Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Mengusir


__ADS_3

...💔💔🥺...


"Iya Tuan, Puput ini calon istri Tuan kan? Tuan lupa bagai mana Tuan menyayangi Puput lebih dari saya yang ibu kandungnya Puput?" Ujar bi Asih dengan menatap nanar mata Amer, ayo Amer, kau harus mendengarkan apa kata ku, aku wanita tua yang selama ini mengurus mu di saat Nyonya dan Tuan besar sibuk dengan pekerjaannya di kantor dan sibuk traveling.


Puput beranjak berjalan mendekati Amer dengan kepercayaan dirinya yang setinggi langit ia berkata, "Benar ka Amer, apa yang di katakan ibu. Ka Amer mencintai ku kan? Kaka Amer mengirim ku ke luar negeri untuk belajar di sana juga karena ka Amer sayang pada ku, kan? Ka Amer ingin yang terbaik untuk ku kan?" Ayo pria bodoh, katakan iya jika kau sangat mencintai ku!


Amer menghembuskan nafasnya dengan kasar, rupanya mereka berdua sudah salah menilai ke baikan ku selama ini!


Amer memasukkan satu tanganya ke dalam saku celananya dengan menatap tajam bi Asih dan Puput secara bergantian.


"Maaf, sepertinya kalian sudah salah paham dalam menilai ku!" Seru Amer dengan suaranya yang tegas.


Puput hendak meraih tangan Amer namun Amer lebih dulu menepisnya.


"Jangan kurang ajarrr, Puput! Di sini aku Tuan mu!" Ucap Amer dengan sinis.


Bi Asih yang diam menatap Amer kini berjalan menghampiri Amer, "Ini pasti karena wanita bersuami itu, karena dia kan... Tuan jadi berubah seperti ini pada Puput dan pada ku? Karena wanita ular itu juga, Tuan lupa akan janji Tuan pada Puput! Tuan, wanita itu ----"


Amer membentak bi Asih dengan menunjuk jari telunjuk tangan kanannya ke arah bi Asih, ke dua matanya menatap tajam dengan satu tangannya yang mengepal, rahang pipi Amer tampak mengeras menunjukkan seberapa besar ia marah akan perkataan yang sudah di ucapkan bi Asih.


Amer meminta wanita paruh baya itu untuk tidak melanjutkan bicaranya kembali yang hanya menyudutkan Layla.


"Cukup bi!"


Bi Asih dan Puput terperanjat mendengar Amer yang berbicara dengan nada tinggi.


Kepala keamanan yang sudah geram melihat tingkah bi Asih pun angkat bicara setelah menunduk hormat pada Amer.


"Maaf Tuan jika saya ikut campur."


Amer menoleh ke arah kepala keamanan, "Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Amer dengan suaranya yang datar.


Kepala keamanan pun berkata, mengungkapkan apa yang ada di hatinya, "Apa tidak sebaiknya mereka berdua di beri hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah di perbuatanya? Bi Asih sudah bertindak sewenang wenang pada pelayan lain yang bekerja di rumah ini, Tuan!"


Bi Asih membantah perkataan kepala keamanan itu dengan suaranya yang meninggi, "Itu tidak benar, Tuan... apa yang di katakan nya itu sama sekali tidak benar, dia memfitnah saya, Tuan!"

__ADS_1


Amer menatap tajam bi Asih dan Puput, "Saat ini juga, kemasi barang barang kalian. Mulai saat ini, pintu rumah ini tertutup untuk kalian berdua!" Seru Amer dengan tegas.


Bi Asih memeluk kaki Amer berkata dengan mengiba, "Tidak Tuan, jangan setega itu mengusir saya dan Puput, jika Tuan mengusir saya dan Puput dari rumah ini, saya akan tinggal di mana lagi, Tuan?"


Bi Asih melirik Puput yang diam tidak bergeming dengan gerakan kepalanya, meminta Puput untuk melakukan apa yang sedang ia lakukan pada Amer.


Puput berlutut dan memeluk kaki Amer, melakukan seperti apa yang tengah di lakukan bi Asih, ibunya.


Puput berkata dengan menangis untuk mengambil simpati Amer, "Benar ka Amer, jika ka Amer mengusir ku dan ibu... kami akan tinggal di mana? Ka Amer jangan setega dan sejahat itu pada kami berdua ka. Aku sudah menganggap kaka lebih dari sekedar kaka ku, aku mencintai ka Amer, jangan jahat pada ku ka!"


