
...💔💔💔...
"Jadi, apa yang ingin kau perlihatkan pada kami, nak?" Tanya Noer menatap putranya dengan tanda tanya.
Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Amer malah mencari ke beradaan Layla yang tidak ada di pandang nya.
"Di mana Layla?" Tanya Amer saat dirinya tidak mendapati ke beradaan Layla di dalam mobil.
"Nona sedang ke toilet, Tuan." Ucap Jojo.
Amer menatap Hendra dan Jono secara bergantian dengan matanya yang membelalak, "Kalian membiar kan Layla pergi seorang diri?"
"Maaf Tuan, Nona menolak untuk kami antar!" Ucap Hendra.
"Cepat kalian cari Layla!" Perintah Amer dengan suaranya yang penuh penekanan.
"Siap, Tuan." Jawab Hendra dengan melangkah kan kakinya bersama dengan Jono untuk mencari ke beradaan Layla yang tengah berada di toilet.
Noer mengerutkan keningnya, "Kamu ada apa sih, nak? Layla hanya ke toilet."
Noer di buat heran dengan sikap yang di tunjukkan Amer, padahal baginya tidak ada yang perlu di khawatir kan akan Layla.
Amer menjelaskan ke khawatiran nya, dengan mencoba menghubungi nomor telepon Layla.
"Mah, Layla itu belum aman. Masih ada yang harus aku khawatir, tadi di pengadilan Rudi hampir saja menembakkan senjataaa apiii pada Layla. Dan sekarang, aku tidak melihat ke beradaan Layla. Bagai mana kalo Layla ---"
Ali menepukkan tangannya pada bahu Amer, "Papa mengerti rasa khawatiran mu... apa kau sedang menghubungi Layla?" Tanya Ali saat melihat raut wajah Amer yang tampak frustasi, dengan satu tangannya menggaruk kasar rambutnya.
"Nomor telepon Layla sekarang tidak aktif." Ucapnya.
"Mungkin lobet, pasti sebentar lagi Layla akan kembali bersama dengan anak buah mu itu!" Ucap Noer, bagai mana ini, jika sampai terjadi sesuatu pada Layla... bagai mana dengan nasib putra ku? Aku tidak ingin ke malangan menimpa Amer untuk yang ke dua kalinya.
Jojo melihat ke datangan Hendra bersama dengan Jono dari jauh.
"Tuan, itu Hendra dan Jono!" Seru Jojo dengan menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah ke dua bodyguard Layla.
Amer semakin di liputi rasa khawatir mana kala ke dua bodyguard nya kembali dengan wajah pias tanpa Layla bersama dengan mereka.
"Maaf, Tuan... kami tidak menemukan Nona Layla di toilet umum." Ujar Hendra.
"Cari ke setiap tempat! Temukan Layla saat ini juga!" Titah Amer dengan tangannya yang mengepal.
Namun sejurus ke mudian matanya menatap ke arah kalung yang tengah melingkar di leher Noer, mengingatkan dirinya akan sesuatu yang mungkin, bisa membantunya untuk menemukan ke beradaan Layla.
__ADS_1
"Kami akan mencari Nona lagi, Tuan!" Ucap Hendra namun langkahnya di hentikan oleh seruan Amer.
"Tidak perlu!" Amer mengangkat satu tangannya ke atas mbaut Hendra dan Jono menghentikan langkahnya.
"Ada apa Amer? Apa kau tahu Layla ke mana?" Tanya Ali.
"Mudah mudahan kita bisa tahu ke beradaan Layla. Lewat GPS yang aku pasang lewat kalung yang aku berikan padanya, pah." Amer tampak mengutak utik hapenya dengan serius.
Ali menanyakan pada bodyguard yang Amer kerahkan untuk mencari Layla.
"Apa kalian sudah tanyakan pada seseorang di sekitar toilet? Kali saja ada yang melihat Layla." Ukar Ali.
"Tidak ada, Tuan." Ucap Jojo.
"CCTV, pasti ada CCTV di toilet itu... mustahil jika tidak ada CCTV." Oceh Noer.
"Mama dan papa, pulang lah. Tunggu kabar dari ku." Ucap Amer setelah menemukan ke beradaan Layla. Lewat GPS pada liontin kalung Layla, yang terhubung dengan hape Amer.
"Papa ikut dengan mu, nak!" Ucap Ali, menolak untuk kembali pulang.
"Pak Jojo, tolong antar mama dan papa ke kediaman ku!" Titah Amer.
