Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
2 bodyguard


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


"Ayo Layla, jangan buat aku menunggu lebih lama lagi! Sudah cukup kau buat aku menunggu 5 tahun untuk bisa memiliki mu, sekarang kau panggil aku Amer atau sayang sesulit itu kah?"


"A- aku ---"


Tok tok tok tok.


"Ihs siapa lagi yang mengganggu. Kau tunggu lah di sini!" Amer beranjak dan membuka pintu ruang rawat Layla.


Ceklek.


"Selamat siang, Tuan."


2 orang pria dengan badan tegap dan tampan tampak berdiri di depan pintu ruang rawat Layla.


Amer menatap tajam pada ke duanya, apa mereka orang yang aku minta?


Seperti tau dengan pertanyaan batin Amer, salah satu pria itu berseru, "Tuan bisa tanyakan langsung pada atasan kami!" Seru salah satu pria lainnya.


"Tunggu sebentar!" Amer menghubungi pria yang tadi di telponnya.


[ "Apa Tuan sudah bertemu dengan mereka?" ] Tanyanya.


"Hem, sudah. Thanks ya!"


[ "Sama sama Tuan, ada lagi yang bisa saya bantu untuk Tuan?" ]


"Tidak, itu saja. Uangnya akan ku kirim sekarang!" Seru Amer.


[ "Itu yang saya tunggu, Tuan." ]


Sambungan di putuskan, Amer menyuruh mereka untuk masuk ke dalam ruang Layla.


"Akan ku perkenalkan kalian pada Nona baru kalian, kalian harus menjaganya!" Seru Amer dengan tegas.


Layla menoleh ke arah Amer dan di belakang Amer ada 2 orang pria yang mengikuti langkahnya.


"Mereka siapa?" Gumam Layla yang masih dapat di dengar oleh Amer.


Amer berdiri di samping Layla sedangkan ke duanya membungkuk hormat saat sudah berada di depan Layla.

__ADS_1


"Eh, jangan seperti itu... aku ini bukan siapa siapa yang harus kalian hormati seperti itu!" Seru Layla pada ke duanya.


Amer menatap Layla dengan penuh kasih sayang, aku suka sikap mu yang seperti ini Layla.


Amer membelai punggung Layla lembut, "Mereka berdua ini aku tugaskan untuk melindungi mu, jadi ke mana pun kau pergi... mereka akan terus bersama mu!" Amer menarik sudut bibirnya ke atas.


"Tapi untuk apa, Tuan? Aku rasa aku tidak butuh mereka... Tuan lah yang membutuhkan mereka." Emang aku ini apa harus ada pengawal? Aku hanya manusia biasa yang mencoba lepas dari bang Rudi.


"Maaf Layla, aku tidak bisa membiarkan mu dalam bahaya, suami brengsekkk mu itu sedang ada si rumah sakit, aku tidak mau sampai kecolongan di saat aku tidak bersama mu, dia akan mengganggu mu!"


Layla tercengang, bang Rudi di rumah sakit ini? Mau apa?


Layla mengadahkan kepalanya menatapa Amer, "Dia tidak akan mencari ku, dia sendiri yang sudah mengusir ku!"


Dengan gerakan kepalanya, Amer menyuruh ke dua bodyguard itu ke luar dari ruang rawat Layla.


Ke duanya ke luar dan berdiri di depan ruang rawat Layla.


Amer menyingkirkan laptop yang ada di pangkuan Layla, tangan Amer menggam tangan Layla.


"Ada apa, Tuan?" Layla di buat bingung dengan Amer.


"Aku tidak akan bertanya lagi bagai mana hubungan mu dengan Melisa, adik tiri mu itu. Tapi yang pasti kau harus tau ini." Amer mengatakannya dengan serius.


"Melisa mengalami tindak kekerasannn asusilaaa dan salah satu pria yang membawanya mengakui bahwa dia juga terlibat di dalamnya dan ini masih ada hubungannya dengan pria brengsekkk itu." Amer menatap dalam mata Layla yang mengembun, apa kau akan bersimpati pada bocah itu Layla?


Dengan acuh dan memalingkan wajah dari Amer, "Biar saja, itu pantas untuk wanita yang tidak tahu diri seperti Melisa ... dia tidak pernah sekali pun berbuat baik pada ku, dia juga selalu menghasut ayah untuk memukul ku." Layla menarik tangannya dari genggaman Amer, dengan tangannya ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Amer memang tidak melihat air. mata Layla, tapi tubuh Layla yang bergetar sudah menjadi bukti betapa Layla terluka mendengar berita Melisa.


