Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Tuduhan


__ADS_3

...💔💔💔...


Layla membela dirinya atas tuduhan yang di lemparrr kan Amer padanya.


"Apa kau pikir, aku harus percaya pada mu, Layla?" Amer menatap Layla dengan marah.


"Amer! Kau ini suaminya atau orang asing baginya?" sentak Noer.


"Mi! Biarkan aku selesaikan urusan ini dengan Layla, mami jangan ikut campur!" Amer membawa Layla, dengan mendorong kursi rodanya menjauh dari orang tuanya.


"Pah! Gimana ini pah? Apa yang akan di lakukan Amer pada Layla?" Noer menatap suaminya yang tampak berfikir.


"Biarkan mereka selesaikan masalah mereka sendiri, mih. Mereka kan sudah dewasa. Tau lah mana yang baik dan salah." Ali menanggapinya dengan santai.


"Tapi pah, gimana kalo Amer menyakiti Layla?" Noer tampak khawatir pada anak menantunya.


"Kita lihat saja dulu, mih! Amer itu menyayangi Layla, mana mungkin ia akan main tangan terhadap Layla." ujar Ali.


Amer membawa Layla ke taman belakang.


Amer berdiri di depan Layla yang duduk di kursi roda. Membelakangi kolam renang.


"Mungkin kau malu untuk mengatakan nya di depan mami dan papa, sekarang hanya ada kau dan aku. Katakan yang sejujurnya Layla, bunga itu pemberian dari siapa?" tanya Amer dengan tatapan yang menyelidik.


Layla mengerutkan keningnya, "Apa ka Amer tidak percaya pada ku? Aku sudah berkata jujur ka, aku pikir itu bunga pemberian dari mu!" Layla menatap Amer dengan kecewa, kecewa karena dirinya tidak lagi di percaya.


Amer membuang nafasnya dengan kasar, menggaruk kepalanya dengan frustasi, Amer menangkup kan ke dua tangannya di depan wajahnya.


"Tolong Layla, tolong jujur pada ku. Katakan yang sejujurnya, apa kau sedang dekat dengan laki laki lain selain aku? Aku suami mu Layla, aku bisa memafkan kehilafan mu, asal kau jujur pada ku, kata kan yang sejujurnya Layla!"


Ke dua mata Layla mengembun, rasanya panas seakan ada sungai yang akan mengalir deras. Detak jantungnya berdebar begitu cepat. Dadanya begitu sesak, mendengar tuduhan yang di berikan Amer padanya.


Bulir bening menetes dari pelupuk mata Layla, dalam isaknya Layla berkata, "Kau tau ka! Hal yang paling menyakitkan, bukan di saat tubuh ini terluka, bukan di saat aku tidak punya lagi pekerjaan. Hal yang paling menyakitkan bagi ku. Di saat orang yang aku cintai, tidak lagi percaya pada ku, aku harus apa ka? Mengakui perbuatan yang tidak pernah aku lakukan? Begitu mau mu ka? Aku harus mengakui apa yang kau tuduhkan pada ku, ka?"


Dengan ke dua tangannya, Layla memutar kursi rodanya, menjauh dari Amer yang masih terpaku di tempatnya.


Amer menatap ke pergian Layla dengan tatapan yang sedih, ke dua tangannya mengepal, tadinya aku pulang lebih awal karena ingin makan siang dengan mu, Layla. Tapi yang aku dapati hanya ke kecewaan.


"Jika Layla tidak berselingkuh, lalu buket bunga itu dari siapa? Mr. A, siapa Mr. A yang di maksud. Aku harus menyelidikinya." Amer menduduk kan dirinya di kursi yang ada di taman.


Ia mengeluarkan hapenya dari saku celananya, mencoba menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Kau di mana Hendra?" tanya Amer saat orang yang di hubunginya, menjawab panggilan telponnya.


[ "Saya ada di paviliun, Tuan." ]


"Kau ke sini lah, ke taman belakang rumah. Ada yang ingin aku bicara kan dengan mu!"


[ "Baik, Tuan." ]


Tidak berapa lama, Hendra menghampiri di mana Tuannya kini berada.


Hendra berdiri di depan Amer.


"Maaf Tuan, apa yang ingin Tuan bicarakan pada saya?" tanya Hendra melihat Amer yang masih diam tidak bergeming.


"Kau selidiki lah, toko Flower Mocca. Cari tahu siapa yang mengirim buket bunga mawar merah ke rumah ini untuk Layla. Orang itu mengatas namakan dirinya Mr. A." terang Amer.


