Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Aku jadikan itu alasan


__ADS_3

...💔💔💔...


"Dari mana lagi kalo bukan dari security yang bekerja di kantor ku."


"Cinta itu rumit ya! Jadi kau jatuh cinta dengan wanita yang bersuami?" Tanya dokter Samuel tanpa ada keraguan.


Amer mengerdikkan bahunya, "Mungkin!"


Dokter Samuel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, "Apa kau bolos kerja?" Tanya dokter Samuel dengan menatap Layla.


"Jaga pandangan mata mu darinya, Sam!" Seru Amer dengan ketus.


"Ihs kau ini! Dia bukan level ku!" Dokter Samuel beranjak dari duduknya, "Sudah saatnya aku kembali pada pasien ku. Kau tetap di sini atau mau kerja? Hem!" Tangan dokter Samuel sudah memegang handle pintu.


Amer melirik jam tangannya yang ada di pergelangan tangan kirinya, "Sebentar lagi juga aku ngantor." Oceh Amer dengan cuek.


Dokter Samuel pergi meninggalkan ruang rawat, kini tinggal lah Amer dan Layla yang berada di sana.


Amer menatap Layla yang masih memejamkan ke dua matanya,"Hai wanita kurus! Apa kau tidak ingin berangkat kerja? Apa kau tidak lelah memejamkan mata mu terus?" Amer menggelengkan kepalanya, rasanya percuma aku bicara dengan mu, kau tidak mau bangun dan membuka ke dua mata mu.


Amer hendak beranjak dari duduknya meninggalkan Layla seorang diri.


Grep.


Jemari Layla menggenggam ujung jas yang di kenakan Amer, hingga menghentikan pergerakan Amer yang akan beranjak dari duduknya.


Amer menarik sudut bibirnya ke atas dengan mata yang berbinar, aku rasa kau tidak ingin jauh dari ku.


Amer kembali mendudukkan dirinya di tepian ranjang dengan tangan kiri yang menggenggam jemari Layla, "Aku harap, kau akan segera membuka mata, La!" Tangan kanannya mengelusss pipi Layla yang tampak halus dan lembut.


Amer merogoh saku jasnya dan mengeluarkan hapenya, setelah mendiel nomor yang akan ia hubungi.


"Atur ulang jadwal meeting ku hari ini, aku minta sampai jam makan siang jadwal ku kosong!"


[ "Tapi pak, ada meeting penting dengan klien... artis yang nantinya akan menjadi model saat launching produk baru, pak." ] Oceh sekretaris pribadi Amer.

__ADS_1


"Aku tidak perduli, jika artis itu tidak siap dengan perubahan jadwal, gantikan saja dengan kandidat yang lainnya!" Seru Amer.


["Baik lah, pak!" ] Sekretaris itu menyetujui perubahan jadwal yang di minta Amer.


Amer menaruh hapenya di atas lemari kecil yang ada di samping ranjang rawat.


Amer menatap dalam wajah Layla, tidak lama Layla mengerjapkan ke dua matanya dengan jemari yang ikut bergerak meski perlahan.


Saat ke dua mata Layla terbuka, orang yang pertama kali Layla lihat adalah Tuan Amer dengan senyuman yang tampak manis melengkapi pahatan wajahnya yang tampan.


"Kau sudah sadar, La!" Amer menekan tombol darurat yang berada tidak jauh dari atas kepala Layla.


"Aku di mana?" Tanya Layla dengan suara yang lemah.


"Saat ini kau ada di rumah sakit." Ujar Amer.


Ceklek.


Seorang perawat dan dokter Samuel memasuki ruang rawat Layla.


"Selamat pagi juga, dok." Ucap Layla lemah, ini kan dokter yang semalam itu, di rumah Tuan Amer juga dia kan orang yang memeriksa tubuh ku?


"Kita periksa dulu ya keadaan mu?"


Dokter Samuel memeriksakan keadaan Layla dengan tetoskop miliknya, tidak lupa perawat mencatat denyut nadinya.


Serangkaian demi serangkaian telah di lalui Layla. Sedangkan Amer, berdiri di ujung ranjang rawat, matanya tidak lepas dari Layla.


"Tensi mu sangat rendah, perbanyak lah istirahat... jangan lupa sesering mungkin untuk meminum air putih, segala macam bentuk mie di stop dulu. Cukup istirahat, makan makanan yang bergizi, teratur minum obat itu akan cukup untuk membuat tubuh mu pulih kembali.


"Kalu begitu, kami permisi dulu ya Nona Layla." Ujar dokter Samuel yang meninggalkan ruang rawat bersama dengan perawat.


Setelah kepergian dokter Samuel dan perawat, kini tinggal lah Layla dan Amer yang berada di dalamnya.


Amer mendudukan dirinya di sofa yang ada di samping ranjang rawat dengan tangannya yang menggenggam jemari kanan Layla.

__ADS_1


Namun Layla menarik tangannya, "Maaf Tuan, bukan muhrim." Ujar Layla, tidak sepantasnya aku dan Tuan Amer berada di dalam ruangan ini hanya berdua saja.


"Iya, maaf... aku hanya menghawatirkan mu!" Seru Amer yang merasa Layla menolaknya.


"Tuan menghawatirkan saya? Kenapa? Kita ini orang lain kan?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Layla.


Raut wajah Amer tampak kecewa mendengar Layla yang mengatakan dirinya orang lain.


"Tuan belum menjawab pertanyaan saya, kenapa Tuan menghawatirkan saya? Bisa Tuan katakan apa alasannya?" Layla mendesak Amer untuk mengatakannya.


Deg deg deg.


Detak jantung Amer seakan berdetak sangat kencang.


"Aku ini bos mu di kantor, wajar kan jika seorang atasan menghawatirkan bawahannya!" Seru amer dengan hati yang perih, aku harus memberikan mu waktu Layla.


"Maaf aku banyak merepotkan, Tuan." Ujar Layla, "Untuk pembayaran biaya rumah sakit, pasti akan aku ganti meski dengan cara mencicilnya." Ujarnya lagi.


Amer lagi lagi di buat kecewa dengan Layla, tapi sejurus kemudian angin segar muncul di kepalanya, dia tidak perlu lagi mencari cari alasan untuk membuat Layla tetap bersamanya.


Kau duluan La yang menganggap biaya perawatan rumah sakit mu ini adalah hutang, baik lah... jika itu mau mu, akan aku jadikan itu alasan untuk diri mu tetap bertahan di rumah ku.


Amer menajamkan matanya menatap Layla, "Kalo begitu kapan kau mulai mencicil hutang mu pada ku?"


Layla menarik sudut bibirnya ke atas, "Setelah gaji ku ke luar... aku pasti akan mulai mencicilnya.


"Lalu bagai mana dengan tempat tinggal mu? Maksud ku, setelah kau pulih dan bisa ke luar dari rumah sakit, kau akan tinggal di mana? Apa kau akan kembali pada suami bejattt mu itu?


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol 🤭


Author gabut sebatas halu.

__ADS_1


__ADS_2