"Tapi, nak!" Seru Noer.
"Baik lah." Ali mengalah dan kemudian pulang ke kediaman Amer, bersama dengan Noer dengan di antar pak Jojo.
Amer bersama dengan Hendra dan Jono, menuju kantor pengendali CCTV. Yang ada di gedung xxx setempat.
Setelah mendengar penuturan dari Hendra dan Jono, dengan di bantu kenalan Amer yang juga bekerja di gedung itu.
Amer di perbolehkan untuk melihat rekam CCTV yang ada di lorong menuju toilet.
Amer di buat membola, saat dirinya mendapati Layla yang baru saja ke luar dari toilet, di hampiri pria berambut gondrong.
Terlihat jelas saat Layla di todonggg kan senjata tajam oleh pria yang tampak Layla kenali.
"Apa kalian kenal, dengan pria yang ada di dalam CCTV itu?" Tanya Amer dengan keningnya yang mengkerut.
"Tidak, Tuan!" Seru Jono.
Dari kamera CCTV itu juga terlihat jelas. Jika Layla berjalan, dengan pisauuu yang terus menempelll pada pinggang belakang Layla, yang di arahkan oleh pria berambut gondrong.
Tampak Layla dan pria itu menaiki sebuah mobil hitam, yang memang sudah menunggu ke duanya di area parkir samping. Padahal jarak mobil Amer dengan mobil yang di naiki Layla, hanya berjarak 3 meter, namun sayangnya itu luput dari pandangan Jono, Hendra dan Jojo.
__ADS_1
"Terima kasih, pak. Atas bantuannya!" Ucap Amer pada penjaga CCTV.
"Sama sama, pak! Semoga wanita yang anda cari, dapat segera di temukan dalam ke adaan selamat." Ucapnya dengan penuh harap.
"Aku yakin, kaka ipar pasti akan baik baik saja!" Ucap teman Amer yang tadi membantu menyiapkan berkas untuk Amer dan Layla menikah.
Kini ke tiganya menuju arah di mana GPS yang berhenti pada suatu tempat, jauh dari kota. Lebih tepatnya arah puncak.
Amer juga sudah menghubingi pihak ke polisian dan melaporkan pada temannya yang merupakan salah satu polisi juga, dengan bantunya pula. Ke beradaan Layla dapat di ketahui dengan pasti.
Tempat yang dahunya adalah sebuah gudang, tempat pembuatan ganjaaa, minuman kerasss dan kini hanya menjadi gedung kosong. Setelah beberapa tahun yang lalu, tempat itu berhasil di temukan oleh polisi.
"Benar benar di luar dugaan ku, harusnya hari ini kita meraih ke bahagiaan dengan status baru mu yang menjadi istri ku, Layla. Tapi kau malah mengalami penculikan. Aku gagal melindungi mu, Layla!" Gumam Amer saat membonceng sepedah motor yang di kendarai oleh Hendra menuju lokasi yang menjadi tempat penyekapannn Layla.
Hendra yang melirik Amer dari kaca spion merasa bersalah atas apa yang menimpa Nona Muda-nya.
"Maaf atas kelalaian saya, Tuan! Jika saja saya tidak lalay, Nona tidak akan mengalami ini semua." Ucap Hendra dengan penyesalan nya.
"Mau bagai mana lagi, ini sudah terjadi. Aku hanya bisa berencana, tapi yang maha kuasa lah yang mengatur segalanya." Ujar Amer.
"Ini benar benar di luar perkiraan saya, Tuan. Andai saja saya tidak mendengar kan perkataan Nona, dan tetap mengikuti ke mana pun Nona pergi. Pasti hal ini tidak kan terjadi, Tuan." Ujar Hendra.
"Sudah lah! Anggap ini pelajaran untuk kita agar kebih berhati hati." Terang Amer.
Amer melihat beberapa orang polisi tengah mengepung bangunan tua, yang di sinyalir adalah gudang kosong. Dari hape Amer juga terlihat, GPS pada liontin Layla berhenti pada tempat itu.
Salah seorang polisi menghampiri Amer, "Selamat malam, pak! Berdasarkan hasil dari pantauan anggota kami, di dalam di temukan seorang wanita dalam keadaan tidak sadar kan diri."
"Selamat malam, pak. Wanita itu pasti Layla, calon istri saya, pak... tolong pak, selamatkan calon istri saya!" Ucap Amer dengan wajah yang tegang.
Dor dor dor.
...----------------...
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭
__ADS_1
Author gabut sebatas halu 😊