Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Mr. A


__ADS_3

...πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯...


"Kau harus pastikan wanita itu, jangan sampai berbuat ke salahan. Jika hal itu sampai terjadi, jangan ragu untuk menghabisiii nya!" Alan berkata tanpa mengenal perasaan, dengan wajah datar.


"Bagai mana dengan Nona Layla, Tuan?" tanya Nusi.


"Itu biar menjadi urusan ku! Kau cukup awasi wanita ular itu, jangan sampai ia tidak menjalankan tugas nya dengan benar!" oceh Alan.


"Baik, Tuan."


Alan kembali pada rutinitas kantor nya, sibuk dengan perusahaan yang akan ia lebarkan sayap perusahaannya dalam beberapa bulan ke depan.


Sesekali Alan melirikkan matanya ke arah meja yang kemaren di tempati Layla, "Bagai mana keadaannya ya? Apa kakinya sudah membaik?"


Alan menyeringai, saat di otaknya mulai muncul ide gilanya, untuk menjalankan rencana jahatnya.


Alan meraih gagang telpon yang ada di ruang kerjanya. Mulai berbicara di saat panggilan yang ia lakukan, sudah di jawab oleh orang yang ia tuju.


[ "Flower Mocca di sini, ada yang bisa saya bantu?" ] seruan suara seorang wanita, menggema di telinga Alan.


"Saya mau pesan sebuah buket mawar mewah, ukuran besar. Di kirim ke alamat xxx." ujar Alan.


[ "Atas nama siapa Tuan?" ]


Lebih baik aku gunakan inisial, biar dia terus berfikir dan menerka, pasti yang ada di dalam benaknya adalah Amer!


"Mr.A."


Wanita yang menjawab panggilan telpon Alan, menjawabnya dengan bersemangat.


[ "Wah anda misterius sekali ya Tuan, apa ada pesan yang ingin anda samapikan Tuan?" ]


"Semoga cepat sembuh."


[ "Oke, Tuan. Pesenan anda akan kami proses dalam waktu dekat. Apa ada lagi Tuan, yang ingin di sampaikan dalam pesanan anda?" ]


"Tidak, itu saja sudah cukup."


[ "Semuanya jadi lima ratus enam puluh ribu rupiah, Tuan." ]


"Aku sudah membayarnya, lewat rekening toko mu!" ujar Alan setelah mentransfer sejumlah uang, yang harus ia ke luarkan untuk sebuah buket bunga yang akan ia kirim untuk Layla.


[ "Baik Tuan, terima kasih sudah menggunakan jasa kami!" ]


"Hem." Alan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Kita lihat Layla, sebentar lagi pasti akan ada ke ributan di kediaman kalian, selamat bersalah paham lah kalian berdua!" Alan menyeringai dengan tatapan mata nya yang tajam.

__ADS_1


...☘️ Kediaman Amer☘️...


Siang yang terik, membuat siapa saja yang ingin ke luar rumah pasti akan mengurungkan niatnya. Namun tidak menyurut kan niat dan semangat Amer.


Ia tetap meluangkan waktunya untuk pulang ke rumah, menyempatkan waktu untuk makan siang bersama dengan istrinya, Layla.


Amer melangkahkan kakinya ke luar dari dalam mobil, setelah pak Jojo membuka kan pintu mobil untuk nya.


Ceklek.


"Terima kasih, pak!" seru Amer setelah senyum tersungging di sudut bibirnya.


"Sama sama Tuan!"


Dari luar rumah, telinga Amer sudah mendengar suara ke dua orang tuanya dan Layla, mereka tengah bersenda gurau.


"Assalamualaikum, mah, pah, sayang!" seru Amer yang melihat wajah orang orang yang ia sayangi masih subuk ngorol.


Amer menghampiri ke tiganya, yang sedang berada di ruang keluarga.


Amer mengerutkan keningnya, mendapati Layla yang tengah menghirup aroma buket mawar besar yang ada di tangannya.


"Bungan siapa itu, sayang? Cantik sekali, sama seperti diri mu." ucap Amer dengan menyalami ke dua orang tuanya.


