
...💔💔💔...
"Maaf pak, sepertinya saya menabrak seseorang." ucap pak Jojo.
Yang lantas ke luar dari mobil, setelah Amer memberikan isyarat dengan mengibaskan tangannya.
"Apa Nona tidak apa apa?" tanya Jojo pada wanita yang ada di hadapannya, jatuh terduduk di depan mobil yang ia kemudikan.
Melisa menatap dengan tajam si pengemudi mobil, "Apa kau tidak bisa melihat dengan baik? Aku hampir saja ke hilangan nyawa. Kau malah bertanya seperti itu?" sungut Melisa.
"Aduh bagai mana ini! Emmm tunggu sebentar Nona! Biar saya katakan dulu pada majikan saya." Jojo berjalan ke arah di mana Amer duduk.
Tok tok tok.
Jojo mengetuk kaca jendela mobil.
"Ada apa lagi? Cepat masuk ke dalam mobil, aku masih harus mencari ke beradaan Layla!" titah Amer dengan tegas.
"Emm begini pak, wanita yang tidak sengaja saya tabrak, ternyata terluka. Apa tidak sebaiknya kita mengantarnya ke rumah sakit, pak?" usul pak Jojo.
Amer melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu merogoh dompet yang ada di saku celananya.
"Tidak bisa, sudah cepat kau berhentikan taksi atau tukang ojek saja, minta mereka untuk mengantarkan wanita itu ke rumah sakit!" Amer menyerahkan sejumlah uang pada pak Jojo, "Serahkan pada wanita itu, anggap itu adalah untuk biaya berobat ke rumah sakit!" ucap Amer lagi.
Jojo kembali ke Melisa, "Maaf Nona, kami tidak bisa mengantar Nona ke rumah sakit, jadi lebih baik Nona pergi ke rumah sakit dengan di antar taksi atau tukang ojek, ini ada sedikit untuk biaya pengobatan!" Jojo menyerahkan uang yang di berikan Amer, pada wanita yang ia tabrak, wanita yang tidak lain adalah Melisa.
Melisa mengerutkan keningnya, menatap tajam uang yang ada di tangannya. "Enak saja, bapak pikir saya ini tidak mampu biayai perawatan saya di rumah sakit heh! Ini masalah kemanusiaan! Dan tanggung jawab, bapak jangan melarikan diri begitu saja ya! Karena bapak saya jadi seperti ini! Enak saja mau maen lari gitu aja!" Melisa naik pitam, ia menggebrak gebrak kap mobil dengan kesal, bisa mati aku jika rencana ku gagal.
Pak Jojo tampak sesekali menunduk, "Aduh maaf Nona, jangan seperti itu! Jangan membuat masalah Nona! Tidak baik jika di lihat banyak orang!" kilah Jojo.
Tiiiin tiiin tiin.
Suara klakson mobil terdengar nyaring.
Amer berkali kali membunyikan klakson mobil, memberikan peringatan pada pak Jojo untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Pak Jojo masuk ke dalam mobil, meninggalkan Melisa yang seperti orang ke setanan, ia terus saja menggebrak gebrak kap mobil dengan tangannya.
__ADS_1
Dasar wanita gila, gerutu Amer yang menajamkan penglihatannya ke arah wanita yang ada di depan mobilnya, itu bukannya Melisa ya? Saudari tiri Layla kan? Ini tidak bisa di biarkan, aku tidak bisa membiarkan nya terus berkeliaran di sekitar Layla.
Dengan diam diam, Amer langsung mengambil foto Melisa, lalu mengiriminya pada nomor telepon Hendra. Amer juga mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekening Hendra.
"Kau urus wanita ini, aku tidak ingin melihatnya terus berkeliaran di kota ini. Kalo bisa kau kirim wanita ini ke luar kota, aku sudah mentransfer mu sejumlah uang untuk melancarkan aksi mu!"
Pak Jojo pun mulai melajukan kembali mobilnya, meninggalkan Melisa yang masih berteriak.
Sementara di tempat lain.
Ceklek.
Layla membuka pintu mobil.
Alan yang melihatnya langsung menahan Layla dengan mencekal pergelangan tangannya, "Kau mau ke mana?" tanya Alan dingin.
"Tentu saja melihat pak Nusi!" Layla melepaskan tangannya dari Alan dengan kasar.
