
...💔💔💔...
Layla menarik sudut bibirnya ke atas, "Setelah gaji ku ke luar... aku pasti akan mulai mencicilnya.
"Lalu bagai mana dengan tempat tinggal mu? Maksud ku, setelah kau pulih dan bisa ke luar dari rumah sakit, kau akan tinggal di mana? Apa kau akan kembali pada suami bejattt mu itu?
Layla diam dengan tangan yang meremasss selimut yang menutupi tubuhnya, mana mungkin aku kembali pada bang Rudi, cinta ku hanya akan menyakiti ku. Lebih baik ku kubur dalam dalam rasa cinta ku pada bang Rudi. Sudah cukup selama ini ku tutup telinga atas apa yang sudah mereka katakan tentang mu bang, tapi setelah aku melihat tingkah bejattt mu, kau lebih kejam dari hewan bang, kau manusia berhati ibliss.
Layla menajamkan matanya, sorot matanya mencerminkan betapa sakit hatinya atas perlakuan Rudi.
"Ehem." Amer berdehem.
Layla tersadar dari pikirannya tentang Rudi.
"Aku bisa membiarkan mu tetap tinggal di rumah ku, kalo kau mau... kau juga bisa tetap menempati kamar ku." Ujar Amer dengan membenarkan posisi dasi yang ia kenakan.
Layla menatap Amer, aku baru tahu jika Tuan Amer ini baik. Tapi kenapa selama di kantor aku tidak pernah melihatnya atau jangan jangan Tuan ini hanya ingin menipu ku?
"Maaf Tuan, jika aku boleh jujur... Tuan Amer tidak sedang menipu ku kan?" Tanya Layla dengan wajah yang polosnya.
Amer mengerutkan keningnya dan menatap lembut Layla, apa lagi yang membuatnya ragu jika aku ini bosnya?
"Apa ada dari wajah ku yang mencerminkan jika aku ini penipu?" Tanya Amer dengan serius.
"Emmmm, bukan begitu Tuan... tapi selama aku bekerja di kantor, aku tidak pernah melihat Tuan mengikuti jalannya meeting." Terang Layla.
"Hanya karena aku tidak mengikuti meeting jadi membuat mu pantas untuk meragukan diri ku adalah bos dari Pt. Amerkan Ahmad, begitu maksud mu, Layla Savinta?" Amer beranjak dari tempat duduknya, tangannya terulur mengambil nampang berisi sarapan untuk Layla.
"Aku tidak salahkan menilai mu begitu, Tuan!" Seru Layla yang tidak mau mengalah.
Amer membenarkan posisi ranjang rawat Layla dan kini posisi Layla menjadi bersandar.
"Sebaiknya kau sarapan dulu, setelah itu kau harus meminum obat mu." Terang Amer yang kini mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat inap Layla dengan memangku nampan di ke dua pahanya.
"Ayo buka mulut mu!" Amer menyupkan sarapan pada Layla.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri, tuan." Layla menolak untuk di suapi Amer.
"Kau tidak boleh menolak perintah atasan mu, Layla!" Dengan posesifnya Amer melarang Layla untuk makan sendiri.
Layla menerima suapan dari Amer, selama ini bang Rudi tidak pernah berbuat seperti apa yang sedang Tuan Amer lakukan pada ku, jangankan menyuapi ku makan di kala aku sakit, untuk membelikan aku obat di warung saja bang Rudi selalu mencari cari alasan untuk menolaknya.
"Ayo minum obat mu!" Amer memberikan beberapa obat yang harus Layla habiskan.
"Terima kasih, Tuan... boleh aku bertanya." ucap Layla.
"Silahkan kan!" Amer menyimpan kembali nampan itu di atas lemari di samping kepala ranjang rawat Layla.
"Apa Tuan tidak berangkat ke kantor?" Tanya Layla dengan hati hati takut akan menyinggung perasaan bosnya.
"Kenapa? Kau mengusir ku? Kau ingin aku pergi meninggalkan mu? Apa keberadaan ku di sini mengganggu waktu mu?" Amer mencecar Layla dengan beberapa pertanyaan, sedangkan Layla hanya memberikan satu pertanyaan pada Amer.
