Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Amer atau sayang


__ADS_3

...πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Herman menggaruk kepalanya frustasi, "Apa gw salah ngomong ya tadi sama Melisa?"


Tidak berapa lama tidak terdengar lagi suara Melisa yang histeris dari ruang rawat.


Ceklek.


Dokter ke luar dari ruang rawat.


Herman beranjak dari duduknya dan bertanya pada dokter, "Maaf dok, gimana keadaan istri saya?"


"Bisa kita bicara di ruangan saya?" Tanya dokter Maya yang sejak awal menangani kasus Melisa.


"Bisa, dok."


"Kalo begitu ikuti saya!" Dokter Maya melangkah menjauh dari ruang rawat Melisa di ikuti Herman yang berjalan mengikuti langkah kaki dokter Maya.


Ruang dokter Maya bersebelahan dengan ruang dokter Samuel.


"Silahkan anda duduk!" Dokter Maya mempersilahkan Herman duduk di kursi yang ada di depannya, mereka duduk berhadapan dengan meja sebagai penghalang.


"Jadi bagai mana, dokter?" Tanya Herman dengan wajah cemas.


"Dari pantauan saya, ibu Melisa mengalami syok akibat kekerasannn seksualll yang di alaminya, jika boleh jujur. Apa yang sebenarnya yang sedang anda tutupi, pak?" Dokter Maya menatap tajam Herman.


"Maksud dokter apa ya? Saya tidak mengerti." Apa mungkin dokter ini curiga jika Melisa bukan istri gw?


"Apa benar ibu Melisa itu istri anda? Jika iya, kenapa di KTP dan daftar formulir rumah sakit bisa berbeda?" Dokter Maya menyodorkan berkas formulir dan KTP saat Herman mengurus administrasi untuk perawatan dan operasi Melisa.


Aduh mampus gw kalo udah kaya gini, kacau, tampang gw emang reman tapi gw gak biasa bohong, gimana ini. "A- anu dokter, sa- saya dan Melisa me- memang bukan suami istri." Herman mengatakannya dengan tergagap saking di landa rasa takut.


Dokter Maya menautkan kedua tangannya di atas meja, "Jadi ada hubungan apa anda dengan ibu Melisa?"


Herman menarik nafasnya dengan kasar, "Sa- saya hanya teman kaka iparnya, dokter." Terang Herman dengan wajah pias.


"Jadi anda bukan ayah dari anak yang sedang di kandung ibu Melisa?" Dokter mengerutkan keningnya menanti jawaban yang akan di berikan Herman.


"Mana mungkin itu anak saya, dok. Saya baru juga semalam menanam benihhh di anunya Melisa." Celoteh Herman dengan polosnya.


Mata dokter Maya membulat, "Apa luka robekkk pada xx bu Melisa hasil dari kekerasannn seksualll? Hal ini di perkuat dengan di temukannya dua spermaaa yang berbeda pada kemaluannn bu Melisa. Atau jangan-jangan bu Melisa korbannn dari pemerkosaannnn? Saya harap anda bicara jujur jika tidak ingin saya melaporkan pada pihak yang berwajib!" Ucap dokter Maya dengan tegas.


Herman tampak menimbang nimbang apa yang akan ia katakan pada dokter, haduuuuuh ngeri dah kalo urusannya udah ama pihak yang berwajib, apa iya gw ngaku aja ya ama ini dokter?


"Ayo pak Herman, katakan yang sejujurnya jika anda tidak ingin mendekam di jeruji besi!" Dokter Maya meraih gagang telpon yang ada di atas meja kerjanya, "Atau anda mau menjelaskannya langsung pada aparat kepolisian?"


Herman mengangkat ke dua tangannya di udara, "Saya nyerah dokter, saya jujur aja dah sama dokter." Terang Herman.


Dokter Maya menaruh kembali gagang telpon pada tempatnya, "Jelaskan pada saya sekarang juga, pak!" Seru dokter Maya.


"Sebenarnya saya dan teman saya sudah menggauliii Melisa dokter, tapi saya tidak melakukannya dengan kasar dok, saya sungguh sungguh dok... dokter bisa tanyakan langsung sama Melisa jika saya tidak berbuat kasar padanya saat melakukannya pada Melisa." Terang Herman dengan wajah yang putus asa, mudah mudahan dengan begini dokter juga ngerti keadaan gw, gw tulus ama Melisa.


"Lalu siapa pelaku yang satunya lagi?"