Amer menghempaskan tubuh ke duanya dari kakinya dengan keras hingga ke duanya terjerembab di atas lantai.


Bugh.


Bugh.


Amer memerintahkan kepada kepala keamanan untuk mengemasi barang barang milik bi Asih dan Puput.


"Pak Jaya! Bantu bereskan semua barang barang milik keduanya. Saat saya kembali, saya ingin ke duanya sudah tidak lagi ada di rumah ini!" Ucap Amer yang kali ini tidak ingin di bantah.


Pak Jaya berjalan ke arah kamar bi Asih dan Puput untuk mengemasi barang barang ke duanya.


Amer mengeluarkan selembar amplop coklat dari dalam saku celananya dan menyerahkannya pada bi Asih.


Bi Asih menyeka air matanya mendongakkan kepalanya menatap Amer, "Tuan, tolong Tuan. Jangan sejahat ini pada saya, Tuan!"


"Aku tidak sejahat itu bi, itu bisa kau pergunakan untuk memulai hidup baru kalian." Ucap Amer dengan tatapan yang sinis, maaf bi, aku harus berbuat ini pada kalian. Jika hati ku melunak, kau pasti akan lebih berbuat kejammm lagi pada Layla.


Puput melirik ke arah amplop coklat yang di pegang ibunya, bi Asih, itu pasti uang, cukup lah untuk ku bersenang senang.


Bi Asih melihat isi amplop coklat yang ada di tangannya, matanya membola, ini jauh dari kata cukup bila di bandingkan dengan harta yang akan di miliki Puput jika ia menikah dengan tuan Amer. Harta Tuan Amer tidak boleh jatuh pada wanita sialannn itu, wanita itu hanya wanita asing yang datang di hatinya Tuan Amer.


Bi Asih menatap Amer dengan tatapan yang nanar, "Tuan, tolong pikirkan sekali lagi, saya tidak seburuk itu Tuan... bukan saya yang melakukan nya! Saya tidak tahu apa apa Tuan!"


Puput menajamkan pandangannya pada bi Asih, astaga ibu apa yang ibu lakukan? Ibu sudah terlalu mengemis pada pemuda sialannn ini!

__ADS_1


Pak Jaya kembali menghampiri Amer dengan menyeret 2 koper besar milik bi Asih dan Puput.


"Ini barang ke duanya, Tuan!" Seru pak Jaya dengan menyeret dua koper besar ke arah bi Asih dan Puput.


"Tolong Tuan, jangan sejahat itu pada saya Tuan! Jangan setega ini mengusir saya dan Puput dari rumah ini, Tuan!" Seru bi Asih yang kini menggengam kopernya.


"Kau yang sudah jahat pada ku, bi! Sudah dengan sengaja meracuni wanita yang akan menjadi istri ku!"


Bi Asih menggelengkan kepalanya, sialannn, dari mana Amer tahu jika aku yang meracuni wanita sialannn itu? Obat itu harusnya bekerja dengan cepat tanoa meninggal kan jejak.


Bi Asih berkilah, "Bukan saya Tuan, saya tidak tahu apa apa, Tuan!"


"Pak Jaya, pasti kan ke duanya tidak lagi ada di rumah ini saat saya kembali!" Seru Amer melangkah meninggalkan Puput dan bi Asih.


Bi Asih mencoba mengejar Amer untuk menghalanginya, namun di cegah oleh pak Jaya dengan memegangi pergelangan tangan bi Asih dengan kencang.


Amer melangkah dengan ringan menuju mobilnya dengan di bukakan pintu mobil oleh pak Jojo.


"Kita langsung kembali ke rumah sakit, pak! Aku sudah terlalu lama meninggalkan Layla bersama dengan mama dan papa." Ujar Amer, mudah mudahan saja mama tidak mengajarkan hal gila pada Layla.


Amer menyandarkan punggungnya pada kursi mobil, membayangkan wajah Layla yang tengah tersenyum padanya.


"Kebahagiaan pasti akan datang pada mu, Layla!" Gumam Amer.


"Itu pasti, Tuan. Selama Tuan bisa melindungi Nona Layla." Ucap pak Jojo.


...Bersambung......


...💔💔💔💔💔...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🤭🤭


Author gabut sebatas halu 😉

__ADS_1


__ADS_2