Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Hari buruk 2


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Melisa setengah sadar di atas tempat tidur yang semberaut dengan tubuhnya yang banyak jejak cengkramannn tangan.


Ceklak.


"Waktu lo sekarang!" Seru pria berambut gondrong saat sudah berada di luar kamar Melisa.


Tanpa meragu, pria berkepala plontos kini masuk ke dalam kamar Melisa dan menguncinya.


"Hehehe, cantik sekarang waktunya lo puasiiin gw!" Dengan terkekeh dan melepasss pakaiannya, gila si gondrong maennya sadisss pisan.


"Lo, lo mau apa? Ke luar lo dari kamar gw! Bajingannn lo!" Sungut Melisa, namun tubuhnya masih menggeliat liarrr di atas ranjang dengan sakit pada areaaa sensitifnyaaa.


Pria berkepala plontos menyusuriii lekuk tubuh Melisa dengan tangannya, "Sayang banget ya, tubuh mulus lo ini gak semanis bibir lo saat berucap!" Serunya dengan sinis.


"Jangan sentuh gw!" Seru Melisa dengan bulir bening yang ke luar dari mata indahnya.


"Telat sayang!" Pria berkepala plontos mencengkrammm mulut Melisa, "Anggap ini pelajaran buat lo, berapa banyak orang yang udah lo sakitin dengan mulut lo ini!" Wajah Melisa di hempaskannn dengan kasarrr.


"Bajingannn lo!"


"Lo bilang gw bajingannn, tapi lo butuh bantuan gw buat jadi penawar obat yang sedang bereaksi sekarang dalam tubuh lo!" Pria berkepala plontos menyeringai dan membenamkan bibirnya pada bibir Melisa, menyesappp bibir bawah Melisa dan menggigitnya.


"Emmm, emmmm." Gila, kalian berengsek, beraninya kalian berbuat seperti ini sama gw! Kalian jahat!


Malam yang tidak pernah di bayangkan dan tidak pernah ada dalam pikiran Melisa, akan melalui malam panjang yang sangat mengerikannn dan melelahkannn.


Tubuhnya di gilirrr oleh 2 pria yang dalam satu malam membuat tubuhnya remukkk, permainan kasarrr yang di lakukan oleh pria berambut gondrong menyisakan luka dalam hatinya.


"Gw gak mau nyiksaaa tubuh lo, jadi sebagai gantinya lo harus puasinnnn gw, hehehe harga yang setimpal bukan buat gw?" Ujar pria berkepala plontos dengan mengukunggg tubuh Melisa di bawahnya.


Pria berkepala plontos kini menusukkannn senjatanyaaa dengan perlahan pada tubuh Melisa.


"Emmmmh, aaaah!" Melisa meringis dengan rasa perih namun saat pria berkepala plontos memberikan belaiannn lembut pada tubuh Melisa, dengan perlahan Melisa merasakan permainan yang di lakukan pria berkepala plontos dan menikmatiiii sentuhann serta permainan yang di lakukannya, erangannn dan desahannn ke luar begitu saja dari bibir Melisa.


Melisa menatap nanar pria yang ada di atas tubuhnya kini, kalo bukan pengaruh obat, gw lenyapinn lo dari muka bumi ini!


Pria berkepala plontos menyesappp si kembar dan meremassnya, "Asal lo tau, Rudi yang udah jadiin lo bahan taruhann saat kalah dalam judi, sedangkan pria pertama yang dilayaniii itu adalah orang yang mengompori Rudi buat jadiin lo taruhan." Ujar pria berkepala plontos di tengah tengah permainannya.

__ADS_1


Sialannn bang Rudi rupanya udah kerja sama dengan si gondrong, "Lalu apa bedanya dengan lo? Lo juga nikmatin tubuh gw kan!" Sungut Melisa.


"Lo tau sendiri jawabannya tanpa gw jawab!"


Sementara di luar kamar.


"Gila bang, lo punya barang bagus di maenin sendiri, rugi lo!" Oceh pria berambut gondrong.


Rudi menatapnya dengan sinis, "Maksud lo apa?"


"Lo cinta gak sih sama ipar lo? Atau lo masih cinta sama bini lo?" Tanya pria berambut gondrong dengan meminum minumannya.


"Biasa aja, cinta no dalam hidup gw, rasa yang ada buat bini gw seakan lenyap setelah tahu dia gak bisa lagi kasih gw keturunan." Rudi memainkan gelas yang ada dalam genggamannya.