"Andri dokter, teman saya yang berambut gondrong. Semalam itu dia lah lelaki pertama yang menggauliii Melisa, saya hanya orang ke dua yang menggauliii Melisa, tapi kalo soal anak yang di kandung Melisa itu sudah pasti bukan saya kan dok?"


"Apa bu Melisa sudah tau jika dirinya tengah mengandung 2 bulan?"


"Tau dok, malah tadi dia bilang Melisa tidak tau itu anak siapa, Melisa juga tidak mau hamil."


Dokter Maya menatap dalam ke dua mata Herman, mencari jawaban atas apa yang sudah di katakan pria berkepala plontos, antara jujur atau bohong, ini orang tampangnya saja sangar, tapi jika di ajak bicara matanya memancarkan aura kejujuran. Tidak ada kebohongan yang ke luar dari bibirnya.

__ADS_1


"Siapa yang anda curigai sebagai ayah biologis dari kandungan bu Melisa?"


"Saya curiga itu anaknya, bang Rudi, dok... tapi bang Rudi tidak mau mengakui jika itu anaknya, tapi wajar aja sih dok. Kalo kata bang Rudi, Melisa bukan gadis baik baik, sering melakukan sexxxx bebas, dok." Terang Herman panjang lebar.


Apa mungkin bu Melisa ini wanita malam? "Saya minta jangan paksakan bu Melisa dulu untuk mengatakan siapa ayah dari bayi yang sedang di kandungnya, satu hal lagi... anda bertanggung jawab kan atas keadaan bu Melisa?" Tanya dokter Maya.


"Iya lah dok saya tanggung jawab, kalo gitu apa bisa Melisa saya bawa pulang, dok?"


Kening doktet Maya mengkerut, "Yang benar saja, pak! Keadaan bu Melisa belum stabil." Dokter Maya tampak keberatan jika Melisa ke luar dari rumah sakit.


"Maaf dokter, saya kendala di duit, dokter tenang aja... masih bisa kan buat berobat jalan?" Herman bernego dengan dokter Maya.


"Baik lah, tapi bapak harus menanda tangani surat pernyataan jika terjadi apa apa pada bu Melisa itu tanggung jawab bapak, kami pihak rumah sakit tidak mau bertanggung jawab karena bukan lagi tanggung jawab pihak rumah sakit jika pasien meninggalkan rumah sakit dalam keadaan yang belum pulih.


"Dokter tenang aja, kalo gitu saya pamit ya dok!" Herman ke luar dari ruangan dokter Maya.


πŸ‚Di ruang sebelahπŸ‚


"Lo denger sendiri kan apa yang udah di katakan itu orang ke dokter Maya?" Ujar dokter Samuel.


Amer membuka kembali berkas yang ada di depannya ia duduk tepatnya di atas meja kerja dokter Samuel.


"Melisa, korban kekerasannn seksualll, mengalami syok, tengah hamil dua bulan, histeris saat mengetahui dirinya hamil." Gumam Amer mengingat ingat pembicara dokter Maya dengan pria yang awalnya mengaku dirinya suami Melisa Savinta.


"Apa lo mau kasih tau wanita itu? Cinta pertama lo?" Tamya dokter Samuel.


"Mungkin tapi nanti setelah Layla pulih dan siap mendengar kabar ini." Terang Amer.


"Lo salah kalo mau kasih taunya nanti. Lo buktiin dong jika Layla bener udah sebodo dengan suaminya itu!" Ujar dokter Samuel.


Amer beranjak dari duduknya, "Layla ku sudah boleh pulang, kan?"


"Apa lo kata? Masih bini orang itu si Layla!" Seru dokter Samuel.


Besok pagi Layla sudah di perbolehkan ke luar dari rumah sakit, dengan langkah yang lebar Amer menuju ruang rawat Layla.


Amer melihat jendela rawat Melisa yang terbuka tirainya, "Jika saja kau tidak berbuat kejammm pada Layla ku, pasti aku akan membantu mu, tapi sayangnya kau tidak memiliki kebaikan untuk Layla ku!" Gerutu Amer dengan ke dua tangan yang mengepal lalu melanjutkan perjalanan menuju ruang rawat Layla dengan senyum merekah.


Ceklek.


Amer masuk ke dalam ruang rawat Layla, Layla tampak menunggu Amer kembali yang langsung memberikan pertanyaan pada Amer.


"Bagai mana, Tuan? Kapan saya sudah di perbolehkan untuk pulang?" Tanya Layla yang sudah tidak sabar ingin pulang.


Amer mendudukkan dirinya di sofa dekat ranjang rawat Layla, "Sabar ya! Besok pagi kau baru di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit." Terang Amer.


"Ihs lama sekali!" Layla mendengus.