Alan membatin, percuma, jika aku menahannya untuk tetap tinggal di dalam mobil. Yang ada Layla malah menaruh curiga pada ku!
Alan membiarkan Layla ke luar dari mobil untuk menghampiri Nusi.
"Ini Nona, ban mobilnya bermasalah." jawab Nusi dengan menunjuk ke arah ban yang kempes.
"Apa tidak ada ban serep, pak?" tanya Layla.
"Harusnya sih ada, coba biar saya lihat dulu, apa di bagasi ada ban serep atau tidak!" Nusi berjalan ke arah bagasi mobil, aku tidak akan menemukan ban serep, karena aku tidak pernah menyimpan ban serep hahaha.
Alan duduk dengan santai di kursi nya, sambil tetap menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, kenapa mereka berdua lama sekali di luar! Apa yang sebenarnya yang sedang mereka lakukan!
"Bagai mana, pak? Mana ban serep nya?" tanya Layla yang melihat Nusi kembali dengan tangan kosong.
"Saya tidak menemukan nya Nona, lebih baik anda masuk saja ke dalam mobil, duduk dengan tenang!" ucap Nusi dengan datar, sambil mengeluarkan hapenya dari saku celananya.
Layla mengerutkan keningnya, "Lalu aku hanya bisa menunggu? Tanpa bisa melakukan apa apa?" Layla celingukan, ke kiri dan ke kanan. Hanya sesekali kendaraan yang berlalu lalang melewati mereka.
"Ini, saya juga sedang usaha Nona! Mencoba menghubungi seseorang untuk membawakan ban serep ke sini!" kilah Nusi, berpura pura menyibuk kan diri dengan menempelkan hapenya di telinga.
__ADS_1
Dalam diam, Nusi memperhatikan Layla, kau tidak tahu saja, aku sedang mengulur waktu, biar kau dan Tuan Alan bisa lebih lama berduaan, tanpa perlu terusik dengan suami mu, Tuan Amer.
Layla masuk ke dalam mobil, duduk dengan malas di samping Alan.
Alan melirikkan pandangannya pada Layla, akhirnya kau masuk juga ke dalam mobil, duduk bersama ku itu lebih baik, dari pada kau harus menunggu di luar, berpanas panasan.
Layla yang merasa di perhatikan, langsung menatap tajam Alan, "Apa yang sedang pak Alan fikirkan? Jangan aneh aneh ya!" ucap Layla dengan ketus.
Alan membuang nafasnya dengan kasar, "Kau fikir, aku sedang berfikir apa hem?" tanya Alan dengan santai.
"Entah lah. Apa dari tadi aku tidak membawa tas ya, pak?" tanya Layla dengan menatap Alan.
"Kau tidak membawa apa apa!" ucap Alan dengan santai.
"Duh bagai mana ini, kalo begitu apa boleh aku meminjam uang cash bapak!" Layla mengadahkan tangan kanannya pada Alan.
Alan mengerutkan keningnya, "Untuk apa kau memerlukan uang cahs? Meminjam uang pada ku? Yang benar saja!" Alan menggeleng kan kepalanya, tidak habis fikir dengan apa yang akan Layla lakukan.
"Iya aku akan kembali ke kantor dengan naik taksi, kalo bapak mau ikut... boleh saja. Tapi jika bapak ingin tetap tinggal di sini, menunggu sampai ban serep datang, aku tidak masalah. Tapi
yang pasti, aku harus segera kembali ke kantor." aku tidak akan kembali ke kantor Ardiansyah group, lebih baik aku kembali ke kantor ka Amer. Itu akan jauh lebih baik untuk ku, ka Amer pasti sudah menunggu ku.
"Yang benar saja, aku tidak akan membiarkan mu pergi! Kau tetap lah di sini dengan ku!" ucap Alan dengan tegas.
"Ya sudah, jika pak Alan tidak mau meminjamkan uang pada ku, aku bisa jalan berjalan kaki!" Layla langsung ke luar dari mobil.
Alan yang melihatnya langsung menatap Nusi dan memberikan perintah lewat gerakan kepalanya.
"Enak saja mau menahan ku, aku bisa berjalan kaki. Hanya berjalan kaki sebentar, lalu naik taksi, aku bisa membayarnya saat sudah sampai di kantor ka Amer." gerutu Layla yang terus mengayunkan kakinya, meninggalkan mobil bos nya Alan.
Bugh.
"Akhh." pekik Layla.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
__ADS_1
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