Amer membawa Layla dalam dekapannya, mengelusss kepalanya, "Menangis lah jika kau ingin menangis, jika dengan menangis bisa membuat beban di hati mu berkurang."


Di tengah isak tangisnya, Layla mengoceh, "Aku membencinya Tuan, aku membencinya. Karena dia aku kehilangan perhatian ayah, karena dia aku terasingi di rumah, aku di khianati orang terdekat ku, aku hiks hiks hiks." Aku ingin mengiklaskan mu bang, hati ku terlalu sakit jika kita tetap bersama, tapi hati ku juga sakit saat adik ku terluka, bodohnya aku tidak bisa melihat adik ku terluka sedangkan dia dengan tega menyakiti ku, merebut apa yang ku miliki, merebut apa yang ku sayangi.


Amer menghembuskan nafasnya dengan kasar, apa kau masih memiliki perasaan untuk pria brengsekkk itu Layla? Atau perasaan sayang mu yang tulus pada adik mu itu yang membuat mu jadi seperti ini?


Setelah beberapa saat Amer tidak lagi merasakan getaran dari tubuh Layla, ocehan pun tidak ke luar lagi dari bibir mungil Layla, "Layla!" Amer berseru memanggil nama Layla dengan pelan dengan tangannya yang mengelusss punggus Layla.


Karena tidak mendapat jawaban, Amer membaringkan tubuh Layla dengan perlahan di atas ranjang rawatnya.


Dengan jemarinya yang besar, Amer menghapus sisa sisa air mata pada pipi Layla.

__ADS_1


"Aku sudah bertekad Layla, apa pun ke putusan mu. aku tidak akan melepaskan mu jika kau ingin kembali pada suami brengsekkk mu, aku tahu kau tidak akan bahagia bersama dengannya." Amer menyelimuti tubuh Layla dengan selimut.


Amer ke luar dari ruang rawat Layla dan meninggalkannya pada bodyguard yang standby berjaga di luar. Dengan begini Amer bisa tenang untuk neninggalkan Layla saat bekerja.


πŸ‚ Ruang dokter Maya πŸ‚


Setelah Amer meninggalkan ruang praktek dokter Samuel, ia bergegas ke ruang praktek dokter Maya.


Setelah berunding dengan cukup alot antara dokter Samuel dengan dokter Maya.


"Jadi bagai mana keputusan mu, dokter?" Tanya dokter Samuel dengan menyandarkan punggungnya di kursi yang berada tepat di depan dokter Maya yang hanya terhalang meja.


"Itu pasien ku, dokter!" Dokter Maya enggan melapor kan kasus Melisa kepolisi, karena ia melihat ada etikat baik dari Herman untuk bertanggung jawab pada Melisa.


"Tapi ini sudah berhubungan dengan kasus kekerasannn asusilaaa dok, bagai mana jika itu terjadi pada salah satu keluarga dokter, apa dokter akan diam saja? Ayo lah dok, negara kita ini negara hukum. Jangan sampai ada lagi Melisa Melisa di luaran sana!" Terang dokter Samuel.


"Tapi dok, Melisa itu wanita malam... apa wanita malam juga di perlakukan sama dengan wanita lain?"


"Yang namanya kasus pemerkosaannn itu pasti pihak wanita tidak mau melakukannya, dok!"


"Tapi hari ini juga pak Herman akan membawa Melisa ke luar dari rumah sakit, dia akan menanda tangani surat pernyataan akan bertanggung jawab penuh pada Melisa." Terang dokter Maya.


Dokter Samuel beranjak dari duduknya, "Jika itu terjadi pada pasien ku, sampai ke ujung dunia pun akan aku kejar pelakunya dok." Dokter Samuel meninggalkan ruang praktek dokter Maya dengan perasaan yang dongkol. Payah, begitu tuh jika jadi wanita yang perasa, terlalu di bawa perasaan.


πŸ‚Di gedung pencakar langitπŸ‚


Amer memabggil Reina dan Aulia ke ruang kerjanya.


Amer menunggu ke duanya di kursi kebesarannya.


"Duduk lah!" Swru Amer dengan dingin dan tatapan mata yang tajam pada sekretaris pribadi itu.


"Ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Aulia.


Tok tok tok tok


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊

__ADS_1


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2