Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Keputusan sidang


__ADS_3

...💔💔💔...


"Siapa bilang? Saat kau resmi berpisah dengan pria brengsekkk itu, aku pasti akan menikahi mu!" Ucap Amer dengan pasti.


"Terima kasih, ka Amer. Kau selalu ada untuk ku!" Ucap Layla tulus.


"Sama sama, sayang!"


Amer mengemudikan mobil dengan Layla yang duduk di sampingnya. Sedangkan Ali dan Noer duduk di kursi belakang.


"Jadi, kita akan healing ke mana, sayang?" Tanya Noer dengan kepalanya yang bersandar pada lengan kekar suaminya, Ali.


"Kita ke pantai saja ya!" Seru Amer pada ke tiganya.


"Aku ikut saja ke mana pun ka Amer pergi." Ucap Layla dengan menoleh ke wajah Amer.


"Kalo mama dan papa, gimana? Apa kalian punya pilihan tempat tersendiri?" Tanya Amer.


"Ke putusan ada di tangan yang muda, yang tua ikut saja lah!" Ucap Ali.


Noer mengadahkan wajahnya menatap Ali, "Pah! Mama ini masih muda ko! Mama kan belum punya cucu, artinya usia mama masih muda lah!" Gerutu Noer dengan senyum yang mengembang.


Amer yang mendengarnya pun di buat terbahak bahak, "Ahahahha, mama ini. Umur mama memang sudah tidak lagi muda mah! Coba saja mama lihat tahun mama lahir yang tertera pada kartu identitas mama itu!" Ledek Amer.


"Dasarrr kamu itu, anak nyinyir, gak boleh lihat mama mu ini seneng sedikit aja napa!" Omel Noer.


Layla menggeleng gelengkan kepalanya, "Ka Amer!" Oceh Layla dengan suaranya yang pelan.


Amer menghentikan tawanya, "Maaf mah, mama memang wanita yang paling awet muda!" Oceh Amer dengan menahan tawanya.


"Pah! Lihat anak mu itu! Anak tidak sopan! Anak mu itu mentertawa kan mama, pah!" Noer merajuk pada Ali.


"Ameeer!" Seru Ali dengan suaranya yang berat.


"Iya iya." Amer fokus dengan jalan, membawa mobil melaju melewati jalan tol, menelusuri jalan menuju pantai.


2 jam sudah Amer mengemudi, hembusan angin mulai kencang, aroma pasir mulai terendus di indra penciuman, belum lagi deru ombak sudah nampak di depan mata dengan pasir putih yang terbentang membatasi air laut yang berwarna jernih.


Layla tampak takjub di buatnya. Ke empatnya turun dari dalam mobil dengan menginjak pasir putih.


"Apa kau lapar, Layla?" Tanya Amer dengan menggenggammm jemari Layla.

__ADS_1


Layla menggelengkan kepalanya, nampak rona bahagia tidak bisa lagi ia tutupi dari wajahnya.


"Layla! Kapan terakhir kali kau ke pantai, sayang?" Tanya Noer, saat ke empatnya menyusuri pasir menuju saung yang terdapat di tepian pantai.


"Sudah sejak lama tante, bahkan aku lupa itu kapan." Ucap Layla.


Ke empatnya mendudukan diri di saung yang terbuat dari bambu, dengan atap yang terbuat dari tumpukan daun kelapa kering yang di tumpuk tumpuk.


Layla menyimpan tas yang sedari tadi ada di bahunya di atas saung.


"Waaah rasanya seperti ini ya pantai itu. Sangat indah, ciptaan Tuhan yang tiada tandingannya, maha kuasa ilahi." Ucap Layla takjub dengan pemandangan alam yang membentang di hadapannya.


Amer melepas sepatu dan kaos kaki yang melekat pada kakinya.


Amer berdiri di hadapan Layla dengan tangannya yang terulur di depan tubuh Layla.


Layla mengerutkan keningnya, "Ada apa lagi?"


