Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Tidak akan tergoda


__ADS_3

...💔💔💔...


Pak Jojo menunduk hormat di depan Amer.


"Kita langsung berangkat, Tuan?" Tanya pak Jojo.


"Langsung lah, pak!" Amer membukakan pintu mobil untuk Layla.


Amer menghampiri Hendra yang ada di belakang mobil, sebelum masuk ke dalam mobil.


"Apa kau menyelidik siapa itu Alan Ardiansyah, Hendra?" Tanya Amer dengan wajah yang serius.


"Iya pak, maaf sebelumnya. Saya merasa ini perlu untuk saya selidik, untuk berjaga jaga, pak!" Jelas Hendra.


Amer menganggukkan kepalanya, "Kau benar Hendra. Nanti kita bicarakan lagi ya! Sekarang kau pergi dah terus selidiki Alan Ardiansyah. Gali sedalam dalam nya informasi mengenai orang itu!" Ucap Amer yang kemudian masuk ke dalam mobil.


"Kau ikuti, pak Amer!" Ucap Hendra pada Jono.


"Sip, bang!" Jono menunjukkan jempol kanannya pada Hendra.


"Ka Amer ngomong apa sama Hendra? Kayanya penting banget!" Selidik Layla.


"Oh itu, hanya urusan kecil." Ucap Amer dengan wajah panik, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan dari Layla.


"Urusan kecil apa ka?"


Amer mengalihkan perhatian Layla, dengan memberikan pertanyaan pada Layla, mengenai perjanjian yang ia sepakati pada pak Alan.


Amer menarik tubuh Layla, dan membiarkan Layla menyandar pada tubuhnya.


"Layla, ada yang ingin aku sampai kan pada mu!" Ucap Amer.


"Apa? Katakan aja ka! Keputusan kaka untuk memecat Aulia itu, masih bisa di batalkan kan?"


"Alu tidak mengerti dengan jalan pikiran mu, Layla. Dia itu sudah menyalahkan mu, atas ke kacauan di kantor hari ini. Yang jelas jelas itu adalah ulahnya sendiri." Terang Amer dengan kesal.


"Tapi ka -----"


"Kau tidak usah membelanya, Layla. Kau tahu, karena ulahnya... aku harus terpaksa menyetujui permintaan kerja sama, antara pihak Ardiansyah group dengan Crop Khan." Ujar Amer dengan tangan yang mengepal.

__ADS_1


"Memang perjanjian apa, ka? Sepertinya perjanjian itu membuat ka Amer jadi gak tenang gini!" Layla mengadahkan wajahnya, menatap wajah Amer yang tengah di landa tegang.


Amer menundukkan kepalanya, menatap wajah Layla, "Aku harus mengizinkan mu, untuk membuat semua disein... setiap kali ada permintaan yang di ajukan dari pihak Ardiansyah group." Terang Amer dengan bernafas lega, karena berhasil mengatakan nya.


"Emmm kenapa aku harus ke beratan, ka? Itu kan memang sudah ke wajiban ku, sebagai salah satu disein di perusahaan." Layla menanggapinya dengan santai.


Amer menyentuh pipi Layla, mengusappp lembut pipi Layla, "Kau tau sayang, aku harus merelakan mu untuk membuat disein di kantor Ardiansyah group, setiap kali ada permintaan disein dari pihak sana." Oceh Amer.


Layla menegakkan duduknya, dengan ke dua mata yang membola, "Kaka serius? Ko bisa? Kenapa gak ngerti di kantor aja? Kan biasanya juga ngerjain disein di kantor, kenapa harus di kantor orang lain ka?" Layla mencecar Amer, dengan berbagai pertanyaan.


"Itu permintaan dari pak Alan, Layla. Dan pak Alan hanya meminta diri mu, yang akan mendisein setiap permintaan yang datang dari pihaknya." Tambah Amer.


"Hanya aku, ka? Kaka serius? Gimana kalo pak Alan itu gak suka dan gak puas sama hasil disein yang aku buat?" Tanya Layla.


Pak Jojo menghentikan laju mobil, saat mobil yang ia kemudikan, sudah sampai di kediaman Amer.


