Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Tidak akan kembali


__ADS_3

...💔💔💔...


Alan langsung mengalihkan pandangannya, saat Layla mengakhiri panggilan teleponnya, kenapa wanita itu, tidak mengata kan yang sebenarnya pada Tuan Amer? Jika aku memarahinya?


Hingga jam makan siang datang, Alan menatap Layla yang tengah bersiap setelah menerima pesan di hape-nya, entah itu pesan dari siapa.


"Apa kau akan makan siang? Kau pasti tidak tahu kan kantin di gedung ini!" Alan berkata, dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi ke besarannya yang tengah ia duduki, dengan satu kaki menyilang ke atas kakinya.


Layla beranjak dari duduknya, meletakkan sebuah flashdisk di atas meja kerja Alan.


"Ini Tuan, disein yang anda inginkan! Aku tidak akan kembali ke tempat ini, karena aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku untuk minggu ini kan!" ucap Layla dengan menarik sudut bibirnya ke atas.


"Tapi bagai mana jika aku tidak suka dengan hasil disein yang kau buat kali ini?" Alan menyeringai, enak saja, penderitaan mu di kantor ku belum aku mulai, kau tidak akan mungkin bisa... lolos begitu saja dari ku.


"Tuan jangan khawatir, aku sudah buat beberapa disein di dalam sana. Tapi jika memang Tuan tidak berkenan dengan hasil disein buatan ku, aku rasa Tuan sendiri lah yang harus membuat disein Tuan sendiri."


"Kau --"


"Maaf Tuan, suami ku sudah menunggu ku di lantai bawah. Saya duluan, Tuan." Layla melangkah kan kakinya ke luar dari ruang kerja barunya.


Ceklek.


Nusi yang ingin masuk ke dalam ruang kerja Tuan-nya, berpapasan dengan Layla yang hendak ke luar dari ruang kerja Alan.


"Anda mau ke mana, Nona?" tanya Nusi.


"Tentu saja makan siang, ini kan sudah waktunya jam istirahat. Saya duluan ya, pak!" Layla melenggang melewati Nusi.

__ADS_1


Nusi menatap punggung Layla, yang semakin menjauh dari pandangan nya.


"Tuan, itu Nona Layla. Tuan biarkan pergi begitu saja?" Nusi berdiri di depan meja kerja Alan.


"Siapa bilang aku akan melepaskannn nya!" Alan menatap dingin flashdisk yang ada di atas meja kerjanya.


"Tapi itu Nona Layla, baru saja ke luar dari sini!" ujar Nusi.


Alan beranjak dari duduknya, "Kita ikuti Layla, dia pasti belum jauh." Alan berjalan dengan langkah pasti, ke luar dari ruang kerjanya dengan membawa serta flashdisk yang tadi di berikan Layla padanya.


Nusi mengikuti Tuannya dari belakang.


Amer menyambut Layla dengan pelukan hangat, rasanya sudah terlalu lama baginya tidak melihat Layla.


Amer mengeratkan tangannya, pada punggung Layla yang berada dalam pelukannya.


"Baik lah ka, siapa bilang pak Alan akan memperlakukan ku dengan buruk, hem?" Layla menunjukkan senyum manisnya, dengan ke dua lesung pipinya.


Kruuk kruk kruk.


Cacing di dalam perut Layla berbunyi, seolah mengingatkan ke duanya untuk berhenti bicara.


Amer mengulur kan tangannya ke perut Layla yang rata, lalu mengelusss nya, "Kau pasti sudah sangat lapar, maaf ya, aku jadi lupa dengan hal yang paling utama." ucap Amer seolah dirinya sedang berbicara dengan perut Layla.


Tanpa Layla dan Amer sadari. Mulai berkicau dari bibir karyawan Ardiansyah group, yang senang bergosip.


Tampak terlihat dari pasang mata, yang menatap ke wanita yang ia tahu, tadi pagi memasuki gedung Ardiansyah group bersama dengan Nusi, siapa lagi kalo bukan Layla.

__ADS_1


"Bukannya itu wanita yang datang bersama dengan pak Nusi? Lalu pria yang sedang bersamanya siapa?" ujar wanita yang berdiri di meja resepsionis.


"Mungkin suaminya, intens sekali kan di lihatnya!" ujar resepsionis lainnya.


"Aku pikir wanita itu kekasih pak Alan! Karena setahu ku, wanita itu tadi masuk ke dalam ruang kerja pak Alan." gumam wanita yang mengenakan seragam hijau, seragam office girl di gedung Ardiansyah group.


"Eh lihat itu! Ada pak Alan dan pak Nusi." ucap salah seorang karyawan.


Yang langsung tutup mulut, saat melihat bos arogannya tengah menampakkan batang hidungnya.


Layla mulai merasa tidak nyaman, saat menyadari ada beberapa pasang mata, yang memperhatikan tingkah ke duanya.


"Apa sih ka, malu ih. Kita jadi pusat perhatian orang!" Semburat merah muncul di ke dua pipi Layla.


Amer mengayunkan ke dua kaki nya, dengan menggenggammm jemari Layla, "Biar saja, biar mereka tahu jika kau ini hanya milik ku!" tutur Amer.


Layla dan Amer melangkah meninggalkan lobby Ardiansyah group, mereka berjalan ke arah mobil Amer terparkir.


"Kita akan maka siang di mana, ka?" tanya Layla yang kini masuk ke dalam mobil, setelah Amer membukakan pintu mobil untuk sang istri, baru lah Amer hendak masuk ke dalam mobil. Namun langkah kakinya tertahan, saat ada seseorang yang menyerukan namanya.


"Pak Amer Khan, tunggu!" suara bariton Alan terdengar di telinga Amer.


Amer membalikkan tubuhnya, melihat ke arah asal suara yang menyerukan namanya.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Bersambung......

__ADS_1


Salam manis author gabut 😊


__ADS_2