
...💔💔💔...
Lama Amer menunggu dari menit ke menit, hingga dari jam ke jam dan 2 jam berlalu.
Ting.
Dokter Samuel ke luar dari dalam ruang tindakan dengan wajahnya yang tegang.
Amer beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri dokter Samuel.
"Bagai mana ke adaannya?" Amer berdiri di depan dokter Samuel dengan wajahnya yang tampak cemas.
Dokter Samuel menarik nafasnya dalam dalam lalu membuangnya perlahan.
Tangan kanan dokter Samuel menepuk bahu Amer, "Tenang lah! Wanita mu sudah melewati masa kritisnya!"
Bugh.
Amer melayangkan pukulan di dada sahabatnya itu, "Dasarrr bodoh kau, kenapa tidak mengatakannya dari tadi! Aku sudah hampir gila memikirkan ke adaannya!" Sengut Amer.
"Sialannn kau, bukannya berterima kasih pada ku!" Dokter Samuel mengelusss bagian dadanya yang di pukul oleh Amer.
Hendra dan Jono serta pak Jojo kini bisa bernafas dengan lega setelah mendengar kabar baik dari dokter Samuel yang menangani Layla.
"Apa aku sudah bisa menjenguk nya?" Amer berusaha melihat ke adaan Layla yang berada di dalam ruang tindakan.
"Nanti saja setelah di pindahkan ke ruang perawatan." Ujar dokter Samuel yang menggeser tubuhnya saat berangkar yang membawa Layla melewatinya.
Amer tercengang mendengarnya, baru kemarin Layla merasakan udara luar dan sekarang Layla harus merasakan kembali udara rumah sakit yang menyeruak bau obat.
"Apa? Butuh berapa lama lagi Layla di rawat?" Tanya Amer yang mengikuti berangkar yang membawa Layla ke ruang perawatan.
"3 sampai 4 hari, kita lihat perkembangannya ya! Oh iya ada yang harus aku bicara kan dengan mu! Ikut aku ke ruangan ku!" Seru dokter Samuel yang memilih jalan berbelok ke kanan saat berangkar terus berjalan lurus menuju lift.
Amer menghentikan langkah kakinya dan berkata pada Hendra, Jojo dan Jono yang berjalan di belakang Tuan-nya Amer.
"Kalian ikuti dan temani Layla, aku akan bicara dengan dokter dulu!" Ucap Amer dengan suaranya yang tegas.
"Baik, Tuan! Tuan tidak perlu khawatir akan ke adaan Nona Layla." Ujar Hendra.
Amer berbiluk ke kanan mengikuti langkah kaki dokter Samuel, sedangkan Hendra, Jojo dan Jono berjalan mengikuti berangkar yang kini menuju lantai 3 rumah sakit.
Layka menempati ruang rawat VVIP yang baru kemarin ia tinggalkan dan sekarang ia harus menempati ruang rawat ini lagi dengan ke adaan yang berbeda kasusnya.
Layla terbaring lemah tidak sadarkan diri dengan pengaruh obat yang di berikan oleh dokter Samuel.
Dengan selang infus menancap di pergelangan tangan kanannya dan kirinya, yang satu cairan infus putih yang menggantikan cairan yang sudah banyak Layla ke luarkan dan satunya lagi cairan untuk daya tahan tubuh Layla, alat bantu pernafasan di hidung dan beberapa jarum yang menancap pada dada Layla.
"Jadi kali ini, apa yang menyebab kan Layla lemas seperti tadi?" Tanya Amer saat ia sudah mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan dokter Samuel.
"Kau itu menjaganya dengan benar atau tidak sih Amer?" Tanya dokter Samuel dengan punggung yang menyandar pada kursi ke besarannya.
Brak.
Dokter Samuel melemparkan hasil pemeriksaan medis milik Layla di atas meja di hadapan Amer.
Amer mengerutkan keningnya, "Sopan sekali kau! Apa kau lupa, aku ini bos mu!" Gertak Amer dengan tangannya yang meraih berkas hasil laporan pemeriksaan yang sudah Layla lalui.
"Apa ini? Aku tidak mengerti dengan tulusan yang ada di kertas ini! Apa kau bisa menjelaskannya secara langsung!" Amer menyodorkan berkas yang ada di tangannya pada dokter Samuel.
