dan beberapa mainan anak kecil.
"Hai prices, apa kabar mu?" Tanya Ali pada Lilian dengan tangannya yang merentang.
"I fine opa." Lilian menoleh pada Zeefa meminta persetujuan untuk dirinya berlari menghampiri Ali.
Zeefa menganggukkan kepalanya, bibir Lilian langsung tersenyum lebar pada wanita yang di panggil nya mami itu.
"Kabar ku baik opa, kabar opa bagai mana? Baik tidak?" Tanya Lilian dengan polosnya.
"Kabar opa baik dong sayang, malah lebih baik lagi setelah melihat mu! Anak pintar, anak yang menggemaskan." Ujar Ali.
Zeefa mencium punggung tangan kanan Ali, "Bagai mana kabar, om?" Tanya Zeefa.
"Baik dong." Jawab Ali dengan matanya yang tidak lepas dari Lilian.
Noer menarik lengan Zeefa yang terus berdiri saja di depan Ali dan mendudukan tamunya itu di sofa bersama dengan dirinya.
"Ayo sini duduk Zeefa, gak baik anak gadis berdiri terus, bisa makin jangkung badan mu ini! Kasian kan nanti pintu rumah." Oceh Noer.
Zeefa yang mendengar nya di buat mengerutkan keningnya, "Maksud nya tante? Ko kasihan dengan pintu? Kalo aku makin jangkung? Emang ada hubungannya jika aku makin jangkung dengan pintu?" Tanya Zeefa yang tidak mengerti dengan candaan Noer.
Noer menggeprak lengan Zeefa dengan keras.
Brak.
"Auuhhh." Rintih Zeefa.
"Kamu ya tuh Zeefa, bikin tante gemes. Masa gitu aja gak ngerti." Omel Noer yang membuat Zeefa menggelengkan kepalanya.
"Iiihhh itu lo maksud tante, kalo kamu makin tinggi, kasian pintu. Kamu jadi gak bisa melewati mereka. Yang ada mereka jadi beralih fungsi!" Ledek Noer.
__ADS_1
"Ooooooh begitu tante?" Zeefa ber oh ria.
Lilian memilih turun dari gendongan Ali dan mendekati meja, tangannya menggapai mainan yang ada di atasnya.
"Lilian, izin dulu nak. Itu bukan mainan kamu, ayo simpan kembali di atas meja mainannya." Ujar Zeefa dengan lembut pada lilian.
"Tapi Lilian ingin ini, mami!" Ucap Lilian.
"Sudah biarkan saja Lilian memainkan nya, jangan di larang lah." Ujar Noer.
"Memang nya semua ini mainan siapa, tan? Banyak sekali mainan nya!" Ucap Zeefa.
"Tentu saja mainan ini semuanya milik Lilian." Ucap Ali.
Zeefa menatap Ali, "Bukan mainan putri nya Amer, om?"
"Kau lupa, Amer kan baru saja menikah kemarin. Masa iya baru menikah kemarin udah di kasih momongan dalam semalam. Kan gak lucu itu! Ujar Ali.
Zeefa menatap sekeliling.
"Ayo di minum, nak! Kau haus kan setelah perjalanan panjang, setelah itu harus tertahan di depan gerbang, kasihan sekali sih kamu!" ucap Noer.
"Ah tante, lebay deh." Ujar Zeefa, Zeefa mengedarkan pandangannya menatap rumah megah yang kini sedang ia kunjungi.
"Amer dan istrinya kemana, tante?" Tanya Zeefa.
"Mereka ada di dalam kamar, biasa cape setelah habis tempur beberapa ronde." Ledek Noer, "Kamu ngerti kan apa maksud tante tempur itu?" Ujar Noer tanpa rasa malunya.
Zeefa yang mendengarnya justru di buat merona, mendengar kata yang frontalll di telinganya.
"I- iya tan, a- aku ngerti kok apa maksud tante." Ujar Zeefa yang malah tergugup.
Zeefa membatin, pada hal dengan aku datang ke rumah ini, aku berharap dapat bertemu kembali dengan Amer, tapi sayangnya mungkin aku harus kecewa.
...πDi kamarπ...
Layla mendudukan dirinya di tepian kasur, menatap Amer yang kini melepas jas yang melekat di tubuhnya. Lalu Amer memyimpan jasnya di tempat pakaian kotor.
"Apa kita tidak akan ke luar untuk menemui Nona Zeefa, ka?" Tanya Layla.
...ππππππ...
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π
__ADS_1