
...πππ...
"Jangan coba coba bermain main dengan saya ya! Anda belum tahu siapa saya!" Seru Amer dengan suaranya yang datar dan penuh penekanan.
"Ada apa ini!"
Amer melepaskannn tangannya dari Rudi dengan mendorong tubuh Rudi ke depan.
Rudi menatap tajam pada Amer, kurang ajarrr orang ini! Bisa bisanya dia ngancam ku! Memang dia pikir aku takut padanya!
Sipir penjara datang dan mengatakan waktu untuk berkunjung telah habis.
Layla kembali pulang ke rumah Amer.
"Maaf Tuan, saya jadi melibatkan Tuan lebih jauh lagi." Ujar Layla saat di dalam mobil.
"Ini ke inginan ku Layla, aku yang akan melindungi mu dari pria brengsekkk itu." Amer berkata dengan sorot mata yang teduh menatap Layla.
Layla menatap sepasang mata Amer yang teduh, yang memberikan ke tenangan hanya melihat sorot mata dan senyum Amer yang mengembang pada Layla.
Tuan Amer begitu baik pada ku.
"Apa kita akan langsung kembali ke rumah, Tuan?" Tanya Jojo pak supir yang setia mengemudikan mobil Tuan-nya Amer.
"Ya, kita langsung pulang saja, pak!" Seru Amer.
Kruuk kruk kruk.
Perut Layla berbunyi.
Layla tersenyum simpul dan mengatakannya dengan malu, "Maaf Tuan." Dasarrr perut tidak bisa di kondisikan, tadi kan di rumah sakit aku sudah makan.
Layla mengumpat pada perutnya sendiri dengan mengelusss perutnya yang rata.
Amer terus menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Layla yang malu di hadapannya, Amer merangkul bahu Layla, "Kita makan dulu ya!" Seru Amer yang tidak lagi malu untuk memperlakukan Layla dengan mesra.
Layla hanya menganggukkan kepalanya dan menatap tangan Amer yang kini merangkulnya.
"Tidak apa, lagi pula kau akan berpisah dengan suami brengsekkk mu itu Layla, jangan larang aku untuk mencurahkan rasa sayang ku ini pada mu, Layla. Cukup kau terima saja apa yang aku berikan pada mu Layla." Amer mengatakannya dengan tatapan lurus ke depan, tidak ingin perkataannya di bantah oleh Layla.
Layla membuang nafasnya dengan kasar, apa begini rasanya memiliki seseorang yang siap kapan pun untuk ku, mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk ku? Bahkan Tuan Amer tidak sayang untuk merogoh dompetnya lebih dalam hanya untuk ku.
Pak Jojo menghentikan laju mobilnya di sebuah restoran ternama yang ada di sisi jalan.
Pak Jojo turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Amer.
"Terima kasih, pak." Amer berseru pada pak Jojo.
"Ayo Layla, kau tunggu apa lagi?" Tanya Amer yang melihat Layla masih duduk di tempatnya.
Layla turun dari mobil, "Tapi Tuan." Layla celingkukan melihat restoran yang dari luar saja sudah terlihat mewah.
Amer menggenggammm tangan Layla, "Kau ikut saja apa kata ku, Layla!"
Amer melihat Hendra dan Jono yang masih berdiri di tempatnya.
"Kalian berdua, ayo masuk! Pak Jojo juga ayo! Mau tunggu apa lagi kalian!" Seru Amer pada ke 3 anak buahnya.
"Apa kami tidak seharusnya menunggu di luar saja, pak?" Tanya Hendra.
__ADS_1
"Tidak, kalian bertiga itu orang ku, perut kalian menjadi tanggung jawab ku." Seru Amer yang lagi lagi tidak ingin di bantah perkataannya.
Ke tiganya mengikuti langkah Amer dan Layla dari belakang.
Setelah berdebat cukup alot, ke tiga anak buah Amer pun makan di meja yang berbeda.
