
...🔥🔥🔥...
Awas kamu Layla, akan ku rebut mereka yang menyayangi mu, akan ku rebut pria yang kini menjadi suami mu! Harusnya aku yang bahagia Layla, bukan kamu!
Beberapa minggu kemudian.
Kaki Layla akhirnya pulih kembali, dan Amer melarang Layla untuk mengenakan heels saat Layla bekerja.
Di pagi yang cerah, saat matahari menyapa semua makhluk hidup. Amer mengantar Layla ke kantor Ardiansyah group.
"Nanti siang, aku jemput kamu untuk makan siang ya!" seru Amer dengan mengelusss pipi Layla.
"Iya ka, sekarang... biarkan aku turun dari mobil!" Layla menguras senyumnya pada Amer.
"Baik lah, kau sudah boleh turun."
Layla meraih tangan kanan Amer dan mencium punggung tangan kanan Amer, lalu mengucup pipi Amer, dan turun dari mobil.
Layla melambaikan tangannya pada Amer, sebelum ia benar benar masuk ke dalam kantor Ardiansyah group.
Layla melewati lobby, setelah menyapa petugas yang berjaga di meja resepsionis.
"Kenapa Nona Layla itu tampak berbeda ya! Bos kita sendiri aja, malah gak pernah tuh yang namanya nyapa anak buah." ujar Ulfa yang berada di meja resepsionis.
"Lo benar tuh Fa, cocok kali ya kalo Nona Layla sama pak Alan jadian. Serasi gitu." oceh Ara.
"Serasi dari mananya!" ketus Ulfa.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata elang sudah mendengar dan menatap mereka dengan tajam, Alan berjalan dengan langkah pasti, di ikuti Nusi yang mengekori Tuannya di belakang.
Alan menghentikan langkah kaki nya di depan meja resepsionis, lalu berkata dengan tegas, tatapan tajam menusuk ke dua karyawan nya yang tsi membicarakan dirinya dan Layla..
"Jika kalian masih tetap ingin bekerja di sini, bekerja saja dengan benar! Bukan mulut Kalian yang bergosip!" Alan langsung melengos pergi menuju lift.
Ulfa dan Ara langsung berdiri tegap, dengan wajah yang pias.
"Si- siap pak. Kami akan bekerja dengan benar!" seru Ulfa dengan tergagap.
Sementara Ara hanya bisa meremasss ujung seragamnya, terlalu gugup untuk berani menjawab perkataan Alan.
Nusi memperlihatkan jari telunjuk kanan nya pada Ara dan Ulfa, lalu ia menariknya ke leher, membuat Ulfa dan Ara menelan salivanya dengan sulit, baru setelah itu Nusi menyeringai dan meninggalkan ke duanya.
"Gila banget da'ah, kalo bukan gaji gede... ogah gw kerja di sini!" sungut Ulfa setelah Nusi menghilang dari pandangannya.
"Lo si, tadi pake bahas Nona Layla sama pak Alan. Kita deh yang kena imbasnya." Ara mengerucut kan bibirnya.
"Dih dasar lo... kan lo yang bahas mereka duluan! Kenapa kadi nyalain gw!" sungut Ulfa.
Layla yang sudah tiba di ruang kerja Alan, yang menjadi ruang kerja dirinya juga di saat berada di kantor Ardiansyah group. Langsung memulai ke sibukan nya, dengan mengeluarkan laptop dan mulai menari narikan jemarinya.
__ADS_1
Di dalam lift menuju lantai atas.
"Nusi! Kau pasti kan kali ini Melisa tidak melakukan ke salahannya lagi!" seru Alan.
"Tidak akan, pak. Mulai nanti siang... Melisa akan mulai memain kan rencananya, pak." terang Nusi.
"Kita lihat saja, jika Melisa kali ini berhasil dengan rencana yang ia buat. Maka ia akan lolos dari malaikat ke matiannya, tapi jika ia gagal. Malaikat pencabut nyawa yang akan menghampiri nya!" Alan menyeringi.
"Itu sudah pasti, pak... tapi jika Melisa gagal, apa tidak sayang jika langsung di lenyapkan, pak?" Nusi mulai mengimpori Alan.
Pintu lift terbuka, membuat Alan dan Nusi melangkahkan kakinya pada lantai yang akan membawa Alan menuju ruang kerjanya.
"Owh, jadi rupanya asisten ku ini sudah punya rencana untuk ke gagalan, Melisa? Bukan begitu Nusi?" tebak Alan dengan otak licik yang di miliki Nusi.
"Bapak benar, jika Melisa gagal untuk kali ini... lebih baik pak Alan membuang wanita itu ke mami girang, lumayan kan... dari hasil menjual dirinya, bisa menggantikan sejumlah uang yang sudah pak Alan ke luarkan untuk pengobatan nya selama ini." ujar Nusi panjang lebar.
Alan langsung menghentikan langkah kakinya, "Tumben ide mu ini menguntungkan untuk ku!"
"Harus dong, pak... time is money." jelas Nusi.
Nusi membukakan pintu untuk Alan, "Sekedar mengingatkan, pak... nanti jam 9 pagi akan ada meeting dengan klien di luar." ucap Nusi, sebelum Alan melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerjanya.
