
...💔💔💔...
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Ali pada ke dua wanita yang beda usia tengah bersenda gurau.
Noer dan Layla menoleh ke arah Ali.
Noer mengembangkan senyumnya, "Tentu saja sedang membicarakan putra ku yang tampan, yang banyak di gilai oleh beberapa wanita berbisah."
"Apa tidak sebaiknya kita kembali pulang saja mah? Biarkan Layla istirahat." Ali mendudukan dirinya di sofa bersama dengan Noer.
Amer berseru dengan langkah kaki memasuki ruang rawat Layla, "Apa tidak sebaiknya papa dan mama lebih lama lagi di sini?"
Amer mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla.
Amer menatap Layla dengan sedih, kasihan sekali nasib mu Layla, masalah yang satu belum selesai, sekarang kau malah tertimpa masalah baru, hampir saja kau mereganggg nyawa karena ku.
"Apa kau ingin pergi, nak?" Tanya Noer.
"Iya, mah... hanya sebentar. Bisa kan aku titip Layla pada mama dan papa barang sebentar saja." Amer mengelus kepala Layla dengan menarik sudut bibirnya, aku harus menyelesaikan masalah ku dengan bi Asih.
"Baik lah kalo begitu, mama dan papa akan temani Layla sampai kau kembali." Ujar Noer, aku bisa bertanya lebih banyak lagi pada Layla.
Layla menoleh ke arah Noer dan Ali secara bergantian.
"Tapi tan, kalo tante dan om ada urusan dan ingin pergi, aku tidak apa sendiri di rumah sakit." Layla merasa tidak enak hati jika harus membuat orang tua Amer menungguinya di rumah sakit.
"Tidak apa Layla, jangan kau pikirkan yang lain. Cukup pulihkan keadaan mu." Ujar Ali.
"Kau dengar itu Layla, apa yang orang tua ku katakan?"
Layla mengatakan dengan mata yang berbinar, "Aku sangat terharu pada om dan tante." Mereka begitu baik dan perduli pada ku.
"Orang tua ku memang tiada duanya kan!" Seru Amer.
"Kami berdua ini kan nanti juga akan menjadi orang tua mu, Layla!" Seru Noer dengan menyikut lengan Ali.
"Iya, Layla. Kau tidak perlu sungkan dengan mami atau pun papi ya!" Seru Ali membenarkan perkataan Noer.
Layla menganggukkan kepalanya.
Amer beranjak dari duduknya dan pamit pada Layla dan ke dua orang tuanya, "Aku berangkat dulu ya!"
__ADS_1
"Hati hati!" Seru Layla saat melihat Amer yang hampir hilang di balik pintu.
"Apa kau ingin makan sesuatu, Layla?" Tanya Ali dengan memperhatikan wajah Layla yang pucat, sebernya apa yang membuat Amer mencintai wanita ini ya? Selain cantik, pasti ada kelebihan pada diri Layla, hingga putra ku itu rela menunggu mu.
"Tidak om, aku tidak ingin makan apa apa." Ujar Layla, kenapa om Ali melihat ku seperti itu ya? Apa ada yang salah dengan ku?
Noer menatap Ali dengan sebal, "Ehem ehem, pah. Apa hanya Layla saja yang di tawari ingin apa gitu, apa papa tidak berminat untuk menawari mama? Tenggorokan mama sepertinya gatal nih, pah!" Noer menyindir Ali yang tidak menawarinya apa apa.
Ali mengulurkan tangannya dan mengusapkan dengan lembut punggung istrinya itu yang tengah duduk memunggunginya.
"Aiiiih sayang ku yang nampak masih cantik dan awet muda meski umur mu tidak lagi muda, apa yang sedang mama inginkan? Sampai ujung dunia pun akan papa uber ke inginan mama itu!" Ledek Ali yang mendapati istrinya tengah merajuk karena merasa tidak di perhatikan oleh nya.
Layla membola, "Hah? Om dan tante tidak kalah seperti abg, sweeet sekali." Ujar Layla yang memperhatikan interaksi ke duanya.
Noer tampak ngambek dengan bibirnya yang mengerucut sebal pada Ali, tangannya menyilang di depan dadanya.