"Maaf Tuan, bukan kami menolak. Ini akan lebih baik untuk Tuan melakukan pendekatan pada Nona Layla!"
Itu lah alasan yang di berikan pak Jojo yang akhirnya mampu membuat Amer diam seribu bahasa dan menyetujui ke putusan Jojo, Jono dan Hendra.
Layla memakan makanannya dengan lahap. Sedangkan Amer sesekali memperhatikan cara Layla makan.
Amer membatin, lucu sekali! Berbeda dengan Aulia, saat makan bersamanya dia pasti akan mengabaikan sedikit porsi makannya, dengan alasan lagi diet. Sedangkan Layla, ia sanggup menghabiskan beberapa menu yang aku pesan.
Layla yang baru menyadari jika sedang menjadi perhatian Amer pun akhirnya menghentikan makannya, lalu tangannya menyambar segekas air putih dan meminumnya.
"Maaf Tuan, ada apa ya Tuan melihat saya sampai sebegitunya?" Tanya Layla yang mulai lagi makannya dengan perlahan alias malu malu.
Amer menarik sudut bibirnya ke atas, tangannya terulur menyingkirkan sisa makanan yang terdapat di sudut bibir Layla dengan jempolnya, lalu membawanya ke mulut Amer.
"Rasanya kenapa jadi manis ya?" Tanya Amer yang membuat rona merah tampak di ke dua pipi Layla.
Layla menoleh ke kanan dan kiri, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan Amer "Tuan jangan seperti itu, saya jadi malu!" Seru Layla dengan suaranya yang pelan.
Amer ikut mencondongkan tubuhnya ke depan Layla, "Tidak apa, jangan malu. Kan hanya di hadapan ku saja!" Seru Amer dengan suaranyanya yang ikut pelan.
"Tuan meledek saya?" Layla membulatkan ke dua matanya dengan duduknya yang tegak.
"Tidak Layla, mana berani aku meledek mu! Sudah kau lanjutkan lah lagi saja makan mu! Ayo aaaa!" Amer mengarahkan potongan daging steak di depan mulut Layla.
Layla memakannya dengan malu malu.
"Ada apa, pak?" Tanya Hendra pada pak Jojo saat melihat ke meja Tuan-nya kini.
"Saya senang melihat Tuan Amer akhirnya bisa menemukan cintanya yang hilang." Ujar pak Jojo
"Maksudnya, pak?" Kini Jono yang bertanya.
"Jika aku menceritakannya pada kalian, tidak akan selesai cerita ku hanya dalam sehari. Intinya Tuan Amer kini sudah menemukan pelabuhan hatinya, Nona Layla." Ujar Jojo dengan menyantap daging steak miliknya ke dalam mulutnya.
Acara makan siang yang berjalan dengan lancar dan tenang kini terusik dengan datangnya seorang wanita cantik dengan gaun yang kurang bahan yang merekatkan tangannya pada bahu Amer.
"Hai Amer! Rupanya kau di sini! Siapa wanita ini Amer!" Seru Tasya yang berdiri di samping Amer, dengan menaruh satu tangannya pada bahu Amer. Menatap sinis pada Layla.
Amer menepis tangan Tasya dari bahunya dengan kasar.
"Tolong jaga sikap mu, Tasya! Wanita ini adalah calon istri ku!" Seru Amer dengin dingin pada wanita yang baru saja menyapanya.
Layla tersendak saat Amer mengatakan jika dirinya adalah calon istrinya.
"Uhuk uhuk uhuk."
Tangan Amer terulur memberikan segelas air putih miliknya pada Layla, "Minum dulu, sayang!" Serunya dengan lembut.
Tasya menatap tajam pada Amer, "Kau bohong kan Amer! Wanita ini bukan lah calon istri mu, aku yang calon istri mu Amer!" Seru Tasya yang menunjuk jari telunjuknya pada Layla.