"Begini saja kau tidak bisa membacanya! Bagai mana sih!" Dokter Samuel membuka kembali berkas laporan dari hasil pemeriksaan medis yang sudah di lalui Layla.
Dokter Samuel menjelaskan panjang lebar pada Amer, atas zat kandungan apa saja yang ada di dalam perut Layla hingga apa saja hasil penemuannya setelah melakukan serangkaian tes pada tubuh Layla mulai dari urine hingga pengambilan sempel darah Layla.
__ADS_1
Kening Amer mengkerut, tangan nya menggaruk kepalanya dan keningnya yang tidak gatal, ia berusaha untuk mengartikan apa saja yang sudah di jabarkan dan di jelaskan oleh dokter Samuel.
Amer menegakkan tubuhnya dengan ke dua tangan yang berada di atas meja.
"Bisa kau langsung jelaskan saja intinya pada ku? Tanpa harus berputar putar menjabarkan ini dan itu pada ku!" Gerutu Amer.
Dokter Samuel menegakkan posisi duduknya dengan ke dua tangan yang ada di atas meja saling bertautan, matanya menatap tajam pada sahabatnya ini sekaligus pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.
"Baik lah aku akan jelaskan pada mu, intinya wanita mu itu di racun."
Jeder.
Telinga Amer bak tersambar petir di pagi hari mendengar perkataan dokter Samuel.
Kening Amer mengkerut, "Bagai mana bisa di racun? Yang benar saja kau ini jika bicara!"
"Mana aku tahu, intinya ada yang menaruh racun pada wanita mu itu. Entah dari makanannya atau pun minuman yang masuk ke dalam mulutnya dan bersarang di lambungnya hingga menyebabkan rasa sakit pada bagian perut. Kau tau, racun yang aku temukan di dalam tubuh wanita mu itu adalah salah satu racun yang sangat berbahaya dan sangat mematikan." Ujar dokter Samuel yang membuat Amer semakin menajamkan matanya.
Tangan Amer mengepal dengan kuat, rahang di wajahnya mengeras, dengan gigi yang menggerutuk, "Siapa orang yang sudah dengan benari memberikan racun pada Layla!"
"Apa kalian habis makan di luar?" Tanya dokter Samuel.
"Tidak, aku dan Layla makan di rumah. Bi Asih sendiri yang menyiapkan sarapan untuk kami berdua." Amer berkata tanpa menaruh rasa curiga pada bi Asih.
Amer beranjak dari duduknya dengan wajah yang bingung memikirkan ke adaan Layla dan bertanya tanya siapa orang yang sudah memberikannya racun pada Layla.
Kira kira siapa pelakunya? Siapa yang sudah memberikan racun pada Layla?
Kening dokter Samuel mengkerut melihat Amer yang berjalan menuju pintu dengan tatapan ke dua matanya yang kosong.
"Apa kau tidak menaruh curiga pada kepala pelayan mu itu?" Tanya dokter Samuel.
Amer menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan menatap dokter Samuel.
Dokter Samuel menggelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan Amer, orang kalo sudah jatuh cinta, buta ya, buta apa aja, yang ada hanya wanitanya saja. Sudah jelas kepala pelayannya yang melakukan ini semua, tapi kenapa juga Amer tidak percaya pada perkataan ku?
Tangan Amer terulur menyentuh handle pintu.
Dokter Samuel berseru, "Kenapa kau tidak mencoba untuk mencari bukti jika bi Asih lah pelakunya? Kau tidak bodoh kan Amer? Di kediaman mu ada CCTV kan?"
Amer tersenyum lebar, bodohhhh kenapa tidak terfikir kan oleh ku!
"Aku akan minta orang ku untuk mengecek CCTV pagi ini." Ujar Amer yang melangkah meninggal kan ruang kerja dokter Samuel.
"Itu baru sahabat sekaligus bos ku!" Gumam dokter Samuel meski tidak lagi Amer dengar.
Amer menghubungi kepala petugas keamanan yang berjaga di kediaman nya melalui benda pipinya.
"Pak, tolong cek CCTV pagi ini yang ada di ruang makan!" Seru Amer saat panggilan teleponnya sudah di jawab dari sebrang sana.