"Itu tidak akan lama, bersabar lah. Kenapa kau tidak tidur hem?" Amer menatap Layla yang di landa bosan.


"Aku bosan, Tuan!"


Amer beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sofa yang berada di dekat pintu masuk. Tangan Amer terulur menganbil laptop nya yang ada di sofa dan membawanya ke pada Layla.


Amer mendudukan Layla di ranjang rawatnya, "Dari pada kau bosan dan terus mengeluh, lebih baik kau buatkan aku disein karpet yang unik." Terang Amer dengan menaruh laptopnya pada pangkuan Layla.


"Yang unik ya?" Tanya Layla kembali.


"Ehem." Amer menarik sudut bibirnya ke atas.


Sementara Layla membuatkannya disein, Amer berjalan ke arah jendela dan melihat ke bawah tampak taman rumah sakit dengan rumput hijau dan tanaman bunga.

__ADS_1


Amer menghubungi seseorang lewat hapenya, Amer membalikkan tubuhnya dan bersandar pada dinding dengan matanya yang terus mengawasi Layla yang masih sibuk dengan disein unik yang di minta Amer.


[ "Ada apa, bos? Tumben menghubungi saya!" ] Tanya seorang pria saat panggilan telepon Amer di jawabnya.


"Aku butuh 2 orang bodyguard pria yang benar benar bisa di andal kan dan bisa di percaya. Aku kau memilikinya?" Tanya Amer.


[ "Tentu saja ada, bos. Bos mau yang sudah tua atau yang masih muda?" ]


"Yang masih muda tapi ketampanannya harus di bawah ku?" Kalo aku carikan bodyguard yang masih muda dan tampangnya di atas ku, yang ada Layla malah kepincut dengan orang ku sendiri.


[ "Ahahhaha bos pasti ini bodyguard bukan untuk mu ya, bos? Untuk siapa bos? Untuk pacar bos atau calon kaka ipar, bos?" ] Suara ledekan tampak terdengar jelas di telinga Amer untuk dirinya.


"Terserah apa kata mu saja!"


[ "Bos butuh kapan bodyguard nya?" ]


"Hari ini, suruh mereka ke rumah sakit xxx, ruang VVIP xxxx." Terang Amer.


[ "Wah, siapa yang sakit bos?" ]


"Mau mu siapa yang sakit?" Amer malah balik bertanya.


[ "Bos saja lah yang sakit! Biar bos lebih banyak membutuhkan bodyguard dari saya, hahaha. ]


"Kampretttt kau!" Amer langsung memutiskan sambungan teleponnya dan menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celana yang ia kenakan.


Layla menolah pada Amer, "Ada apa, Tuan?" Tanya Layla.


Amer melangkah mendekati ranjang rawat Layla, tangannya terulur mengusappp lembut pipi Layla, kau pasti tidak akan menyangka jika adik tiri mu Melisa menjadi korban kekejamannn suami brengsekkk mu itu, Layla. Untung saja dia tidak melakukan itu terhadap mu, jika sampai pria brengsekkk itu berani berbuat jauh pada mu, dia tidak akan bisa lolos dari genggaman ku Layla.


Tangan Layla menggenggam tangan yang Amer gunakan untuk mengusappp pipinya, "Ada apa, Tuan? Kenapa Tuan menatap saya seperti itu? Apa terjadi sesuatu? Atau Tuan ada urusan pekerjaan? Aku tidak apa apa jika Tuan meninggalkan ku sendiri di rumah ---."


Jari telunjuk kanannya Amer berada di depan bibir Layla, menghentikan ucapannya Layla.


"Panggil aku Amer, atau jika kau tidak keberatan kau bisa panggil aku sayang!" Seru Amer dengan menarik sudut bibirnya ke atas dan mata yang penuh harap, berharap Layla tidak akan menolak keinginannya untuk memanggil Amer dengan kata Amer atau sayang.


"Tapi Tuan ---"


Cup.


Amer mengecup pipi Layla.


"Jika kau panggil aku Tuan, sama saja dengan satu kecupan."


"Ihs, tidak adil."


"Ayo panggil aku Amer atau sayang!"


Layla menatap Amer sebelum memanggilnya, jika aku menolak, tapi Tuan Amer sudah terlalu baik pada ku.


"Ayo Layla, jangan buat aku menunggu lebih lama lagi! Sudah cukup kau buat aku menunggu 5 tahun untuk bisa memiliki mu, sekarang kau panggil aku Amer atau sayang sesulit itu kah?"


"A- aku ---"


Tok tok tok tok.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2