Kening Layla mengkerut, tuh kan aku salah lagi, "Tuan Amer banyak bertanya ya!" Seru Layla dengan menarik sudut bibirnya ke atas menampilkan 2 lesung pipinya di kiri dan di kanan membuatnya semakin manis untuk di pandang.
Amer mendudukkan dirinya di sofa dekat ranjang rawat Layla dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan satu kaki di angkatnya dan bertumpu pada satu kakinya.
"Aku banyak bertanya hanya pada mu." Terang Amer.
Amer menghela nafasnya dengan berat dan memalingkan wajahnya sesaat, lalu Amer menatap Layla kembali.
"Waktu ku kosong sampai jam makan siang, itu artinya aku akan meninggalkan mu sendiri di sini setelah jam makan siang, apa perkataan ku sudah cukup jelas untuk menjawab pertanyaan mu, Layla?" Amer berkata dengan dingin.
"Ku rasa sudah cukup." Aku sangat bosan berada di kamar rawat, mau membaca novel online tapi kan aku tidak ounya hape, oh iya... aku belum memberi kabar pada orang kantor jika saat ini aku tidak masuk kantor dulu.
Layla mendudukkan dirinya di atas ranjang rawat, sedangkan Amer tengah sibuk dengan ponselnya, mencari tahu lewat mbah gugel mengenai caranya memikat hati wanita yang sudah bersuami, mengingat jika wanita yang akan ia kejar adalah Layla, wanita yang sudah bersuami.
Layla menurunkan ke dua kakinya dari atas ranjang, ia hendak beranjak dari atas ranjang rawat dengan tangannya yang sudah membawa kantong infus.
"Emmmm, Tuan Amer." Layla memanggail nama Amer saat sudah berdiri di depannya.
Amer mengadahkan wajahnya melihat siapa yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Dengen kening mengkerut, tatapan mata yang tajam, mau apa lagi wanita kurus ini, kenapa juga ia harus meninggalkan ranjang rawatnya?
Amer beranjak dari duduknya, hape yang ada di tangannya ia letakkan di atas sofa yang tadi ia duduki.
Dengan sekali tarikan, Amer membawa tubuh Layla yang ramping ke dalam gendongannya.
Hap.
"Akhhh."
"Selain kuruss, kau itu juga nakalll ya!" Seru Amer yang berjalan ke arah ranjang rawat Layla.
"Emmm bukan begitu Tuan... boleh tidak aku pinjam hape Tuan." Layla mengatakannya dengan menundukkan kepalanya ia tidak berani menatap wajah pria tampan yang tengah membawanya dalam gendongannya.
"Kau bisa mengatakannya Layla, kau tidak perlu sampai harus turun dari ranjang rawat mu!" Amer tampak marah pada Layla dengan suara yang penuh penekanan.
"Maaf, Tuan."
Dengan hati hati Amer menidurkan kembali Layla ke atas ranjang.
"Tunggu di sini, biar ku ambilkan dulu hape ku!" Seru Amer yang beranjak meninggalkan Layla dan mengambil hapenya yang ia tinggalkan di sofa.
Jika saja bang Rudi tidak mengambil hape ku dan memberikannya pada Melisa, saat ini tanpa harus meminjam hape Tuan Amer, aku bisa mengabari orang kantor lewat hape ku kan?
Apa orang kantor ada yang menghubungi nomor ku ya? Jika orang kantor sampai menghubungi nomor ku dan di jawab oleh Melisa, apa yang akan Melisa katakan?
Amer memperhatikan Layla yang diam saja saat Amer menyodorkan hapenya pada Layla.
"Layla, tadi kau bilang mau pinjam hape ku... kenapa sekarang kau diam saja?" Tanya Amer namun tidak di jawab oleh Layla.
Pletak.
...Bersambung......
...💔💔💔💔💔...
__ADS_1
Salam manis yang mampir jangan lupa kasih jempol ðŸ¤
Author gabut sebatas halu.