Matanya menatap tajam pada segelas air putih milik Layla, tangan Tasya terulur meraih gelas itu dan menumpahkan isinya ke arah Layla.
Byuuuurrrrr.
__ADS_1
Bukan wajah Layla yang ia siram dengan air. Tangan Amer lebih dulu mencegah tangan Tasya yang hendak menyiramkan air putih ke arah Layla menjadi ke arah Tasya.
"Akkkkhhh, kau Amer! Tega sekali kau pada ku!" Tasya berteriak dengan dadanya yang basahhh karena terkena tumpahan air.
"Kau yang sudah ke terlaluan, Tasya!" Seru Amer yang memilih untuk membawa Layla ke luar dari restoran.
"Ayo Layla, kita pergi dari tempat ini!" Amer menggenggam tangan Layla.
Tasya hendak menarik tangan Layla namun di tepis oleh Hendra.
"Jangan coba coba anda menyakiti Nona saya!" Seru Hendra dengan tegas.
"Kerja bagus, Hendra!" Seru Amer.
"Ihs kau Amer!" Awas ya wanita sialannn tunggu pembalasan ku! Kau sudah membuat ku malu, aku tidak akan membiar kan mu merebut Amer dari ku!
Di dalam mobil.
"Tuan, wanita yang tadi itu. Sepertinya sangat mencintai Tuan!" Layla memecah keheningan.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu, Layla?" Amer menatap dalam mata Layla, tangannya terus menggenggammm tangan Layla.
"Dari sorot matanya Tuan, wanita itu sangat marah saat Tuan mengatakan aku ini calon istri Tuan." Ujar Layla.
"Memang itu kenyataannya kan! Aku akan menikahi mu setelah persolan mu dengan pria brengsekkk itu selesai, setelah kalian ketuk palu, aku akan menikahi mu Layla!" Amer mengecup punggung tangan Layla.
"Bagai mana dengan orang tua Tuan, apa orang tua Tuan tidak akan mempermasalahkan status saya kelak? Apa orang tua Tuan akan memberikan restunya pada saya? Saya hanya wanita biasa, bukan seperti teman Tuan tadi itu yang tampak ---"
Amer menghentikan perkataan Layla dengan jari telunjuk kanannya yang di tempelkan pada bibir Layla.
"Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun dari mu Layla! Yang aku ingin dengar adalah pesetujuan dari mu, itu jauh lebih penting." Amer mengatakannya dengan serius.
"Bagai mana dengan restu orang tua? Itu juga tidak kalah penting, Tuan! Rumah tangga yang di bina tanpa adanya restu dari orang tua tidak akan berjalan dengan mulus, Tuan." Ujar Layla yang berfikir jika orang tua Amer tidak akan memberikan restu untuk Layla dan Amer jika mereka bersatu.
"Aku yakinkan pada mu Layla, orang tua ku akan memberikan restu pada kita kelak!" Amer membawa Layla bersandar pada dadanya yang bidang.
πRumah sakitπ
Kini Melisa di pindahkan ke ruang perawatan setelah melakukan kiret.
Mia menatap sinis pada Melisa yang tengah berbaring di atas ranjang rawat inap.
Sedangkan Mia berdiri di sampingnya, "Harusnya lo berterima kasih pada Layla! Jika bukan dia, mungkin aja lo udah ikut dengan anak lo itu, ke neraka lo!" Sungut Mia dengan nada sinis.
"Sialannn lo, bibir lo bisa di saring gak sih! Gak tau apa gw habis di kiret! Jangan cari ribut deh lo!" Sungut Melisa.
"Dih najong banget gw cari ribut sama lo! Buang buang tenaga." Mia melangkah menjauh dari ranjang rawat Melisa.
"Tunggu! Lo mau ke mana?" Melisa menghentikan langkah kaki Mia dan bertanya padanya.
...Bersambung......
...πππππ...
Salam manis author gabut π
Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran π€π€
Author gabut sebatas halu π
__ADS_1