"Lantas lo bakal pisah sama bini lo? Terus yang di dalam, gimana bang?"


"Selama Layla bisa kasih gw duit, mungkin gw pertahanin, buat Melisa... gak lah anak manja gak bisa di andelin!" Sungut Rudi.


"Salah bang, Melisa bisa jadi tambang emas buat lo, lo jualll aja Melisa ke club atau bisa lah buat nemenin bos kaya!"


Prak prak prak.


Rudi menepuk nepuk punggung pria berambut gondrong, "Gila, ide lo brilian bro... tanpa perlu kerja, dompet gw bakal terus terisi." Seru Rudi dengan mata berbinar.


πŸ‚ Rumah sakitπŸ‚


Amer sengaja pulang dari kantor lebih awal, Amer kembali ke rumah sakit dengan beberapa belanjaan di tangannya. Yang ada di kepalanya kini adalah Layla.


Ceklek.


Di lihatnya Layla tengah tertidur di atas ranjang rawatnya dengan tangan menggenggammm hape.


Amer memasukkan dan menata belanjaannya ke dalam lemari pendingin.


Tangannya terulur mengambil hape Layla dan menaruhnya di atas lemari kecil yang ada di dekat kepala ranjang rawat.


Amer mendudukkan dirinya di sofa dengan kaki berselonjor dan memangku laptopnya.


Dengan tatapan mata yang fokus pada layar, Amer menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda sembari menunggu Layla yang masih terlelap.

__ADS_1


Amer menghubungi Mia dengan menggunakan hapenya.


"Heh bocah tengik! Aku meminta mu untuk menemani Layla, kenapa sekarang kau tidak ada di ruang rawat Layla, hah? Kenapa kau meninggalkannya seorang diri?" Amer mencecar Mia saat wanita itu sudah menjawab panggilan teleponnya.


[ "Pak bos yang baik, maaf ya jangan marah marah pak! Nanti cepat tua lo pak!" ] Seru Mia dengan suara yang selembut mungkin.


"Aku memang sudah tua, kenapa memangnya? Apa ada masalah dengan mu? Heh, dasarrr karyawan menyebalkan!" Sungut Amer yang masih ingin marah pada Mia.


[ "Pak, bapak kan lagi di rumah sakit! Nanti bagai mana kalo Layla terbangun karena suara bapak yang seperti petasan banting! Bapak jahat lo kalo sampe bangunin Layla!" ] Oceh Mia.


Amer menatap Layla yang masih tertidur dengan gerakan tangannya yang merasa terusik, benar juga apa kata bocah ini! Aku harus pelankan suara ku!


[ "Benarkan apa yang saya bilang, pak!" ] Seru Mia yang tidak mendengar Amer menjawab atau membantah perkataan Mia lagi.


"Besok temui aku di ruang kerja ku! Kau mengerti!" Amer memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Mia.


Amer mengerjakan kembali tugasnya pada laptopnya, sedangkan Layla mengerjapkan ke dua matanya, menelusuri ruangan yang kini menjadi tempat tinggalnya sementara waktu selama ia di rawat.


"Apa yang sedang Tuan lakukan?" Tanya Layla yang mendapati Amer tengah duduk di sofa dengan memangku laptopnya.


Amer menoleh ke arah suara, "Kau sudah bangun?" Tanya Amer dan mengakhiri aktifitasnya, menaruh laptopnya di atas meja.


Amer melangkah ke arah ranjang rawat Layla.


"Apa Tuan Amer tidak sebaiknya kembali ke rumah saja?" Tanya Layla saat Amer mendudukkan dirinya di tepian ranjang rawat.


"Apa kau sedang mengusir ku?" Tanya Amer dengan tatapan yang teduh dan suara yang dingin.


"Bukan maksud ku, Tuan kan baru saja kembali dari kantor... apa tidak sebaiknya Tuan beristirahat di rumah! Itu jauh lebih baik kan dari pada di rumah sakit."


Amer menggenggam tangan Layla, aku tidak bisa menunggu mu lagi Layla.


Layla mengerutkan keningnya mencoba menarik tangannya dari genggamannn Amer, "Maaf, Tuan! Apa yang sedang Tuan lakukan!"


"Aku tidak bisa lagi diam pura pura tidak tahu, Layla!"


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...

__ADS_1


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🀭


Author gabut sebatas halu.


__ADS_2