"Maaf pak Amer, kita sudah sampai." Ucap pak Jojo, dengan melirikkan matanya lewat kaca spion mobil.


Amer menatap tempat yang di tuju pak Jojo, ia membola, "Kenapa kita pulang, pak?"


Pak Jojo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bukannya kita memang akan kembali ke rumah ya, pak?" Tanya pak Jojo.


"Astaga, paaaak. Bukan rumah yang menjadi tujuan ku! Aku ingin membawa Layla ke suatu tempat, apa aku belum mengatakannya pada pak Jojo?" Amer memijat keningnya, yang tiba tiba pusing.


Pak Jojo menjawab dengan mantap, "Tidak, pak. Bapak tidak mengatakan apa apa."


"Lebih baik kita gak usah ke mana mana ka, ka Amer sepertinya butuh minum! Hehehe." Layla meledak Amer.


"Aku seperti ini juga karena mu, Layla. Aku takut kau tidak akan merasa nyaman, jika harus bekerja di tempat asing. Kau akan marah pada keputusan ku untuk menyetujui permintaan pak Alan." Amer menatap Layla dengan wajah lelahnya.


Layla bersandar di atas dada bidang Amer, jemarinya bergerak liar di dada Amer, mengukir abstrak dengan rajinya yang menari nari di atas jas yang melekat di tubuh pria kekar itu.


"Ini resiko pekerjaan ka, aku akan melakukan apa pun untuk perusahaan, selama itu untuk kaka, aku pasti akan mengerjakan nya. Kaka percaya kan pada ku?" Layla menatap Amer dengan penuh harap.


"Tapi aku takut Layla, kau tidak akan tergoda dengan pak Alan kan? Pak Alan itu pria tampan, wajahnya juga ke bule bulean, setiap wanita yang melihatnya pasti akan luluh di buatnya." Terang Amer.


"Ihs aku tidak akan tergoda oleh nya ka, aku kan sudah ada ka Amer yang lebih dari segalanya." Layla mendekatkan wajahnya pada wajah Amer, lalu mendaratkan ciumannn di bibir Amer meski sekilas dan cepat.


Cup.

__ADS_1


"Aku mencintai mu, ka Amer Khan." Terang Layla, dengan wajah merona, tangannya langsung membuka pintu mobil.


Ceklek.


Layla langsung berlari masuk ke dalam rumah, setelah membalas sapaan pak Rafa yang menyambut kepulangan Nona Muda-nya.


"Selamat datang kembali, Nona!" Sapa Rafa dengan menunduk hormat.


"Terima kasih, pak!" Ucap Layla dengan terus berlari memasuki rumah, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Menyembunyi kan wajahnya yang merona di bawah bantal.


"Pak Amer, apa mau terus di dalam mobil aja? Gak berminat masuk ke dalam rumah, susul Nona Layla gitu?" Tanya pak Jojo, yang melihat bosnya masih diam terpaku di dalam mobil.


"Ah shittttt, Layla ke mana pak?" Amer bertanya pada pak Jojo, di mana keberadaan Layla.


Pak Jojo terkekeh di buatnya, "Ahahhahaha maaf lo pak, saya jadi tertawa. Nona Layla sudah masuk ke dalam rumah, pak!" Ucap pak Jojo setelah menghentikan tawanya.


"Jangan mentertawakan ku, pak!" Sungut Amer dengan turun dari dalam mobil.


"Selamat datang kembali, pak!" Sapa Rafa saat Amer melangkah masuk ke dalam rumah.


"Hem!" Jawab Amer dengan melangkah masuk ke dalam rumah, melewati Rafa begitu saja.


Dalam langkah kakinya Amer berfikir, gw gagal bawa Layla ke suatu tempat, apa gw buat makan malam romantis aja kali ya, taman belakang... bagus juga tuh kalo di dekor, dekat kolam renang kan! Boleh lah di coba.


Amer menghentikan langkah kakinya, memanggil Rafa untuk menghampiri nya.


"Rafa!"


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭


Author gabut sebatas halu 😊

__ADS_1


__ADS_2