Layla mengerut kan keningnya, mendengar pertanyaan Amer, "Lo, ini kan bunga dari ka Amer. Baru aja bunga ini aku terima dari kurir. Terima kasih ya ka, aku sangat menyukainya!" ujar Layla dengan riang, senyum tersungging di sudut bibirnya.


Aku tidak pernah mengirimkan Layla buket bunga, apa mungkin ini dari salah satu penggemar Layla?


"Maaf sayang, tapi aku tidak meminta seseorang, untuk mengantarkan buket bunga untuk mu!" terang Amer, yang membuat ke dua orang tuanya saling bertatapan, seketika itu pula senyum di wajah Layla berganti dengan ke bingungan.


"Kalo itu bukan dari mu, lalu itu dari siapa?" tanya Noer.


Amer mengambil buket bunga dari tangan Layla, mencari sesuatu yang mungkin saja ada petunjuk siapa pengirimnya.


Amer menemukan secarik kertas ucapan, di antara bunga bunga itu.


"Apa itu ka?" tanya Layla.


"Entah lah, ini baru aku mau bacakan!" ujar Amer.


Amer membacakan isi yang terdapat di dalam kertas ucapannya itu.


...Semoga lekas sembuh....


...Mr. A...


Layla mengerutkan keningnya, "Siapa itu Mr. A?" tanya Layla dengan polosnya.

__ADS_1


"Harusnya aku yang bertanya pada mu, Layla. Siapa itu Mr. A?" tanya Amer dengan suaranya yang kini menjadi dingin, tatapannya mencurigai Layla.


"Apa mungkin, kurirnya salah mengantarkan nya?" cicit Noer.


"Salah alamat gitu, maksud mami?" oceh Ali, meralat maksud perkataan dari istrinya.


"Iya, pah... bisa saja kan hal itu terjadi?" cicit Noer.


Amer mencoba menghubungi nomor telepon, yang tertera di kartu ucapan yang kini ada di tangannya.


[ "Flower Mocca di sini, ada yang bisa saya bantu?" ] suara seorang wanita yang menjawab panggilan telepon Amer.


"Begini mbak, apa benar tadi toko ada mengirimkan sebuah buket bunga ke alamat xxx? Saya ingin tahu, atas nama siapa buket bunga itu di pesan?"


[ "Maaf pak, buket bunga itu memang di tujukan ke alamat itu. Untuk menyangkut data pribadi pelanggan, kami tidak bisa memberi tahu identitas pengirim nya pak!" ]


"Ayo lah mbak, katakan pada saya. Siapa yang mengirimkan buket bunga itu? Wanita yang menerima buket bunga itu, adalah istri saya, saya berhak tahu siapa pengirimnya."


[ "Maaf ya, pak. Saya tidak bisa membantu." ]


Amer memutuskan sambungan teleponnya, melemparrr buket bunga itu ke lantai. Lalu ia injak dengan sepatu yang masih menempel di kakinya.


"Ka, Amer... apa yang kaka lakukan?" Layla menggenggem lengan Amer.


"Kau melihat ku sedang apa?" ucap Amer dengan ketus.


"Amer! Jaga bicara mu, sayang!" oceh Noer.


"Apa mungkin... selama ini kau sedang dekat dengan lelaki lain di belakang ku, Layla? Tanpa sepengatahuan ku! Kau berselingkuh?" tuduhan ke luar begitu saja dari bibir Amer dengan entengnya.


Jeger.


Hati dan perasaan Layla bak tersambar petir di siang bolong, suaminya tidak mempercayai dirinya, bahkan menuduhnya berselingkuh dengan pria lain.


"A- apa yang ka Amer katakan? Aku bukan orang yang seperti itu, ka! Aku tidak mungkin berselingkuh dari mu!" terang Layla.


Layla membela dirinya atas tuduhan yang di lemparrr kan Amer padanya.


"Apa kau pikir, aku harus percaya pada mu, Layla?"


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa tinggalkan komen dan jejak 😊😊

__ADS_1


__ADS_2