"Kau atur saja!" Alan melangkah masuk, tanpa memperdulikan ke beradaan Layla.
Layla berdiri menyambut ke datangan Alan, setelah Alan duduk di kursi ke besarannya, baru lah Layla duduk kembali di kursi kerjanya.
"Permisi pak, ini hasil disein yang sudah saya buat. Lebih feminim, dengan warna yang agak cerah." Layla menyodorkan hasil diseinnya pada Alan, lewat selembar kertas yang terdapat coretan tangannya.
Alan mengambil kertas itu dan mengamati setiap goresan nya, kenapa bisa sebagus ini? Bagai mana jika sudah menjadi karpet, ini pasti akan sangat laris di pasaran.
"Apa bapak suka?" tanya Layla, karena Alan hanya tertegun dengan pandangannya yang sulit di artikan.
Layla melambaikan tangannya di depan wajah Alan, dengan berseru, "Pak, pak Alan! Haloooo!"
Alan langsung terkesiap, dengan kening yang mengkerut, "Aku bisa mendengar mu! Kembali lah ke meja mu! Buatkan 1 lagi dengan ke balikan dari ini warnanya!" pinta Alan dengan ketus, menyerahkan kembali kertas hasil diseinnya pada Layla.
Layla mendengus, "Ihsss dasar bos, gak bisa gitu nyuruh dengan lembut! Kasar banget jadi orang!" menatap malas Alan dan kembali ke meja kerjanya.
Tok tok tok.
Ceklek.
"Pak, sudah waktunya kita berangkat ke tempat meeting!" seru Nusi setelah menunduk hormat pada Alan, dengan tas kerjanya.
Alan beranjak, mengancing kembali jas yang ia kenakan, melirik Layla sejenak, Melisa akan menjalankan rencananya hari ini, lebih baik aku membawa serta Layla, biar Tuan Amer akan semakin kesal, pasti dia akan ke sini untuk menjemput Layla makan siang dengannya! Alan menyeringai.
"Kau!" Alan menumpukan ke dua tangannya di atas meja kerja Layla, mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Layla memundur kan kepalanya. Menatap sepasang mata elang milik Alan.
Layla mengerutkan keningnya, "Apa?"
__ADS_1
"Ikut dengan ku meeting hari ini!" ucap Alan dengan tegas.
Layla yang ingin menolak ajakan Alan, namun Alan lebih dulu memotong perkataan Layla, saat wanita itu belum selesai dengan perkataannya.
"Tapi aku kan ----"
"Aku tidak mengenal kata penolakan!"
Alan menghampiri kursi di mana Layla duduk, dan menarikkk pergelangan tangan Layla, membawanya ke luar meninggal kan ruang kerjanya.
Nusi menyeringai, saat ke dua matanya tidak sengaja melihat ke arah meja kerja Layla, kini aku tahu alasan mu membawa serta Nona Layla, bos!
Nusi langsung menutup pintu ruang kerja bosnya, dengan langkah yang lebar. Nusi mengejar Alan yang sudah berada jauh di depannya bersama dengan Layla.
"Bisa tidak... bos lepaskan tangan, ku?" Layla menatap tangannya yang masih di genggaman Alan.
"Siapa juga yang mau menggenggammm tangan, mu!" Alan menghempaskan tangan Layla dengan kasar, menatap Layla dengan malas.
Kini ke tiganya berada di dalam lift, dalan diam, Alan terus memperhati kan bibir Layla yang terus bergerak namun tidak bersuara.
Layla menatap bayangan Alan pada lantai kotak besi yang bergerak turun, dengan menggerutu tanpa mengeluarkan suara.
Dasar pria aneh, tadi aja nyuruh buat disein dengan warna berbeda, sekarang mengajak ku serta untuk meeting, memang apa keperluan ku di sana? Pake narik tangan ku segala!
"Tidak usah merutuki ku, kau senang kan terus berada di samping ku?" Alan menepuk nepuk bahu Layla, berkata di telinga Layla dengan dingin.
Layla menepis tangan Alan yang menepuk bahunya, "Jaga sikap anda ya, pak! Saya sudah bersuami! Jika bukan profesional dalam bekerja, saya tidak sudi berada di samping bapak!" ucap Layla yang menusuk di telinga Alan.
Alan mengepalkan tangannya, "Kau bisa saja berkata seperti itu sekarang, tapi nanti kau akan datang pada ku... bersandar pada ku, saat suami yang kau cintai... melakukan ke salahan yang sama!" ucapa Alan dengan tegas.
Layla mendongak, mentapa Alan dengan tanda tanya besar di hatinya, "Apa maksud, pak Alan? Ke salahan apa yang akan ka Amer perbuat pada ku?" cicit Layla.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Alan melangkah ke luar di ikuti Nusi dan Layla. Mereka bertiga memasuki mobil dengan Nusi yang berada di belakang kemudi. Layla duduk di samping Nusi, Alan duduk di kursi belakang.
Alan mengerutkan keningnya menatap tajam Layla, "Siapa yang menyuruh mu duduk di depan? Pindah ke belakang!" ucap Alan dengan tegas.
"Maksud bapak, saya?" Layla menunjuk dirinya sendiri, setelah menoleh ke belakang.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊
__ADS_1