"Baru aja Layla calon mantu, bagai mana kalo Layla beneran jadi mantu dan hamil anak Amer, pasti papa akan melupakan mama!" Sungut Noer.
Layla terkekeh melihat Noer, mamanya Amer tengah merajuk tanpa mengenal tempat. Terlihat menggemaskan untuk Layla, apa lagi di usia mereka yang tidak lagi muda. Ali terus membujuk Noer.
"Sayang ku, manis ku, cinta ku, udah dong. Mama mau makan apa? Papa serius nih akan membelikan apa yang mami mau. Mama mau apa? Katakan saja pada papa!" Ali membujuk Noer dengan menangkupkan ke dua tangannya di depan wajahnya.
Noer memutar bola matanya dengan malas, "Mama ingin makan bakso yang super duper pedas dengan bakso yang ukuran besar terus minumnya es campur dengan toping durian." Seru Noer.
Ali menatap Layla dan Noer berganti, "Selama papa pergi, kalian tidak ada yang boleh ke luar dari ruang rawat ini ya!"
"Oke, udah sana. Papa berangkat, jangan lupa... bakso nya harus besar dan pedas, toping es campur dengan durian." Sungut Noer mengingatkan apa yang di inginkannya.
"Beres sayang, ku." Ali mengecup kening Noer.
Cup.
Ali menoleh ke arah Layla, "Layla, kamu mau di belikan yang sama dengan mama?" Tanya Ali.
"Boleh om, kalo tidak merepotkan." Ujar Layla.
Pak.
Noer menepak bokonggg Ali yang tengah berdiri di depannya.
Dengan suaranya yang nyaring dan cempreng Noer berujar dengan suaranya yang meninggi satu oktaf.
__ADS_1
"Papa jangan gila ya! Gak liet Layla itu sedang di rawat, sekarang malah papa ingin Layla makan pedas?"
"Mama bawel!" Ujar Ali dengan meninggalkan ruang rawat Layla.
Noer beranjak dan mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Layla.
"Layla, tante berharap sama kamu bisa menjaga Amer ya! Amer mencintai mu dengan tulus dan sejak lama pula. Hati Amer tidak tergoyahkan untuk menerima wanita lain di sisinya." Ujar Noer.
Layla membola dengan perkataan Noer padanya, "Tente?"
"Iya Layla, tante titip Amer, bahagiakan ia dengar cinta mu." Ujar Noer.
"Tapi tan, aku---" Untuk beberapa saat Layla tidak melanjukan perkataannya dan diam.
Noer bertanya pada Layla dengan tatapan matanya yang teduh, "Kamu apa, Layla?" Aku tahu... diri mu ingin mengatakan apa Layla, tapi aku harus bersabar sampai diri mu mengakui siapa diri mu itu yang sebenarnya pada ku, tanpa perlu ada yang di sembunyikan.
Layla memberanikan diri menatap Noer dan mengatakannya pada Noer siapa dirinya, "Tante belum tahu siapa aku. A- aku wanita yang sudah pernah menikah tante, aku sulit untuk memiliki anak dengan keadaan ku yang saat ini hanya memiliki satu indung telur. Aku takut mengecewakan tante, om dan Tuan Amer." Terang Layla.
Layla membuang nafasnya dengan kasar, akhirnya aku bisa mengata kan apa yang sebenarnya terjadi pada ku pada tante Noer.
Noer tersenyum simpul dengan tangannya yang terulur mengusap kepala Layla dengan sayang, tebakan ku tidak salah lagi.
"Tante tidak mempermasalahkan hal itu, Layla. Tante yakin jika kalian masih bisa memiliki keturunan, namun jika pada kenyatannya Tuhan berkata lain, maka masih banyak di luaran sana bayi yang membutuhkan perhatian dan butuh perawatan mu, nak." Terang Noer.
Layla bertanya pada Noer dengan ragu, "Bagai mana dengan, om? Apa om tidak akan keberatan tan?"
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😉 dan Ali. Mereka bertiga di buat tergelak dengan icaka
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
Salam manis author gabut 😊
__ADS_1
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran ðŸ¤ðŸ¤
Author gabut sebatas halu 😉