"Ayo ikut aku! Kurang afdol rasanya jika ke pantai hanya menikmatiiii pemandangan nya saja! Apa kau tidak ingin menemani ku bermain air di pantai?" Tanya Amer dengan senyum yang merekah di bibirnya dengan menatap Layla penuh harap.


Layla membuang nafasnya, "Baik lah!" Ucap Layla dengan membalas uluran tangan Amer.


"Aku bisa sendiri, ka!" Layla menahan tangan Amer yang mencoba untuk melepasss kan flatshoes yang melekat pada kakinya.


Amer mendongakkan wajahnya menatap Layla, "Biar aku bantu melepasss flatshoes mu!"


Noer menyenggol Ali dengan sikutnya, "Lihat tuh, pah! Anak mama sweeeett baget. Alas kaki Layla aja, mau loh itu Amer bantuin untuk melepaskannya.


"Siapa dulu dong, mah! Papanya gitu, Ali Khan, Darah romantis papa kini ikut menurun pada Amer." Ucap Ali dengan bangga.


Layla merasa malu dengan semua perlakuan manis yang di berikan Amer padanya, apa lagi itu di saksikan oleh orang tua Amer sendiri.


Seperti perkataan Amer, kini ke duanya berjalan menyusuri indahnya pasir, dengan tangan Amer yang enggan melepaskan jemari Layla dari genggaman tangannya.


"Apa tante dan om gak ikut main air laut?" Tanya Layla dengan menatap sepasang mata teduh milik Amer.


"Entah lah, jika mereka ingin. Mereka pasti akan menyusul." Ujar Amer.


Amer mencipratkan air laut lewat tangannya ke arah Layla berkali kali. Hingga membuat pakaian yang melekat pada tubuh Layla menjadi basahhh.


"Akhhh, ka Amer! Baju ku basahhh!" Seru Layla saat mendapati bajunya yang basahhh dengan ulah Amer.

__ADS_1


"Tidak apa, kita bisa membelinya nanti." Ucap Amer santai.


Amer dan Layla tampak asik bermain air. Dengan canda tawa.


"Apa kau tahu, mah! Papa merasa beruntung masih bisa melihat putra kita itu, bahagia dengan seorang wanita seperti Layla." Ujar Ali dengan matanya yang tajam terus mengawasi ke Amer dan Layla yang berada di pantai dengan bermain air laut.


"Kita ini masih akan hidup seribu tahun lagi, pah! Jadi jangan berkata seperti itu lagi ya!" Noer merebahkan tubuhnya di atas saung, dengan paha Ali yang di jadikan bantalan untuk kepalanya.


"Papah berharap, Layla cepat melalui sidang perceraian nya ya, mah!" Ujar Ali.


"Semoga, pah."


Dua minggu ke mudian, setelah melakukan mediasi, 2 kali persidangan, akhirnya status Layla di ketuk palu oleh hakim.


Layla resmi berpisah dari Rudi. Sedangkan Rudi terbukti bersalah dan di hikum penjara selama 5 tahun.


Rudi tampak kesal dengan hasil keputusan sidang, tangannya mengepal, dengan raut wajahnya yang kesal penuh emosi yang membakar hatinya mana kala dirinya melihat Layla tersenyum puas dengan seorang laki laki yang mengenakan jas serta penampilan Amer yang rapih dan tampak gagah.


"Sialannn lagi lagi pria itu yang membantu Layla! Ke mana lagi ini perginya Andri! Dia sendiri yang bilang Melisa bakal cabut tuntutan nya, tapi ini apa? Gw harus mendekam di penjara, lo gak boleh hidup bahagia Layla!" Ucap Rudi dengan menatap Layla tajam.


Rudi di giring menuju mobil kepolisian menuju rutan kembali setelaah menghadiri keputusan sidang perceraiannya. Dengan ke dua orang sipil yang memegangi tangan Rudi kiri dan kanan.


Mata Rudi tertuju pada senjataaa yang ada di pinggang salah seorang sipir yang kini memegani tangannya menuju mobil polisi.


Sreeek.


Dor dor.


...----------------...


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭


Author gabut sebatas halu 😊

__ADS_1


__ADS_2