Kau Tikung Aku

Kau Tikung Aku
Keterlaluan


__ADS_3

...πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Bi Asih membawakan secangkir kopi untuk Tuan besarnya yang berada di ruang tamu, enak banget si Layla, baru jadi tamu beberapa hari udah di akui calon mantu! Awas saja kalo Nyonya besar sampai tidak mengusir wanita itu!


Bi Asih meninggalkan dapur yang berada persis di depan ruang makan dengan tatapan yang sinis mengarah pada Layla yang tanpa sengaja mereka saling beradu pandang.


Bi asih memanyunkan bibirnya saat Layla tersenyum ke arahnya, dasarrr wanita ular, awas saja kau Layla. Saat Tuan Amer tidak berada di sekitar mu, aku buat kau tidak nyaman tinggal di rumah ini.


Layla mengerutkan keningnya melihat bi Asih yang bersikap seperti itu padanya, apa cuma perasaan aku aja kali ya? Bi Asih seperti tidak suka dengan ke hadiran ku di rumah ini!


"Ayo Layla, makan yang banyak, kalo perlu kamu nambah makannya!" Seru Noer yang ikut menambahkan sedikit nasi pada piring Layla.


"Tapi tante, ini sudah terlalu banyak!" Layla menatap piringnya yang kembali terisi oleh nasi, Layla menelan salivanya dengan susah, bagai mana aku bisa menghabiskan ini semua? Ini terlalu banayk!


Amer menggenggam jemari Layla, "Jika kau sudah kenyang, tidak perlu di paksakan Layla! Biar mama yang akan menghabiskan makanan mu!" Seru Amer dengan menatap mamanya.


"Amer! Kamu nakal ya! Mama hanya ingin calon mantu mama ini sehat, memiliki badan yang berisi." Ujar Noer yang mulai bawel dengan penampilan Layla.


Amer mengerutkan keningnya, merasa perkataan mamanya itu keterlaluan, "Maaaah!" Seru Amer dengan nada yang dingin.


"Maaf ya, syang! Mama tidak bermaksud merendahkan kamu lo!" Oceh Noer yang tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Tidak apa tante, saya mengerti kok." Layla menarik sudut bibirnya ke atas, begini rasanya memiliki keluarga yang utuh, benar benar di perhatikan sampai hal sekecil pun.


Mereka bertiga melanjutkan makannya dengan Noer yang banayk bertanya.


πŸ‚Sementara di ruang tamuπŸ‚


"Maaf, Tuan besar... saya sedikit lama!" bi Asih berdiri di depan Tuan-nya yang tengah duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Bi Asih meletakkan secangkir kopi hitam buatannya di atas meja di hadapan Ali.


"Di ruang makan seperti ramai sekali, bi? Apa Amer sedang kedatangan tamu, bi?" Tanya Ali dengan tangannya yang terulur untuk meraih cangkir kopi hitamnya.


Bi Asih tersenyum sinis, jika Nyonya besar tidak berhasil, makan yang ini gw harus berhasil.


"Apa bi, katakan saja?" Tanya Ali yang mendapati kepala pelayanan rumah putranya Amer tampak bimbang untuk mengatakannya.


Bi Asih menarik nafasnya dengan kasar.


Ke dua mata bi Asih terus saja menatap ke arah dapur saat bicara dengan Tuan besarnya Ali.


"Begini Tuan, sepertinya Tuan besar harus memisahkan tuan muda amer dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya, Tuan!"

__ADS_1


Kening Ali di buat mengerut dengan perkataan bi Asih.


"Maksudnya apa bi? Coba bicara yang jelas bi!" Ali meminta bi Asih untuk memperjelas perkataannya.


Bi Asih menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Gini loh, Tuan. Tuan Amer kan sudah cukup dewasa, bagai mana jika Tuan besar mencarikan jodoh untuk Tuan Amer. Saya jamin tuan amer pasti akan menurut."


"Perkataan mu semakin tidak ada jelasnya, bi!" Ali menaruh kembali gelas kopinya di atas meja.


"Anu loh Tuan besar, Tuan Amer membawa pulang wanita yang sudah bersuami." Ujar bi Asih yang langsung berhenti berkata saat melihat amer, Noer dan Layla tengah ke luar dari ruanh makan.


Noer tampak dekat dengan Layla, dengan caranya Noer memandang Layla dapat di artikan jika Noer menyukai sosok Layla.


"Pah, coba lihat siapa ini!" Noer berseru pada suaminya ali.


...Bersambung......


...πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”...


Salam manis author gabut 😊


Jangan lupa yang mampir kasih jempol sama komen buat saran 🀭🀭

__ADS_1


Author gabut sebatas halu πŸ˜‰


__ADS_2