"Baik Tuan, akan saya selidiki. Ada lagi, Tuan?" tanya Hendra.


"Apa yang akan kau lakukan, jika kau ada di posisi ku, Hendra? Aku tidak yakin jika Layla menghianati cinta ku."


"Cari tahu dulu Tuan, Tuan kan lebih tau Nona Layla itu seperti apa, jangan ambil ke putusan di saat Tuan sendiri masih ragu. Terkadang apa yang di lihat oleh mata, bukan berarti yang sebener nya terjadi, Tuan." ujar Hendra.


Sementara Hendra langsung ke luar dari taman belakang, menuju garasi, jika firasat ku ini tidak salah, aku rasa akar masalah ini ada hubungannya dengan Alan Ardiansyah. Tapi semoga saja ini hanya firasat ku saja, mungkin juga penjaga toko salah mencatat alamat yang harus di tuju.


Tanpa membuang waktu, Hendra langsung menyelidikinya ke toko Flower Mocca.


"Mih, apa mami melihat Layla?" tanya Amer pada Noer, yang masih berada di ruang keluarga.


Noer menjawab pertanyaan putranya dengan ketus, "Ada di lantai atas, tadi mami baru saja mengantarnya ke kamar kalian."


Amer mengerutkan keningnya, merasa heran dengan maminya yang berkata ketus dengannya.


"Ada apa, mi? Apa ada yang salah dengan ku?" tanya Amer yang lebih dulu menghampiri Noer.


Prak prak.


Noer menggeprak lengan putranya dengan kerasss.


"Dasar kamu itu, anak mami yang tidak tahu malu, sudah membuat menantu mami menangis sekarang kau tanya apa? Apa ada yang salah dengan ku? Astaga Ameeer! Cepat sana, temui istri mu, sebelum kau terlambat menyadari ke salahan mu!" gerutu Noer yang memaling kan wajahnya dari Amer.


Amer geleng geleng kepala dengan sikap ibunya, yang anak kandung nya aku atau Layla sih? Mami tampak nya lebih menyayangi Layla, ketimbang aku yang putra kandungnya sendiri.

__ADS_1


Amer mengarahkan pandangannya pada kamar yang berada di lantai atas, apa yang sedang Layla laku kan? Apa dia sedang menangis?


Amer mengayunkan langkah ke dua kakinya menaiki anak tangga, membawa tubuhnya menuju lantai atas, kamarnya dan juga Layla.


"Harusnya aku percaya pada Layla, harusnya aku selidiki lebih lanjut sebelum menuduh Layla. Jika sudah seperti ini, aku harus minta maaf padanya. Pasti hatinya terluka karena tuduhan ku ini." gumam Amer dengan menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, nampak Layla yang sedang mendudukan dirinya di kursi, depan pembatas balkon.


Layla menyapu dengan kasar, bulir bening yang membasahi pipinya, "Untuk apa ka Amer ke sini? Pergi ka, aku tidak ingin melihat kaka." ujarnya tanpa menoleh atau pun membalikkan tubuhnya.


"Kau marah pada ku, Layla?" Amer melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Layla.


"Marah? Apa aku pantas marah pada mu, ka? Kaka ini selalu benar, kaka tidak pernah berbuat ke salahan, aku ini hanya wanita bodoh yang beruntung bisa memiliki mu, ka!"


Amer membujuk serta merayu Layla, Amer duduk berjongkok di samping kursi yang sedang Layla duduki, tangannya menyentuh lutut Layla, menggenggammm jemari Layla.


"Maaf kan aku ya, sayang?" tanya Amer dengan tatapan serius pada Layla.


"Aku tidak pantas untuk memberi maaf pada mu, ka! Orang yang paling banyak berjasa dalam hidup ku." terang Layla.


"Kau bisa hukum aku Layla, aku yang salah. Harusnya aku menyelidikinya lebih jauh lagi. Aku minta maaf sayang! Tolong maaf kan lah aku!" Amer menatap Layla dengan pandangan mengiba.


Dreeet dreeet dreeet dreeet.


Hape Amer yang berada di saku celananya bergetar.


Amer beranjak dari posisi, merogoh hapenya yang ada di saku celana nya. Lalu menjawab panggilan yang masuk ke dalam hapenya.


Amer mengerutkan keningnya, segera menjawabnya setelah tahu siapa yang menghubunginya.


"Apa kau sudah berhasil menyelidikinya?" tanya Amer.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊

__ADS_1


__ADS_2