[ "Baik Tuan." ]
"Jika sudah kau temukan hal yang mencurigakan, kirimkan hasilnya pada ku!" Seru Amer dengan tegas.
[ "Baik Tuan, akan saya lakukan." ]
Amer melangkah menuju kamar rawat Layla.
Bugh.
"Awhhh."
Amer yang tidak fokus saat menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya tidak sengaja menubruk seseorang hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai.
__ADS_1
Amer mengulurkan tangannya pada si wanita itu, "Maaf aku tidak sengaja!" Seru Amer.
"Iiihhhhhs."
Wanita itu meringis dengan memegangi bokonggg nya yang mencium lantai rumah sakit.
Suaranya kaya gw kenal ini kan suaranya!
"Pak Amer? Ngapain di sini pak?" Tanya Mia saat mendongakkan wajanya dengan tangannya yang menyambut uluran tangan bosnya itu.
"Saya sedang menemani Layla, kau sedang apa di sini? Kenapa tidak ke kantor?" Tanya Amer dengan tatapan mata yang menyelidik pada Mia.
"Layla masih di rawat, pak? Semalam Layla bilang dia sudah di rumah bapak. Apa terjadi sesuatu pada layla, pak?" Tanya Mia dengan wajah cemas.
Kening Amer mengkerut, "Layla sakit, jadi hari ini untuk 2 hari ke depan, Layla akan berada di rumah sakit."
"Sakit apa, pak?" Mia melangkah mengikuti langkah kaki Amer.
"Ada seseorang yang meracuni Layla." Ujar Amer dengan lirih, kenapa nasib mu seperti ini Layla.
Mia tercengang mendapati kabar Layla, "Ya Tuhan, lalu bagai mana ke adaan Layla sekarang, pak?"
"Layla sudah melewati masa kritisnya." Amer mengerutkan keningnya menatap tajam pada Mia, "Apa yang sedang kau lakukan di rumah sakit ini?" Tanya Amer dengan suaranya yang dingin dengan wajah tanpa ekspresi.
Tepat dengan Mia yang sudah berada di depan pintu rawat Melisa.
"Menjalankan pesan dari Layla, pak!" Seru Mia dengan jari telunjuk tangan kanannya yang mengarah pada sebuah pintu kamar rawat yang ada di hadapannya.
Amer membola, "Pesan? Pesan apa yang Layla berikan pada mu?"
"Pak Amer bisa melihatnya sendiri!" Mia hendak membuka pintu rawat namun Amer enggan untuk masuk ke dalam dan melihat siapa yang berada di sana.
"Tidak perlu, saya harus melihat ke adaan Layla!" Amer melanjutkan langkah kakinya menuju ruang rawat Layla.
Amer melihat ke dua pengawalnya dan supir pribadinya tengah duduk di depan ruang rawat Layla.
"Apa ada perkembangan?" Tanya Amer sebelum memasuki ruang rawat Layla.
"Nona masih tertidur pak, kata suster itu pengaruh dari obat yang di berikan. Masih 2 jam lagi untuk Nona membuka ke dua matanya, pak!" Seru Hendra.
"Kalian tetap berjaga di luar." Ujar Amer dan hilang di balik pintu.
Amer mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla, tangannya terulur menggenggammm jemari Layla yang tampak pucat.
"Cepat lah kembali sehat Layla, aku hanya ingin kau kembali sehat, kita habiskan waktu lebih banyak lagi untuk bersama." Ujar Amer dengan lirih.
Sedangkan di ruang rawat lain.
Mia menaruh beberapa buah dan roti di atas nakas, "Ini gw udah beliin buah dan roti buat lo jadi kalo lo iseng... lo bisa makan ini semua!" Seru Mia.
"Lo mau tinggalin gw?" Tanya Melisa yang memegangi perban di pipinya. Gila aja Angga, udah buat luka di pipi gw, bajingannn tuh cowok.
"Gw harus kerja, gw dapet teguran dari bos gw karena ninggalin kerjaan gw " Mia menyampirkan tas di bahunya melangkah meninggalkan Melisa di ruang rawatnya.
Prang.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Author gabut sebatas halu 😉